
"Houh, sial!" Gerutuku. 'Mengapa aku mengatakannya begitu saja? Ini waktu yang tidak tepat.' Aku mengoceh di dalam hati. 'Dia akan besar kepala.'
Pengakuan perasaan ini sangat di luar rencanaku. Awalnya aku sama sekali tak berniat membeberkan perasaanku padanya hari ini. Tapi, aku tak tahan lagi untuk tidak mengungkapkannya.
Ia terlalu bodoh dan tidak peka untuk menangkap isyarat perasaanku. Jika tidak kukatakan, mungkin dia tidak akan tahu sedangkan perasaan ini terus mengikatku.
Kubayangkan kami pasti akan sangat canggung saat bertemu nanti. Apakah ia akan menganggapku pria bodoh yang tergila-gila padanya? Kupikir ia pasti akan sangat besar kepala dan aku akan sangat malu saat bertemu dengannya. Karena itu, selama beberapa hari aku tidak ingin bertemu dengannya, meskipun aku rindu.
Namun, di luar dugaanku ... saat aku bertemu dengannya beberapa hari kemudian, ia bersikap biasa saja. Seperti tidak pernah ada pengakuan perasaan itu, seperti tidak pernah terjadi apapun. Ia bahkan berkata, "Terima kasih waktu itu sudah mengajariku Biologi, nilai ujianku cukup bagus."
"Ohhh." Hanya itu ekspresi dan respon yang keluar dari mulutku. Karena, sejujurnya aku gugup.
Setelah itu, kami tak bertemu lagi sampai akhirnya tiba tanggal 21 April. Itu adalah hari Kartini. Sekolah kami mengadakan banyak perlombaan, salah satunya lomba pasang dasi dan ini dilakukan berpasangan. Wali kelasku dan teman-teman sekelasku telah menunjuk aku dan Mei untuk mewakili kelas mengikuti lomba itu. Kami tak bisa menolak.
Saat ini aku sudah berdiri di hadapan Mei yang sudah berkostum kebaya lawas ala Kartini. Rambut panjangnya disanggul indah dan ia tampak anggun. Pasangan-pasangan dari kelas yang lain juga sudah berdiri di samping kami. Sedangkan, siswa-siswa yang lainnya berdiri mengelilingi peserta lomba untuk menyaksikan perlombaan.
"Satu, dua, tiga... Yap mulai!" Guru yang menjadi panitia lomba memberikan instruksi perlombaan dimulai.
Mei mulai menalikan dasi di kerah bajuku. Semua orang tampak bertepuk memberi semangat pada jagoan kelas mereka masing-masing. Beberapa orang ada yang berceletuk, "Mei dan Rhama sangat serasi."
Aku tak fokus memandang Mei. Aku berharap orang yang memasang dasi padaku adalah Mimi. Tiba-tiba mataku menangkap wajah Mimi yang ternyata berdiri di antara gerombolan siswi. Dia juga menyaksikanku dan Mei. Aku melihatnya, menatapnya lekat. Ia juga menatapku. Lalu, entah mengapa ia malah segera pergi dari sana.
'Mimi,' gumamku dalam hati. Rasanya aku ingin mengejarnya, namun aku sedang berdiri di sini mengikuti lomba.
"Aku bisa memasangkan dasi untukmu setiap hari, Rhama," ucap Mei pelan. Aku tak menggubrisnya.
Siswa lain ada yang berucap, "Aaahhh... Senang sekali jika menjadi Mei." Mereka menganggap Mei sangat beruntung dan sempurna. Mereka juga sedikit iri karena Mei berpasangan denganku. Tapi, mereka tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa Mei memang sangat mempesona dan sungguh tampak serasi denganku.
Sedangkan, aku tak mempedulikan semua itu. Aku hanya bertanya-tanya dalam hati, 'Mengapa Mimi pergi setelah aku menatapnya?'
Aku sangat ingin tahu alasannya. Karena itu, usai mengikuti lomba aku segera mencarinya. Aku berkeliling berusaha menemukan sosoknya. 'Mungkin dia menyaksikan lomba lain,' pikirku. Aku menyusuri gerombolan siswi yang berkerumun di dekat acara perlombaan. Tapi, tak kutemukan dia.
Hingga akhirnya kulihat ia duduk di bangku kantin, berdua dengan seorang pria. Ia menyeruput es di gelas dalam genggamannya. Darahku mendadak mendidih saat aku menyadari pria itu tak lain adalah Reno.
"Mimi!" Panggilku begitu menghampiri mereka.
__ADS_1
Mimi menoleh dan Reno berkata, "Aaahhh, Kakak Sepupu." Ia meledekku.
