
"Jatuh cinta," gumamku. Aku teringat ucapan Mei, 'Pria yang sulit jatuh cinta... biasanya akan serius dan setia pada pasangannya.'
'Hahh, mana mungkin Reno serius. Dia pasti cuma ingin main-main. Sudah terlihat dari tampangnya,' batinku.
'Akhhh... mengapa aku sibuk memikirkan urusan pribadi gadis cerewet itu?' Aku merasa kesal sendiri. 'Bodoh,' batinku. 'Untuk apa aku peduli?'
"Tuan Rhama, ini tempoyak yang Tuan pesan. Sudah bibi belikan." Ucapan bibi membuatku segera menoleh.
Bibi baru saja pulang dari pasar hanya untuk membelikan tempoyak pesananku. Ia meletakkannya di atas meja dapur dan aku bergegas ingin mengeksekusinya. Aku sudah tidak sabar ingin membuat sambal tempoyak seperti di rumah gadis cerewet.
Sehingga, aku pun segera mengeluarkan secarik kertas dari sakuku. Itu resep sambal tempoyak. "Baiklah," ucapku. "Kita mulai memasak." Aku menyiapkan wajan dan sutil dengan semangat membara.
"Tuan mau masak apa? Bibi saja yang buatkan." Bibi menawarkan bantuan dan aku segera menolaknya, "Tidak! Tidak! Tidak!"
"Aku mau membuatnya sendiri, Bi."
Bibi mengulum senyum. "Apa Tuan bisa? Tuan kan tidak pernah masak?"
"Harus bisa," jawabku optimis.
Aku mengikuti semua langkah-langkah yang tertera, tanpa terlewatkan satu pun. "Hahahaha... pasti rasanya enak." Aku bangga sekali dengan masakan pertamaku ini. Sedangkan, bibi dari tadi tak henti-hentinya berdiri di belakangku, mengawasi karena cemas jika terjadi insiden tak terduga padaku saat memasak.
"Hati-hati, Tuan!" ucap Bibi. "Apinya kecilkan sedikit!"
Aroma wangi tempoyak pun menyeruak ke seisi rumah, membuat mama segera menghampiri ke dapur. "Bau apa ini?" ucapnya. "Huekk! Bau sekali," gerutunya sambil berjalan ke dapur. Mama memang paling anti dengan bau durian dan tempoyak.
Sedangkan, aku terus mengaduk sambal tempoyakku sambil bergumam senang, "Hmmm, wangiiii... wangi sekali."
"Rhamaaaaaaaaaaa!" Suara lengkingan mama mengagetkanku, membuat tanganku tak sengaja menyentuh wajan.
"Akkhhh!" Aku spontan meringis.
Mama pun mendadak panik dan setengah berlari mendekatiku. Mama meraih tanganku. "Kamu baik-baik saja, Rhama?"
"Bibi, mengapa bukan Bibi yang masak?" Mama sangat sewot dan bibi cuma bisa menundukkan wajah.
__ADS_1
Aku segera mematikan kompor lalu berkata, "Aku yang ingin memasaknya sendiri, Ma. Jangan salahkan Bibi!"
"Untuk apa kamu lakukan itu, Rhama? Dan, apa yang kamu masak ini? Baunya sangat menyengat."
"Ini sambal tempoyak, Ma." Aku dengan bangga memperlihatkan masakanku, sedangkan mama langsung ingin muntah, "Huekkkk!"
"Cepat singkirkan masakanmu ini, Rhama!" ucap mama. "Mengapa kau masak masakan seperti ini?"
"Aku makan sambal tempoyak seperti ini di rumah temanku, Ma. Rasanya sangat enak sekali."
"Teman kamu itu kampungan," ucap mama. "Ini masakan kampungan."
"Mama jangan bilang seperti itu... ini makanan tradisional," ucapku segera.
"Pokoknya kamu harus segera menyingkirkan masakan ini, Rhama! Baunya membuat mama menjadi pusing." Mama menutup hidung lalu segera pergi meninggalkanku.
"Ok, mama. Siappp!" ucapku dengan mantap.
"Bibi, ayo cepat kita santap tempoyak ini!" bisikku.
"Tapi, Tuan... Nyonya tadi minta untuk segera menyingkirkannya," ucap bibi.
"Ayo Bibi tunggu apa lagi?" ucapku sambil mengambil piring dan sendok. "Kita habiskan sambal tempoyak ini." Aku menyeringai.
Aku sudah mengisi piringku dengan nasi yang banyak saat ini. Lalu, aku menuangkan sambal tempoyak yang banyak di atasnya. "Hahhhh, ini pasti sangat enak," gumamku. Aku begitu bersemangat.
Lalu, aku bergegas menyendok nasi dan sambal tempoyak itu ke dalam mulutku dan mengunyahnya. Tapi, tiba-tiba gerakan mulutku terhenti. Aku dan bibi saling berpandangan.
