Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Secarik Kertas


__ADS_3

Ken menjadi terbengong karena bingung. “Ada apa dengan kalian?” tanya Ken dan aku hanya menggeleng diam. Aku tak mampu mengatakan apa pun pada Ken karena aku tak ingin orang lain tahu kenyataan yang sebenarnya.


Aku tak ingin mempermalukan Mei. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum bahagia dengan hasil ujian yang memuaskan. Tapi, kenyataannya saat ini ia tak tersenyum bahagia, sama seperti yang dilakukan gadis cerewet saat jam istirahat tiba.


Gadis cerewet itu berjalan melewati kelasku dengan belasan garis kerutan di wajahnya.


“Kau semakin jelek jika cemberut seperti itu,” ledekku ketika berpapasan dengannya tanpa menghentikan langkah kakiku.


“Aku memang tidak terlahir secantik Mei, gadis pujaanmu itu.” Ucapannya membuatku tersentak kaget. Aku benar-benar tak menyangka ia akan berkata seperti itu. Langkah kakiku segera terhenti.


Aku bergegas membalikkan badanku dan mendekatinya. “Darimana kau tahu aku menyukai Mei?” tanyaku spontan.


“Hehh ... pria bodoh sepertimu tentu saja akan begitu tergila-gila pada gadis seperti Mei. Dia cantik, baik, dan pintar ... sempurna,” ucapnya dengan ketus. “Kalian berdua memang pasangan serasi. Nama kalian berdua pun ditakdirkan bertengger berdampingan di urutan paling atas daftar nilai ujian Matematika. Selamat!”


Ekspresi kesalnya membuatku segera bertanya, “Mengapa kau sepertinya begitu kesal? Kau tidak suka jika aku dan Mei mendapatkan nilai tertinggi. Kau pasti iri sekali.”


“Ya, aku memang iri berkali-kali,” tandasnya lalu segera berjalan meninggalkanku.


'Ada apa dengannya?' tanyaku dalam hati. Aku menjadi heran dan bergegas menuju kelasnya.


“Wahh ... lihat! Rhama menuju ke sini,” ucap para gadis di kelas 3 IPA 2 ketika melihat kedatanganku.


'Hemhh ... aku memang mempesona,' batinku. Mereka begitu tergila-gila padaku.


“Rhama, kau mencari siapa?” pertanyaan dengan nada lembut segera menyambutku ketika aku memasuki kelas itu.


“Aku ingin melihat daftar nilai ujian Matematika kelas ini,” gumamku sambil melirik kertas yang tertempel di dinding dekat pintu.


Kemudian, mataku segera mencari nama gadis cerewet itu dari urutan paling atas. Tapi, sulit sekali menemukannya dan ternyata, “Mimi Santika.” Mataku segera menangkap huruf-huruf yang membentuk namanya itu di urutan kedua dari bawah, sebelum nama Vino.


“Hahh ....” gumamku tak percaya. "Dia di urutan kedua paling bawah dengan nilai 12."


“Mimi seharusnya ada di urutan pertama paling bawah,” ucap gadis yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelahku. “Karena, Vino memang tidak ikut ujian, makanya nilainya nol,” jelasnya.


'Hohh! Ternyata dia bodoh sekali,' pikirku lalu bergegas keluar dari kelas itu dan tanpa sengaja sedikitpun tubuhku


kemudian menabrak seseorang yang ingin masuk ke kelas itu.


“Auww!” rintihku kesakitan saat terjatuh. Tubuh orang yang kutabrak keras sekali, penuh tulang. Dan, ternyata ... dia gadis cerewet itu.

__ADS_1


“Pria bodoh!” makinya ketika menatapku.


Aku segera bangun dan berkata, “Kau lah yang bodoh, paling bodoh di antara yang paling bodoh.”


Ia terdiam seketika dan tanpa kusadari semua tatapan orang tertuju padanya.


'Apa aku telah membuatnya malu?' pikirku ketika menyadari perubahan ekspresi yang begitu drastis di wajahnya.


Kemudian, tanpa berkata apapun lagi ia bergegas masuk ke dalam kelasnya dan aku hanya berdiri mematung di depan kelasnya, tanpa menatapnya sedikitpun.


'Apa aku salah berkata seperti itu?' pikirku.


'Aku memang salah,' batinku kemudian saat jam pelajaran terakhir. 'Bagaimana pun juga ia seorang wanita, bukan pria. Ia juga mempunyai perasaan yang begitu sensitif seperti wanita-wanita lainnya. Seharusnya aku tidak berkata sekasar itu padanya. Aku telah mempermalukannya di depan orang-orang. Aku ini memang bodoh sekali.' Aku begitu menyesal.


'Aku harus minta maaf padanya,' pikirku saat berdiri di depan kelasnya usai jam sekolah berakhir.


“Apa Mimi masih ada di dalam?” tanyaku pada seorang siswa yang baru saja keluar dari kelas itu.


