Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Membela Salah


__ADS_3

“Hei, Sepupu!” Reno memanggilku sambil mengendarai motornya ke hadapan gadis cerewet dan aku.


“Hakh, sepupu,” gumamku karena tidak terbiasa dengan panggilan itu.


“Kau sepupunya, ‘kan?” ucap Reno dan aku segera ingat bahwa gadis cerewet itu mengaku aku sebagai sepupunya. Ternyata, Reno begitu percaya.


“Ayo cepat bantu dia naik ke motorku!” pintanya dan aku pun menurut saja. Aku berusaha untuk memapahnya. Tapi, “Akh!” Gadis cerewet itu merintih. Kakinya terasa sakit saat akan berusaha berdiri. Sehingga, akhirnya aku pun segera mengangkat tubuh kurusnya. Gadis cerewet itu begitu terkejut. Aku menggendongnya hingga naik ke atas motor.


Dan, Reno yang sudah bersiap di atas motornya segera menatapku tajam sambil berkata, “Syukurlah kau adalah sepupunya.”


'Apa maksud Reno berkata seperti itu?' tanyaku dalam hati. Apa ia cemburu ketika melihatku menggendong gadis cerewet itu? Apa ia tak rela aku menggendongnya jika ia tahu kenyataan sebenarnya bahwa aku sama sekali bukan sepupunya?


Sementara itu, tanpa basa-basi lagi Reno bergegas mengegas dan menjalankan motornya, “Ngeeeengg!” Ia meninggalkanku dan Yoga begitu saja. Sehingga, Yoga hanya bisa bergumam, “Sepertinya Bos sangat panik.”


Tapi, ternyata gadis cerewet itu lebih panik daripada Reno. “Hei, pelan-pelan saja!” teriaknya sambil berpegangan pada besi di pinggiran jok motor.


“Apa?” ucap Reno dengan lantang.


Tapi, “Ngeeeenggg....” Suara dari knalpot motor Reno terlalu kencang. Sehingga, gadis cerewet itu tak tahan dan berusaha ingin menutup telinganya.


“Belok kiri!” teriaknya mengarahkan Reno.


“Belok kanan!” Ia terus mengarahkan Reno hingga akhirnya motornya berhenti di halaman rumahnya.


"Ternyata ini rumahmu," ucap Reno. Lalu, ia memarkirkan motornya begitu dekat dengan teras rumah agar gadis cerewet itu dapat dengan mudah turun dari motor dan melangkah ke rumah.


Motornya dan teras hanya berjarak satu langkah. Tidak hanya itu, Reno juga bergegas mengangkat kursi yang ada di teras dan meletakkannya di pinggir teras, persis dekat motornya. Ia benar-benar berusaha membuat gadis cerewet agar tidak kesulitan. Suatu hal yang langka dilakukannya untuk orang lain.


Setelah semuanya siap, ia pun bergegas membantu gadis cerewet itu turun dari motor dan duduk di kursi teras.


“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap gadis cerewet ketika telah duduk di kursi terasnya.


“Rumahmu sepi sekali,” ucap Reno.


“Ya, tidak ada orang di rumahku.” Gadis cerewet itu mencari kunci dari dalam tasnya.

__ADS_1


“Di rumahku juga selalu tidak ada orang saat aku pulang.” Reno segera berkata seperti itu untuk menanggapi ucapannya.


“Karena itu, aku tidak pernah langsung pulang ke rumah usai sekolah,” lanjutnya sambil merebut kunci yang kini ada dalam genggam tangan gadis cerewet itu.


“Aku bosan di rumah sendirian, lebih baik aku kumpul-kumpul bersama teman-temanku.”


“Kumpul bersama... untuk apa? Apa yang kalian lakukan?” tanyanya.


“Bukan untuk apa-apa.” Reno berkata sambil membukakan pintu. “Hanya saja sudah menjadi kebiasaan usai sekolah kami tidak langsung pulang ke rumah.”


“Kami melakukan banyak hal, seperti menongkrong, mengobrol, merokok, bermain game, kadang memeras orang, kadang menggoda para wanita, dan lain-lain,” ujar Reno.


Gadis itu hanya terdiam menatapnya sambil teringat pada kejadian saat mama datang menjemput ketika aku terlambat pulang. 'Berbeda sekali,' pikirnya. Sementara itu, Reno terus melanjutkan ucapannya, “Hari ini pun jika aku dan Yoga tidak menongkrong bersama terlebih dahulu dengan anak-anak lainnya di tempat rental PS, maka aku tidak akan bertemu denganmu.”


“Apa ibumu tidak mengkhawatirkanmu?” tanyanya tiba-tiba dan Reno terdiam seketika. Ia berhenti bicara.


