
Hari demi hari luka yang dialami oleh Raja Zhang Jiang Wu perlahan-lahan membaik dan mengering dibawah perawatan istrinya. Saat ini pria itu kembali mengambil alih pekerjaan yang selama ini dia percayakan kepada Jiazen, orang kepercayaannya karena tidak mungkin jika dia mengerjakan berkas-berkas itu dengan tangan yang terluka seperti itu.
Putri Xiao Lin Mei sempat memarahinya habis-habisan setelah diberitahu alasan dibalik luka itu, meskipun dia hanya menganggapnya sebagai luka kecil namun lain bagi istrinya yang selalu khawatir jika melihatnya terluka seperti ini.
Saat ini pria itu sedang berkutat dengan pekerjaannya setelah berdebat panjang lebar dengan istri kecilnya yang masih kekeh melarangnya untuk mengerjakan pekerjaan.
Pria itu terlihat serius membaca satu persatu berkas-berkas ditangannya hingga
"Ampun Yang Mulia atas kelancangan hamba. Di luar semua pejabat berdemo meminta yang mulia untuk segera mengangkat selir baru," ujar prajurit.
"Sepertinya mereka belum puas menekan ku, baiklah sekarang saatnya."
Raja Zhang Jiang Wu mendengus dingin mengetahui hal tersebut, dia memegang pena dengan erat. Amarahnya kembali memuncak, pejabat-pejabat dibawahnya sudah berani menggertak dirinya ini tidak bisa dibiarkan.
Raja Zhang Jiang Wu berjalan menuju tempat mereka berada saat ini bersama prajurit tadi, raut wajahnya datar tatapan tajamnya bisa membekukan orang dihadapannya aura seorang raja terpancar jelas saat ini.
...****************...
Di tempat lain Putri Xiao Lin Mei yang sedang bersantai-santai di kediamannya dikejutkan dengan kedatangan pelayan pribadinya yang bernama Fei Xia. Pelayan itu berlari menghampiri junjungannya untuk mengabarkan hal penting kepadanya.
"Yang Mulia, gawat." Terdengar nafasnya yang memburu.
"Ada apa, kenapa kamu berlarian seperti ini," ujar Putri Xiao Lin Mei.
"I itu di depan ... Gawat Yang Mulia," ucapnya.
"Tenangkan dirimu, tarik nafas hembuskan. Sekarang katakan apa yang terjadi," tuturnya.
"Di depan sana para pejabat sedang berdemo, mereka menuntut yang mulia raja untuk mengangkat selir secepatnya. Bahkan di antara mereka ada yang membawa putrinya untuk diajukan sebagai selir," tutur pelayan itu panjang lebar.
Deg
Putri Xiao Lin Mei terpaku mendengar perkataan pelayan itu, tubuhnya menegang otaknya tidak berfungsi. Dia masih belum menerima berita ini.
"Selir? Apakah Zhang Jiang Wu akan patuh dengan mereka? Jika seperti ini bagaimana dengan ku, apa yang harus aku lakukan?" Batinnya.
"Yang Mulia." Pelayan itu menyentuh pundak Putri Xiao Lin Mei pelan.
__ADS_1
Putri Xiao Lin Mei tersentak saat ada yang menyentuh pundaknya. Terlihat pelayan itu memandangnya dengan sorot mata yang sendu, pelayan itulah menjadi saksi perjalanannya dengan Zhang Jiang Wu selama ini setiap kebahagiaan serta kesedihan yang mereka alami pelayan Fei Xia juga mengetahuinya.
"Bibi, aku harus bagaimana?" ujarnya lirih.
"Yang Mulia, percayalah raja tidak akan mengkhianati cinta kalian dengan mengambil selir. Perjuangan beliau kepada Yang Mulia tidak gampang, jadi tidak mungkin baginya untuk melepaskan anda demi perempuan lain," tuturnya.
"Sekarang kita pergi ke sana pasti beliau juga ada di sana. Ini bisa menjadi pembuktian kekuatan cinta kalian sebesar apa, berdoalah semoga Tuhan berbaik hati kepada pernikahan kalian," nasihatnya.
Putri Xiao Lin Mei mengangguk membenarkan. Dia pun mengikuti saran pelayan Fei Xia lalu pergi ke pendemo tersebut.
...****************...
Di depan sana terdengar suara riuh para pendemo ternyata mereka tidak sendiri, mereka membawa warga yang sudah terhasut oleh oknum pejabat istana yang ingin menguasai kerajaan melalui skema pernikahan politik. Benar-benar rencana yang matang, namun apakah raja mereka akan terpengaruh oleh omongan mereka? Tidak, bahkan Raja Zhang Jiang Wu hanya terdiam menatap mereka satu persatu.