“Mimi sudah pulang sejak tadi. Ia orang yang pertama kali keluar dari kelas,” jawabnya.


“Ouww ... terima kasih,” ucapku lalu bergegas berlari menuju gerbang sekolah sambil berkali-kali menoleh ke kanan


Aku menatap satu per satu siswa yang berada di seberang jalan, tapi aku tak menemukannya. Lalu, aku bergegas ke halte. 'Mungkin dia masih ada di sana,' pikirku. Tapi, nihil.


'Ternyata dia sudah pulang,' batinku. 'Cepat sekali,' pikirku dengan perasaan bersalah. 'Aku belum sempat meminta maaf.'


“Hohh ... bagaimana jika dia sakit hati karena ucapanku?”


Aku pun teringat pada ucapanku, 'Kau lah yang bodoh, paling bodoh di antara yang paling bodoh.'


Aku termenung, berdiri mematung di depan gerbang sekolah. 'Aku tak bermaksud untuk melukai perasaannya.' Aku begitu menyesal. 'Aku benar-benar tak bermaksud ....' Ucapan dalam hatiku terhenti seketika. Tiba-tiba saja aku melihat sosok gadis cerewet itu di seberang jalan. Dari kejauhan kulihat ia bergegas kembali ke sekolah.


“Ia kembali,” ucapku seakan tak percaya. “Terima kasih, Tuhan.”


'Tapi, mengapa ia kembali ke sekolah?' pikirku. Padahal, suasana sekolah sekarang sudah mulai sepi. Dalam hitungan menit hampir semua siswa –kecuali siswa yang masih piket- sudah lenyap dari lokasi sekolah ini. Tapi, mengapa ia justru bergegas kembali ke sekolah.


“Heiiii ... gadis cereweeett!” teriakku dengan lantang. Sehingga, dari kejauhan ia menoleh ke arahku, lalu melengos seketika. Sepertinya dia masih sangat marah padaku.


Aku pun berlari seketika menghampirinya yang sedang menyeberang jalan.

__ADS_1


“Mengapa kau kembali lagi?” tanyaku dengan perasaan begitu senang saat ia sudah menyeberangi jalan.


“Bukan urusanmu,” jawabnya singkat sambil terus berjalan dengan cepat dan aku pun segera mengikutinya.


“Berhenti mengikutiku!” bentaknya kemudian sehingga aku pun terdiam.


'Ia ternyata masih marah padaku,' pikirku. Tapi, aku tetap terus mengikutinya hingga ia sampai di depan kelasnya.


Ia segera masuk ke kelas dan kulihat tangannya berusaha mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya. Tapi, sepertinya ia tak mendapatkan sesuatu itu.


Ia melirik lantai di sekitarnya, berusaha menemukan sesuatu. Tapi, tidak ada benda lain yang bisa ia temukan


selain kaki kursi dan meja. Lantai itu bersih, tak ada satu pun barang yang tercecer karena baru saja sudah disapu.


Ia pun segera bertanya pada siswa-siswa yang sedang sibuk membersihkan kelasnya. “Apa tadi kau melihat


kertas kecil bertuliskan nomor ponsel?”


Siswa-siswa itu segera menggeleng tak peduli. Sehingga, gadis cerewet itu kembali berkata, “Coba kalian ingat


lagi! Mungkin kalian menyapunya karena mengira itu sampah.”


“Kami tidak tahu kertas apa yang kau maksud,” ucap salah satu dari mereka. “Ada banyak kertas di kelas ini yang


sudah kami sapu. Kami sama sekali tidak tahu kertas yang kau cari ikut tersapu atau tidak.”


“Dimana kertas-kertas itu sekarang?” gadis cerewet itu bergegas bertanya.


“Sudah kami buang ke tong sampah dan sekarang tong sampahnya sedang dibawa ke timbunan sampah belakang,” jawab salah satu dari mereka.


Gadis cerewet itu pun bergegas berlari keluar dari kelasnya.


“Hei, kau mau kemana?” tanyaku dan ia sama sekali tak peduli.


Lalu, tiba-tiba langkahnya terhenti. “Dimana kau membuang sampah di tong ini tadi?” tanyanya segera saat berpapasan dengan siswa pria yang sepertinya adalah anggota piket kelasnya.


Siswa itu melirik tong sampah yang dibawanya. “Di tumpukan sampah belakang,” jawabnya dan gadis cerewet itu pun bergegas kembali berlari.


Ia berlari menuju tumpukan sampah di ujung halaman belakang sekolah dan aku segera menyusulnya.

__ADS_1


“Astaga!” gumamku. Mulutku ternganga ketika menatap tumpukan sampah yang menggunung di hadapan gadis cerewet itu berdiri. Sampah-sampah itu sudah menggunung tinggi membentuk bukit yang cukup luas.


__ADS_2