Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Mengakhiri


__ADS_3

'Gadis itu bukan jodohmu, Rhama.' Mama begitu menekan. 'Mama sudah pernah bilang dulu saat kau masih SMA. Jodoh itu tak akan lari. Ia seperti magnet yang akan otomatis tertarik ke arahmu dengan sendirinya... karena, dia adalah pasanganmu.'


'Jika kau temui terlalu banyak halangan merintangi untuk kalian bersatu, maka itu adalah pertanda bahwa kau bukanlah jodohnya. Dia bukan untuk dirimu.'


'Menyerahlah, Nak!'


'Jika tidak berjodoh, sampai kapanpun kau kejar... kau tak akan mendapatkannya.'


Aku mengedipkan kelopak mata bersamaan dengan jatuhnya butiran air dari mataku. Kata-kata dari mama yang diucapkan beberapa tahun lalu itu seperti mengandung sihir yang mampu membuatku seketika menitikkan air mata ketika mengingatnya.


Dulu aku terkadang khilaf dan menyalahkan takdir karena aku tak mampu menerima kenyataan. 'Mengapa dia bukan jodohku?'


Namun, pada akhirnya setelah perjuangan berat dan pergulatan perasaan yang sangat hebat, akhirnya aku bisa berdamai dengan kenyataan yang nyaris membuatku gila. Aku hampir tak bisa berpikir jernih saat itu dan menolak untuk menerima takdir. Begitu sulit bagiku pada awalnya untuk ikhlas pada keadaan.


Ikhlas. Aku harus mengikhlaskannya. Itulah yang aku lakukan hingga saat ini. Namun, terkadang rindu begitu kuat menerpaku, membuatku ingin mengulang setiap kenangan yang terjadi. Hal itulah juga yang membuatku saat ini berada di sini, di depan rumah Mimi, gadis cerewet.


Panggilan telepon lagi-lagi masuk di ponselku. Kali ini dari mama, namun aku tetap tak menghiraukannya. Aku memasukkan jam bandul yang kupegang ke dalam saku lalu aku membuka pintu mobil dan melangkah turun. Aku meninggalkan ponselku begitu saja di dalam mobil.


Aku mulai berjalan menyusuri halaman rumah Mimi yang saat ini dipenuhi rumput tinggi. Lalu, langkahku terhenti dan aku memandang sekitar. Di sini kami dulu pernah membersihkan halaman rumah ini bersama-sama.


Dulu halaman ini begitu rapi ditanami dengan rumput jepang yang tebal. Kami duduk berdua di sini... di atas rumput, menikmati sup lezat buatannya. Dan, saat itu aku berkata, 'Kita seperti sedang berpiknik.'


Beragam kenangan pun bergulir silih berganti di otakku dalam sekejap. Membuat hatiku semakin perih dan ingin kembali ke masa itu.


...****************...


Saat ini aku dan Mei berada di toko buku besar yang sangat lengkap. Kami membeli beberapa buku soal untuk persiapan ujian nasional. Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir Mei berkata, "Rhama, aku haus sekali. Bagaimana jika kita mampir minum dulu di restoran?"


Aku pun mengiyakan. Sehingga, kini kami duduk berdua di sebuah restoran cepat saji dan memesan sejumlah makanan beserta minuman. Lalu, Mei mengeluarkan kotak kecil berpita dari dalam tasnya dan ia langsung bergumam kesal, "Hahh, semut semua."


Kulihat semut-semut halus yang sangat kecil mengelilingi kotak itu dan aku bertanya, "Itu apa?"


"Ini coklat buatanku," jawabnya. Lalu, tangannya membersihkan kotak itu sambil menekan-nekan semut itu hingga mat*i. Sehingga, aku spontan berkata, "Jangan!"


Mei langsung menoleh padaku dan aku merebut kotak itu dari tangannya. Lalu, aku mengetuk-ngetukkan pelan kotak itu beberapa kali di meja sehingga sebagian besar dari semut-semut kecil itu berjatuhan. Sisanya aku tiup agar semut itu menyingkir tanpa terluka.

__ADS_1


Mei cukup bengong melihatku. Lalu, aku menyerahkan kotak itu kembali sambil berkata, "Semut ini makhluk hidup. Mereka juga ingin hidup."


"Waww... kau pria yang sangat baik, Rhama." Mei tampak takjub. Sedangkan, aku seketika teringat pada gadis cerewet. Dia tidak membu*nuh semut maupun lipas saat kami membersihkan halaman rumahnya. Dia wanita yang berhati lembut, sedangkan Mei kulihat dengan mata kepalaku sendiri baru saja menghabisi semut-semut kecil tak berdaya itu.


"Ini coklat untukmu, Rhama," ucap Mei.


"Untukku?" Aku agak terkejut.


"Aku sengaja membuatkannya untukmu agar kau lebih semangat dalam menghadapi ujian."


