Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Berhati Batu


__ADS_3

Ia tercengang menatapku dan entah mengapa darahku tiba-tiba bergejolak. Aku segera menarik tanganku sebelum ia berteriak marah.


"Maaf aku tidak sengaja," ucapku segera.


"Jangan seperti itu lagi! Orang-orang bisa berpikir macam-macam jika melihatnya," ucapnya dengan datar.


"Aku tidak ingin macam-macam padamu." Aku segera membela diri. "Aku hanya ingin membantumu mencangkul. Karena pekerjaan ini harusnya dilakukan oleh laki-laki."


"Hooo... ooohhh... apa kau bisa?" ucapnya dengan nada mengejek. "Anak mama sepertimu pasti belum pernah memegang cangkul seumur hidupmu."


"Hmmhhh... ya memang belum pernah. Tapi, aku bisa." Aku begitu yakin. "Berikan cangkul itu padaku!"


Gadis cerewet menyerahkan cangkul itu padaku lalu aku mulai mengayunkan cangkul. Dan, ternyata cangkul itu tak seringan yang kuduga. "Cangkul ini ... berat juga," keluhku.


Namun, aku melakukannya tetap dengan penuh semangat. Aku berusaha mengerahkan semua tenagaku dan ia menonton diriku sambil tersenyum geli. Hingga ayunan yang ke sekian, aku merasa cukup lelah dan berkata, "Mencangkul itu mudah, hahh... hahh... hahh.... " Nafasku ngos-ngosan. "Tetapi, melelahkan." Aku melanjutkan ucapanku.


Ia tersenyum lebar seolah menertawakanku. "Kau tak cocok jadi petani," ucapnya. "Biarkan aku yang mencangkul!"


Ia meraih cangkul itu dan mengayunkannya seolah-olah cangkul itu begitu ringan. Seketika itu juga aku merasa takjub padanya. 'Bagaimana bisa ia melakukan itu?' pikirku.


"Kau pasti sudah sering mencangkul," ucapku kemudian.


"Ya," jawabnya sambil terus mencangkul. "Mengapa?"


"Kau terlihat sangat berbakat... Hahahhahaaa...." Aku menertawakannya.


"Tidak lucu," ucapnya.


"Pantas saja jari-jarimu keras dan kasar seperti pria." Aku terlalu jujur mengatakannya dan kali ini gadis cerewet menghentikan ayunan cangkulnya. Ia menatapku dan kutangkap ekspresi wajahnya tidak senang.


Aku segera berkata, "Maaf! Aku tidak bermaksud mengejekmu."


Tangannya dengan cepat meraih celuri*t rumput yang ada di dekatnya dan mengangkatnya sambil berkata dengan nada horor padaku, "Jika kau hanya ingin menertawakan dan mengejekku, lebih baik kau pulang." Lagi-lagi ia mengusirku.


"Aku... Aku... Aku...." Aku bingung harus bicara apa. 'Sadis sekali ia mengancamku dengan celuri*t,' pikirku.

__ADS_1


"Aku akan membantumu membersihkan rumput," ucapku kemudian sambil meraih celuri*t itu dari tangannya.


Aku pun segera berjongkok dan membabas rumput-rumput liar dengan celuri*t. Sedangkan, gadis cerewet tetap mengawasiku dengan matanya yang tajam. "Sudahlah! Lakukan saja pekerjaanmu! Tak perlu mengawasiku," ucapku.


Sehingga, ia berhenti memelototiku. Ia melanjutkan pekerjaannya. Namun, kali ini ia tidak lagi mencangkul. Ia memindahkan beberapa pot ke tempat yang lebih teduh. Lalu, saat ia mengangkat pot keempat... Beberapa lipas berlarian keluar dari bawah pot, membuatku sangat kaget seketika.


Aku terloncat dari posisi jongkokku dan spontan berteriak, "Aaaaaaaaagghhhhh!" Aku berjingkrak berusaha menghindari lipas itu. Sedangkan, gadis cerewet dengan begitu tenang mendekati dua lipas yang tersisa di tanah. Kedua lipas itu tak bisa melarikan diri karena posisi badan mereka terbalik. Mereka terlentang di tanah sambil berusaha keras untuk membalikkan badannya. Kaki-kaki mereka terus bergerak-gerak cepat membuatku merasa geli melihatnya.


"Berikan celuri*tmu!" ucapnya dan aku segera menyerahkannya.


Lalu, gadis cerewet mendekatkan ujung celuri*t itu pada salah satu lipas. Ia membalikkan badan lipas itu dengan cepat menggunakan ujung celuri*t dan juga melakukan hal yang sama pada lipas satunya. Sehingga, kedua lipas itu segera berlarian dengan cepat ke arah kakiku.


"Aaagghh! Aaaagggggrhh...." Lagi-lagi aku berteriak histeris sambil berjingkrak. Aku spontan bereaksi menghindari lipas-lipas itu hingga lipas-lipas itu lenyap menyelamatkan diri ke arah parit.


"Hooooohhhhh...." Aku menarik nafas dengan sangat lega. Sementara itu, gadis cerewet yang sejak tadi memperhatikanku jadi menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa?" tanyaku saat melihat ekspresinya seperti itu.


