
"Hei, aku bertanya dan kau tidak menjawab," gerutuku membuat lamunan gadis cerewet terhenti. "Sudahlah jika kau tidak mau menjawab, tidak perlu dijawab." Aku tak ingin mencampuri lebih dalam masalah pribadinya.
"Tapi, setidaknya aku ingin bertanya satu hal padamu dan kau harus memberikan jawaban," ucapku.
"Apa itu?" tanyanya segera.
"Siapa namamu?" Aku penasaran dengan namanya. Sejak awal sampai kini aku belum tahu siapa nama gadis cerewet di hadapanku ini.
"Mimi," jawabnya pendek.
"Mimi?" gumamku mengulangi namanya. "Mimi apa? Mimi peri?" Aku sedikit tertawa.
"Mimi Santika," ucapnya.
"Mimi...San!" Aku tergelak. "Namamu lucu sekali, hahahaha... Mimisan, mimisan, mimisan," ledekku. Aku merasa geli sendiri. Sedangkan, ia memandangku dengan wajah tidak senang.
Tawaku pun akhirnya terhenti seketika saat menyadari tatapan tidak senangnya. Ia pun berkata, "Tertawailah namaku sesuka hatimu! Tapi, aku tetap senang punya nama itu. Itu nama pemberian nenekku."
"Ouhh." Aku sedikit merasa bersalah. Lalu, aku berkata, "Kau tidak ingin menanyakan namaku?"
"Tidak perlu," ucapnya.
"Ya, itu karena pasti kau sudah tahu namaku kan?" ucapku dengan penuh bangga. "Siapa yang tidak mengenalku di sekolah ini. Semua siswa dari kelas 1 hingga kelas 3 sering membicarakanku. Kau pasti juga sudah tahu kan."
"Huekk!" Mimi seperti ingin memuntahkan makanan dari perutnya.
"Sudahlah! Jujur saja!" ucapku begitu narsis.
"Aku memang sudah tahu namamu, tapi sama sekali bukan karena itu. Aku tahu namamu karena sudah tertulis jelas di label nama seragammu." Ia menunjuk bajuku. "Rhama."
Aku tersenyum lalu berkata, "Namaku bagus kan?"
Ia tak menggubris ucapanku. Sementara itu, aku lanjut berkata, "Berkarakter, penuh kharisma."
Mimi kembali berekspresi seolah ingin memuntahkan isi perutnya. Lalu, ia berkata, "Biasa saja."
"Wuahhh, kau tidak tahu ya ... namaku ini diambil dari tokoh ksatria dalam dunia pewayangan?" protesku. "Rama itu adalah ksatria yang tampan, perkasa, gagah berani, dan setia pada istrinya -Sinta. Demi menyelamatkan Sinta, ia bertarung dan berhasil mengalahkan Rahwana dengan gagahnya."
__ADS_1
"Dia tokoh yang sangat hebat dan pemberani. Mama yang memberikan nama itu untukku."
"Sepertinya nama itu tidak cocok denganmu," ucapnya.
"Mengapa?" tanyaku segera.
"Kau sendiri kan yang bilang Rama itu ksatria hebat dan pemberani," ucapnya. "Semua karakter itu tidak ada padamu."
Mimi berkata dengan jujur, sedangkan aku tak terima dengan ucapannya dan seketika berkata, "Hohh... beraninya kau bilang begitu."
"Lihat saja sikapmu pada preman waktu itu! Kau tidak berani padanya bukan?"
Aku diam. Sejujurnya aku memang tidak berani saat itu. Tapi, aku tetap tak bisa terima dia berkata seperti itu seolah memberi cap bahwa aku adalah seorang pengecut.
"Aku bukan tidak berani. Aku hanya berpikir panjang. Preman itu berbahaya. Bagaimana jika dia melihatmu lagi? Bisa-bisa dia menghabisimu." Aku berusaha membela diri.
"Hahh, sudahlah! Pokoknya nama itu tak cocok untukmu," ucapnya tak mau berdebat denganku.
"Jika nama Rhama tidak mencerminkan karakterku, jadi menurutmu aku ini seperti apa?" tanyaku kemudian.
"Hmhhh... sepertinya aku ini tidak ada bagus-bagusnya ya di matamu," ucapku. "Matamu rabun parah, hampir buta. Cepat-cepatlah cek matamu ke dokter!"
"Semua siswi dari kelas satu hingga kelas tiga di sekolah ini memfavoritkan aku, kau sendiri yang tidak. Berarti kau tidak normal," ejekku.
"Hahh... lihatlah! Benar kan apa yang aku katakan... kau sangat narsis," ucapnya. "Rasa percaya dirimu terlalu tinggi."
"Aku tidak narsis. Memang begitu kenyataannya, mereka memfavoritkan aku," ucapku tak mau mengalah, mempertahankan harga diriku.
