Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Kemana?


__ADS_3

"Mengapa... mengapa kau tak mau membalas perasaanku?" tanya Reno. "Kau sudah tahu kan aku menyukaimu? Aku sudah berubah untukmu. Aku bukan berandalan lagi."


Mimi menatap Reno yang tampak begitu tak tenang. "Sebentar lagi kita akan ujian. Aku tak ingin memikirkan masalah hati dan perasaan. Aku hanya ingin fokus untuk ujian," jawab Mimi dengan nada datar dan tenang.


"Ujian...." gumam Reno.


"Berhentilah mengejarku! Karena, aku tidak akan membalas perasaanmu." Setelah berkata seperti itu Mimi segera meninggalkan Reno, tak peduli sedikitpun pada perasaannya yang kecewa dan terluka.


Reno tercengang untuk sesaat. Lalu, "Aku tidak akan berhenti," teriak Reno dari kejauhan. "Aku akan menunggumu."


"Terserahlah. Tapi, aku tidak akan pernah ... menganggapmu ... lebih dari sekedar teman ataupun kakak." Mimi menutup ucapannya dan segera berlalu.


Begitulah hari-hari kami berikutnya berlanjut dengan nuansa kelabu penuh kegalauan. Baik aku maupun Reno, kami sama-sama terluka dan patah hati. Aku tak semangat melanjutkan hari-hariku. Setiap hari aku hanya ingin perasaan galau ini cepat berlalu dan berganti. Namun, hatiku terlalu sendu untuk bisa ceria.


Aku menghabiskan hari-hariku di sekolah dengan sesekali menatap Mimi dari jendela kelasnya. Kadang aku berpikir, 'Mengapa gadis biasa seperti dia bisa sangat memporak-porandakan hatiku? Membuatku terombang-ambing dalam lautan kegalauan yang entah dimana tepinya.'


'Aku memang bodoh,' batinku. Ternyata cinta mampu membuatku menjadi sangat dungu.


Setelah dia menolak mentah-mentah perasaanku, aku masih saja berharap dia berubah pikiran. 'Tololnya aku.'


'Mengapa aku bisa secinta itu padanya dan menutup hatiku untuk gadis lainnya?' Aku tak menginginkan gadis lainnya. Aku hanya menginginkan dia. Dia yang lumayan bodoh, urak-urakkan, pemarah... Hahhh... begitu banyak kekurangannya. Tapi, mengapa aku tetap menyukainya? Bahkan, aku melupakan Mei yang sampai saat ini masih terus bersinar dimanapun ia berada.


Inikah yang disebut mabuk cinta? 'Tidak, tidak, tidak. Aku tidak sedang mabuk cinta.' Aku sedang patah hati sepatah-patahnya, melebihi patah hatiku saat mengejar Mei. Aku sekarat karena cintaku pada Mimi. Aku sangat tersiksa hanya dengan berpikir bahwa Mimi tak menginginkanku.


'Bagaimana bisa ia begitu tak sedikitpun punya perasaan padaku?' pikirku. 'Apakah ia tidak suka pria? Apa dia penyuka sesama jenis?' Kadang itu yang terlintas di otakku ketika mengingat sikapnya yang seperti pria. 'Jangan-jangan dia memang tidak suka pria,' gumamku dalam hati.


'Hahhh... tapi, tidak, tidak, tidak!' Hatiku begitu tak terima jika ia seorang penyuka sesama jenis. 'Dia wanita normal,' tegasku dalam hati. 'Dia pasti wanita normal.'

__ADS_1


Lalu, "Dukk!" Pikiranku yang terus melanglang buana sejak tadi membuatku tak fokus dan menabrak seseorang yang berpapasan denganku. Dia Reno, sama sepertiku dia juga tampak tak bersemangat. Kami sama-sama berjalan pelan dan saling bertabrakan, namun kami berdua hanya saling diam saja, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu, kami berdua saling berlalu seperti tak terjadi apapun dan seperti tak saling mengenal.


'Aku rasa mungkin Reno sudah menggunakan masa-masa ini sebagai kesempatan untuk mendekati Mimi,' pikirku sambil terus berjalan pelan menyusuri koridor sekolah.


Tiba-tiba saja ingatan tentang Mimi yang dulu kulihat sering menabrak tiang-tiang koridor teras kelas muncul di penglihatanku. Bayangannya muncul begitu saja dalam ilusi pandanganku. 'Dulu dia pernah menabrak tiang ini,' pikirku.


'Apakah sekarang ia masih sering menabrak tiang-tiang koridor ini?'


'Hohhh... mengapa aku terus memikirkannya?' Aku agak kesal. Ingin sekali aku mengusirnya dari pikiranku, tapi benar-benar tidak bisa.


