Reinkarnasi Putri Bar Bar

Reinkarnasi Putri Bar Bar
Part. 27


__ADS_3

"Sudahlah daripada kalian menganggur lebih baik ikut kita."


"Kemana?" jawab mereka kompak.


"Memburu para ular sawah dan membasmi hama," jawabnya tersenyum miring.


"Baiklah, kita berdua ikut," putus Pangeran Xiao Jinshi.


Putri Xiao Lin Mei mengangguk puas, sebentar lagi dia akan membongkar kebusukan ular ular itu. Dia tersenyum miring membayangkan bagaimana nasib mereka jika semuanya terbongkar.


Putri Xiao Lin Mei membagi tugas dan mengingatkan mereka untuk berhati-hati.


...****************...


Sedangkan di sisi lain Raja Xiao Ren termenung di kediamannya saat ini pikirannya kacau memikirkan perjodohan putrinya. Dia merasa bersalah kepada mendiang istrinya karena telah membuat putrinya bersedih padahal dia berjanji untuk membuatnya bahagia tapi sekarang malah ia sendiri yang mengecewakan putrinya.


"Shi An Mei, andaikan kamu ada di sini pasti Xiao Lin Mei akan bahagia. Maafkan aku sudah mengecewakan putri kita, pasti kamu kecewa denganku bukan?" gumamnya.


Raja Xiao Ren menatap lukisan sang istri dia mengusap lukisan itu dengan perasaan rindu. Kepergian permaisuri membuatnya kesepian sekaligus merasa bersalah tidak bisa mencegah hal itu terjadi.


"Shi An Mei, apakah ini bentuk hukuman darimu? Maafkan aku."


Raja Xiao Ren tergugu di depan lukisan istrinya air mata yang selama ini dia sembunyikan hari ini keluar tanpa permisi.


"Ayah," panggilan lembut itu sukses membuatnya menoleh ke sumber suara.


Di sana Putri Xiao Lin Mei dengan segera dia menubruk ayahnya dan menangis di dekapannya. Iya tidak tega melihat ayahnya bersedih seperti itu, ini baru pertama kali dia melihat sang ayah begitu putus asa setelah kematian ibunya mendiang permaisuri. Tadi setelah membagi tugas kedua orang itu Putri Xiao Lin Mei berniat meluruskan kesalahpahaman ini dengan menemui ayahnya secara langsung. Tapi, siapa sangka jika dia melihat ayahnya seperti ini.


Raja Xiao Ren pun menangis melihat putrinya bersedih, ayah mana yang tidak akan bersedih jika putri kesayangannya yang telah dia besarkan dengan cinta dan kasih sayang bersedih dihadapannya terlebih lagi itu karena dia.


Raja Xiao Ren mengusap punggung putrinya yang masih menangis, "Lin Mei maafkan ayah. Ayah tidak akan memaksamu menerima perjodohan ini," ujar Raja Xiao Ren.


"Tidak, Ayah tidak bersalah. Seharusnya Lin Mei yang meminta maaf," ujar Putri Xiao Lin Mei.


"Kalau ayah tetap menginginkan perjodohan ini Lin Mei dengan senang hati akan menerimanya."


Raja Xiao Ren memegang pundaknya lalu menatap manik mata putrinya. Dia menggeleng, "Tidak, ayah tidak akan meneruskannya. Ayah tidak mau kamu terpaksa menjalaninya."


"Ayah tenang saja Lin Mei ikhlas menerima perjodohan ini."


"Terimakasih, maafkan ayah yang egois memintamu meninggalkan pilihanmu," ujar Raja Xiao Ren.


"Lin Mei menerima perjodohan ini. Tapi, Lin Mei tidak berkata akan meninggalkannya, Ayah."


Perkataan Putri Xiao Lin Mei sontak membuat Raja Xiao Ren terkejut, tidak mungkin putrinya itu berencana memiliki dia suami bukan?


"Tenanglah itu tidak seperti yang ayah pikirkan," ujarnya seolah tahu pemikiran ayahnya.

__ADS_1


"Jadi?"


"Jadi, Lin Mei kesini sekaligus meminta restumu, Ayah."


"Masuklah," ucap Putri Xiao Lin Mei menatap ke arah pintu.


Tak berapa lama kemudian masuk lah sesosok pria berhanfu hitam matanya yang biasanya tajam saat ini penuh dengan sorot kelembutan.


Raja Xiao Ren tertegun terlebih lagi saat laki-laki itu tersenyum menatap putrinya dengan penuh cinta begitupula sang putri yang membalasnya dengan hal serupa.


