Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Paket Komplit


__ADS_3

Pagi yang cerah, aku sudah siap dengan seragam olahragaku dan berlari kecil menuju lapangan sekolah. Seperti biasa banyak mata para wanita mengikutiku. 'Aku terlalu mempesona,' batinku tanpa mempedulikan satupun tatapan mereka.


Pagi ini adalah jadwal pelajaran olahraga kelasku. Hampir semua siswa di kelasku sudah berkumpul di lapangan. Kami masih menunggu kehadiran Pak Junaedi, guru olahraga kami. Seperti biasanya para siswi asyik dengan obrolan mereka masing-masing. Namun, ada satu hal janggal yang menarik perhatianku.


Beberapa orang siswi tak berseragam olahraga kulihat berkeliaran di sekitar lapangan sambil mencabuti rumput-rumput liar. 'Heh, mereka sedang apa?' pikirku. 'Bukankah sekarang sudah masuk jam pelajaran pertama?'


Aku memperhatikan mereka sekilas dan tertangkap oleh mataku gerak tubuh salah satu siswi itu mirip sekali dengan gadis cerewet. 'Sepertinya itu dia,' pikirku.


Aku berjalan mendekatinya. 'Tidak salah lagi, dari gaya rambutnya yang berantakan... ini pasti gadis cerewet,' pikirku saat memandanginya yang sedang berjongkok membelakangiku.


"Hei, sedang apa kau di sini?" Pertanyaanku mengejutkannya, membuatnya segera terloncat dari posisi jongkoknya.


Ia membalikkan badannya dan aku dapat segera menangkap gambaran wajah gadis cerewet itu. 'Sudah kuduga ini benar-benar dia.'


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku sambil bergaya melipat kedua tanganku.


"Mencabut rumput," jawabnya singkat.


"Hoahh, kau rajin sekali," cibirku. "Kau bolos dari pelajaran pertama ya?" tuduhku.


"Tidak," elaknya segera.


"Lalu, mengapa kau di sini?" tanyaku sinis.


"Aku dihukum harus mencabut rumput sebelum diperbolehkan masuk ke kelas," ucapnya dengan jujur.


"Ooohh, jadi ini hukuman." Aku tersenyum menertawakannya. "Memangnya kau salah apa lagi?"


"Atribut seragammu masih tidak lengkap?" Aku memperhatikan seragamnya.

__ADS_1


Tiba-tiba, "Pritttt!" Suara peluit mengagetkanku. Pak Junaedi ternyata sudah berada di lapangan. Aku bergegas kembali ke koloni teman-teman sekelasku dan mulai berbaris.


Sementara itu, kulihat gadis cerewet kembali mencabuti rumput dan tak lama kemudian guru piket datang menghampiri mereka.


"Kalian semua cepat kumpulkan rumput itu di tong sampah. Lalu, segera masuk ke kelas masing-masing! Pelajaran pertama sudah dimulai." Guru piket itu memberi perintah sehingga mereka bergegas mengumpulkan rumput.


Lalu, ketika tiba giliran gadis cerewet memasukkan rumput ke tong, guru piket segera berkata, "Untuk kamu... hampir tiap hari terlambat... langganan."


Kulihat dari kejauhan gadis cerewet itu hanya menundukkan wajah, tak berani menatap guru itu. "Jika minggu depan saat Bapak bertugas piket, kamu masih terlambat lagi... kamu tidak boleh masuk ke kelas, pulang saja!" ucap guru itu dengan tegas.


Dan, aku langsung berpikir, 'Heh, berarti gadis cerewet itu sudah sangat sering terlambat.'


'Dia memang paket komplit. Bodoh, semrawut, tidak on time, kasar, dan tidak disiplin.' Aku berceloteh dalam hati dilengkapi dengan ekspresi wajahku yang sedikit merendahkan. Sementara itu, ia sudah bergegas berjalan kembali ke kelasnya tanpa sedikitpun menoleh padaku.


Gadis cerewet itu melangkahkan kakinya menuju ke kelas dengan cepat. Namun, ketika melewati barisan kelas IPS, langkahnya mendadak terhenti dan ia terkejut begitu melihat Reno dan kedua temannya tiba-tiba keluar dari pintu kelasnya. Reno hampir saja menabrak gadis cerewet itu.