“Aku pulang dulu,” ucap Reno kemudian.


“Apa aku salah bicara?” tanyanya segera.


“Tidak.” Reno menggeleng. “Sama sekali tidak. Hanya saja... kau tidak tahu ibuku sudah meninggal.”


“Hoah, sudahlah!” ucap Reno sambil berusaha tersenyum. “Jaga dirimu baik-baik! Aku pulang.” Ia bergegas menaiki motornya dan, “Ngeeeeenggg....” Ia melaju secepat kilat meninggalkan gadis cerewet itu yang masih terbengong kaku.


'Ternyata, aku masih lebih beruntung daripada Reno,' batinnya.


Lalu, sesaat kemudian ia tersadar bahwa ia masih terduduk di pinggir teras. "Hoahh, aku harus berjuang menggerakkan kakiku untuk bisa masuk ke rumah," keluhnya sambil berusaha bangkit dari kursi.


Sementara itu, di saat yang bersamaan aku sedang bersiap untuk turun dari bis. Bis pun berhenti dan aku bergegas turun. Tapi, “Mei!” Mataku tiba-tiba menatap pemandangan di hadapanku.


“Hentikan!” teriakku begitu turun dari bis.


Aku tak bisa menerima apa yang kulihat, benar-benar tak bisa. “Teganya kau memperlakukan wanita seperti tadi,” ucapku dengan keras. Aku melihat pria di hadapanku ini, ia baru saja mendorong Mei hingga terjatuh di halaman parkiran toko. Dia adalah siswa IPS yang menunggu Mei waktu itu.


Aku bergegas membantu Mei berdiri, tapi pria itu segera menarik tubuhku dengan kasar. “Kau ingin menjadi pahlawan?” teriaknya dan, “Bukk!” Ia menonjok wajahku.

__ADS_1


“Aaaghh!” Aku menahan sakit di sekitar rahang wajahku. Bibirku pun sepertinya berdarah.


“Mengapa kau hanya menatapku, hah?” ucapnya. “Apa kau tak berani membalas?” Ia tersenyum dengan sinis. Ia menertawakanku.


Aku terdiam. Sejujurnya aku memang ragu untuk membalasnya. Aku ini anak baik-baik, tidak suka memukul orang.


“Ternyata kau tak berani membalas,” ejek pria itu dan tiba-tiba saja aku teringat pada ucapan gadis cerewet itu. 'Jika kita benar, mengapa kita harus takut?'


“Dasar pria lemah! Pulang saja dan berlindung di bawah ketiak ibumu!” ucap pria itu dan, “Bukk!” Aku segera meninju mulutnya yang mengejekku.


Aku tak bisa menahan amarahku lebih lama lagi. Aku segera memukul pria itu berkali-kali dan Mei menjerit, “Rhama!”


“Rhama!” jerit Mei sambil berusaha menarik tanganku, tapi aku tetap terus memukuli pria itu hingga Mei berteriak kencang, “Hentikan Rhama!” Mei berusaha melindungi pria itu. Ia berdiri di depan pria itu dan berkata padaku, “Harusnya kau tak perlu ikut campur dalam masalah kami berdua.”


“Tapi, Mei ....” ucapku dan Mei segera berkata, “Cukup, Rhama!”


Sebutir air mata menetes dari matanya. “Ia pacarku,” ucapnya pelan.


“Deg!” Mataku terbelalak seketika dan pria itu bergegas menarik tangan Mei dengan kasar.


Ia menggeret Mei menuju motornya dan aku tak bisa berbuat apa pun. Aku terdiam, aku hanya bisa menatap Mei yang kemudian pergi bersama lelaki itu dengan motornya.


'Mei,' ucapku dalam hati. “Mengapa kau membela pria seperti itu?” teriakku.


Lalu, “Rhamaaa!” Seseorang juga berteriak padaku.


Aku menoleh dan ternyata, “Mama!”


Aku terkejut. Ternyata, mama tiba-tiba saja sudah ada di hadapanku. “Apa Mama melihat semuanya?” tanyaku dengan panik.


“Ya, mama sudah melihat semuanya,” ucap Mama.


'Tidaaaaaaa ... aakk!' teriakku dalam hati. 'Mama pasti akan memarahiku habis-habisan.'


Aku sudah berkelahi di depan umum, di persimpangan jalan menuju rumahku. Mama pasti begitu malu dengan tindakanku ini. Apalagi, ia menyaksikannya sendiri secara langsung. 'Benar-benar sial,' ucapku dalam hati.

__ADS_1


'Ayo cepat pulang, Rhama!' Mama menggeretku ke dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan dan aku tak bisa menolak sedikitpun.


'Sial,' keluhku dalam hati.


__ADS_2