
Aku sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah, mengemudikan mobilku sangat pelan sambil mengingat lagi-lagi Mimi baru saja menolakku untuk mengantarnya pulang. Ia lebih memilih jalan kaki dan seperti biasa Reno menggiringnya dari belakang.
'Mungkin saat ini dia sudah sampai di rumah,' pikirku. 'Aku harus bicara dengannya.'
'Aku harus bertemu dengannya segera,' batinku lalu dalam sekejap kuputuskan untuk tidak jadi pulang ke rumah meskipun sudah sangat hampir sampai. Aku memutar balik dan meluncur menuju rumah Mimi.
Aku mengetuk pintu rumahnya saat sudah sampai. Mimi pun muncul di ambang pintu dengan penampilan khasnya yang tidak feminin sama sekali. Ia seperti pria dengan celana kargo panjang dan kaos oblong besar. Kemudian, ia bertanya, "Rhama... untuk apa kau ke sini?"
Seketika aku menjadi grogi. Aku bingung harus menjawab apa. 'Untuk apa aku ke sini?'
"Aaahhhh... aku... aku... ingin menepati janjiku untuk mengajarimu pelajaran yang tak kau mengerti," ucapku kemudian dan ekspresi Mimi tampak heran.
"Aku pernah berjanji padamu, bukan? Dan aku belum menepatinya."
Mimi tampak semakin heran.
"Bukankah janji harus ditepati. Seorang pria sejati harus menepati janji." Aku menjadi semakin grogi.
"Bukankah kau sudah pernah mengajariku mengerjakan soal di sekolah?" ucap Mimi datar.
"Kapan?" tanyaku.
"Saat jam istirahat. Waktu itu kau menyuruh Reno membeli gorengan," ucapnya polos dan aku pun jadi teringat dengan kejadian itu.
"Hahhh, ituuu...." Aku bingung harus berkata apa. "Itu tidak masuk hitungan. Itu hanya secuil soal. Aku tidak menganggapnya sebagai penepatan janji. Kali ini aku benar-benar ingin menepati janjiku untuk mengajarimu."
Sementara itu, Mimi jadi menatapku dengan tatapan kecurigaan. 'Sebenarnya apa yang direncanakannya? Mengapa dia tiba-tiba jadi sangat baik?' pikir Mimi.
"Aaahhh, ayolah! Apa lagi yang kau pikirkan? Aku sudah jauh-jauh datang ke rumahmu dengan niat baik," ucapku. "Kau mau belajar tidak? Waktuku tidak banyak. Aku sudah susah payah meluangkan waktuku ke sini. Setidaknya kau harus menghargainya."
"Baiklah," ucapnya kemudian. "Dua hari lagi kelas kami akan mengadakan simulasi ulangan akhir Biologi. Ada sedikit materi yang masih aku bingungkan."
"Ya, sudah... bawa bukumu ke sini! Kita mulai belajar." Aku bergegas duduk di kursi terasnya.
Tak lama kemudian dia sudah muncul kembali di teras dengan membawa sejumlah buku dan kotak pensil. Aku langsung bertanya, "Apa yang kau bingungkan?"
__ADS_1
"Aku masih kurang paham tentang pola hereditas. Tolong jelaskan padaku!"
"Aaahh itu mudah sekali," ucapku. Aku merebut buku tulisnya dan menggambarkan sebuah tabel hereditas sambil berkata, "Kita ambil contoh. Jika seorang pria berkulit normal menikah dengan wanita berkulit normal. Tapi, mereka berdua sama-sama pembawa gen albino. Berapa persen keturunan mereka yang akan mengalami albino?"
Aku mencoret-coret bukunya sambil terus menjelaskan dan ia sangat memperhatikan. "Fenotipenya adalah ... Genotipenya adalah ... Ini dipasangkan seperti ini...." Aku menggambarkan tabel di bukunya.
Dan, pada akhirnya aku berkata, "Apa kau sudah paham?"
Ia mengangguk. "Ya, paham," ucapnya.
"Jika begitu, coba kerjakan soal dariku!" Aku langsung menyambarnya.
"Jika seorang pria tampan dan jenius menikahi wanita jelek dan bodoh. Maka, bagaimana kemungkinan yang terjadi pada keturunan mereka?"
"Apakah anak-anak mereka akan terlahir tampan dan cantik?"
Mimi bengong. Lalu, ia protes, "Mengapa soal darimu susah sekali? Tadi kau menjelaskan dengan contoh yang sederhana. Tapi, sekarang kau memberikan soal yang rumit."