"Jadi kalian?"


"Benar, Paman. Kami sudah saling mencintai bahkan sebelum surat itu dikirimkan oleh ibu," tutur Raja Zhang Jiang Wu.


"Astaga takdir macam apa ini," gumam Raja Xiao Ren.


Raja Xiao Ren terkejut sekaligus bersyukur mendengar kabar kedekatan mereka, dia tidak perlu khawatir lagi jika akan menimbulkan kemarahan kerajaan Kegelapan.


"Tunggu sebentar. Jadi, bibi yang mengirim surat itu?" tanya Putri Xiao Lin Mei bingung.


"Benar, ibu lah yang mengirimnya."


"Apakah kamu mengetahuinya?" tanya Putri Xiao Lin Mei lagi.


"Tidak, bahkan aku tahu dari Gege mu kemarin," terangnya.


Ya, Gege nya Pangeran Xiao Jinshi yang bertanggung jawab atas ini semua.


"Gege, tunggu lah pembalasanku," batinnya.


Pangeran Xiao Jinshi yang tidak tahu apa-apa mendadak bersin ditempatnya.


Hatchimm.


"Siapa yang mengumpat ku." Sambil menggosok hidungnya yang terasa gatal.


"Lebih baik aku segera menjalankan tugas sebelum gadis kecil itu mengamuk," ujar Pangeran Xiao Jinshi.


Ditempat Raja Xiao Ren.


Putri Xiao Lin Mei merajuk kepada ayahnya karena tidak memberitahukan secara lengkap. Namun ketika ingin meluapkan kekesalannya dia teringat jika ini tidak sepenuhnya kesalahan ayahnya dirinya sendiri yang selalu memotong ucapan ayahnya tanpa mau mendengarkan penjelasan sang ayah.


"Ayah, berhubung semuanya sudah jelas aku pamit undur diri," ujarnya sambil menggandeng Raja Zhang Jiang Wu keluar.


"Hati-hati dijalan. Nikmatilah waktu kalian selagi pria mu masih ada di sini."


"Siap, Ayah."

__ADS_1


Putri Xiao Lin Mei berteriak menanggapi perkataan sang ayah.


...****************...


Di sisi Pangeran Xiao Jinshi.


Pangeran tampan itu saat ini sedang berada di penjara bawah tanah tempat perampok itu ditahan. Saat ini dia sedang mengintai tempat itu dengan hati hati dia bersembunyi dibalik tembok tahanan seperti menunggu sesuatu yang besar.


Tak tak tak


Suara langkah kaki terdengar bersahutan di ruang bawah ini seperti sedang menuju ruang tahanan, Pangeran Xiao Jinshi dengan cepat bersembunyi dibalik tembok dan melihat apa yang akan mereka lakukan.


Di dalam sana tahanan yang terbaring lemah itu sontak melihat siapa yang datang, bibir keringnya tersenyum merasa sang penolong datang membebaskannya.


"Aku sangat sangat berterimakasih dengan kesetiaan kalian. Tapi sebelum itu?" perempuan itu tersenyum sambil melirik ke belakangnya.


Suara perempuan terdengar dibalik jeruji besi. Lalu terdengar kembali langkah kaki yang berjalan cepat. Pangeran Xiao Jinshi yang berada dibalik tembok memasang telinganya dengan benar.


"Kami akan melakukan apapun asal pelanggan senang," ujar sang ketua.


" Benarkah, Termasuk membungkam mulutmu sendiri dengan bunuh diri?" sahut yang lain.


"Bunuh diri?"


Salah satu diantara mereka melemparkan sebuah belati kecil tepat dihadapan ketua itu.


ketua itu menelan ludahnya paksa dia memandang horor benda kecil dihadapannya lalu menatap kedua orang itu dengan gugup. Tangannya terulur mengambil belati itu, ia menutup matanya dan bersiap menikam tubuhnya dengan belati itu. Inilah konsekuensi yang dia dapatkan dari pekerjaannya, jika tidak mati ditangan musuh maka akan mati ditangan penyewanya.


Tepat sebelum mengenai jantungnya belati ditangannya terjatuh kerana ada yang melempar kerikil tepat ditangannya, hal itu sukses membuat geram kedua perempuan itu.


"Siapa yang berani mengacau. Keluar kamu!"


"Aku!"


Suara itu berasal dari pintu masuk sel tahanan, terlihatlah sesosok perempuan berhanfu biru berjalan menghampiri mereka bersama seorang pria yang mengirinya.


Semua orang menoleh ke sumber suara, dia terkejut gadis itu berada di sini.


*


*


*


*


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2