Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Bunga di Taman


__ADS_3

Esoknya... hari Minggu pukul 09.22 WIB. Aku sudah berjalan di antara etalase toko yang menyediakan perlengkapan khusus kado. Ada banyak paper bag berjajar di sana. Aku sibuk memikirkan paper bag mana yang cocok untuk kuberikan pada Mei sebagai wadah novel yang kubeli kemarin. Semuanya tampak bagus. Tapi, akhirnya aku memilih paper bag dengan motif kupu-kupu berhias glitter.


Lalu, aku teringat dengan jam yang akan kuberikan pada gadis cerewet saat melihat paper bag berukuran mini. Aku meraih paper bag itu dan berpikir akan membelinya untuk wadah jam. Tapi, mengapa semuanya bermotif hati?


"Hakh... dia bisa berpikir macam-macam jika kuberi hadiah dengan paper bag ini," gerutuku. Aku pun mengembalikan paper bag itu ke tempatnya. Aku tak ingin gadis cerewet berpikir aku memiliki perasaan khusus padanya. Aku memberikannya jam hanya untuk melegakan hati dan pikiranku saja. Itu alasannya. Titik.


Setelah selesai membeli paper bag aku bergegas memacu mobil. Aku ingin mengantarkan hadiah novel itu ke rumah Mei. Tapi, ternyata Mei sedang tidak ada di rumah. Aku memang sengaja tidak memberi kabar pada Mei bahwa aku akan ke rumahnya. Karena, aku ingin memberikan kejutan padanya. Tapi, yang terjadi sekarang malah aku yang terkejut karena dia tidak ada di rumah.


"Nona Mei sedang tidak ada di rumah," ucap pembantunya saat membukakan pintu untukku.


"Siapa, Bi?" Suara seorang wanita terdengar dari dalam rumah.


"Temannya nona, Bu," jawab pembantu Mei.


Ibu Mei pun jadi penasaran dan segera berjalan mendekati pintu. "Kamu siapa?" tanyanya segera begitu melihatku.


"Rhama, Tante," jawabku disertai dengan senyuman.


"Oooohh... kamu yang bernama Rhama." Mata Ibu Mei segera meneliti penampilanku dari ujung sepatu hingga ujung rambut. Hal ini membuatku merasa sedikit tidak nyaman.


"Saya ingin memberikan ini pada Mei, Tante." Aku segera mengutarakan maksud kedatanganku agar bisa cepat berlari dari pandangan ibu Mei yang membuatku grogi.


"Apa ini?" tanya Ibu Mei sambil menatap paper bag yang aku sodorkan.


"Ini hadiah untuk Mei," ucapku.


"Oh." Ibu Mei mengambil paper bag dari tanganku. "Terima kasih."


"Ya. Kalau begitu, saya pulang dulu Tante." Aku segera berpamitan. Hal ini membuat Ibu Mei segera berkata, "Apa kamu tidak masuk dulu? Mei mungkin sebentar lagi pulang. Kamu bisa menunggunya di dalam."


Aku segera berkata, "Terima kasih Tante, saya langsung pulang saja." Aku lalu menyalimi tangan Ibu Mei dan segera melangkah meninggalkan rumahnya. Rasanya aku ingin cepat-cepat menghilang dari pandangan Ibu Mei. Namun, Ibu Mei malah terus mengikutiku dengan matanya hingga mobilku berlalu dari depan rumahnya.


Kemudian, aku pun menarik nafas lega. "Ahhhh... rasanya nervous sekali," gumamku sambil menyetir.


Aku lalu melirik jam tanganku. 10.07 WIB. Tiba-tiba aku teringat pada jam yang ingin kuberikan pada gadis cerewet karena melihat jam tangan yang aku kenakan. "Apa sebaiknya aku berikan sekarang saja padanya?" gumamku.

__ADS_1


Awalnya aku ingin memberikan jam itu di sekolah besok. Tapi, setelah kupikir pasti siswa-siswa lain akan bergosip heboh jika melihat aku memberikan hadiah pada gadis cerewet itu. Saat aku memberikannya secarik kertas dari jendela dulu saja, mereka berasumsi gila dan membuat gosip bahwa aku berusaha mendekati gadis cerewet itu.


"Rhama memberikan sepucuk surat pada Mimi," ucap mereka.


"Benar-benar tidak kusangka selera Rhama ternyata gadis urakan seperti itu."


"Apa sih bagusnya Mimi?"


"Tidak sepadan. Mereka sangat tidak cocok."


Banyak komentar sinis pun bermunculan. Mereka menjadi merasa tidak senang dengan gadis cerewet, namun gadis cerewet sama sekali tak ambil pusing. Ia sangat cuek.


