Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Tidak Mengerti Cinta


__ADS_3

Aku jadi senyum-senyum sendiri mengingat tingkah Mimi tadi. 'Sebenarnya dia gadis yang bijak,' pikirku sambil menyetir mobil.


"Rhama," suara Mei menghapuskan pikiranku.


"Ya," jawabku. Aku spontan menoleh pada Mei yang duduk di sebelahku, seperti biasa aku mengantarnya pulang. Sekarang kami sudah hampir sampai, kami sudah memasuki jalan cor yang menuju rumahnya.


"Mengapa kau terus mengantarku pulang dan setiap hari selalu membantuku meskipun aku tak memintanya?" tanyanya.


"Aku senang melakukannya," jawabku segera. "Aku ingin melakukan apapun untukmu."


Mei menatapku dan aku melanjutkan ucapanku, "Bisa berada di dekatmu saja sudah bisa membuatku bahagia."


"Sejak pertama kali masuk sekolah kita, aku sudah menyukaimu. Aku ingin bisa terus bersamamu, meskipun kau tidak merasakan hal yang sama padaku."


"Aku juga tidak tahu mengapa alasannya. Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini pada gadis lain di sekolahku dulu yang sebelumnya. Tapi, di sekolah ini begitu pertama kali masuk ke kelas, perhatianku segera tertuju padamu. Aku masih ingat... hari pertama aku melihatmu... saat itu kau memakai jepit rambut biru muda untuk menahan ponimu dan kau menggunakan pena karakter lumba-lumba untuk menulis."


"Kau mengalihkan duniaku, ketertarikanku menjadi hanya tertuju padamu, begitu fokus padamu saja tanpa kau minta. Aku merasa senang ada di dekatmu."


"Kau begitu tulus, Rhama... membuatku... tak bisa menolak cintamu," ucapnya pelan.


"Ciiiittttttt!" Aku spontan mengerem mendadak.


"Rhama, ini berbahaya," ucap Mei segera.


"Mei," gumamku. "Apa maksud ucapanmu tadi?"


Mei diam dan aku memberondongnya dengan pertanyaan, "Apa itu artinya kau menerima cintaku? Apa kau mulai menyukaiku?"


Hatiku berdebar-debar menunggu jawabannya. Ia adalah gadis yang berbulan-bulan ini aku kejar. Aku sangat berharap ia memiliki perasaan yang sama sepertiku.


Kemudian, Mei mengangguk. Ia berkata, "Ya, Rhama. Aku menyukaimu."


"Sungguh?" tanyaku untuk memastikan.


Mei menganggukkan kepalanya dan aku mendadak begitu senang hingga spontan berkata, "Yessss, akhirnyaaaaaaa... terima kasih, Tuhan! Kau telah menjawab doa-doaku."


"Terima kasih, Mei," ucapku. "Aku tidak akan menyia-nyiakan cintamu. Aku akan selalu ada untukmu. Aku bahagia sekali." Mei tersenyum.

__ADS_1


'Ahhh, senyummu manis sekali,' batinku. 'Aku akan selalu mengingat senyumanmu ini.'


'Aku juga akan selalu mengingat hari ini, detik ini. Ini hari Rabu, hari dimana pada akhirnya Mei menerima cintaku.' Aku tak henti-hentinya tersenyum. Lalu, aku kembali menjalankan mobilku.


Sampai tiba di rumah pun aku masih tersenyum. "Aku pulang, Mamaaaaaaa!" teriakku kegirangan.


Mama menoleh sambil bergumam, "Ceria sekali."


Aku menaiki tangga menuju kamarku dan ternyata dalam sekejap mama sudah berjalan membuntutiku hingga ke kamar. Ekspresinya sedikit heran, sedangkan aku masih tetap saja memperlihatkan ekspresi bahagiaku yang membuat mama bertambah penasaran.


"Apa yang membuat anak mama seperti ini?" tanya mama.


"Tebaklah, Ma!" ucapku.


Mama sedikit berpikir lalu berkata, "Mei menerima cintamu?"


"Loh, Mama sudah tahu?"


"Ini tebakan yang sangat gampang," ucap mama. "Hal apalagi yang bisa membuatmu tersenyum lebar seperti ini? Pasti Mei bukan?"


"Apa sudah sangat tampak jelas tertulis di wajahku?" tanyaku sambil mendekati mama dan mama pun segera mengusap kedua pipiku. "Anak mama ternyata sudah dewasa," bisiknya.


Mama menarik hidungku sambil berkata, "Kenalkan dia pada mama! Mama sangat ingin mengenalnya."


Aku tersenyum lebar. "Segera," ucapku mantap.