Usai jam istirahat siswa-siswa di kelasku dan kelas Mimi dikumpulkan di laboratorium. Ada promosi perkuliahan dari salah satu pihak universitas. Tak terasa dua minggu lagi kami akan menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Pihak universitas dan sekolah tinggi sedang gencar-gencarnya melakukan promosi untuk menarik minat para siswa agar mereka berkuliah di tempatnya.


Namun, aku tak terlalu memperhatikan apa yang mereka sampaikan. Karena, tempat perkuliahanku dan jurusannya sudah ditentukan oleh mama sejak jauh-jauh hari. Mama menginginkanku berkuliah di Universitas Indonesia di Jakarta. Aku menurut saja karena akhir-akhir ini aku sendiri tak cukup bersemangat memikirkan bagaimana kelanjutan masa depanku. Aku menyerahkannya pada mama. Aku yakin saja Mama akan memberikan pilihan yang terbaik untukku.


Lalu, aku menoleh pada Mimi yang duduk lumayan jauh dariku. Aku berpikir, 'Kemana dia akan melanjutkan pendidikannya setelah tamat SMA?' Aku memperhatikannya dari kejauhan, membuatnya merasa ada orang yang memandangnya. Ia menoleh. Sehingga, tatapan kami saling bertemu.


'Sampai kapan kegilaan ini akan berakhir?'


Setelah kelulusan sekolah nanti mungkin kami tidak akan bertemu lagi. Apakah kegilaan ini akan menghilang dengan sendirinya setelah kami tidak bertemu lagi nanti? Ataukah... kegilaan ini malah akan makin menjadi-jadi karena rindu?


Aku tak bisa tahu jawabannya karena saat-saat kehilangan itu belum terjadi. Tapi, yang aku tahu saat ini hatiku bergejolak. Aku tak mau melepaskan Mimi begitu saja. Mungkin nanti kami tidak akan bertemu lagi. Sebelum itu terjadi, aku ingin memastikan bagaimana perasaannya sebenarnya padaku. Karena itu, pulang sekolah aku menunggu di depan rumahnya.


Aku memperhatikan kaca spion mobilku sejak tadi. Dan, akhirnya kulihat Mimi berjalan kaki dari kejauhan. Aku langsung mencegatnya begitu ia melangkahkan kaki ke halaman rumahnya.


"Mengapa kau menghalangi jalanku?" tanyanya.


Aku terdiam sejenak. Lalu, aku berkata, "Aku ingin mengembalikan baju pamanmu." Aku menyodorkan baju yang akhir-akhir ini selalu kubawa dalam mobilku itu padanya.

__ADS_1


"Sebenarnya sudah lama aku ingin mengembalikannya, tapi aku tahu kau tak suka aku datang ke rumahmu."


"Jika begitu mengapa kau tak mengembalikan saat di sekolah saja? Tak perlu repot ke rumahku." Ia ingin meraih baju itu, namun aku langsung menariknya secepat kilat dari hadapannya.


"Oh, ya!" seruku. "Baiklah, aku akan memberikan baju ini di sekolah padamu besok. Tapi, jangan salahkan aku jika semua siswa melihat dan bertanya-tanya 'mengapa baju itu bisa ada pada Rhama? Apa yang sudah mereka berdua lakukan?'"


"Hmmmhhh... kau memang pintar mencari alasan," ejek Mimi lalu merebut baju itu dari tanganku.


"Kau yang bodoh... tidak berpikir panjang sejauh itu," ledekku.


"Ucapanmu tidak lucu." Ia cukup tersinggung karena aku mengejeknya bodoh.


"Aku hanya bercanda," ucapku. "Sebenarnya tidak ada orang yang bodoh. Yang ada hanyalah orang yang kurang sungguh-sungguh belajar. Apa kau mau belajar bersamaku?" Aku menawarkan diri.


"Tidak, terima kasih," jawab Mimi langsung tanpa pikir panjang dan itu sebenarnya membuatku cukup kecewa.


"Baiklah, kau sudah mengembalikan bajunya. Terima kasih. Sekarang aku mau masuk ke rumah. Sampai jumpa," ucapnya. Lalu, ia segera membalikkan badannya.


Sementara, aku mematung lalu sebelum ia melangkah jauh aku berkata, "Setelah tamat nanti ... kemana kau akan melanjutkan pendidikanmu?"


Mimi menoleh dan berkata, "Bukan urusanmu."


"Itu menjadi urusanku," ucapku segera.


Mimi mengernyitkan dahinya. Lalu, aku berkata, "Aku harus tahu kemana kau akan pergi. Apakah kita bisa bertemu lagi?"


Mimi semakin mengernyitkan dahinya sembari berkata, "Apa maksudmu?"

__ADS_1


__ADS_2