Dan, aku yakin gosip itu juga pasti sudah sampai ke telinga Mei saat itu. Namun, aku rasa Mei tak semudah itu percaya. Tapi, beberapa hari lalu saat melihat gadis cerewet memberikan resep tempoyak padaku, aku bisa melihat ada sedikit kecemburuan pada ekspresi wajah Mei. Aku sangat menyadarinya.


"Aku harus menjaga perasaan Mei," gumamku. Aku tidak boleh memberikan jam itu di sekolah. Orang lain tidak perlu tahu agar tidak muncul gosip aneh tentangku dan gadis cerewet di sekolah. Oleh karena itu, akhirnya aku memutuskan untuk memberikan jam itu di rumahnya saja.


"Aku harus memberikannya saat ini juga," ucapku. Karena itu, aku segera memacu mobilku ke rumahnya.


Di sepanjang perjalanan otakku berpikir, 'Kira-kira dia sedang apa saat ini?'


'Jangan-jangan dia juga tidak ada di rumah.'


Sejujurnya aku sangat penasaran dia sedang apa saat ini. Dari kemarin aku tak bertemu dengannya. Setelah memberikan resep tempoyak, batang hidungnya tak muncul lagi di hadapanku. Entah mengapa hal ini membuatku sangat penasaran untuk segera bertemu dengannya. Aku pun memacu mobilku dengan cepat.


Akhirnya aku sampai di depan rumah gadis cerewet itu dan aku cukup tercengang dengan pemandangan yang aku lihat. Aku belum turun dari mobilku. Dari balik kaca aku melihat gadis cerewet itu mencangkul rumput-rumput di depan rumahnya.


Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Dia memang seperti pria," gumamku.


Aku pun turun dari mobil dan segera berteriak, "Heiii! Apa tidak ada tukang kebun yang bisa merapikan rumput-rumput di rumahmu ini?"


Dia berhenti mencangkul dan segera menoleh. Aku menyeringai lebar.


"Untuk apa kau ke sini?" tanyanya dengan ketus.


"Hmmmmh... baru saja aku datang, kau sudah ingin mengusirku," ucapku sambil melangkah ke dekatnya.

__ADS_1


"Begini caramu menyambutku," ucapku saat telah berdiri di hadapannya.


Aku memperhatikan wajahnya. 'Astaga butiran keringat meleleh deras di dahinya,' batinku.


Aku spontan mengeluarkan sapu tangan dari sakuku dan menyodorkannya.


"Apa ini?" tanyanya.


"Hmhh... Hapus keringatmu!" ucapku.


"Tidak perlu," ucapnya. Lalu, dalam hitungan sepersekian detik ia langsung menyeka keringat di dahinya dengan lengan bajunya.


"Hiihhhh... wanita macam apa kau ini? Jorok sekali," ejekku. "Pantas saja bajumu bau apek."


"Apa bedanya? Badanku juga berkeringat. Otomatis bajuku juga penuh keringat kan?"


"Ya, badanmu sangat bau, keringat semua," ejekku sambil pura-pura menjepit hidungku dengan tangan.


Gadis cerewet tak meladeni ucapanku. Ia meneruskan pekerjaannya membersihkan rumput. Lalu, aku pun berkata, "Mengapa bukan pamanmu saja yang melakukan pekerjaan ini? Ini pekerjaan laki-laki."


"Pamanku sibuk," jawabnya singkat tanpa menoleh sedikitpun.


Kemudian, aku memperhatikan pot berisi bunga mawar yang sepertinya baru saja ditanam. Aku bertanya, "Kau yang menanam bunga ini?"


"Iya." Lagi-lagi ia menjawab singkat dan terus mencangkul rumput-rumput liar.


"Semua bunga di rumahmu ini kau yang menanamnya?" tanyaku lagi.


"Iyaaaa." Gadis cerewet menjawab dengan ekspresi agak sedikit kesal.


"Aku tak menyangka kau yang menanam semua bunga ini," ucapku agak sedikit terkejut. "Apa kau serius?"


"Untuk apa kau terus bertanya? Kau ingin mewawancaraiku?" Matanya melotot. Ia menghentikan pekerjaannya.


'Hohhh, dia galak sekali,' pikirku. 'Tapi, ternyata semua bunga-bunga indah di halaman ini adalah hasil kerja tangannya. Aku jadi tidak yakin.'

__ADS_1


"Kau mengganggu pekerjaanku saja," ucapnya sambil meraih cangkulnya kembali. Di saat yang bersamaan aku pun ingin menarik cangkul itu. Aku berkata, "Aku akan membantumu. Biarkan aku yang mencangkul."


Hal ini membuat tanganku tak sengaja menyentuh tangannya. Seketika ia terdiam dan tercengang menatapku.


__ADS_2