Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Sad Seventeen


__ADS_3

“Ada apa ini?” tanya neneknya dengan begitu syok.


Sementara itu, ibu gadis cerewet itu sudah memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan mengambil kopernya yang bahkan belum sempat dikeluarkan isinya semalam.


“Ibu, Ibu mau kemana?” rengek gadis cerewet itu.


“Pergi saja! Aku tak peduli,” ucap ayah gadis cerewet itu.


“Ibu, jangan pergi dulu!” tangisnya. “Ibu baru datang semalam, aku belum sempat main bersama Ibu... Aku masih rindu sekali dengan Ibu.”


“Jangan pergi dulu! Selesaikan semuanya baik-baik,” ucap neneknya.


Tapi, ibunya sama sekali tak peduli. Ia berjalan dan menggeret kopernya.


“Ibuuuu.…” Gadis cerewet itu terus menangis sambil menarik tangan ibunya.


“Iiiiiikkh, lepaskan!” bentak ibunya.


“Ibuuuu….”


“Tinggallah dulu beberapa hari lagi!” pinta neneknya. “Kasihan melihat putrimu.”


“Aku tidak perlu mengasihaninya,” ucap ibunya. “Karena anak ini semua karirku berakhir. Harusnya ibu yang mengasihani aku. Ini semua perbuatan Ibu,” teriaknya. “Ibu sudah menghancurkan hidupku, masa depanku, impianku, semuanya … dan memaksaku untuk hidup bersama pria yang paling kubenci ini.” Ia menunjuk ayah gadis cerewet itu. Neneknya seketika menangis mendengar ucapan itu.


“Sekarang biarkan aku pergi!” Ibu gadis cerewet itu bergegas menuruni tangga dengan begitu cepat.


Gadis cerewet itu pun berlari menuruni tangga untuk mengejarnya. Tapi, langkah kaki ibunya terlalu cepat. Ia sudah sampai di ambang pintu. Sehingga, gadis cerewet semakin berlari. Kemudian, “Aaaaaaahhh….” Gadis cerewet jatuh berguling-guling dari tangga dengan keras.


Ayah dan neneknya mendadak panik. Sementara itu, ibunya sudah membuka pintu mobil, menaikinya, dan dalam sekejap pergi dari rumah itu.


Beberapa jam kemudian gadis cerewet sudah terbaring di sebuah kamar rumah sakit. Tangannya patah. Hanya nenek yang menemaninya di ruangan itu.


Saat itu zaman belum secanggih saat ini, belum ada ponsel. Jadi, neneknya tidak bisa segera menghubungi ibunya dan memberitahukan keadaan gadis cerewet itu.


Setelah beberapa hari kemudian ibunya pun baru bisa diberi kabar. Namun, ekspresi ibunya ketika mendapat kabar itu sangat datar dan hanya berkata, “Syukurlah jika dia sudah ditangani dokter dengan baik.” Tidak ada kecemasan sedikitpun.

__ADS_1


Ayahnya pun tak lama kemudian berkata pada neneknya, “Bu, aku harus segera pergi kembali. Pekerjaan kantor di luar kota sudah sangat menumpuk.”


“Tapi, putrimu belum sembuh. Dia butuh perhatianmu,” ucap neneknya.


“Tiket pesawatku sudah dipesan. Sore ini aku berangkat.” Dan, sore itupun ayahnya pergi meninggalkannya. Hanya ada dia dan neneknya kini.


“Mengapa nenek menangis?” tanyanya. "Jangan menangis, Nek!"


“Maafkan nenek, Sayang,” ucap neneknya. “Nenek bersalah padamu, sangat bersalah.”


“Seandainya nenek tidak memaksa ibumu menikah dengan ayahmu dulu, semua tidak akan menjadi seperti ini. Kini kau yang menjadi korban, kau ditelantarkan begitu saja, mereka tidak mempedulikanmu. Kau tidak bersalah. Semuanya kesalahan nenek.”Gadis cerewet hanya diam dengan tatapan matanya yang polos.


“Nenek bersalah padamu.”


“Mengapa nenek berkata seperti itu?” Gadis cerewet itu ikut menangis.


“Nenek tahu... ayahmu dulu sudah punya kekasih, nenek juga tahu ibumu belum ingin menikah dan tidak mencintai ayahmu. Tapi, demi mewujudkan keinginan nenek... untuk menikahkan ibumu dengan putra sahabat nenek, nenek memaksanya."


"Nenek pikir... pada akhirnya dia pasti akan bahagia. Lagipula, kakek membutuhkan orang untuk menggantikannya meneruskan usaha. Ayahmu pria yang sangat baik dan cerdas. Nenek pikir ibumu akan begitu beruntung mendapatkannya. Tapi, ternyata semua menjadi seperti ini. Maafkan nenek, maafkan nenek, Sayang. Nenek bersalah padamu.…”


“Heiii, kau menangis lagi.” Ucapanku membuyarkan semua ingatannya.


“Kupikir tadi kau hanya melamun. Apa yang kau pikirkan?” tanyaku.


“Sudahlah,” ucapnya sambil berusaha menyeka air matanya yang tak berhenti keluar.


“Percuma kau hapus air matamu,” ucapku sambil terus menatapnya.


“Mengapa kau menatapku seperti itu?” tanyanya.


“Baru kali ini kulihat ada orang yang menangis begitu sedih setelah meniup lilin ulang tahunnya,” jawabku. “Ada apa sebenarnya? Ceritakan padaku!”


