
Setelah puas menikmati senja bersama, Raja Zhang Jiang Wu pun memutuskan mengajak Putri Xiao Lin Mei pergi dari tempat tersebut kali ini tujuan utamanya adalah festival lampion.
Raja Zhang Jiang Wu benar-benar membuktikan perasaannya saat ini dia mengajak Putri Xiao Lin Mei melihat perayaan festival lampion yang ternyata tepat dengan malam ini. Sebenarnya alasan Raja Zhang Jiang Wu mengajak keluar malam hari karena ia ingin membawa Putri Xiao Lin Mei tepat saat perayaan tiba.
Saat sudah sampai di tempat perayaan kuda yang mereka tunggangi dititipkan ke penitipan kuda supaya mempermudah pergerakan mereka, lagipula tidak mungkin jika masuk ke tempat ramai orang dengan menunggang kuda.
Disepanjang jalan terdapat banyak penjual lampion berjajar baik dari penjual yang sudah lama atau dadakan. Maklum saja di saat-saat seperti ini banyak sekali penjual dadakan yang mencoba mengais rezeki.
"Jiang Wu, aku mau ini." Tunjuknya kepada lampion berbentuk kepala kelinci.
"Siap ratu ku," ujarnya bercanda.
"Jiang Wu!" Dia memukul pundak laki-laki itu kesal.
Jantung gadis itu melompat-lompat saat mendengar ucapan sederhana pria itu. Wajahnya memanas dan itu sukses membuat pria dihadapannya tersenyum geli.
"Kenapa wajahmu memerah? Hmm."
"Berhenti menggodaku!" Teriak gadis itu kesal.
"Baiklah-baiklah, sekarang pilihlah yang kamu mau."
Putri Xiao Lin Mei pun memilih lampion yang dia inginkan lalu berjalan meninggalkan laki-laki itu membuat Raja Zhang Jiang Wu berdecak sebal.
"Bibi, ini uangnya. Kembaliannya ambil saja," ujarnya.
"Terimakasih, Tuan. Semoga hubungan kalian langgeng terus sampai maut memisahkan," ujar sang penjual.
"Terimakasih atas doa nya, Bibi. Semoga hari ini lancar berjualannya, saya permisi dulu."
Setelah mengatakan hal itu Raja Zhang Jiang Wu bergegas mengejar Putri Xiao Lin Mei yang lebih dulu pergi. Dia celingak-celinguk mencari keberadaan gadis kecil tersebut, setelah menemukannya dengan cepat dia memegang tangannya agar tidak lepas lagi.
Gadis itu terkejut saat tiba-tiba sebuah tangan menariknya karena berpikir itu adalah orang jahat dia ingin berteriak, namun belum sempat membuka mulut sebuah bekapan disertai suara mengagetkannya.
"Stttt jangan berteriak. Kamu ingin mereka mengejar kita dan menikahkan kita karena dituduh berbuat tercela?"
"Kenapa mengejutkanku. Kan bisa memanggil ku bukan langsung menarik seperti tadi," kesal Putri Xiao Lin Mei.
"Dari tadi aku sudah memanggilmu, Al. Kamunya saja yang tidak mendengar dan sibuk dengan melirik kesana-kemari."
"Baiklah-baiklah, maafkan aku."
Merekapun beriringan menuju tempat penerbangan lampion. Putri Xiao Lin Mei dibuat takjub dengan pemandangan dihadapannya, dimana saat ini langit gelap kerajaan Awan dipenuhi dengan cahaya lampion.
"Di sini ada sungai juga?"
"Iya, pemandangan akan lebih cantik jika dengan menaiki sampan. Apa kamu mau?"
__ADS_1
"Boleh, ayo kita menyewa sampan."
Putri Xiao Lin Mei menarik lengan pria itu membawanya ketempat penyewaan sampan. Setelah mendapatkan sampan Raja Zhang Jiang Wu pun mengajak Putri Xiao Lin Mei menaikinya dan duduk di sampan itu, sementara dia yang mendayungnya.
"Jiang Wu, apakah aku boleh meminta sesuatu?"
"Boleh, apa itu? Aku akan mewujudkannya selama aku mampu."
"Apakah aku boleh egois dengan memintamu untuk menjadikan ku satu-satunya di hidupmu nanti, dan tidak memperbolehkan mu mencari selir? Bukan apa-apa, hanya saja aku takut jika peristiwa yang dialami oleh ayah akan menimpaku juga," ujarnya.
"Al, kita memang tidak tahu takdir apa yang akan membawa hubungan kita nanti. Tapi, percayalah aku akan berusaha menutup celah orang lain yang berpotensi merusak hubungan kita."
"Berdoalah, semoga Tuhan akan melindungi hubungan kita dari hal-hal semacam itu."
"Semoga saja. Aku tidak ingin anak-anak kita nanti mengalami hal sama seperti yang dialami oleh Putri Xiao Lin Mei dan Pangeran Xiao Jinshi. Mereka harus kehilangan permaisuri Shi An Mei karena keserakahan orang lain."
