Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Sebuah Kebohongan


__ADS_3

Aku benar-benar berusaha untuk menepatinya. Aku tidak ingin menyakiti perasaan Mei. Aku tidak ingin memikirkan gadis cerewet itu lagi. Aku tak berkomunikasi dengannya lagi. Aku tak peduli padanya.


Sepulang sekolah aku melihat ia menabrak tiang koridor kelas. Itu memang sudah jadi kebiasaannya dan aku sangat berusaha untuk tidak peduli. Nilai hasil ulangan kembali dipajang di kelas kami dan aku sama sekali tak ingin tahu ia berada di urutan ke berapa. Aku juga tak ingin tahu dan tak ingin peduli apakah ia terlambat atau tidak.


Saat hari hujan koridor kelas menjadi licin terkena percikan air. Aku berjalan di koridor bersama Mei saat jam istirahat dan tiba-tiba, "Gubrakkkkk!" Tawa pun pecah seketika. "Hahhahahahhaha...."


Kulihat tak begitu jauh dariku seseorang terpeleset dan berusaha bangkit, namun, "Hakhh!" Ia terjatuh lagi dan tawa pun kembali pecah. Ia adalah gadis cerewet dan aku hanya menunduk berusaha menutup mata dan telingaku.


"Itu Mimi," gumam Mei dan aku tak merespon apapun.


Hari terus berjalan dan kembali ke hari Senin. Upacara bendera dimulai. Aku menahan diriku untuk tidak menoleh ke barisan kelas gadis cerewet. Aku tak ingin peduli padanya. Hingga upacara selesai kali ini tak kulihat gadis cerewet jatuh pingsan ataupun sakit. 'Ya syukurlah dia sehat dan kuat upacara hari ini,' gumamku dalam hati.


Namun, bukan itu kenyataan sebenarnya. Yang terjadi sesungguhnya adalah gadis cerewet itu sedang sakit di rumah. Ia tidak masuk sekolah. Ia demam. Ia tidak masuk sekolah selama tiga hari.


Entah mengapa diam-diam aku malah jadi mencari sosoknya di kelas. Aku melewati kelasnya beberapa kali hanya untuk melihat apakah dia ada di dalam kelas atau tidak. Dan, hari ini kulihat di bangku tempat duduknya ada tas miliknya. Itu artinya dia masuk sekolah, hanya saja aku tak melihat batang hidungnya.


Ternyata gadis cerewet sedang berada di kantin, berdesakan membeli gorengan. Reno segera mendekatinya dan berkata, "Menjauhlah! Aku saja yang membelikan gorengannya." Namun, tetap saja gadis cerewet ingin membelinya sendiri dan Reno tak mau kalah, juga membeli gorengan.


Lalu, mereka berdua makan gorengan bersama di pinggir kantin. Aku yang berjalan menuju kantin bersama Mei tak sengaja melihatnya. Kulihat gadis cerewet makan dengan lahap dan tanpa malu-malu di depan Reno. Reno tertawa melihat pinggiran mulut gadis cerewet yang dipenuhi minyak hingga ke pipi. Gadis cerewet segera mengelapnya.


Entah mengapa hatiku terasa gerah. Aku tak ingin melihatnya. "Mei ayo kita ke perpustakaan saja! Tidak jadi ke kantin," ucapku segera.


"Mengapa?" tanya Mei.

__ADS_1


"Ada buku yang harus kupinjam," jawabku dan segera berbalik arah, tanpa menunggu Mei untuk mengiyakan lebih dulu.


'Perasaan ini mengapa terus menyiksaku,' batinku. 'Bukankah dulu yang aku inginkan adalah bersama Mei? Bukankah aku ingin mendapatkan cinta Mei?' Sekarang semua itu sudah kudapatkan. Tapi, mengapa rasanya biasa saja. 'Aku tidak bahagia. Jauh dari kata bahagia.'


Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Sebenarnya siapa yang aku cintai? Mengapa berusaha untuk tidak peduli pada gadis cerewet hanya membuatku tersiksa? 'Mengapa aku jadi seperti ini?'


Aku sudah sangat berusaha untuk fokus hanya pada Mei. Aku selalu berusaha untuk menyenangkan hati Mei. Tapi, semakin lama aku semakin merasa semuanya hambar. Bukan ini yang aku inginkan.


