
Raja Zhang Jiang Wu merasakan ada sesuatu dibalik suara Putri Xiao Lin Mei pun heran. Bukankah tadi begitu semangat kenapa sekarang jadi lesu seperti ini.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu malam ini."
Putri Xiao Lin Mei menutupi, tidak mungkin dia mengatakan kebenarannya. Ia takut jika mengatakannya akan membuat Raja Zhang Jiang Wu menjauhinya.
"Jika ada sesuatu ceritakan saja jangan sungkan," ujarnya meyakinkan.
"Apakah ini ada hubungannya dengan ayahmu?"
Putri Xiao Lin Mei menegang. Tidak, pria ini tidak boleh tahu tentang hal ini.
"Ti tidak kok. Kamu tenang saja."
Mendengar Putri Xiao Lin Mei yang gugup ini semakin membuat Raja Zhang Jiang Wu curiga. Pasti ada sesuatu yang terjadi saat menemui Raja Xiao Ren sore tadi.
"Baiklah jika kamu memaksa. Tapi, sebelum itu kamu jangan marah."
Raja Zhang Jiang Wu mengangguk.
Putri Xiao Lin Mei pun menceritakan apa yang terjadi sore tadi dan Raja Zhang Jiang Wu mendengarkan dengan seksama.
"Jiang Wu menurutmu bagaimana? Apakah aku harus menolak perjodohan ini?"
Awalnya Raja Zhang Jiang Wu terkejut saat Putri Xiao Lin Mei mengatakan hal itu.
"Apakah kamu tidak akan menyesal jika menolak perjodohan itu?" Raja Zhang Jiang Wu memastikan.
"Entahlah, aku tidak tahu. Di satu sisi aku tidak ingin mengecewakan ayah tapi disisi lain aku tidak mau mengkhianatimu," ujarnya lesu.
"Apa yang harus aku lakukan."
Kalau bisa teriak sudah pasti dia lakukan sejak tadi. Putri Xiao Lin Mei tidak mau menyakiti semua orang.
Dia cukup tersentuh dengan perkataannya yang menunjukkan betapa besarnya cinta yang gadisnya miliki. Dia bersyukur dengan kesalahpahaman ini, dengan begitu dia bisa melihat sebesar apa cinta Putri Xiao Lin Mei untuknya.
"Apa ayahmu berkata siapa pemuda itu?" tanya Raja Zhang Jiang Wu dan dijawab dengan gelengan kepala.
"Jika aku berkata siapa orangnya apakah kamu mau menerimanya?"
"Tidak, aku tidak mau mengecewakanmu," sanggahnya.
Putri Xiao Lin Mei masih kekeuh dengan pendiriannya. Hal itu membuat Raja Zhang Jiang Wu tersenyum diam-diam dan tersentuh dengan keteguhannya.
"Meskipun itu aku orangnya?"
"Mes eh, Bagaimana?"
"Iya, meskipun aku yang dijodohkan denganmu. Apakah masih menolaknya?" Ulangnya sambil tersenyum jahil.
__ADS_1
Otak Putri Xiao Lin Mei masih mencerna semua ini, bibirnya kelu.
"Jadi, Orang itu kamu? Beneran kamu?" Tanya Putri Xiao Lin Mei memastikan.
Raja Zhang Jiang Wu mengangguk dengan gemas dia meraih tubuh gadis itu dan membawanya ke pelukannya.
"Ahh terimakasih terimakasih. Ternyata cuma salah paham."
Putri Xiao Lin Mei merasa lega akhirnya batu besar yang mengganjalnya sedari tadi sudah terangkat dia membalas pelukan pria itu tak kalah erat.
"Terimakasih sudah begitu mencintaiku. Aku berjanji tidak akan meninggalkan mu dan menyakitimu," tuturnya.
"Aku sangat sangat mencintaimu," bisiknya.
Setelah menceritakan keluh kesahnya Putri Xiao Lin Mei pun mengajaknya kembali ke istana karena waktu sudah larut. Raja Zhang Jiang Wu pun menurutinya sambil membawa barang belanjaan gadis itu.
Selama perjalanan pulang Putri Xiao Lin Mei lebih ceria dari sebelumnya. Senyumnya tidak pernah luntur membuat Raja Zhang Jiang Wu yang berada di belakangnya bernafas lega.
Sebenarnya dia mengajak Putri Xiao Lin Mei pergi bukan tanpa alasan, tadi tidak sengaja dia melihat gadisnya keluar dari ruangan Raja Xiao Ren dengan menangis. Dia hanya berniat menghiburnya agar tidak terlalu bersedih tidak ada niat lain namun siapa sangka jika dia mendengarkan pengakuan yang cukup mengejutkan hatinya.
****************
Sedang di kediaman Selir Mei Ran.
Disaat semua kediaman sudah hening lain halnya dengan kediaman Selir Mei Ran. Saat ini wanita paruh baya itu sedang menenangkan putrinya Xiao Yue Shi yang sedang menangis ketakutan. Seperti biasa putri yang dikenal dengan arogan dan manja itu mengadu kepada sang ibu tentang perlakuan yang diterimanya tadi siang ditambah dengan bumbu-bumbu supaya terlihat lebih mendramatisir dan juga dia menjadi korbannya.
Selir Mei Ran yang selalu mempercayai perkataan putrinya itu dia tidak perduli itu benar atau tidak yang terpenting jika anaknya disakiti ibu mana yang akan tega.
"Tenanglah, Putriku. Secepatnya kita akan menjalankan rencana ini."
