Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Tidak Suka


__ADS_3

Aku bergegas berlari ke garasi dan menatap sedan silver yang sebentar lagi akan kubawa. “Haahhh ... sudah begitu lama sekali aku menantikan momen ini.” Aku begitu terharu. “Akhirnya ... pagi ini ... terwujud.” Aku hampir menitikkan air mata.


Aku teringat betapa susahnya aku meratap di hadapan mama dulu. “Mama izinkan aku membawa kendaraan ke sekolah,” rengekku saat itu.


“Tentu saja, Rhama ....” Mama tersenyum begitu manis lalu berkata, “Mama sudah menyiapkan mobil untukmu.”


“Hah, mobil!” ucapku histeris karena kupikir mama hanya akan mengizinkanku membawa motor ke sekolah, bukan mobil. “Sungguhkah?” tanyaku.


“Sungguh,” jawab mama segera. “Sekarang berangkatlah ke sekolah dengan mobil! Kau sudah hampir terlambat. Pak Umar yang akan mengantar dan menjemputmu,” ucap mama.


“Apa?!” ucapku histeris. Otakku bergegas mencerna ucapan mama. Pak Umar yang akan mengantar dan menjemputku. Itu berarti aku akan membawa mobil ke sekolah beserta sopirnya, bukan diriku sendiri yang membawa mobilnya. Itu berarti aku akan terlihat seperti anak TK yang diantar jemput setiap hari.


“Tidak,” ucapku spontan. “Aku tidak mau, Ma.”


“Hahhh!” Ekspresi mama tampak terkejut. “Bukankah kau tadi berkata ingin membawa mobil ke sekolah?” ucap mama.


“Ya, aku sangat ingin, Ma. Tapi, aku ingin membawanya sendiri, aku ingin mengemudikannya sendiri tanpa sopir,” ucapku segera.


“Hohh ... Apa yang kau katakan, Rhama? Mama tidak akan membiarkanmu melakukan itu. Terlalu berbahaya. Bagaimana jika kau menabrak sesuatu? Bagaimana jika terjadi kecelakaan? Lalu, kau masuk rumah sakit, tak sadarkan diri, nyawamu terancam. Aaaahhh ... mama tidak sanggup membayangkannya,” ucap mama begitu panik.


“Kau putra mama satu-satunya, Rhama. Mama tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Mama tidak ingin kehilanganmu.” Mama nyaris menitikkan air matanya.


“Tapi, aku pasti akan berhati-hati, Ma. Aku bisa menjaga diriku sendiri,” ucapku.


“Haaaahh ....” Mama menjerit histeris. “Jalan raya itu sangat tidak aman, Rhama. Hati mama tidak akan tenang jika kau pergi mengemudikan mobil sendiri.” Mata mama berkaca-kaca. “Berangkatlah ke sekolah dengan sopir!”


“Tapi, Mama ... Aku ini sudah dewasa. Aku bukan anak TK lagi yang harus diantar jemput. Aku tidak ingin teman-teman sekolah menertawakanku,” ucapku. “Izinkan aku membawanya sendiri, Ma.” Aku begitu memelas.


“Tidak, Rhama,” ucap mama.


“Ma ....” rengekku. “Percayalah padaku! Aku pasti akan baik-baik saja.”


“Tidak,” ucap mama lagi. “Mama tidak akan membiarkanmu melakukan itu. Kau tidak boleh membawa kendaraan sendiri ke mana pun. Mama sudah menyiapkan sopir profesional untukmu. Ke mana pun kau ingin pergi katakan saja. Dia akan mengantarmu dengan selamat,” cerocos mama.


"Ma ....” rengekku lagi. “Kumohon....”

__ADS_1


“Tidak, Rhama,” tegas mama.


Ekspresi wajahku pun mengerut seketika. “Hmm ... baiklah. Jika begitu, lebih baik aku pergi ke sekolah tanpa mobil. Aku tidak mau diantar jemput. Aku akan pergi sendiri ke sekolah. Aku akan naik angkutan umum,” tegasku.


“Hoah ... tidak boleh begitu, Rhama,” ucap mama segera. “Angkutan umum sangat sesak. Itu tidak baik untukmu.” Mama tampak begitu khawatir dan aku berusaha mengambil kesempatan ini dengan segera berkata, “Jika begitu, izinkan aku membawa kendaraan sendiri, Ma.”


“Hakh ... tidak.” Mama bersikeras. “Itu lebih berbahaya.”


“Lebih baik kau diantar jemput oleh sopir angkutan umum daripada mengemudikan kendaraan sendiri. Lebih baik kau naik angkutan umum saja. Ada sopirnya yang akan mengantarmu dengan selamat sampai ke sekolah.”


“Hoahh ....” Aku hanya bisa menarik nafas panjang saat itu. Mama begitu keras dengan pendiriannya.


Tapi, hari ini sulit dipercaya aku bisa menyentuh kemudi mobil dengan tanganku sendiri. Aku bisa menginjak kopling, memasukkan gigi mobilnya, dan menginjak gas dengan kakiku sendiri. Aku begitu bahagia.


“Haha ... haha ....” Aku tertawa lepas dalam mobil yang kukendarai saat ini. Aku meluncur menuju ke sekolah dengan begitu gesit.


Sementara itu, mama di rumah tak henti-hentinya berdoa, “Semoga Rhama baik-baik saja. Ya Tuhan ... lindungilah, Rhama. Ia anak yang baik dan belum ahli dalam mengemudikan mobil. Jagalah selalu Rhama ... ya Tuhan.” Mama begitu panik. Jantungnya berdebar seiring dengan gerakan bibirnya yang tak henti berkomat-kamit.