Di saat yang sama Alvin juga sedang tersenyum lebar melihat penampilan baru sahabatnya, Reno. "Kau kelihatan manis sekali, hahahaha...." Ia menertawakan penampilan baru Reno. Sedangkan, Reno tetap duduk termenung di warung markas tongkrongan mereka.


"Tidak cocok untukmu," ucap Alvin. Reno pun segera menoleh.


"Maksudku akan lebih cocok jika kau menambahkan kacamata tebal di wajahmu, huahahahhahaa...." Alvin begitu puas menertawakan Reno, namun sedikitpun Reno tak menggubrisnya.


Hal ini membuat Alvin bertanya, "Apa yang membuatmu jadi begini?"


Reno tetap diam saja. Lalu, Alvin melirik Yoga dan Aldo. Sehingga, Aldo pun menjawab, "Bos jatuh cinta pada seseorang."


"Hahahahha...." Tawa Alvin kembali pecah. "Kau naif sekali. Seorang wanita membuatmu berubah menjadi seperti ini."

__ADS_1


"Jangan biarkan seorang wanita mengendalikanmu, Kawan! Ada banyak wanita di dunia ini. Kau bisa bersenang-senang dengan mereka semua. Jika kau tunduk pada satu wanita, maka ia akan besar kepala dan merasa harus paling dipentingkan dalam hidupmu," ucap Alvin.


"Bukankah kau sendiri juga seperti itu dulu pada Mei," celetuk Yoga.


"Hehh, aku tidak serius dengan Mei. Dia saja yang menganggap aku begitu mencintainya. Aku bosan dengannya," ujar Alvin.


"Dulu, yaa... hubungan kami memang manis. Tapi, lama-lama aku merasa seperti yang aku katakan tadi. Wanita itu merasa dia harus paling dipentingkan dalam hidupku. Aku tidak mau seperti itu. Aku ingin bebas. Ada banyak wanita di dunia ini. Sayang sekali jika kau harus menghabiskan masa mudamu hanya dengan satu wanita saja."


"Itu berarti kau tidak mencintainya." Reno akhirnya membuka suara.


"Tahu apa kau tentang cinta, Kawan?" ucap Alvin segera. "Kau itu masih anak ingusan dalam hal cinta. Cintamu itu hanya cinta monyet, hahahahaha...."


"Kau yang tidak mengerti cinta." Reno menatap Alvin dengan serius. "Jika kau cinta pada seseorang, berada di dekatnya saja... kau akan merasa bahagia... meskipun orang itu tidak memiliki perasaan yang sama denganmu."


Alvin terdiam menatap Reno lalu, "Huekkkk!" Ia meledek Reno dengan pura-pura muntah. "Dari pujangga mana kau mendapatkan kata-kata itu? Hahahahahaha...."


Reno diam, tak mau meladeni ucapan Alvin. Sedangkan, Aldo berkata, "Ternyata selama ini kau hanya mempermainkan Mei."


"Tidak juga," ucap Alvin. "Mei juga selama ini merasa senang kan menjalin hubungan denganku. Jadi, tidak ada yang dirugikan. Anggap saja kenangan masa muda."


"Tapi, Mei sepertinya berharap banyak padamu," ucap Yoga.


"Hahh, itu salahnya sendiri... menganggap hubungan kami terlalu serius," ucap Alvin. "Jangan terlalu serius, Kawan. Santai saja! Hubungan itu akan terasa menyenangkan jika kau tak menganggapnya serius. Jadi, ketika berpisah tidak ada hati yang merasa sakit. Patah satu tumbuh seribu. Banyak wanita lain menunggumu di luar sana. Mereka semua menyenangkan."


"Kau memang playboy," ucap Yoga.


"Hei, kita ini masih muda. Hidup itu harus dinikmati. Jangan sampai kau menyesal nanti setelah tua. Jika sudah menikah nanti kau baru harus setia." Alvin menggurui Reno, Yoga, dan Aldo. Namun, baik Reno, Yoga, maupun Aldo tampak tidak sepaham dengan ucapan Alvin.


"Hmmmm... aku penasaran, memangnya gadis mana yang telah membuat si brutal Reno ini menjadi pria manis seperti ini?" tanya Alvin.


Reno hanya diam. Begitu juga dengan Yoga dan Aldo. Sehingga, Alvin kembali berkata, "Ayolah, katakan!"


"Apa aku harus memberitahunya, Bos?" tanya Yoga.


Reno menggeleng lalu berkata pada Alvin, "Kau tidak akan tahu."


"Aku kenal banyak wanita di sekitarmu," ucap Alvin.

__ADS_1


"Aku beritahu juga, kau tidak akan kenal. Dia gadis biasa, tidak populer seperti teman-teman wanitamu," tegas Reno.


__ADS_2