Putri Xiao Yue Shi tersenyum miring mendengar ucapan ibunya. Akhirnya dia bisa menyingkirkan keluarga menyebalkan itu dan bisa menjadi pewaris tahta satu satunya. Tidak jauh beda dengan putrinya, Selir Mei Ran juga melakukan hal yang sama, wanita itu tersenyum misterius memikirkan semua rencana yang sudah matang-matang dia rencanakan.
****************
Pagi Hari.
Sinar mentari masih menyembunyikan dirinya dibalik awan, burung-burung kecil sudah berkicau nyaring menyambut pagi yang cerah.
Putri Xiao Lin Mei tidak bermalas-malasan seperti biasanya. pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan itu mengejutkan pelayan nya Zhang Yue yang saat itu hendak mengetuk pintu kamar untuk membangunkannya.
Putri Xiao Lin Mei bersiap-siap dengan memakai hanfu berwarna merah muda serta riasan yang tipis ditambah lagi dengan hiasan kepala yang dia beli kemarin membuatnya semakin cantik.
"Ya Tuhan aku tahu bahwa aku cantik. Tapi, semakin hari kok merasa tambah cantik aja ya? Ini anak dulu makannya apa sih bisa sebening ini kulitnya," herannya.
Dia mengagumi tubuhnya saat ini yang cantik bak putri keraton eh typo putri raja. Ya meskipun memang benar itu putri raja sudah sewajarnya jika kulitnya putih mulus seperti itu.
Putri Xiao Lin Mei masih berkutat di depan cermin mengagumi kecantikannya ah ralat lebih tepatnya jiwa Aliya yang sedang mengagumi tubuh pemiliknya.
"Ekhem. Putri, maaf mengganggu waktumu Raja Zhang Jiang Wu berkunjung," ujar pelayan Zhang Yue mengagetkan.
Eh astaga dia baru ingat ada janji dengan pria itu. Dengan tergesa-gesa Putri Xiao Lin Mei menghampiri pria itu. Saat sampai di dekatnya hampir saja dia terinjak hanfu nya sendiri yang panjang menjuntai menyapu lantai itu beruntungnya Raja Zhang Jiang Wu dengan sigap menarik tubuhnya hingga menabrak dada bidang laki-laki itu.
__ADS_1
"Hati-hati."
Hanya satu kalimat namun bisa membuat jantung Putri Xiao Lin Mei berdisko ria. Mereka saling menatap satu sama lain secara intens tanpa memedulikan orang lain.
"Ekhem," dehem seseorang.
Suara itu sontak mampu mengembalikan pasangan yang tengah dimabuk asmara itu tersentak kaget bahkan Putri Xiao Lin Mei nyaris jatuh kembali karena terburu-buru melepaskan diri namun urung karena Raja Zhang Jiang Wu menahan tubuhnya agar seimbang.
Mereka berdua menoleh ke sumber suara dan terlihatlah satu waajah ralat tapi dua wajah yang menyebalkan. Siapa lagi kalau bukan dua pangeran usil itu.
"Kenapa kalian mengikuti ku?"
Raja Zhang Jiang Wu menatap mereka tajam. Namun apakah mereka peduli? Oh tentu saja tidak bahkan mereka menampilkan senyum tanpa dosa dan duduk di samping Raja Zhang Jiang Wu tanpa memedulikan tatapan tajam itu.
"Sudahlah, biarkan saja mereka di sini. Lagipula kita tidak buru-buru," lerai Putri Xiao Lin Mei.
"Memangnya kalian ingin pergi kemana sepagi ini?" Pangeran Xiao Jinshi penasaran.
"Nanti kalian akan tahu," jawab Putri Xiao Lin Mei.
"Apakah kalian akan berkencan?" celetuk Pangeran Zhang Fei tiba-tiba.
Uhukkk
Putri Xiao Lin Mei tersedak ludahnya sendiri, wajahnya sekarang merah seperti kepiting rebus. Namun, Raja Zhang Jiang Wu hanya menatap kedua orang itu dengan datar.
Pangeran Xiao Jinshi dan Pangeran Zhang Fei menatap mereka satu persatu senyum jahil tercetak dibibir Pangeran Zhang Fei.
"Atu jangan jangan kalian akan melihat lokasi yang pas untuk 'bercocok tanam' setelah menikah nanti?"
Uhukkk
Kali ini mereka tersedak bersamaan mendengar perkataan frontal sahabat lak nat Raja Zhang Jiang Wu bahkan Pangeran Xiao Jinshi tak luput dari itu. Putri Xiao Lin Mei mengelus dada melihat kelakuan orang yang baru dikenalnya itu tidak menyangka jika dibalik wajah menyeramkan itu tersimpan perilaku yang menyebalkan baginya.
"Gege, Jiang Wu. Kalian mengenal orang ini dari mana? Kenapa mulutnya seperti saluran air yang mengalir sampai jauh."
"Dari pinggir jalan," ujar mereka kompak.
Pangeran Zhang Fei mengerucutkan bibirnya kesal. Mereka selalu kompak jika urusan mengejeknya.
Putri Xiao Lin Mei tertawa mendengar jawaban spontan mereka. Berada diantara mereka membuat perasaannya lebih baik. Dia bersyukur bisa hidup kembali di sini setidaknya meskipun di dunia sebelumnya dia sudah mati namun saat hidup kembali sebagai Putri Xiao Lin Mei dia bisa merasakan kehangatan keluarga yang selama ini dia dambakan.
*
*
*
*
Bersambung ….
__ADS_1