
Aku sudah berpakaian rapi sejak pagi-pagi sekali lalu menuruni tangga kamar sambil bersiul. Hari ini aku akan bertemu Mimi setelah cukup lama tidak bertemu. 'Apa kabarnya?' batinku.
Aku melahap sarapanku dengan cepat karena ingin segera berangkat menjemput Mimi. Aku tidak mau dia berangkat lebih dulu sebelum aku tiba di depan rumahnya. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengannya.
Kini aku sudah di dalam mobil dan segera memacu mobil keluar dari gerbang rumah menuju jalan aspal. Beberapa kali aku melirik kaca mobil untuk memastikan rambutku sudah rapi dan wajahku bersih. Tentu saja aku ingin terlihat tampan menawan saat bertemu Mimi nanti.
Tapi, "Aaaghhh!" Tiba-tiba sesuatu yang tidak beres terjadi pada ban mobilku, terjadi begitu saja. Aku merapatkan mobil ke sisi jalan dan bergegas turun. Dan, aku harus menarik nafas panjang. Ban mobilku pecah.
Terpaksa aku harus turun tangan mengambil dongkrak dan ban serep. Ini pertama kali aku melakukannya jadi aku belum mahir dan sedikit kebingungan. Sehingga, agak lama waktuku tersita untuk mengganti ban mobil.
"Akhirnya... selesai!" seruku gembira. Aku bergegas membereskan semuanya dan naik ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Sekarang aku sudah tiba di rumah Mimi. Tampak sepi. Aku mengetuk pintunya, tak ada jawaban. Aku mengetuknya kembali, tetap saja sama. Lengang, tak ada jawaban. Kuketuk berkali-kali tetap saja tak ada jawaban. "Dia pasti sudah pergi," gumamku kecewa.
Aku bergegas berlari menuju mobilku, berangkat menuju sekolah sambil memperhatikan sisi jalan di sepanjang perjalanan. Karena, kupikir mungkin Mimi masih dalam perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki. Tapi, tak kutemukan dia.
Hingga akhirnya aku melihat sosoknya dari balik kaca jendela kelas. Ternyata ia sudah duduk di dalam kelas sejak tadi. Aku termangu menatapnya dari kejauhan. Baru beberapa hari kami tidak bertemu. Tapi, saat tidak menemukannya di rumah tadi aku sudah merasa sangat tidak tenang. Bagaimana aku bisa mendeskripsikan perasaan ini padanya? Aku takut kehilangan dia. Apakah dia mengerti?
"Mengapa kau tidak menungguku?" Aku menghampirinya di dalam kelas dan bertanya.
Ia melihat ke arahku lalu dengan santainya berkata, "Aku pikir kau tidak datang."
'Hihhhhkh!' Di dalam hati aku merasa geram mendengarnya.
"Lain kali kau harus menungguku apapun yang terjadi!"
Ia memandang dalam padaku. Lalu, dengan pelan aku lanjut berkata, "Aku tak akan meninggalkanmu atau mengabaikanmu begitu saja. Harusnya kau menungguku."
"Huohhhhhh!" ekspresi kaget para siswi yang sejak tadi diam-diam menguping pembicaraan kami menyadarkanku bahwa kami sedang menjadi pusat perhatian.
"Dia pasti pakai pelet," celetuk salah satu siswi dengan sinis.
Aku menoleh dan langsung berkata, "Hei, apa yang kau katakan?" Aku marah karena siswi-siswi itu seolah menghina Mimi.
Mereka hanya diam, tak mau menjawab sedikitpun. "Sudahlah!" ucap Mimi.
__ADS_1
"Aku tak suka mereka merendahkanmu," ucapku.
"Kalian harus tahu ... bahwa aku menyukai Mimi dengan keinginan dari hatiku sendiri. Tidak ada yang memaksaku. Juga bukan karena ada kepentingan, apalagi pelet."
"Aku serius dengannya," ucapku lagi dengan lantang.
Ucapan itu membuat langkah kaki Mei terhenti. Tanpa kusadari ternyata Mei kebetulan lewat di depan kelas Mimi. Ternyata sejak tadi telinganya menangkap setiap perkataanku dan melihat ekspresiku melalui kaca jendela.
Ia menggigit bibirnya dan hanya diam. Namun, hatinya bergejolak mendengar perkataanku tadi. Sesungguhnya sakit hatinya padaku masih cukup membekas dan perkataanku semakin menggores hatinya.