"Ahh, sudahlah! Aku malas berdebat denganmu kali ini," ucap Mimi. Lagi-lagi ia mengelak untuk berdebat denganku. Moodnya saat ini yang masih sedikit melow membuatnya tak bersikap seperti biasanya.
"Setiap bertemu kita selalu berdebat, apa kau tidak bosan?" tanyanya kemudian.
"Ya, aku juga bosan," ucapku pelan. Lalu, kami berdua sama-sama terdiam, menatap hujan yang tak kunjung reda. Kemudian, aku membuka suara, "Bagaimana jika kita berhenti bertengkar, kita bisa menjadi teman?"
Ia menatapku. Aku mengulurkan tanganku sambil berkata, "Teman?"
Ia mengangguk. "Baiklah, kita menjadi teman," ucapnya tanpa membalas salam tanganku.
__ADS_1
"Kau tak membalas salam tanganku?" tanyaku.
"Heehh...." Dia tersenyum. "Aku tak biasa bersentuhan dengan lelaki." Ucapannya membuatku menarik tanganku kembali.
Sedangkan, ia berkata, "Untuk merayakan pertemanan ayo kita makan kue ini bersama-sama!" Ia mengajakku menyantap kue tart coklatnya.
Lalu, ia memeriksa kantong kue, berusaha mencari pisau plastik pemotong kue yang biasanya diberikan toko kue secara gratis saat membeli kue ulang tahun. "Pisaunya tidak ada," gumamnya.
"Hahh, tidak ada?" ucapku. "Pelayan toko itu pasti lupa memasukkannya." Aku segera menatap toko kue yang tak jauh letaknya dari halte tempat kami berada.
"Aku bisa meminta pisaunya. Tapi, hujannya masih deras," ucapku. Sementara itu, Mimi mengeluarkan sebuah mistar berbahan logam dari dalam tasnya. Lalu, ia mencucinya dengan tetesan air hujan yang mengalir deras dari atap halte.
'Untuk apa?' pikirku.
"Kita bisa memotong kuenya dengan ini," ucapnya dan aku hanya tertegun memandang tingkahnya. Ia pun segera memotong kue itu dengan menggunakan mistarnya dan kami pun akhirnya memakan kue coklat itu bersama di bawah derasnya kucuran air hujan yang menerpa atap halte.
"Hei, pipimu penuh coklat," ucapku. Ia makan dengan rakus hingga pipinya berlepotan dengan coklat. 'Gadis ini benar-benar tidak seperti gadis lainnya,' pikirku. Biasanya gadis lainnya akan makan dengan sangat hati-hati dan menjaga image. 'Sedangkan, dia ... hahhhhh, aku tak tahu lagi harus berkata apa?'
Ia mengelap pipinya. Namun, masih ada banyak coklat yang menempel berlepotan di pipinya. Sehingga, aku berkata, "Itu masih ada di pipimu." Aku menunjuk pipiku untuk mengarahkannya. Namun, ia malah mengelap di pipi sebelahnya, bukan di pipi satunya yang terkena coklat.
"Ini...." Tanpa kusadari tanganku telah lancang spontan mengarah ke wajahnya dan menyeka coklat itu.
Aku mendadak terdiam seketika dan Mimi mendadak menatapku. Aku segera menyingkirkan tanganku dan langsung berdiri dari tempatku duduk. Aku memalingkan wajahku ke arah lain sambil berkata, "Maaf, aku tidak bermaksud...."
'Huhhh, mengapa aku jadi salah tingkah?' gerutuku dalam hati.
"Maaf... aku tidak sadar langsung mengelap pipimu," ucapku. Lalu, aku memandangnya dan berkata, "Kau jangan berpikiran macam-macam ya?"
"Hahahahaha...." Aku tertawa canggung menutupi rasa grogiku. "Aku hanya refleks. Jangan ge-er!"
Sementara itu, Mimi hanya terdiam melihat tingkahku yang baginya aneh. Aku benar-benar salah tingkah sendiri. Aku jadi canggung untuk duduk kembali di halte itu.
Aku menatap hujan yang mulai mereda. Rintik-rintik hujan masih berjatuhan, namun tak sederas tadi. Aku kemudian berkata, "Sepertinya hujan sudah mulai reda."
Aku mengambil tasku lalu berkata lagi, "Aku pulang duluan ya. Jika tidak segera pulang, mama pasti akan mengkhawatirkanku." Padahal, sebenarnya aku ingin cepat-cepat menghilang dari halte itu karena malu dan salah tingkah.
Lalu, aku bergegas berlari di bawah hujan. Aku meletakkan tasku di kepala untuk melindungi dari rintik hujan. Begitu jalan sepi, aku segera menyeberang jalan dan menunggu bis datang di bawah deraian gerimis hujan. Sedangkan, Mimi... dia masih tetap di halte, menatapku dari kejauhan.
__ADS_1