"Kau tampak sangat serasi bersama Mei tadi... seperti sepasang suami istri," ucap Reno dengan nada sengit, tapi aku tak menghiraukannya.
"Mimi, mengapa kau di sini duduk dengannya?" tanyaku.
"Memangnya mengapa?" tanyanya dengan lugu.
"Dia ini berandalan," ucapku dan itu membuat Reno segera berdiri menatap tajam padaku.
"Mengapa kau selalu ikut campur urusanku?" Reno menghardikku.
"Kau pria yang tidak baik. Jangan dekati Mimi!"
"Kau tak punya hak melarangku," ucap Reno dengan nada menantang.
"Sudah, hentikan!" ucap Mimi tegas. "Aku tak ingin ada perkelahian lagi di antara kalian." Setelah mengatakan itu Mimi segera pergi meninggalkan kami berdua.
Aku segera mengikuti langkahnya. Ia berjalan dengan cepat. "Mimi!" panggilku. "Mimi!" Ia tak menoleh.
"Mengapa tadi kau pergi saat aku mengikuti lomba pasang dasi?"
"Mengapa?" Ia balik bertanya. "Aku bebas pergi kemanapun aku mau."
"Bukan itu jawabannya. Aku ingin tahu alasannya," ucapku.
"Lombanya tidak menarik, biasa saja, membosankan. Aku tak ingin melihatnya."
"Mengapa kau tak ingin melihatnya?" sambarku segera.
"Karena, kau...." Ucapan itu terhenti dari mulutnya seperti mobil dengan kecepatan penuh yang direm mendadak.
"Lupakan!" ucapnya kemudian.
"Karena kau tak tahan melihatku bersama Mei?" tanyaku serius.
__ADS_1
"Pria Bodoh!" ucapnya. "Mengapa aku harus merasa seperti itu?" Ia lalu ingin melanjutkan langkah kakinya.
"Tunggu, Mimi! Jangan menghindar!" Aku mencegahnya dengan menarik tangannya.
"Lepaskan!" Lagi-lagi ia segera melepas tanganku. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin tahu perasaanmu sebenarnya padaku," jawabku dan ia mendadak diam.
"Mengapa kau diam?" tanyaku. "Setelah aku mengatakannya padamu saat itu, sampai hari ini kau hanya diam tak merespon apapun. Aku ingin tahu sebenarnya bagaimana perasaanmu?"
"Berhentilah mempermainkanku, Rhama! Aku bukan gadis-gadis lain yang bisa dengan mudah termakan rayuan bodohmu," ucap Mimi.
"Kau tak mungkin menyukaiku. Aku bukan tipemu, tak sesuai selera high class-mu."
"Apa yang kau harapkan? Aku tampak konyol karena tertipu ucapanmu? Aku tidak suka berkhayal dan berhalusinasi." Mimi berkata dengan sangat tegas membuatku terdiam. Lalu, ia pergi meninggalkanku begitu saja. Sedangkan, aku mematung berusaha mencerna setiap kata-katanya yang terus terngiang di telingaku.
'Apa maksudnya?' batinku. 'Apa dia pikir aku hanya main-main dengan ucapanku?'
'Apa dia pikir aku ingin menjebaknya dalam kekonyolan lalu aku akan menertawakannya?'
'Dia salah paham, salah mengartikan keadaan. Dia benar-benar bodoh.'
'Hakhhh... Tak bisakah dia sedikit saja merasakan ketulusanku?' Aku cukup kesal.
Sementara itu, Mimi duduk di kelasnya. Ia termenung. Ia teringat gambaran saat aku menyatakan perasaan padanya. 'Karena, aku suka padamu.' Itu kata-kata yang kuucapkan saat itu.
Lalu, ia teringat saat ia menemukan cincin putih berinisial M di rumahnya. Ia juga teringat saat aku dan Mei sedang membersihkan kaca jendela kelas bersama. Saat itu aku mengikuti gerak tangan Mei mengelap kaca dengan ceria.
Mimi teringat aku menolak dan membentaknya saat ia memintaku untuk mengajarinya. Hal itu membuatnya menjadi begitu marah padaku saat itu. Namun, ketika aku datang mengetuk pintu rumahnya untuk meminta maaf, ia jadi tak bisa marah padaku. Kemarahan itu entah bagaimana bisa menguap begitu saja tanpa bisa ia cegah.
Ia teringat aku mendukungnya menaiki pagar sekolah. Ia teringat aku menggenggam tangannya saat kami berdua berlari menghindari preman. Ia teringat kami merayakan ulang tahunnya di bawah tetesan air hujan. Lalu, ia teringat saat Mei mengalungkan dasi di leherku tadi.
Kemudian, dalam hati ia berkata, 'Aku tak pantas untuknya.'
'Jangan terpedaya!'
__ADS_1