"Mengapa asin begini, Tuan?"
"Huekkk!" Aku segera memuntahkan nasi di mulutku ke dalam tong sampah. "Asin sekali," ucapku.
Aku segera meminum air putih. Lalu, aku bersungut, "Gadis cerewet itu pasti mempermainkanku. Dia pasti memberi resep yang salah. Aku sudah mengikuti semua detail resep yang dituliskannya."
"Dia benar-benar kurang ajar." Aku kesal. Aku sudah begitu berekspektasi terlalu tinggi dengan sambal tempoyak di hadapanku, namun ternyata benar-benar tak sesuai harapanku.
__ADS_1
"Bibi tambahi gula lagi saja, Tuan. Bibi racik ulang sambil tempoyaknya," ucap bibi. "Rasa sambalnya pasti enak jika rasa asin dan manisnya seimbang."
Aku tak ingin ambil pusing. "Terserah Bibi saja," ucapku. Aku sudah terlanjur kecewa. Aku pikir gadis cerewet itu mencatatkan resep yang benar untukku. Aku pikir dia tulus. Ternyata dia mempermainkanku.
"Aku hampir saja ingin membelikannya jam tangan sebagai ucapan terima kasih. Ternyata dia ingin membodohiku. Aku akan buat perhitungan dengannya besok," gumamku.
Namun, keesokan harinya saat di sekolah aku lupa ingin membuat perhitungan dengannya. Aku terlalu asyik menghabiskan waktuku di perpustakaan bersama Mei. Dan, aku baru tahu ternyata Mei sangat suka membaca novel romantis. Oleh karena itu, sepulang dari sekolah aku memutuskan untuk mampir ke sebuah toko buku.
Aku membelikan banyak novel romantis untuk Mei. 'Dia pasti senang,' pikirku. Lalu, ketika aku melangkahkan kakiku ke luar dari toko buku, aku melihat ada penjual jam di emperan toko. Tiba-tiba aku teringat dengan gadis cerewet.
Sudah terniat di hatiku untuk membelikannya sebuah jam. 'Tapi, dia sudah mencoba mempermainkanku,' batinku.
'Aku seharusnya membuat perhitungan dengannya tadi,' ucapku dalam hati sambil melewati penjual jam itu. Aku langsung menuju mobilku yang terparkir tidak terlalu jauh dari penjual jam itu.
Aku lalu masuk ke dalam mobil, ingin menyalakan mesinnya. Namun, pikiranku berkecamuk. Entah mengapa aku selalu terpikir untuk memberikan sebuah jam pada gadis cerewet itu. "Hakkhh... mengapa aku jadi seperti ini?" Aku memukul setir mobil karena kesal dengan diriku sendiri.
Lalu, tanpa pikir panjang aku kembali turun dari mobil. Aku berjalan mendekati penjual jam itu. Dengan perasaan kesal aku bertanya pada penjual itu, "Pak, ada jam tangan untuk wanita?"
"Ini ada banyak, Dek," ucapnya. "Silakan dipilih!"
'Hahh... aku tidak tahu mana jam yang disukai gadis cerewet itu,' pikirku. 'Aku harus pilih yang mana?' Aku cukup bingung menatap satu per satu jam tangan yang terpampang di depan kedua mataku.
Lalu, akhirnya aku berkata, "Jam yang paling murah yang mana, Pak?"
Aku memutuskan untuk membelikan gadis cerewet itu jam yang paling murah saja karena dia sudah mencoba untuk mempermainkanku. Seharusnya aku membuat perhitungan dengannya. Tapi, sekarang aku malah membelikannya jam.
"Yang paling murah yang ini, Dek. Tapi, ini bukan jam tangan." Penjual jam itu menyodorkan sebuah jam saku bandul berwarna silver.
"Harganya dua puluh lima ribu," ucapnya.
Aku menatap jam itu lalu aku meraihnya. "Oke, Pak. Saya beli ini," ucapku kemudian.
Aku segera membayar jam itu dan kembali ke mobil. 'Akhirnya aku membeli jam untuk gadis cerewet itu,' pikirku sambil memandangi jam itu. Aku melakukannya hanya untuk melegakan hati dan pikiranku saja agar tidak terus terpikir dan terbebani. Karena, aku sudah terlanjur berniat membelikannya jam tangan. 'Yaaa meskipun yang aku beli ini bukan jam tangan, tapi yang penting aku sudah membelikannya sebuah jam.'
Aku pun menyetel jamnya agar tepat dengan waktu saat ini. Dan, seketika aku pun tersadar. "Astaga, ini sudah sore!" ucapku sambil melihat jarum jam.
__ADS_1
"Aku harus segera pulang sebelum mama mencariku." Lalu, aku pun bergegas memasukkan gigi mobil dan mulai menjalankan mobilku untuk segera pulang.
'