"Kau ini memang seperti wanita ya," ucapnya.


"Hahh, menyerangmu?" tanyanya. "Apa tidak salah? Mereka hanya hewan lemah, tak sebanding sedikitpun denganmu. Kau yang pengecut."


"Aku bukan pengecut," tandasku segera. "Aku tidak takut pada lipas-lipas itu."


"Oh, ya? Lalu, yang kulihat tadi apa? Keberanianmu? Hahahahaha... Lucu sekali." Gadis cerewet itu menertawakanku.


"Mereka itu hewan kotor, jorok. Aku jijik dengan lipas-lipas itu. Aku tidak takut, aku hanya jijik."


"Lagipula, mengapa kau malah membantu lipas-lipas itu?" Aku kesal dan protes dengan perbuatan gadis cerewet itu.


"Hmmmhhh, mereka itu juga makhluk hidup," ucapnya. "Bayangkan jika kau menjadi lipas itu! Kau ingin bangkit dan pergi, tapi tidak pernah bisa. Terus terlentang sambil berusaha bangkit, tapi tetap tidak bisa. Kasihan sekali kan."


"Bersyukurlah kau tidak tercipta menjadi lipas! Kau sebut mereka hewan jorok. Mereka mungkin juga tidak ingin menjadi lipas, tapi mereka tak punya pilihan."


"Lalu, apa... aku harus menyebutmu superhero? Pahlawan bagi para lipas," ejekku. "Hahahahaahaaa...."

__ADS_1


"Ternyata kau tidak mengerti," ucapnya.


"Ya, aku mengerti," ucapku. "Kau begitu baik dan berhati suuuuuppper lembut, selembut krim, selembut busa, selembut gelembung sabun. Begitu tersentuh saat melihat perjuangan lipas membalikkan badan. Ohhh... mereka sudah berjuang sangat keras. Aku harus membantunya. Mereka hanya makhluk lemah, tidak berdaya." Lagi-lagi aku mengejeknya.


"Percuma bicara denganmu. Kau tidak berperasaan," ucapnya. Lalu, ia kembali meraih cangkulnya dan melanjutkan pekerjaannya.


"Aku tidak berperasaan," ucapku tak terima. "Lipas-lipas itu hama, sah-sah saja untuk dibasmi."


Lalu, tiba-tiba, "Aduhhh...." Gadis cerewet segera melepas cangkulnya, berpindah tempat, dan menghentak-hentakkan kedua kakinya.


"Ada apa?" tanyaku spontan.


"Semut api," jawabnya sambil masih terus menghentak-hentakkan kedua kakinya untuk membuat semut-semut api itu terlepas dan pergi dari kakinya.


"Hmmmhhh... sekarang apa lagi? Semut itu menggigitmu. Kau juga tidak mau membasmi mereka? Semut hewan kecil dan lemah, kau mengasihaninya... ternyata mereka menggigitmu tanpa ampun. Hahahahaha...." Aku menertawakannya.


"Mereka menggigitku karena aku tak sengaja menginjak mereka," ucapnya. "Mereka melakukan perlawanan hanya untuk membela diri," ucapnya.


"Hahhhhh... terserah kau saja," ucapku. "Yang jelas menurutku kau tolol."


"Kau yang tidak punya perasaan, berhati batu," umpatnya dengan sinis. Lalu, ia kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa berkata-kata apapun lagi. Ia terus diam sepanjang mencangkul meskipun sesekali aku mengajaknya bicara. Sepertinya ia marah padaku.


Hingga akhirnya ia berhenti mencangkul dan terduduk meluruskan kedua kakinya di hamparan rumput jepang yang membentang di halaman rumahnya. Ia mengusap peluh di wajah lagi-lagi dengan lengan bajunya. Lalu, ia bergumam, "Akhirnya selesai juga." Halamannya sudah terlihat sangat rapi dan terawat saat ini.


Aku mendekatinya dan ikut duduk di sampingnya. Dia spontan berkata, "Minggirlah! Menjauhlah dariku!"


Aku menoleh dan ia lanjut berkata, "Kau bilang badanku sangat bau, bau apek, bau keringat. Mengapa kau duduk di sebelahku? Pergilah... sebelum kau pingsan!"


Ternyata gadis cerewet sangat mengingat ucapanku. 'Apakah begitu membekas di hatinya?' pikirku. 'Apa dia tersinggung?' Aku sendiri tak begitu menganggap ucapanku tadi serius. Meskipun, yaaa... sejujurnya dia memang jorok dan saat ini bau keringat. Tapi, mengapa aku merasa nyaman-nyaman saja berada di sebelahnya. Bau keringatnya sama sekali tidak menggangguku.


'Entah mengapa aku merasa nyaman?' batinku.


Aku melihat wajahnya. Butiran keringat meleleh di dahinya. Rambutnya basah karena keringat. Entah mengapa aku sama sekali tak merasa jijik.


"Hei, berhenti memandangiku seperti itu!" Ia memergoki tatapanku.

__ADS_1


__ADS_2