Aku diam mendengar ucapan Mei.


"Kau tahu mengkonsumsi coklat bisa membuat tubuh kita melepas hormon endorfin? Hormon kebahagiaan."


Aku tetap saja terdiam mendengar ucapannya. Sedangkan, ia terus berbicara, "Jika kau jenuh belajar, kau bisa memakan coklat ini. Maka, kau akan merasa bahagia dan kembali semangat untuk belajar."


"Ini ambillah! Untukmu." Ia menyodorkan kotak itu padaku dan aku menerimanya.


"Kau sangat perhatian, Mei," ucapku dengan nada murung. Aku merasa bersalah pada Mei. Hatiku telah menduakannya. Aku menyia-nyiakan gadis sebaik Mei. Aku harusnya tak terus memberikan harapan palsu untuknya.


"Aku senang," ucapku. "Terima kasih banyak, Mei."


Mei mengangguk sambil berkata, "Dengan senang hati." Lalu, kami sama-sama diam dan menyantap makanan masing-masing. Aku tak sedikitpun membuka pembicaraan dengan Mei. Akhir-akhir ini aku memang lebih banyak diam saat bersamanya.


Lalu, tiba-tiba ia bertanya, "Rhama, apa yang kau inginkan dalam hidupmu?"


Aku menatapnya dan tak bisa menjawab dengan yakin apa sebenarnya yang aku inginkan. Aku balik bertanya, "Hmmm... maksudmu?"


"Maksudku... apa yang kau inginkan untuk masa depanmu? Apa yang selanjutnya akan kau lakukan setelah tamat SMA? Apa yang kau cita-citakan? Kau ingin menjadi apa? Berkuliah dimana?"


"Aku belum tahu." Aku menjawab dengan datar dan apa adanya.


Mei cukup tercengang. "Mana mungkin kau tak punya rencana apapun," ucap Mei.


"Entahlah. Mama mungkin sudah merencanakan kelanjutan pendidikanku. Tapi, aku sendiri masih bingung dan ragu ke arah mana tujuanku," ucapku.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu, Mei? Kau sendiri ... apa rencanamu setelah ini?" tanyaku.


Mei tersenyum lalu berkata, "Setelah ini aku akan melanjutkan kuliah dan aku ingin menjadi dokter gigi."


"Waktu kecil ibu mengajakku ke dokter gigi dan sejak saat itu aku sangat ingin menjadi dokter gigi. Aku akan berusaha mewujudkannya. Setelah itu, aku ingin menikah dan punya anak. Aku ingin menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku, meskipun aku bekerja." Mei begitu bersemangat menceritakannya.


"Bagaimana denganmu?" tanya Mei.


"Entahlah. Aku belum siap dan merencanakan bagaimana selanjutnya. Aku merasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku pindah ke sekolah kita, bergabung di kelas 3 IPA 1. Tapi, ternyata sekolah sebentar lagi akan berakhir. Ini terlalu cepat bagiku. Aku belum memikirkan akan berkuliah di mana dan mengambil jurusan apa."


"Ya, tidak terasa sebentar lagi kita berdua akan tidak berada di kelas yang sama lagi. Mungkin kita akan lebih jarang bertemu," ucap Mei dan aku hanya diam.


"Hei, bagaimana jika kita berkuliah di kampus yang sama?" ucap Mei tiba-tiba. "Jadi, kita selalu bisa sering bertemu." Mei sangat bersemangat.


Seketika aku jadi semakin merasa bersalah padanya. Ia ingin selalu bersamaku, sedangkan aku ingin melepas hubungan dengannya.


"Menurutmu universitas mana yang bagus?" tanyanya dan aku terdiam menatapnya.


"Atau, kau bisa mendaftar bersamaku untuk menjadi dokter gigi juga," ajaknya. "Kita akan kembali berada di kelas yang sama."


"Tidak, tidak... Aku tidak mau jadi dokter gigi," ucapku segera.


"Jadi, apa yang kau inginkan, Rhama?"


Aku terdiam dan Mei menunggu jawabanku. Aku menatapnya yang sedang meneguk air minumnya. 'Haruskah aku katakan saat ini?' pikirku.


'Haruskah aku katakan padanya bahwa saat ini yang aku inginkan adalah mengakhiri hubungan dengannya?'


'Aku tak sanggup untuk terus membohongi perasaanku lebih lama lagi. Aku juga tak ingin dia terus berharap lebih jauh tentang hubungan ini.'


"Ayo, Rhama katakan apa yang kau inginkan?" Mei mendesakku. "Kau ingin jadi apa?"


"Deg, deg, deg, deg, deg! Deg! Deg!" Jantungku berloncatan saat ingin mengatakan, "Aku ingin... aku ingin... kita mengakhiri hubungan ini, Mei."


Detik itu juga mata Mei membola. Air minumnya tertumpah.

__ADS_1


__ADS_2