
"Oh iya, mumpung semuanya ada di sini aku meminta restumu untuk menikahi putrimu," ujar Raja Zhang Jiang Wu.
Ucapan tiba-tiba pria itu membuat semua orang terkejut terlebih Putri Xiao Lin Mei. Pria itu tidak berbicara apapun sebelumnya.
"Nak, kami memang berencana menjodohkan kalian. Jadi, tanpa meminta restu pun kami sudah merestui kalian," ujar Ratu Ming Xia.
"Bukan begitu, Ibunda. Aku hanya ingin menunjukkan keseriusanku kepada kalian. Aku menerima perjodohan ini bukan karena tubuh Putri Xiao Lin Mei melainkan karena aku benar-benar mencintai seorang Alya."
"Apakah kamu serius dengan ucapan mu barusan, Jiang Wu? Apakah kamu benar-benar siap dan menerima putriku meskipun dia bukan Xiao Lin Mei, sahabat mu dulu?"
"Aku sungguh-sungguh. Aku berjanji akan menerimanya, kekurangan serta kelebihannya. Aku sangat mencintainya, Paman."
Raja Zhang Jiang Wu sekali lagi benar-benar membuat Putri Xiao Lin Mei terkejut, dia menatap laki-laki itu dan bisa melihat kesungguhan di matanya. Dia mulai yakin melabuhkan hatinya kepada pria itu.
"Jiang Wu," panggil Pangeran Xiao Jinshi.
"Aku salut dengan keberanian mu. Aku merestui mu, tolong jaga dia sebagaimana kamu menjaga Xiao Lin Mei dulu, jangan pernah sakiti dia."
"Nak, jika kamu sungguh-sungguh dengan perkataan mu ibunda hanya berpesan kepadamu jika sudah menikah nanti jangan menyakiti istrimu barang seujung kuku pun. Karena jika kamu menyakitinya itu sama saja kamu menyakiti ibunda."
Raja Zhang Jiang Wu mendapat banyak wejangan hari ini begitupula dengan Putri Xiao Lin Mei.
Bahkan mereka dibuat terkejut dengan keputusan Raja Xiao Ren dan Ratu Ming Xia di sini Pangeran Xiao Jinshi pun tidak luput dari keterkejutan pangeran sempat menanyakan keputusan ayahnya dan berusaha menolak, namun sepertinya tidak mungkin menolak karena ternyata itu sudah direncanakan begitu lama.
"Ayah, sebelum pernikahan bolehkah aku ke makam ibunda dulu?" pinta Putri Xiao Lin Mei.
"Boleh, Nak. Pergilah dengan Jiang Wu dan kakak mu, ayah akan mengurus semuanya di sini kalian hanya menunggu waktunya saja."
"Baiklah, besok pagi kita ke makam ibunda. Sekalian kalian meminta restu," putus Pangeran Xiao Jinshi.
Putri Xiao Lin Mei pun mengangguk, memang inilah tujuannya, meminta restu kepada ibu dari pemilik tubuh ini.
Raja Zhang Jiang Wu juga memiliki pemikiran yang sama, sebelumnya dia ingin mengajak Putri Xiao Lin Mei ke makam ibundanya, namun gadis itu sudah terlebih dahulu mengutarakan niatnya.
"Jiang Wu, setelah dari makam besok kita langsung pulang masih ada yang harus dipersiapkan," ucap Ratu Ming Xia.
"Baik, Ibunda."
__ADS_1
...****************...
Keesokan harinya.
Sesuai rencana hari ini mereka bertiga akan mengunjungi makam permaisuri Shi An Mei yang terletak di kompleks pemakaman khusus untuk keluarga kerajaan. Pagi sekali kereta yang mereka naiki sudah keluar gerbang istana menuju tempat pemakaman khusus keluarga kerajaan.
Suasana pagi hari ini cukup cerah cenderung hangat tidak seperti kemarin-kemarin yang dingin. Bahkan Putri Xiao Lin Mei mengenakan pakaian yang tidak terlalu tebal seperti biasanya. Putri Xiao Lin Mei duduk diapit oleh ke dua pria tampannya, membuatnya merasa seperti diistimewakan.
Tanpa menunggu waktu lama kereta yang membawa mereka sudah sampai di kompleks pemakaman khusus keluarga kerajaan awan. Pangeran Xiao Jinshi yang berada didekat pintu turun terlebih dahulu, lalu disusul oleh Putri Xiao Lin Mei selanjutnya giliran Raja Zhang Jiang Wu yang turun.
