Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Air dan Minyak


__ADS_3

"Aku sudah siap," ucapnya.


Kulihat penampilannya sangat polos sekali. Bahkan, ia sama sekali tak berdandan. Ia hanya menggunakan jeans longgar dan kaos longgar. Rambut pendeknya terlihat rapi karena baru saja disisir. Namun, wajahnya sama sekali tak memakai bedak. Apalagi bibirnya... tampak mengering sedikit mengelupas, tak menggunakan lip balm, lip gloss, atau sejenisnya. Ia tak seperti wanita lainnya yang sibuk berdandan habis-habisan jika ingin pergi menonton bersama pria.


"Ayo kita pergi!" ucapku segera.


"Apa maksudmu kau ikut?" tanyanya padaku sambil mengunci pintu rumah.


"Yaaaa...." jawabku. "Aku penasaran dengan filmnya. Aku juga ingin menonton film yang bagus seperti kalian."


"Kau tidak perlu ikut," ucap Reno.


"Aku tidak mengganggumu, bukan?" tanyaku pada gadis cerewet.


"Ya," jawabnya. "Aku tidak masalah. Ayo kita pergi!"


"Ayo! Kau naik mobilku saja!" ajakku pada gadis cerewet, tapi tidak pada Reno.


"Mimi, naik motorku saja!" ajak Reno.


"Hahhh... motormu!?" celetukku segera. "Motormu yang bunyi knalpotnya menge*rang melengking seperti itu... kau ingin mengajak Mimi ke sana menggunakan motormu itu? Apa kau yakin?"


"Bioskop itu jauh dari sini, ke pusat kota. Belum sampai ke bioskop, polisi pasti akan mencegatmu di tengah jalan. Kau pasti ditilang karena motor ugal-ugalanmu itu." Aku meremehkannya.


"Jadi, apa maksudmu kita naik mobilmu saja?" tanya Reno.


"Kiiiita!?" ucapku sengit. "Kau ge-er sekali, hahahahaha...."


"Aku dan Mimi naik mobil. Kau... naik bis saja." Aku mengatakannya dengan rasa penuh kemenangan. Aku senang ia terpuruk karena sejujurnya aku tak menyukainya.


Namun, tiba-tiba Mimi berkata, "Agar adil... kita semua naik bis saja."


"Hhaahh... apa?" Aku sangat terkejut. "Untuk apa kita punya kendaraan sendiri jika tidak dipakai?"

__ADS_1


"Ya, agar tidak ada yang terkucilkan. Supaya adil... untukmu, aku, dan Reno," ucap gadis cerewet.


"Hmmhh... Kita semua naik mobilku saja!" ajakku kemudian.


"Jika kau ingin naik mobil, silakan! Aku naik bis saja," ucap Mimi.


"Aku juga naik bis saja," ucap Reno.


'Hahhhh, gadis cerewet naik bis bersama Reno,' gumamku dalam hati. Tiba-tiba saja terbayang dalam pikiranku dia dan Reno duduk bersebelahan berdua di dalam bis, duduk di satu kursi yang sama. "Tidak, tidak, tidak, tidak!" gumamku segera.


"Aku ikut naik bis," ucapku.


Sehingga, saat ini kami pun berada di pinggir jalan aspal, menunggu bis yang tidak penuh datang menghampiri. Sementara itu, aku merasa gerah sekali. Cuaca sangat panas. Pantulan panas dari aspal pun tak kalah dahsyat. Keringatku sudah membanjiri hampir seluruh badanku.


"Panas sekali," keluhku. "Mengapa kalian tidak mau naik mobilku saja?"


"Berhentilah menggerutu! Kau sendiri tadi yang ingin ikut bukan?" ucap gadis cerewet.


"Lima menit lagi di sini, kita bisa jadi ikan panggang gosong." Aku terus menggerutu. "Otakku bisa meleleh."


"Hahhhhhkh... berhentilah meledekku!" Aku kesal. "Aku harus ikut."


"Jika begitu bersabarlah!" ucap gadis cerewet. "Sebentar lagi pasti bis datang."


Dan, memang benar... tiba-tiba sebuah bis berhenti di hadapan kami. Kondekturnya segera turun dan mengajak kami untuk naik.


"Bis ini sudah penuh, nanti kita tidak dapat tempat duduk," ucapku.


"Kau kan sudah tidak sabar dan kepanasan. Jadi, apa yang kau tunggu? Ayo kita naik saja!" ucap gadis cerewet lalu bergegas menaiki bis itu diiringi oleh Reno. Sehingga, aku pun terpaksa juga segera ikut naik ke bis itu.


'Astaga! Sudah penuh,' gumamku dalam hati. Tidak ada kursi tersisa. Beberapa orang bahkan sudah berdiri. Sehingga, kami bertiga pun terpaksa berdiri dan berpegangan pada besi-besi di bis itu.


