Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Ingin Bersama


__ADS_3

Aku menyesal. Itulah yang aku rasakan pada akhirnya. Aku menyesal tak menghabiskan lebih banyak waktuku bersama Mimi. Aku menyesal tak menemaninya, tak bisa selalu berada di sisinya. Dan, penyesalan itu terus berlanjut hingga kini.


Seandainya waktu bisa diputar kembali ke masa saat kami SMA. Namun, itu suatu hal yang mustahil kulakukan. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa merindukan masa-masa itu dan setiap kenangannya.


...****************...


Hari kedua ujian...


Mimi mengkhawatirkan nilainya. "Bagaimana jika aku tidak lulus?"


"Kau pasti lulus. Kau tidak sebodoh itu," ucapku penuh keyakinan. "Lagipula kau kan sudah giat belajar."


"Ya, semoga saja," ucapnya.


"Apa sudah kau pikirkan setelah kelulusan kau akan masuk universitas mana?" Aku mengulangi pertanyaan yang sudah beberapa kali aku tanyakan padanya dan kali ini aku harap ia bisa menjawabnya.


Namun, lagi-lagi jawabannya, "Entahlah. Aku belum memutuskan."


"Haahhh, mengapa kau lama sekali menentukan pilihan?" Aku menggerutu. "Aku ingin satu universitas denganmu."


"Bukankah kau bilang kau akan melanjutkan kuliah di kota lain?" ucapnya.


"Ya, mama yang mengaturnya," ucapku pelan. "Tapi, aku bisa menolak dan berkuliah di universitas yang sama denganmu saja," tambahku segera. "Supaya kita bisa sering bertemu."


"Apa bisa?" ucapnya.


"Yaaaa... aku akan berjuang merayu mama."


"Jika tidak berhasil, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya.


"Hmmm... bagaimana jika kau saja yang berkuliah di luar kota bersamaku? Aku mendaftar di Universitas Indonesia."


Mimi tersenyum lebar. "Kau sudah sangat tahu kan kemampuan otakku," ucapnya. "Aku tak akan diterima di kampus itu."


"Kau belum mencobanya," ucapku segera. "Coba saja dulu mendaftar di fakultas yang kau anggap mudah dan sukai di sana!"


"Nilaiku tidak akan cukup. Standar nilai universitas itu tinggi," ujarnya.


"Jika begitu, bagaimana jika kau mendaftar di universitas lain yang ada di sana? Jadi, kita tetap berada di satu kota yang sama dan bisa sering bertemu."

__ADS_1


Mimi menoleh dan hanya tersenyum. Sehingga, aku pun bertanya, "Mengapa kau hanya tersenyum?"


Ia menggeleng beberapa kali lalu berkata, "Kau tahu... hidupku tak seindah hidupmu."


Aku tercengang dan tak mengerti mengapa ia berkata seperti itu. Kemudian, ia melanjutkan ucapannya, "Kau punya keluarga yang selalu ada untukmu dan siap mensupportmu. Sedangkan, aku...."


Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada," ucapnya kemudian dengan sendu.


"Berkuliah di Jakarta membutuhkan banyak biaya. Dimana aku akan tinggal? Apa aku mampu bekerja dan mengumpulkan uang untuk membayar sewa tempat tinggal dan makan? Orang tuaku bahkan sampai detik ini belum menghubungiku."


Aku terdiam.


"Ayah hanya mentransfer uang untuk keperluanku setiap bulan tanpa menghubungiku, tanpa pernah menanyakan kabarku. Bahkan, mungkin dia tidak terpikir bahwa sebentar lagi aku akan kuliah. Atau, mungkin dia tidak ingat saat ini aku sudah kelas tiga SMA."


"Apa karena itu kau belum memutuskan akan berkuliah dimana?" tanyaku.


Dia tersenyum lirih. "Aku bahkan belum tahu apakah aku bisa berkuliah atau tidak," ucapnya.


"Jika itu karena masalah biaya, aku akan membantumu," ucapku segera.


"Tidak perlu," ucapnya.


"Aku tak ingin berhutang pada siapapun. Aku tak ingin uangmu. Aku tak mau menjadi benalu dalam hidupmu." Ia berkata dengan sangat tegas dan aku hanya bisa tercengang.


"Aku akan bekerja," gumamnya.


"Mimi...." Aku menatapnya. "Jadi, kau tidak mau berkuliah bersamaku? Aku ingin selalu berada di dekatmu."


"Kejarlah masa depanmu! Tak usah pikirkan aku! Aku bisa mengurus diriku sendiri," ucapnya.