"Yang Mulia, terimalah usulan kami. Dengan mengangkat selir tidak akan membuat yang mulia menajdi buruk," bujuk menteri Shen.
"Benar, Yang Mulia. Pikirkanlah masa depan kerajaan jika tidak ada penerus," timpal menteri Jun.
"Yang Mulia, tolong pikirkan."
Para warga serentak mengikuti ucapan ke dua menteri itu, bahkan mereka tidak menyadari jika orang yang mereka kira baik sedang tersenyum diam-diam.
Ada juga beberapa wanita yang tampak malu-malu memandang ke arah Raja Zhang Jiang Wu yang tidak terpengaruh oleh suasana. Pria itu memandang jijik ke arah gadis-gadis itu.
Raja Zhang Jiang Wu mendekat ke arah mereka, mata tajamnya memindai wajah-wajah dihadapannya.
"Wah wah sangat bagus sekali rencana kalian. Membawa massa serta gadis yang ingin kalian ajukan kepadaku? Bukankah itu terlalu berani, Menteri Jun dan Menteri Shen?" ujar Raja Zhang Jiang Wu datar.
"Dan kalian, dibayar berapa oleh pengkhianat ini sampai-sampai kalian memberontak kepada raja kalian sendiri?" Bentak Raja Zhang Jiang Wu.
"Ada apa ini?" Terdengar suara lembut menginterupsi.
Sontak semua mata memandang ke sumber suara, terlihat sesosok perempuan mengenakan baju kebesaran seorang permaisuri kerajaan kegelapan. Putri Xiao Lin Mei berjalan dengan anggun menghampiri suaminya yang terpaku menatapnya dibelakangnya ada pelayan Fei Xia yang selalu setia mengikutinya kemanapun junjungannya pergi.
Setiap langkah Putri Xiao Lin Mei mengandung jejak keanggunan serta kewibawaan, semua pasang mata mengikuti kemana permaisuri negeri ini berjalan.
"Salam kepada Yang Mulia permaisuri," ucap menteri Qin yang pertama kali tersadar.
__ADS_1
Sontak semua tersadar dari lamunannya dan mengucapkan salam kepada permaisuri di negeri ini. Putri Xiao Lin Mei berdehem sebentar lalu menerima salam mereka.
"Kenapa menyusul kemari? Bukannya sedang tidak enak badan," bisik Raja Zhang Jiang Wu.
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang saat kamu menghadapi mereka," bisik Putri Xiao Lin Mei.
Menteri Jun dan Menteri Shen tersenyum miring saat melihat kedatangan permaisuri mereka saling melirik memberikan kode yang hanya dimengerti olehnya.
"Ekhem, mohon maaf yang mulia. Berhubung permaisuri ada di sini kami ingin meminta izin agar memperbolehkan raja menerima selir dari kami," ujar menteri Shen.
"Lancang! Siapa kamu beraninya meminta permaisuri untuk menerima permintaan konyol mu itu, mau mati."
Raja Zhang Jiang Wu merasa geram dengan perkataan menterinya yang tidak tahu malu. Suasana menjadi semakin mencekam ketika raja mereka murka, sepertinya orang yang menyinggungnya kali ini akan benar-benar mati.
Putri Xiao Lin Mei memegang lengan suaminya untuk menenangkannya, dia tidak mau laki-laki itu lepas kendali.
"Sttt tenanglah, Suamiku. Biarkan dia menyelesaikan perkataannya," ucap Putri Xiao Lin Mei.
Seperti sihir ucapan Putri Xiao Lin Mei mampu membuat amarah Raja Zhang Jiang Wu mereda, bahkan dia sempat memandangi permaisuri dengan penuh cinta sangat berbeda ketika berhadapan dengan orang lain yang cenderung dingin.
"Terimakasih, Istriku sudah membuatku tenang," ucap Raja Zhang Jiang Wu pelan.
Perhatian kecil yang ditunjukkan oleh raja mereka membuat semua orang tertegun sekaligus tidak percaya. Seorang raja Zhang Jiang Wu yang tidak pernah menunjukkan ekspresi lain selain datar kali ini tersenyum manis kepada istrinya.
Di deretan orang itu ada yang mengepalkan tangannya, dia tidak pernah terima jika laki-laki yang seharusnya menjadi miliknya bersama orang lain.
"Kak Jiang Wu! Kenapa memilih jal*ng mandul itu? Lihatlah aku, aku bahkan lebih baik darinya."
Terdengar suara yang sangat familiar ditelinga ke dua orang itu, mereka saling memandang satu sama lain dengan terkejut.
Semua orang memandang ngeri kearah pelaku yang dengan beraninya mengatakan permaisuri mereka mandul.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ....