
Aku kesal melihat kehadiran Reno di kelas gadis cerewet. Ingin sekali rasanya aku berteriak padanya, 'Menyingkirlah!' Tapi, itu tak kulakukan.
"Mimi ayo kita ke kantin! Aku traktir," ajak Reno.
"Aku tidak bisa. Setelah jam istirahat ini, kami akan ulangan Fisika. Terakhir kali ulangan nilaiku jelek. Kali ini aku ingin lebih siap agar nilaiku bagus. Aku harus memanfaatkan jam istirahat ini untuk belajar," jelasnya panjang lebar.
"Hei, mengisi perut kan juga salah satu persiapan untuk ulangan," ucap Reno. "Jika kau lapar, kau tidak bisa berkonsentrasi. Jadi, ayo kita makan dulu!"
"Tidak, aku tidak lapar," ucap Mimi.
"Kau bohong," ucapku membuat Mimi dan Reno segera menoleh. Aku sudah berdiri di dalam kelas Mimi, tak jauh dari mereka. "Kau pasti lapar," ucapku.
"Iya, ayo kita ke kantin dulu!" ajak Reno pada Mimi.
"Mengapa tidak kau saja yang ke kantin sendirian dan belikan Mimi makanan lalu bawa ke sini?" tanyaku pada Reno. "Kau dengar sendiri kan Mimi ingin belajar untuk persiapan ulangan."
"Tapi...."
Ucapan Reno terhenti karena aku segera menyelanya. "Tapi, apa? Cepat pergilah ke kantin sebelum jam istirahat berakhir! Nanti Mimi tak sempat makan."
"Oohhh, baiklah," ucap Reno. "Aku akan membelikan gorengan kesukaanmu."
"Tidak usah," ucap Mimi.
"Sudah cepat pergilah sana!" Aku mengusir Reno dan ia bergegas berlari ke kantin. Sedangkan, aku jadi tersenyum lebar dan Mimi serius menatapku.
"Kau sengaja supaya dia pergi kan?" ucap Mimi.
"Yaaaa." Aku mengangguk. "Memangnya kau ingin belajar ditemani olehnya?" Aku melangkah mendekati mejanya dan segera duduk di bangku kosong yang ada di sampingnya. Sehingga, para siswi yang ada di dalam kelasnya segera berebut berbisik membicarakan kami.
Sementara itu, dengan sigap Mimi langsung segera menggeser kursi yang didudukinya hingga benar-benar berhimpit dengan dinding, menjauhi kursi yang aku duduki. Ia sepertinya tak mau duduk terlalu dekat denganku. Sedangkan, aku segera berkata, "Mengapa? Apa kau grogi duduk satu meja dengan pria tampan sepertiku?"
"Ciiihhhh! Kau geer sekali."
Aku tersenyum geli. Aku malah suka dengan sikapnya yang tak dengan mudah bisa didekati laki-laki. Ia bukan tipe wanita yang mau dan mudah untuk disentuh, sangat berbeda dengan Mei.
"Menyingkirlah dari mejaku! Aku tidak punya waktu untuk meladenimu. Aku harus memanfaatkan sisa waktu ini. Aku ingin belajar. Pergilah sana!" Ia mengusirku.
"Memangnya apa yang kau pelajari?" Aku melirik kertas coretan di mejanya. Ia mengerjakan sebuah soal Fisika dan kulihat penyelesaian soal yang ia tulis salah.
__ADS_1
"Hahh, ini salah." Aku segera merampas pensil di jarinya tanpa bisa ia cegah.
"Seperti ini mengerjakannya." Aku pun mengajarinya cara penyelesaian yang benar dari soal itu. Ia tampak benar-benar memperhatikannya. Kami lalu mengerjakan beberapa soal bersama-sama dan para siswi lainnya terus memandangi gerak-gerik kami.
Lalu, Mimi berkata, "Sudah cukup! Terima kasih banyak sudah mengajariku. Pergilah sana! Kau tidak boleh di sini bersamaku. Kau harus menjaga perasaan Mei."
Aku diam dan dia lagi-lagi berkata, "Pergilah sana!"
Aku menatapnya dan berkata dengan mantap, "Kami sudah tidak bersama lagi. Kami sudah putus."
Mimi tercengang dan langsung menatapku. Lalu, tiba-tiba Reno muncul di hadapan kami dengan nafas terengah-engah. "Mimi, maaf agak lama. Karena, seperti biasa... banyak siswa berdesakan berebut gorengan."
"Aku juga membelikan air minum untukmu," ucap Reno masih dengan nafas terengah.
"Aku tidak lapar," ucap Mimi. "Untukmu saja!"
Seketika itu juga raut wajah Reno tampak kecewa. Bukan satu kali ini saja Mimi membuatnya kecewa, namun hampir setiap hari. Namun, Reno tetap terus optimis dan pantang menyerah mendekati Mimi.
Seperti saat pulang sekolah hari ini. Lagi-lagi Mimi menolak tawaran Reno untuk diantar pulang. Sejak kejadian pertemuan dengan preman di jalan waktu itu setiap hari Reno selalu menawarkan diri untuk mengantarkan Mimi pergi dan pulang sekolah. Namun, Mimi selalu tidak mau. Sehingga, akhirnya Reno selalu menggiring Mimi berjalan kaki dari belakang dengan motornya setiap hari. Karena, Reno khawatir Mimi akan bertemu kembali dengan preman itu di jalan.
