
Aku memasuki kelas dan pemandangan di hadapanku segera membuatku sedikit terpana. Mei sudah berada di dalam kelas. Dia masuk hari ini, tidak seperti kemarin. 'Syukurlah,' batinku.
Aku berjalan mendekatinya, menuju tempat dudukku yang terletak di sebelah tempat duduknya -tapi, kami tak semeja. Ia sedikit tersenyum memandangku. Begitu sampai di tempat dudukku, aku bergegas bertanya, "Apa kabarmu Mei? Apa kau baik-baik saja?"
"Baik." Suaranya terdengar agak sinis.
Lalu, tak lama ia berkata lagi, "Tak semudah itu kau bisa menghancurkanku."
Aku jadi bengong karena terkejut mendengar ucapannya. 'Mengapa Mei berkata seperti itu?' pikirku.
"Kupastikan suatu hari kau akan menyesali tindakanmu, Rhama," bisiknya. Lalu, ia tersenyum lebar.
Aku menelan ludah mendengar ucapannya yang tampak serius. Mei sepertinya cukup dendam padaku. 'Apakah aku begitu menyakitinya?'
'Tidak, tidak, tidak! Aku akan lebih menyakitinya jika aku hanya terus memberikan harapan palsu,' batinku.
'Aku tak perlu menghiraukan ucapannya. Mungkin itu karena dia sakit hati padaku. Syukurlah ia sudah baik-baik saja. Seiring waktu semuanya akan kembali seperti semula dan berlalu. Dia akan mendapatkan pria yang lebih baik dariku.'
Tak lama kemudian bel tanda mulai pelajaran pun berbunyi. Wali kelas kami segera hadir karena mata pelajaran pertama adalah mata pelajaran yang diajarkannya. Setelah beberapa menit pelajaran berlangsung ia berjalan ke arahku. Sepertinya ia mulai menyadari sesuatu.
"Kamu berkelahi?" tanyanya sambil memandang wajahku yang sedikit memar, tanganku lecet, dan ujung bibirku terluka. Bajuku juga kotor. Sungguh aku tak bisa mengelak dan hanya mengangguk.
"Akhir-akhir ini kamu sedikit berubah, Rhama," ucapnya. Selama ini aku dikenal sebagai siswa yang patuh dan teladan. "Sejak kapan kamu suka berkelahi?"
"Aku ... hanya membela diri, Bu," ucapku.
"Kamu berkelahi di sekolah?"
"Tidak," jawabku segera. "Aku berkelahi di luar lingkungan sekolah, sewaktu akan berangkat sekolah."
Wali kelasku diam dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, dia berkata, "Pergi ke UKS! Obati dulu lukamu!" Ia berkata seolah ia cukup perhatian padaku.
__ADS_1
"Baik, Bu." Aku pun berjalan menuju UKS.
'Apa lukaku tampak parah?' pikirku ketika akan memasuki ruang UKS.
Lalu, setelah masuk ke dalam, kedua siswa yang menjadi petugas UKS hari ini tampak cukup tercengang. Mereka mematung menatapku, entah apa yang dipikirkannya. 'Apa mereka terpesona olehku?' pikirku dengan sombong.
"Tikk!" Aku menjentikkan kedua jariku untuk menyadarkannya dari kebengongan yang tak juga berujung. "Hai," ucapku. "Aku butuh sedikit obat merah untuk mengobati lukaku. Apa aku bisa mendapatkannya?"
"Ohh, ohh, ya... tentu," jawab salah satu dari mereka dengan kikuk.
Mereka segera memberikanku kapas, alkohol, dan obat merah. "Apa perlu kami bantu bersihkan lukamu?" tanya mereka dengan gugup.
"Tidak perlu... aku bisa," jawabku. Aku memilih membersihkan dan mengobati lukaku sendiri karena aku merasa sedikit tidak nyaman dengan kecanggungan sikap mereka. Sepertinya sebelumnya mereka sering membicarakanku karena kulihat mereka sedikit berbisik-bisik.
'Ada apa dengan mereka?' pikirku.
Lalu, tiba-tiba salah satu dari mereka bertanya, "Mengapa kau terluka?"
"Hmmhhh...." Aku menatap mereka, bingung harus bicara apa. Aku tak ingin mengatakan apapun agar tak salah bicara karena aku yakin jawaban apapun yang muncul dari bibirku ini dalam sekejap akan menjadi buah bibir di antara mereka dan menyebar ke satu sekolah.