Gadis cerewet itu hanya diam, mengunci rapat bibirnya. Aku pun kembali bertanya, “Apa karena masalah kedua orang tuamu?”


Gadis cerewet itu tidak menjawab.

__ADS_1


“Hmmmh … tak seharusnya kau menangis di hari ulang tahunmu.” Aku berkata dengan sungguh-sungguh. “Seharusnya kau bersyukur karena Tuhan masih memberikanmu kesempatan untuk terus hidup hingga kau bisa berulang tahun pada hari ini.”


“Aku tak pernah suka hari ulang tahunku,” ucapnya kemudian.


Aku menatapnya heran. “Mengapa?”


“Semakin bertambah usiaku, semakin dekat pula perpisahan itu akan terjadi,” jawabnya.


“Perpisahan? Perpisahan apa?” tanyaku semakin penasaran.


“Kedua orang tuaku akan segera bercerai saat usiaku genap 18 tahun,” ucapnya. “Jika itu benar-benar terjadi, itu artinya aku tidak akan punya kesempatan sama sekali lagi untuk bisa hidup normal berkumpul satu keluarga layaknya orang-orang lain.”


“Sejak kecil impian terbesarku adalah ingin hidup bersama kedua orang tuaku, tinggal di bawah satu atap yang sama, bisa bertemu setiap hari. Aku sangat ingin hidup normal... seperti orang lain.” Ia semakin menjatuhkan butiran-butiran air matanya.


“Memangnya kau tidak pernah tinggal bersama orang tuamu?” tanyaku sedikit terkejut.


“Sejak usiaku dua bulan ibu sudah pergi meninggalkanku. Begitu juga dengan ayahku. Mereka pergi melanjutkan hidup mereka masing-masing. Ibu kembali mengejar karirnya dan ayah sibuk mengurus bisnisnya. Mereka hidup terpisah selama bertahun-tahun dan tidak pernah kembali kecuali jika lebaran tiba. Namun, semenjak nenek meninggal, mereka bahkan tidak pernah lagi kembali saat lebaran,” ucapnya.


Tiba-tiba hatiku ikut terasa perih mendengar ucapannya. 'Apa yang dikatakannya benar-benar kenyataan?' pikirku.


“Saat ini usiaku 17 tahun, itu artinya tinggal satu tahun lagi kesempatanku untuk bisa berharap agar mereka tidak bercerai.” Suaranya terdengar seperti orang putus asa.


 “Jadi, selama 17 tahun ayahmu hidup sendiri, ibumu hidup sendiri, dan kau hidup sendirian?” tanyaku. Aku menjadi sedikit bingung.


“Mengapa harus pada saat usiamu 18 tahun mereka bercerai?” tanyaku kemudian.


“Sebelum kakekku meninggal -saat ibu masih mengandung- ia berwasiat agar ibu dan ayah tidak bercerai sebelum aku dewasa. Ia ingin aku mempunyai keluarga yang utuh. Ia tidak ingin aku kehilangan orang tuaku.”


“Tapi, ternyata meskipun tidak bercerai, ayah dan ibumu tetap tidak hidup bersamamu?” gumamku. “Lalu, untuk apa mereka tidak bercerai. Hidup terpisah sendiri-sendiri. Itu sama saja dengan mereka sudah bercerai. Apa gunanya mereka menghabiskan waktu belasan tahun hidup seperti itu?”


Gadis cerewet itu tidak mau menjawab. Ia mengunci bibirnya untuk tidak mengatakan bahwa kedua orang tuanya melakukan itu demi warisan. Ayah dan ibunya belum bercerai demi mendapatkan warisan kedua orang tua mereka.


Nenek dan kakek gadis cerewet itu, baik nenek-kakek dari sebelah ibunya maupun nenek-kakek dari sebelah ayahnya, sebelum meninggal sudah sepakat tidak akan menjatuhkan warisan mereka pada masing-masing anak tunggalnya jika mereka bercerai. Kalaupun harus terpaksa bercerai, mereka baru boleh bercerai jika usia gadis cerewet sudah 18 tahun. Syarat yang berat bagi ayah dan ibu gadis cerewet untuk tidak bercerai dan itu tertulis jelas dalam surat wasiat pembagian harta warisan.


Tapi, ternyata pemikiran itu meleset. Ayah dan ibu gadis cerewet bukanlah anak kecil lagi yang bisa diatur dengan mudah. Keduanya mempertahankan ego masing-masing. Apalagi, tak lama setelah menikah, kedua orang tua dari ayah gadis cerewet kemudian meninggal dalam kecelakaan. Setelah itu, ayah dari ibunya pun juga ikut meninggal. Sehingga, tak ada lagi orang yang bisa mengontrol keinginan mereka untuk tidak berpisah.

__ADS_1


Hanya tinggal neneknya yang kemudian juga meninggal saat usianya sembilan tahun. Namun, sebelum meninggal neneknya berpesan agar kedua pembantu kepercayaannya merawat gadis cerewet dengan baik. Sebagai balas jasa neneknya memberikan mereka sebuah rumah sederhana untuk mereka tempati bersama gadis cerewet. Dan, rumah itu adalah rumah yang gadis cerewet tempati saat ini bersama paman dan bibinya yang dulu tidak lain adalah kedua pembantu neneknya.


__ADS_2