"Hahahahaha...." Aku tertawa. "Itu untuk menguji sudah sejauh mana pemahamanmu dengan konsep yang kuajarkan tadi."
"Hmmmmhhhhhhh...." Aku menarik nafas panjang. 'Dia memang kurang cerdas,' batinku.
"Coba kau gambarkan dulu tabel hereditasnya!" ucapku.
"Pria tampan ... jenius," gumamnya sambil memegang pena dan siap menulis. "Aaahhh... bagaimana menuliskan genotipenya? Sifatnya ganda... tampan dan jenius. Tadi kau memberikan contoh hanya satu sifat yang akan diturunkan... albino. Hanya albino saja, bukan albino dan ditambah sifat lainnya."
"Coba kerjakan dulu!" ucapku.
"Kau curang!" Ia meletakkan penanya. "Kau memberikan soal tak sesuai dengan yang kau jelaskan. Lagipula, ini soal konyol. Mana ada pria tampan jenius mau menikahi wanita jelek dan bodoh," gerutunya.
"Mungkin saja ada," ucapku segera.
"Berarti pria itu bodoh," tegas Mimi langsung. "Tidak normal, seleranya buruk."
"Heii, ini bukan tidak mungkin. Cinta itu buta, kadang tidak memandang fisik." Aku bersikeras mempertahankan pendapatku.
__ADS_1
"Itu hanya ungkapan klise. Pada kenyataannya pria tampan akan memilih gadis yang cantik untuk jadi pasangannya." Mimi membantah. "Apalagi ia jenius, ia tidak akan memilih wanita bodoh sebagai pasangannya karena tidak akan cocok. Yang satu pemikirannya spektakuler, sedangkan yang satunya lemot. Hubungan di antara mereka pasti tidak akan bisa berjalan dengan baik."
"Jika pernikahan seperti ini memang benar-benar terjadi, maka yang diuntungkan hanya si wanita. Si pria akan menderita," cerocosnya.
"Berarti kau akan sangat beruntung jika menikah dengan pria seperti aku." Aku terceplos.
Mimi tercengang. "Hahh?? Apa maksudmu?"
Aku terdiam.
"Jadi, maksudmu wanita jelek dan bodoh itu aku?" Mimi melotot. "Kau pikir kau pria tampan dan jenius?"
'Tentu saja aku pria tampan dan jenius.' Aku menjawabnya hanya di dalam hati, tak berani mengatakannya secara langsung di depan Mimi karena pasti ia akan mengamuk besar.
"Kurang ajar!" ucapnya geram. "Meskipun aku wanita jelek dan bodoh sekalipun, aku tak mau menjadi pasanganmu," tegasnya. "Kau menyebalkan, masih banyak pria lain di muka bumi ini."
Dalam hitungan detik perkataannya sangat menyambar hatiku. Aku terdiam kaku. 'Ia tak mau jadi pasanganku,' batinku. Perkataannya sangat menusuk hatiku. Ternyata, ia tak merasakan perasaan apapun padaku. Ia tak punya tempat di hatinya untukku.
"Hei, Rhama! Rhama!" Mimi berusaha menyadarkanku dari kebengonganku. "Mengapa kau mematung diam saja? Ponselmu berbunyi."
"Eeehhh!" Aku tersadar dari kebengonganku.
"Ada apa denganmu?" tanyanya.
"Oohhh, tidak apa-apa. Aku hanya baru ingat, aku belum mengabari mama bahwa aku tidak langsung pulang," ucapku lalu bergegas menjawab telepon.
"Ya, Mama...."
Dari seberang saluran mama berkata, "Mengapa belum juga sampai di rumah? Apa kau masih mengantar Mei pulang? Mama hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
"Ya, aku tidak langsung pulang, Ma. Aku belajar kelompok dulu di rumah temanku. Maaf aku lupa mengabari Mama." Suaraku agak gugup.
"Hmmmm... mengapa mendadak sekali? Mulai hari ini kan setiap pulang sekolah kau ada les privat di rumah untuk persiapan ujian akhir, Rhama. Mama kan sudah bilang padamu. Mama sudah memanggil guru berkompeten untuk mengajarimu. Sebentar lagi dia akan datang," cerocos mama.
"Oooh... tapi, aku masih di rumah temanku, Ma." Aku bingung. Lalu, mendadak saja terbersit sebuah pemikiran di otakku.
__ADS_1