Sementara itu, aku dan Mimi tak menyadari apapun. Aku tak peduli pada perasaan siapapun saat ini, kecuali perasaan Mimi. Aku tak peduli orang lain berkata apapun tentangku, aku benar-benar tulus mencintai Mimi.
Dan, pada akhirnya pengumuman kelulusan pun digemakan di lapangan sekolah. "Siswa SMA 13 lulus 100%," ucap kepala sekolah begitu lantang disambut sorak riuh para siswa yang kegirangan.
Aku segera menoleh pada Mimi yang ternyata juga menoleh padaku. Aku tersenyum dan mengisyaratkan, 'kau lulus.' Ia mengangguk dan tampak begitu senang.
Semua siswa yang lain pun tampak senang dan akhirnya mereka merayakannya dengan mencoret-coret seragam sekolah. Meski kepala sekolah saat di lapangan tadi sudah melarang aksi coret-coret seragam ini, tapi tetap saja sebagian besar siswa melakukannya -termasuk Mimi.
Saat akan pulang sekolah ia muncul di hadapanku dengan pakaian penuh coretan. Aku menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. "Untuk apa semua ini?" tanyaku.
Aku semakin menggeleng-gelengkan kepalaku. Sedangkan, Mimi tampak meneliti seragamku yang masih sangat bersih, tanpa coretan sedikitpun.
"Ya, tentu saja aku siswa yang sangat tertib, bukan?" Aku berusaha menjawab pertanyaan yang tak tercetus dari bibirnya.
Ia mengangguk. Lalu, ia berkata, "Tadi aku melihat baju Mei juga sangat bersih."
"Hahhh...." Aku menarik nafas panjang. "Bukan tidak mudah mempertahankan seragam bersih ini," keluhku. Ken beberapa kali ingin mencoret bajuku, berusaha membubuhkan tanda tangannya yang seperti benang kusut.
'Kau narsis sekali,' ucapku pada Ken tadi.
'Hei, kau akan menyesal Rhama. Saat aku menjadi aktor terkenal nanti kau akan mengejar-ngejarku hanya untuk tanda tangan ini,' ucapnya.
'Setelah tamat SMA ini aku akan memulai kehidupan baruku di Jakarta. Aku akan mulai meniti karirku. Aku akan jadi aktor terkenal.'
'Jika kau jadi terkenal pun, aku tak ingin minta tanda tanganmu,' ucapku membuatnya kesal dan pergi meninggalkanku.
__ADS_1
'Tak ada yang boleh mencoret seragamku,' pikirku. Tapi, ada pengecualian untuk Mimi.
"Apa kau mau mencoret seragamku?" tanyaku pada Mimi membuatnya refleks tercengang.
"Hahh?" Ia menatapku dengan tatapan bingung.
"Berikan spidolmu! Aku juga ingin membubuhkan kenang-kenangan di bajumu," ucapku.
"Eitsss! Tidak, tidak, tidak!" tolaknya segera. "Hanya perempuan yang boleh mencoret bajuku. Kau laki-laki," ucapnya. Dan, aku langsung mengerti... seperti biasa ia anti disentuh pria.
"Baiklah, jika begitu coretlah seragamku! Aku juga ingin punya kenang-kenangan kelulusan."
"Apa kau serius?" tanyanya. "Bajumu masih sangat bersih."
"Ambil spidolmu dan bubuhkan coretanmu!" Aku memaksanya.
Ia pun mengeluarkan spidol merahnya. Aku menunjuk dadaku. "Coret di sini!" ucapku.
"Baiklah, jangan menyesal ya!" Ia pun bergegas mencoret seragamku dan aku langsung bergumam, "Apa ini?"
"Hanya tanda tangan," seruku. "Kau sangat tidak kreatif," ejekku.
"Seharusnya kau coret di sini 'Mimi love Rhama'."
"Huekkk! Kau lebay sekali," serunya spontan dan aku tertawa melihat ekspresinya.
Lalu, aku berkata, "Tidakkah kau tersanjung?"
Ia segera menoleh dan aku melanjutkan ucapanku, "Hanya kau yang kupersilakan mencoret seragamku. Kau satu-satunya orang yang ingin aku kenang dalam ingatan tentang masa SMA-ku."
Ia malah menunduk. "Ya, setelah ini kita akan berpisah," ucapnya.
"Aku akan terus menghubungimu," ucapku penuh keyakinan.
Aku berjalan ke dekat pintu mobil, mengambil sesuatu dari dalam sana lalu menyerahkannya pada Mimi. "Apa ini?" tanya Mimi segera.
__ADS_1