Sikap Mei sangat baik. Penampilannya begitu sempurna. Sampai detik ini pun aku masih mengaguminya. Namun, ternyata aku tak merasa begitu bahagia bersamanya. Aku malah tersiksa karena merasa bersalah telah menutupi tentang perasaanku padanya.


Semakin hari Mei merasa aku semakin suka padanya karena itulah yang seharusnya terjadi. Ia pun tampaknya semakin perhatian padaku. Sedangkan, aku merasa seakan semakin banyak berbohong padanya. Membohonginya tentang perasaanku yang sebenarnya.


Bagaimana aku bisa mengatakan padanya bahwa ada wanita lain di hatiku saat ini? Bagaimana bisa aku begitu jahat padanya? Sedangkan, ia sangat baik padaku. Aku tergoda wanita lain. Bagaimana bisa aku jujur padanya tentang itu? Itu akan menyakitkannya.


Dan, saat ini aku sedang berdiri di depan kelasku, bersandar pada tiang koridor kelas. Aku baru saja menyelesaikan tugas piketku dan menunggu Mei untuk pulang bersama. Cukup jauh di hadapanku gadis cerewet sedang menyapu lantai koridor kelasnya. Aku hanya menatapnya dari kejauhan, tak menegurnya sama sekali. Ia pun begitu, ia selalu cuek padaku.


Ingatanku pun melayang pada momen pertemuan pertama kami. Di koridor ini ia mengacungkan gagang sapu ke arah hidungku dengan wajahnya yang beringas dan dia terlihat sangat jelek.


'Pria Bodoh!' Dulu dia selalu memanggilku seperti itu. 'Hmmmhh... Sudah lama sekali aku tidak mendengar kata-kata itu,' batinku dan tanpa kusadari aku jadi senyum-senyum sendiri.


'Inikah yang dinamakan cinta yang sesungguhnya?' pikirku.


Dia tidak secantik Mei, tidak lembut seperti Mei. Kasar seperti pria, menjengkelkan, cukup bodoh, cerewet, tidak disiplin... begitu banyak kekurangannya. Jauh dari kata sempurna. Dia sama sekali tak sebanding dengan Mei. Tapi, entah mengapa aku malah tergila-gila padanya.

__ADS_1


'Apakah aku hanya sedang mabuk cinta?' pikirku. 'Mungkin aku hanya terbawa suasana karena sering bersamanya.'


'Tapi, mengapa aku tak merasakan hal yang sama pada Mei?' Bukankah aku juga sering menghabiskan waktu bersama Mei.


"Kau tampak murung, Rhama. Ada apa?" Mei bertanya padaku saat telah ada di dalam mobil. Aku mengemudikan mobil dari sekolah, ingin mengantarnya pulang ke rumah.


Aku menoleh dan hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Aku baik-baik saja," ucapku.


Lalu, mataku menangkap sosok preman di pinggir jalan yang kulewati. Aku menolehkan kepalaku dan melanjutkan penglihatanku padanya melalui kaca spion. "Itu dia," gumamku.


"Siapa?" tanya Mei.


"Ohh, bukan siapa-siapa," jawabku segera.


Dia adalah preman yang dulu kepalanya pernah dipukul gadis cerewet dengan batu. Sebentar lagi mungkin gadis cerewet akan pulang berjalan kaki melewati jalan itu. Mungkin ia akan bertemu preman itu. Namun, aku berusaha untuk tidak peduli. Aku berusaha tenang dan bersikap santai.


Aku terus mengemudikan mobilku. Sedangkan, hatiku terus memberontak. 'Bagaimana jika preman itu ingin membalasnya? Preman itu pasti tidak akan tinggal diam dan akan membalasnya. Dia tidak mungkin memaafkan gadis cerewet begitu saja.'


'Preman itu akan bertemu dengan gadis cerewet. Preman itu akan menyakitinya.'


Aku tak bisa tinggal diam. Akhirnya aku berubah pikiran. Aku bergegas mempercepat laju mobilku dan memutar arah. Sehingga, Mei segera bertanya, "Rhama, mengapa kau...?"


"Kita harus kembali menuju ke arah sekolah, Mei," jawabku segera.

__ADS_1


"Tapi, mengapa? Ada apa, Rhama?" Mei heran.


__ADS_2