Hari ini pun Mimi kembali menolak kebaikan Reno. "Pulanglah! Aku bisa pulang sendiri."
"Hmmmh, terserah kau saja." Mimi segera berjalan meninggalkan Reno. Lalu, Reno menggiring Mimi dengan motornya.
Aku yang mengamati gelagat mereka dari kejauhan segera merapatkan mobilku ke sisi jalan di depan Mimi. Langkah Mimi terhenti. Aku membuka kaca depan sebelah kiri mobilku dan berkata, "Hei, gadis cerewet... naiklah! Aku antar kau pulang."
Mimi melotot. Ekspresinya di luar dugaanku. "Aku bisa jalan sendiri," ucapnya. Lalu, ia kembali berjalan. Sehingga, aku pun menjalankan kembali mobilku dengan sangat pelan untuk mengimbangi langkahnya.
"Jangan keras kepala!" ucapku. "Bahaya jika kau jalan sendiri ke rumah. Bagaimana jika kau bertemu preman itu lagi?"
Namun, ia tetap bersikukuh berjalan kaki. Sehingga, aku kembali berkata, "Apa kau tidak kasihan pada Reno? Dia terus menggiringmu, mengawalmu agar kau aman sampai ke rumah."
Langkah Mimi terhenti. Ia menoleh ke belakang pada Reno yang masih terus menggiringnya. Lalu, tak lama kemudian ia berkata, "Reno, pulanglah! Hari ini aku pulang bersama Rhama."
"Ta... Tapi," Reno terlihat kecewa. Namun, Mimi berusaha untuk tidak peduli. Ia segera menarik pintu mobilku, membukanya dan masuk ke dalam mobil, duduk di sebelahku.
Aku benar-benar tak menyangka semudah itu dia berubah pikiran. Senyumku terkembang lebar. Sedangkan, Reno terbengong di sisi jalan. Tak ingin berlama-lama aku segera menjalankan mobilku, meninggalkan Reno.
Namun, belum sampai di depan belokan jalan menuju ke rumahnya Mimi berkata, "Nanti aku turun di depan lorong rumahku saja. Aku bisa jalan sendiri masuk ke dalam."
__ADS_1
Aku tercengang. "Mengapa begitu?" ucapku. "Aku akan mengantarmu sampai ke rumah."
"Tidak perlu. Sampai di sana saja," ucapnya segera. "Reno sudah tidak ada, preman itu sudah tidak ada. Di sana sudah aman."
"Oh, jadi kau ikut denganku untuk menghindari Reno?"
"Ya, aku tidak mau dia terus mengantarku pulang. Aku sudah cukup merepotkannya," gumam Mimi.
'Hahh, pantas saja secepat itu dia berubah pikiran... mau diantar pulang olehku,' pikirku. Aku sedikit sewot.
"Mengapa kau tak mau aku antar pulang?" tanyaku.
"Aku tak mau merepotkanmu," jawabnya segera.
"Aku senang kau repotkan," ucapku segera dengan sedikit emosi dan dia tiba-tiba saja terdiam, menatapku. Melihatku seperti melihat benda aneh.
Aku terceplos berkata seperti itu, mungkin itu terdengar sangat aneh baginya. Namun, aku pura-pura bersikap biasa. Aku menyalakan sein mobilku, ingin berbelok ke kiri untuk masuk ke jalan menuju rumah Mimi.
Mimi tersadar, ia segera berkata, "Aku turun di sini." Tapi, aku tak peduli. Aku tetap tidak berhenti, aku membelokkan mobilku memasuki jalan menuju rumahnya."
"Rhama, aku berhenti di sini," ucapnya lagi.
"Aku akan mengantarmu sampai ke pintu rumahmu," ucapku tegas.
"Mengapa kau sangat memaksa?" ucapnya kesal. "Aku ingin turun di sini."
Aku hanya diam dan mempercepat laju mobilku. Sehingga, Mimi menggerutu, "Kau aneh."
Aku tak peduli. Tak berapa lama kami sudah sampai di depan rumahnya. Ia segera turun dan menutup pintu. Bahkan, ia tidak mengucapkan terima kasih padaku. Aku membuka kaca jendela dan memanggilnya, "Hei, gadis cerewet...."
Dia menoleh. Aku segera berkata, "Besok pagi aku jemput."
"Kau aneh," ucapnya. "Tak usah jemput aku! Aku bisa pergi sekolah sendiri."
"Pokoknya besok aku jemput," ucapku. Sedangkan, dia segera melengos dan meninggalkanku. Aku menatapnya dari jauh hingga ia masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu.
Pintu itu pintu yang sama dengan pintu yang kulihat hari ini. Aku memandangi pintu itu dari jauh sejenak. Pintu itu sekarang tampak kusam tak terawat seperti dulu. Bertahun-tahun lalu pintu itu tampak mengkilat meskipun tidak baru lagi.
Aku berjalan mendekati pintu itu, melewati semak belukar di halaman rumah Mimi. Aku naik ke teras rumahnya. Debu begitu tebal menutupi lantainya. 'Sudah berapa lama rumah ini ditinggalkan?' pikirku.
__ADS_1
Lalu, aku kembali mendekati pintu itu. Aku memegang handle pintunya. Dan, 'Astaga!' Pintu itu tidak terkunci.