'Dasar gadis aneh,' gerutuku dalam hati saat bis telah berjalan. 'Diajak naik mobil nyaman, malah lebih memilih naik bis butut seperti ini.' Aku terus menggerutu. 'Hohhh... cuaca sangat panas, ditambah lagi tidak ada AC maupun kipas angin di bis ini. Musik di bis ini juga terlalu kuat, bising sekali.'

__ADS_1


Tiba-tiba sopir bis mengerem begitu mendadak. Tubuhku terdorong ke depan sangat kuat tanpa persiapan apapun sehingga menabrak gadis cerewet yang berdiri di hadapanku. Spontan ia menoleh menatapku dan dalam hitungan detik, "Dug! Dug! Dug! Dug! Dug! Dug!"


Aku segera menjauh darinya, kembali ke posisi semula. Bis pun kembali berjalan. Entah mengapa jantungku serasa tak karuan, berdetak begitu cepat.


"Maaf!" ucapku dan ia membalasnya dengan melotot.


Aku tak tahu mengapa aku jadi begini? Aku jadi salah tingkah. Lalu, seorang penumpang yang duduk tak jauh dariku mengetukkan cincinnya ke besi tempat duduk bis. "Ting! Ting! Ting! Ting!" Itu tandanya dia mau turun sehingga bis pun merapat ke pinggir jalan dan berhenti. Kemudian, penumpang itu pun turun, menyisakan bangkunya yang saat ini kosong dan di sebelahnya duduk seorang ibu-ibu.


Aku yang masih salah tingkah pun bergegas menduduki kursi itu. Pikiranku tak bisa jernih. Perlahan degup jantungku mereda. Reno yang berdiri di depan gadis cerewet ternyata sejak tadi memelototiku.


Aku menatapnya dan dia berkata, "Ladies first." Ia memberi kode agar aku membiarkan gadis cerewet untuk duduk lebih dulu dan aku berdiri. Sehingga, aku pun tersadar. 'Oh, ya... mengapa aku tidak menyuruh dia duduk lebih dulu? Mengapa aku tidak memperlakukannya seperti wanita?' batinku. Pikiranku yang kacau membuatku melakukan kebodohan itu. Sehingga, aku segera berdiri kembali dan memberikan kursi itu pada gadis cerewet.


"Duduklah!" ucapku.


"Tidak. Kau lebih membutuhkannya, kau hampir jatuh," ucapnya.


"Tidak usah keras kepala!" ucapku membuatnya spontan melotot dan aku berhenti bicara. 'Astaga! Aku salah bicara lagi,' pikirku.


Lalu, tiba-tiba bis berhenti kembali. Beberapa penumpang turun. Penumpang lainnya yang berdiri bergegas menduduki kursi-kursi yang kosong. Sehingga hanya tersisa dua kursi kosong yang posisinya bergandengan, berdempetan.


"Mimi, ayo duduk di sini!" ajak Reno yang sudah berada di samping kursi itu.


"Tidak," ucapnya. "Aku duduk di sini saja." Ia berjalan ke arahku dan duduk di kursi yang kutawarkan padanya.


'Hahahaha....' Aku tertawa di dalam hati. 'Kasihan sekali.' Aku mengejek Reno dalam hatiku. 'Dia lebih memilih duduk dengan ibu-ibu asing daripada dengan Reno.'


Sementara itu, Reno pun akhirnya duduk sendirian di kursi kosong itu. Sehingga, Mimi berkata padaku, "Kau duduklah bersama Reno!"


"Hahh, aku berdiri saja," ucapku sambil tak beranjak dari tempatku berdiri. 'Aku tak sudi duduk berdua dengannya,' batinku.


Lalu, tiba-tiba bis mendadak berjalan dan mengerem mendadak. Sopir bis itu mengendarai dengan ugal-ugalan sehingga tubuhku terdorong ke depan dengan cepat. Aku tersungkur ke lantai bis tanpa sempat berpegangan dan tawa semua orang mendadak pecah, "Hahahahahahaha...."


"Dasar keras kepala!" Kudengar suara gadis cerewet di belakangku. Aku segera berdiri dan menepuk-nepuk bagian celanaku yang menjadi kotor karena terjatuh. "Sudah kubilang... duduklah!" Lagi-lagi kudengar suara gadis cerewet. Sepertinya hanya dia yang tidak tertawa. Sedangkan, semua penumpang lainnya asik menertawakanku, termasuk Reno.

__ADS_1


Sejujurnya aku merasa malu dan akhirnya berjalan ke arah kursi Reno dengan mulut terkunci. Lalu, aku pun dengan terpaksa duduk di kursi itu. Akhirnya aku duduk berdua dengan Reno dan kami saling tak bicara sepatah kata pun di sepanjang perjalanan. Kami seperti dua orang yang tak saling mengenal. Kami seperti air dan minyak yang berada di dalam sebuah gelas. Berada dalam wadah yang sama, namun tak membaur sedikitpun.


__ADS_2