Sedangkan, aku malah sibuk berkomat-kamit menyanyikan lagu yang mengalun dalam mobilku. Aku begitu menikmati perjalanan mengemudiku hingga akhirnya aku melintas di depan lorong menuju rumah gadis cerewet.


'Apakah gadis cerewet itu sudah bisa berjalan hari ini?' pikirku sambil terus mengemudi.


'Dia pasti masih kesulitan berjalan,' bisik hatiku kemudian dan dalam sekejap entah mengapa aku segera memutuskan untuk memutar balik mobilku. Padahal, aku nyaris sampai di depan gerbang sekolah.


Aku tak bisa membayangkan betapa susahnya gadis cerewet itu berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, padahal kakinya sedang terluka. Karena itu, aku bergegas mengemudikan mobilku menuju rumahnya. Aku ingin menjemputnya.


Tapi, ketika aku hampir sampai di dekat rumahnya, sebuah motor melintas di samping mobilku. Aku segera menginjak rem dan memperhatikan motor itu dengan kaca spion mobilku.


Itu Reno, tidak salah lagi. Dan, orang yang duduk di belakangnya adalah gadis cerewet. Ternyata, Reno sudah lebih dulu menjemput gadis cerewet itu.


“Hahh,” aku menghela nafasku. 'Aku terlihat seperti orang bodoh,' pikirku. 'Benar-benar bodoh. Untuk apa aku mempedulikan gadis cerewet itu? Ternyata, dia tidak butuh bantuan diriku sama sekali.'


 Lalu, tiba-tiba ponselku berbunyi. “Rhama apa kau sudah sampai di sekolah?” tanya mama segera begitu aku menjawab teleponnya.


“Belum, Ma ... sebentar lagi,” ucapku.

__ADS_1


“Hakh! Berarti kau sedang mengemudi sambil menjawab telepon,” pekik mama histeris. “Itu berbahaya sekali, Rhama. Kau belum mahir mengemudi. Kau harus benar-benar fokus! Jangan sambil menelepon!”


“Tapi, bukankah Mama sendiri yang meneleponku?” ucapku.


“Hohh, ya ... baiklah, mama akan berhenti meneleponmu,” ucap mama. “Ya sudah, hati-hati di jalan. Segera hubungi mama jika sudah sampai dengan selamat! Mengerti?”


“Ya, Ma,” ucapku pelan lalu menutup ponsel.


'Hmmm, mama selalu begitu ... terlalu berlebihan mencemaskanku,' pikirku.         


Karena itu, begitu sampai di sekolah aku segera mengabari mama. “Aku baik-baik saja, Ma,” ucapku melalui ponsel.


“Hohh, syukurlah,” ucap mama begitu lega. “Mama cemas sekali. Rhama. Kau putra kebanggaan mama satu-satunya. Kau cerdas, berbakat, atletis, super tampan, mempesona ... pokoknya perfect. Mama tidak sanggup jika terjadi apa-apa denganmu,” cerocos mama ketika aku berjalan menuju kelas.


“Ya, Ma ... Aku pasti akan selalu menjaga diri sebaik mungkin. Mama tenang saja,” ucapku lalu tiba-tiba saja mataku tertuju pada sesuatu.


“Sudah dulu ya, Ma.” Aku segera mengakhiri ucapanku tanpa melepaskan pandanganku sedikitpun pada gadis cerewet yang berjalan pelan di koridor.


Ia ditemani Reno. Mereka berjalan berdampingan dan senyum mengembang ceria di wajah Reno. Aku dapat melihatnya dari kejauhan. 'Hmm ... Sepertinya luka gadis cerewet itu tidak parah lagi,' pikirku. Buktinya ia sudah bisa berjalan, tidak seperti kemarin.


Tapi, entah mengapa perasaanku menjadi tidak bahagia melihat keadaannya saat ini. Mungkin karena aku tidak suka ia dengan begitu mudahnya menjadi akrab dengan Reno, orang yang sudah pernah membuatku babak belur. Atau, mungkin juga karena aku mengkhawatirkan dirinya jika bersama preman seperti Reno. Entahlah ... saat ini aku tak tahu pasti mengapa aku tidak menyukai keadaan ini.


'Harusnya aku tak mempedulikannya,' batinku ketika sampai di ambang pintu kelasku.


“Rhama,” sapa Mei yang ternyata telah berdiri di sana sejak tadi.


“Aku menunggumu sejak tadi. Aku ingin mengucapkan terima kasih,” ucapnya. Sehingga, aku menjadi terkejut bukan main mendengarnya.


'Mei menanti-nanti kedatanganku sejak tadi,' pikirku begitu tak percaya. Aku mendadak menjadi begitu girang dan serasa melambung tinggi.


“Tak seharusnya kemarin aku ....” ucapan Mei terputus karena aku segera berkata, “ Aku mengerti Mei. Tidak masalah bagiku.”


“Ia pacarmu. Harusnya aku tak mencampuri urusan kalian. Aku tak berhak,” ucapku dan Mei hanya terdiam.


“Semoga hubungan kalian terus bertahan,” lanjutku. Dengan sangat berat aku mengatakan kalimat itu lalu aku bergegas berjalan ke dalam kelas.

__ADS_1


“Kami sudah putus,” ucap Mei tiba-tiba yang membuat langkahku segera terhenti.


__ADS_2