Setelah berkata seperti itu keheningan melanda mereka, baik Putri Xiao Lin Mei dan Raja Zhang Jiang Wu mereka sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing. Raja Zhang Jiang Wu yang sibuk mendayung sampan mereka hingga ke tengah dan Putri Xiao Lin Mei yang sibuk bermain air.
Setelah sampai di tengah-tengah Putri Xiao Lin Mei berinisiatif menerbangkan lampion dibantu oleh Raja Zhang Jiang Wu. Sesaat sebelum menerbangkan lampion nya gadis itu menuliskan nama mereka lalu memejamkan matanya meminta permohonan, hal itu juga dilakukan oleh Raja Zhang Jiang Wu pria itu juga ikut memejamkan matanya sesaat setelah diberitahu oleh Putri Xiao Lin Mei.
Setelah selesai dengan permohonan masing-masing mereka berdua melepaskan lampionnya, perlahan-lahan lampion yang tertuliskan nama mereka itu terbang membawa harapan yang disematkan ke duanya.
Setelah puas bermain di pantai serta mengunjungi festival lampion akhirnya Raja Zhang Jiang Wu memutuskan untuk mengajak Putri Xiao Lin Mei pulang ke istana.
Tanpa menunggu lama akhirnya kuda yang di tunggangi pun sampai di gerbang istana, penjaga yang kebetulan sedang bertugas pun membukakan pintunya.
Setelah sampai di depan Raja Zhang Jiang Wu pun meminta Putri Xiao Lin Mei turun.
"Baiklah," ujarnya.
Laki-laki itu pergi ke kandang kuda sebentar meninggalkan Putri Xiao Lin Mei di tempat itu sendirian.
Putri Xiao Lin Mei berdiri menunggu pria itu sambil sesekali menggosok tubuhnya yang terasa dingin.
"Maaf menunggumu lama."
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit dingin saja," ujar Putri Xiao Lin Mei.
"Sekarang ikut aku." Dengan menarik pelan tangan Putri Xiao Lin Mei.
"Kita mau kemana lagi?" Tanya Putri Xiao Lin Mei.
Tidak ada habisnya laki-laki itu membuatnya penasaran.
Tanpa membalas perkataan gadis itu Raja Zhang Jiang Wu menarik tangan gadis itu lalu mengajaknya ke ruang pertemuan.
Mengetahui arahnya, gadis itu mengernyit heran, dia menatap kembali pria itu mencari jawaban. Tapi laki-laki itu hanya menunjukkan raut wajah datar bak tembok.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Putri Xiao Lin Mei mendengus kesal karena diacuhkan.
"Kenapa?" Tanya Raja Zhang Jiang Wu.
"Tau lah, ku kesel."
"Sabar, sebentar lagi kamu akan tahu. Jadi, jangan cemberut seperti itu dong."
"Okey okey, aku menyerah."
Gadis itu menatap sebal pria disampingnya lalu membuang muka ke arah lain. Lagi lagi Raja Zhang Jiang Wu harus bersabar menghadapi gadisnya. Jika tidak semua rencananya akan gagal.
Merekapun akhirnya meneruskan perjalanan yang tertunda menuju tempat pertemuan.
Merekapun akhirnya sampai, Putri Xiao Lin Mei tertegun dengan banyaknya orang di sana.
Di sana semua orang sudah berkumpul seperti akan merayakan sesuatu, di tempat itu banyak sekali hidangan dari berbagai jenis makanan.
"Jiang Wu, ada apa ini?"
"Selamat ulang tahun, Ratu ku. Mari, mereka sudah menunggumu."
"Eh tunggu dulu. Ulang tahun?" Putri Xiao Lin Mei terdiam.
"Astaga, kenapa aku bisa melupakannya. Jadi, kamu sudah merencanakan ini semua?"
"Aaaaa terimakasih."
Putri Xiao Lin Mei bergembira, lalu memeluk pria itu dengan senang.
Merekapun bergabung dengan orang lain yang sudah menunggu kedatangannya.
Setelah bintang utama hari ini sudah hadir Raja Xiao Ren pun mempersilahkan semua orang untuk memakan hidangan yang sudah dipersiapkan.
Semua orang menikmati hidangan tersebut dengan hikmat, begitu pula dengan Putri Xiao Lin Mei. Gadis itu bahkan mengambil lebih banyak dari yang lainnya membuat semua orang merasa gemas dengan tingkahnya.
"Gadis ini," gumam Raja Zhang Jiang Wu menggeleng.
"Pelan-pelan saja makannya tidak akan ada yang mengambilnya," ujar Raja Zhang Jiang Wu.
Putri Xiao Lin Mei hanya nyengir kuda mendengar perkataan Raja Zhang Jiang Wu.
*
*
*
__ADS_1
*
Bersambung ....