Reno pun segera memanggul tasnya dan pergi meninggalkan koridor kelas secepat mungkin bersama Yoga dan Aldo. Mereka bolos dari pelajaran dan berniat minggat dari sekolah dengan melompati tembok.


Dalam sekejap mereka pun telah berada di luar area sekolah. Mereka menongkrong di sebuah warung kecil tak jauh dari sekolah. Yoga dan Aldo memesan minuman es. Lalu, menyalakan korek api dan membakar rokok mereka masing-masing. Kepulan asap berhamburan di mana-mana disertai dengan riuh tawa mereka berdua.


Sementara itu, Reno hanya duduk termenung. Ia sama sekali tak menghiraukan kepulan asap di sekitarnya. Ia seperti orang bengong. Jasadnya terduduk di bangku panjang warung, sedangkan pikirannya entah berada di mana.


"Bos, tidak pesan minum, Bos?" tanya Aldo dan Reno tak bersuara sedikitpun.


"Mau rokok, Bos?" Yoga menyodorkan rokoknya. Namun, Reno tetap diam tanpa ekspresi.


Hal ini membuat Yoga dan Aldo saling bertatapan dan berkomunikasi lewat permainan dahi mereka. "Patah hati," celetuk Yoga.


Aldo menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir mengapa Reno bisa patah hati hanya karena gadis cerewet itu?

__ADS_1


"Gadis yang lain masih banyak, Bos," ucap Aldo.


"Iya, Bos," ucap Yoga segera. "Masih ada Nita, Selena, Rani, Almira, Wenda, dan masih banyak lagi cewek-cewek yang antri. Semuanya suka sama Bos. Mereka juga jauh lebih cantik, lebih seksi, lebih wow daripada Mimi."


"Kalau diibaratkan nilai. Mereka itu nilainya sembilan plus semua. Nah, kalo Mimi enam saja deh nilainya," ucap Aldo.


"Menurutku sih malah tidak sampai enam," celetuk Yoga. "Hahahahaha...." Yoga dan Aldo terbahak bersama.


"Diaaamm!" bentakan Reno menghentikan tawa mereka seketika.


Reno mencengkeram kerah baju Yoga, menatapnya tajam, dan berkata, "Kalian tidak berhak mengomentari seleraku."


Yoga terdiam. Ia melihat kemarahan begitu besar di dalam kedua mata Reno. Ia tak bisa berkata apapun lagi. Begitu juga dengan Aldo. Mereka hanya terdiam hingga akhirnya Reno melepaskan cengkeraman tangannya.


"Sudah, sesama teman tidak perlu saling bertengkar." Tiba-tiba saja entah mengapa bibi pemilik warung ikut menimbrung. "Apalagi karena urusan wanita," ucapnya. Ia tanpa sengaja dari tadi menyimak perbincangan Reno, Yoga, dan Aldo.


"Kalau ditolak wanita itu pasti ada alasannya. Cari tahu salahnya dimana, perbaiki! Mungkin dia nanti akan berubah pikiran," ucap bibi pemilik warung itu sekenanya.


Reno diam dan menyimak ucapan Bibi itu. Lalu, ia bertanya, "Menurut Bibi apa yang tidak disukai wanita itu dariku?"


Bibi itu terdiam dan memandangi tampang Reno dari ujung sepatu hingga ke ujung rambut. Lalu, ia berkata, "Mungkin dia tidak senang dengan gaya rambutmu."


Kepala Aldo dan Yoga seketika menoleh untuk melihat rambut Reno yang nyaris gondrong amburadul. 'Apa hubungannya potongan rambut dengan rasa suka?' pikir mereka.


"Mungkin dia tidak suka dengan penampilanmu yang tidak rapi," ucap bibi itu. "Setiap orang dari jauh saja sudah bisa menilai penampilanmu urak-urakan."


"Ya, memang ada wanita yang suka lelaki berpenampilan urakan, garang. Tapi, banyak juga yang suka dengan laki-laki berpenampilan bersih, rapi, wangi. Dan, semua itu tidak ada padamu," ucap bibi itu dengan begitu menohok.


"Kamu memang tampan, tapi akan lebih tampan kalo kamu rapi," ucap bibi itu. "Kadang bau badan saja bisa membuat wanita illfeel meskipun penampilan lelaki itu sekeren apapun. Nah, kamu... sangat urak-urakan. Mungkin itu yang membuat wanita itu tidak suka."

__ADS_1


__ADS_2