Putri Xiao Lin Mei mengamati bangunan di depannya, di dalam sana lah makam ibundanya berada atau lebih tepatnya makam ibu dari Putri Xiao Lin Mei.
Mereka bertiga berjalan memasuki tempat tersebut menuju makam permaisuri Shi An Mei. Setelah sampai ditempat tujuan mereka memejamkan matanya masing-masing memanjatkan doa untuk mendiang permaisuri.
"Permaisuri, maaf baru datang ke mari. Sebentar lagi aku akan menikah, semoga engkau bersedia merestui kami," batinnya.
"Ma, Pa. Lihat putri mu akan menikah sebentar lagi, aku harap kalian bahagia di atas sana dan menyaksikan hari bahagia ku. Do'a kan kami ya, ma pa. Semoga kami langgeng sampai maut memisahkan seperti kalian," batinnya.
Tanpa di minta air matanya menetes saat mengingat ke dua orangtuanya yang sudah pergi.
"Tidak ada, hanya merindukan mereka saja."
"Kamu tidak sendiri, Al. Masih ada kami yang akan menjagamu terutama aku. Aku janji akan menjagamu seumur hidup ku," ucap Raja Zhang Jiang Wu mantap.
Putri Xiao Lin Mei pun mengangguk, dia percaya itu.
"Sudah selesai? Ayo kita kembali, kasihan calon suami mu sudah ditunggu calon ibu mertuamu."
Setelah puas menggoda pasangan tersebut Pangeran Xiao Jinshi pergi meninggalkan mereka.
"Gege!"
"Sttt tidak boleh teriak, ini di makam."
"Ah iya aku lupa. Maaf maaf," ujar Putri Xiao Lin Mei merutuki kebodohannya.
Setelah dirasa sudah cukup merekapun memutuskan untuk kembali ke istana. Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu memakan waktu kereta yang membawa ke tiga orang itu sampai di gerbang istana. Rupanya saat ini mereka sudah ditunggu oleh Ratu Ming Xia bahkan kereta yang akan mengantarkan mereka sudah siap.
__ADS_1
Pangeran Xiao Jinshi, Raja Zhang Jiang Wu serta Putri Xiao Lin Mei pun turun dari kereta lalu menghampiri Ratu Ming Xia serta Raja Xiao Ren yang berada di depan gerbang.
"Berhubung mereka sudah tiba, Xiao Ren aku pamit dulu," ujar Ratu Ming Xia.
"Bibi mau pulang sekarang?" tanya Putri Xiao Lin Mei setelah tiba didekat mereka.
"Iya, Nak. Kami harus mempersiapkan segalanya sebelum pernikahan kalian, kamu baik-baik ya di sini tunggu waktunya kami akan memboyong mu pulang."
"Baik, Bibi."
Ratu Ming Xia pun memasuki kereta yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Raja Zhang Jiang Wu pun tidak menunggu lama segera berpamitan kepada mereka semua, hingga tibalah kepada sang calon istri. Laki-laki itu tanpa permisi langsung meraih tubuh gadisnya lalu memeluknya tepat dihadapan Raja Xiao Ren serta Pangeran Xiao Jinshi.
"Alya aku pamit pulang ke kerajaan dulu, Ya. Kamu jaga diri baik-baik."
"Iya, kamu hati-hati dijalan. Aku menunggumu menjemputmu di sini," ujar Putri Xiao Lin Mei lirih.
Di saat sedang menikmati suasana berdua tiba-tiba saja terdengar suara Ratu Ming Xia dari dalam kereta.
"Jiang Wu, cepatlah! Nanti kalian akan bertemu lagi," teriak Ratu Ming Xia.
"Iya, Ibu. Sebentar," balasnya.
Laki-laki itu mengecup dahi Putri Xiao Lin Mei terlebih dahulu sebelum berlari menghadapi sang Ibunda Ratu yang hampir saja murka.
Semua orang tertawa melihat tingkah laku Raja Zhang Jiang Wu, mereka tidak akan pernah percaya jika dihadapannya saat ini adalah seorang raja. Bahkan perilaku yang dia tunjukkan sangat jauh dari seorang raja.
*
*
*
*
Bersambung ….
__ADS_1