"Mengapa bisa kebetulan sekali? Tadi aku melihat Reno dari kelas IPS juga sedikit terluka. Tapi, lebih banyak lukamu dan tadi aku sama sekali tak heran saat melihatnya terluka karena ia sudah biasa muncul di sekolah dengan tampang seperti itu."
Aku terdiam mendengar celotehan siswa petugas UKS itu. Sementara itu, temannya ikut menyahuti, "Aaahhhh... apa kau baru saja berkelahi dengan Reno?"
"Tidak, tidak, tidak," jawabku cepat. "Tidak ada hubungannya dengannya." Aku segera mengelak. Aku tak ingin mereka berasumsi macam-macam dan menciptakan gosip berdasarkan daya imajinasi mereka sendiri.
Aku harus cepat menyelesaikan membersihkan luka-lukaku, mengobatinya dan segera pergi dari sini. Mereka terlalu ingin tahu. Ini membuatku tidak nyaman.
Tiba-tiba pintu ruang UKS yang sejak tadi dibiarkan terbuka diketuk. Dua sosok siswi muncul di hadapanku. Satu siswi memapah siswi lainnya yang memucat dan siswi pucat itu adalah ... "Mimi," ucapku terkejut.
Kedua petugas UKS segera membantunya duduk di kursi. Lalu, Mimi segera berkata, "Terima kasih, Helen."
__ADS_1
"Ya," jawab Helen, teman sebangku Mimi. "Aku kembali ke kelas lagi ya."
Mimi mengangguk dengan lemas. Ia begitu pucat, bibirnya kehilangan warna dan sepertinya tubuhnya berkeringat dingin. Salah satu petugas UKS segera mengendorkan ikat pinggang Mimi. "Kau pucat sekali," ucapnya.
Petugas UKS lainnya mengambil minyak angin dan mengoleskannya di pinggir dahi Mimi dan juga di lehernya. Sehingga, bau minyak angin seketika memenuhi aroma seisi ruangan. Ini membuatku segera berkata, "Apa kau masuk angin?"
Mimi hanya diam, tak menggubris ucapanku. Sementara itu, petugas UKS segera menyeduh secangkir teh manis hangat dan memberikannya pada Mimi. "Minumlah agar tubuhmu merasa lebih baik!" ucapnya.
Sementara itu, aku masih merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Hal ini membuatku tidak ingin cepat-cepat meninggalkan ruang UKS. Padahal, tadi aku sangat ingin segera berlari dari sini.
"Apa kau tadi sarapan?" tanya siswa petugas UKS.
Mimi menggeleng lemah. "Aku tadi tidak sempat sarapan," ucapnya pelan.
'Hoh, pantas saja dia jatuh sakit,' pikirku. 'Dia pasti masuk angin karena perutnya kosong. Tadi pagi dia baik-baik saja.'
'Hahh! Apakah dia tidak sempat sarapan karena tadi langsung pergi terburu-buru karena menghindari aku dan Reno tadi pagi?'
"Apa karena menghindari kami kau jadi tidak sempat sarapan?" Bibirku terceplos pertanyaan itu, membuat kedua siswi petugas UKS melongo menatapku.
'Hahh, sial!' gerutuku dalam hati. 'Tak seharusnya aku berkata seperti itu.' Aku menyesali ucapan yang keluar dari bibirku. Sementara itu, kedua siswi tampak sangat menunggu-nunggu kelanjutan ucapan dari bibirku.
"Bukan urusanmu," ucap Mimi kemudian dengan pelan, namun dalam.
Aku memilih diam, tak ingin mengatakan apapun karena kedua siswi itu tampak sangat memperhatikan kami. Lalu, mereka saling berpandangan seolah saling memberi bahasa isyarat.
"Lukamu cukup banyak," ucap salah satu siswi petugas UKS. "Aku yakin ini bukan luka hanya karena terjatuh atau terpeleset biasa. Kau pasti berkelahi."
"Tak kusangka siswa yang biasanya tertib nan teladan sepertimu ternyata juga suka berkelahi ya?" ucap siswi yang lainnya.
Aku hanya diam. Sementara itu, mata Mimi jadi tertuju ke arahku. Ia memperhatikan tanganku yang penuh luka lecet. Celana dan bajuku yang kotor. Dan, terakhir pandangannya tertuju pada wajahku dimana ujung bibirku terluka dan rahangku tampak memar.
__ADS_1
Ia memasatiku tanpa berkedip dan aku pun menyadari pandangannya. Aku balik memandangnya. Ketika pandangan kami bertemu, ia diam tak mengatakan apapun. Lalu, dalam hitungan detik ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Entah apa yang dipikirkan Mimi. 'Mengapa ia memandangku seperti itu?' batinku.