'Jika begitu, aku tidak akan berangkat ke Jakarta,' ucapku dengan sangat yakin di dalam hati. 'Aku akan berkuliah di kota ini saja... agar bisa sering bertemu denganmu.'


Sesampainya di rumah aku merengek pada mama. "Maaaa, sudah kuputuskan bulat-bulat aku tidak akan berkuliah di luar kota. Aku akan berkuliah di kota ini saja. Kumohon Ma pahamilah keputusanku." Aku meringkuk di dekat lutut mama.


"Ada apa denganmu, Rhama? Kita sudah sepakat kau akan berkuliah di Jakarta. Mama sudah mengatur semuanya untukmu." Mama mempertahankan pilihannya.


"Aku akan sangat merindukan Mama jika aku berkuliah di sana," rengekku.


Sedangkan, mama tiba-tiba teringat saat temannya menelepon dan memberitahukan bahwa melihatku bersama Mimi di mall beberapa waktu lalu. 'Tidak boleh dibiarkan,' batin mama.

__ADS_1


'Aku tidak akan membiarkan Rhama tetap berada di kota ini. Rhama harus dipisahkan dengan gadis amburadul itu sebelum pengaruhnya semakin kuat.'


"Maaaa, kumohon...." rengekku lagi.


"Kau harus berkuliah di sana Rhama," ucap mama dengan tegas. "Kau harus berkuliah di tempat yang berkualitas. Jangan sia-siakan kecerdasanmu!"


Dan, aku terus merengek mengikuti kemanapun mama melangkah hingga hampir satu setengah jam. Namun, mama tetap saja bersikukuh pada pendiriannya. Hingga akhirnya mama kesal dan berkata, "Berhentilah merengek! Turuti permintaan mama! Berkuliahlah di sana!"


"Tapi, Maa...."


"Dengar Rhama! Satu kali ini saja penuhi permintaan mama!" ucap mama. "Berkuliahlah di sana! Belajar dengan giat! Jadilah lulusan terbaik!"


Aku terdiam dan manyun. Sehingga, membuat mama berkata, "Setelah itu kau boleh meminta apapun pada mama, mama akan memenuhinya."


"Tapi, sebelum kau menuruti permintaan mama, jangan berharap mama akan memenuhi permintaanmu!"


Lalu, mama segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Aku tak mengatakan apapun lagi. Mama sangat keras pada pendiriannya.


...****************...


Hari terakhir ujian.


Saat jam istirahat Mimi tak sengaja melihat Reno yang duduk terdiam melamun di bawah pohon. Aku melihat Mimi tampak memperhatikannya dari kejauhan. Entah apa yang ada dalam pikiran Mimi. Aku segera membuyarkannya dengan mengajaknya segera pergi ke kantin.


Aku menyodorkan segelas es teh padanya. Namun, Mimi hanya menerimanya tanpa banyak bicara. Entah mengapa aku berpikir ia seperti merasa bersalah pada Reno.


Aku mengajaknya bicara, namun ia lebih banyak diam dan merespon seperlunya. Sehingga, aku berkata, "Apa kau memikirkan Reno?"


Mimi langsung melihatku. Tanpa kusangka ia pun mengangguk. Sangat di luar dugaanku. Kupikir ia akan berkata tidak atau setidaknya menutupinya dengan tidak berterus terang padaku. Tapi, ternyata ia begitu blak-blakan dan itu menggores hatiku.


Aku terdiam, menatapnya sejenak. Perasaanku berkecamuk. 'Apakah Mimi juga memiliki perasaan pada Reno?' batinku merasa benar-benar tak terima.


Aku tak ingin kehilangan Mimi. Aku sangat tak ingin melepaskannya. Di sisi lain aku merasa marah, api cemburu tiba-tiba saja menggelora di hatiku. 'Mengapa Mimi harus memikirkan Reno?' Aku sangat kesal.


Tanpa pikir panjang aku spontan berdiri dari tempat dudukku. "Aku harus kembali ke kelas," ucapku lalu segera berlalu.


Aku kesal sekali. Tak bisakah Mimi menyingkirkan pria-pria lain dari hatinya? Aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk bisa bersamanya. Bahkan, aku melawan perintah mama untuk tidak berhubungan dengannya. Aku juga bahkan berusaha keras untuk tetap satu kota dengannya dengan mempertaruhkan masa depan perkuliahanku. Aku sangat serius membangun hubungan dengannya.


'Apakah Mimi tak serius denganku?'

__ADS_1


__ADS_2