Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Gara-Gara Gorengan


__ADS_3

Aldo berbisik pada Reno, "Bos, mengapa diam saja?"


"Bos, yang harus menyapanya lebih dulu," bisik Aldo lagi.


Reno melirik gadis cerewet dari sudut matanya. Sedangkan, gadis cerewet sama sekali tak meliriknya. Lalu, perlahan Reno memberanikan diri untuk menyapanya. "Apa kabarmu?" ucapnya.


"Baik." Gadis cerewet hanya menjawab singkat tanpa menoleh. Lalu, mereka berdua masing-masing kembali membisu.


Aldo dan Yoga merasa geregetan dan berusaha menyemangati Reno melalui lirikan mata yang kira-kira jika diartikan ke dalam kata-kata bunyinya seperti ini, 'Ayo, Bos! Mengapa diam saja? Ajak dia bicara! Tanyakan pendapatnya mengenai penampilanmu!'


'Ayo, Bos, ayo!'


Reno pun akhirnya kembali membuka suara. "Menurutmu bagaimana dengan penampilanku?"


Gadis cerewet melirik Reno yang berada di sebelahnya lalu berkata dengan datar, "Rapi."


"Apa kau menyukai penampilanku?" tanyanya lagi.


Gadis cerewet sekilas memperhatikan penampilan Reno. Lalu, tiba-tiba Ibu Meli datang lagi dan berkata, "Untuk siswi yang datang terlambat tadi... siapa namanya?"


"Mimi, Bu," jawab gadis cerewet segera tanpa menurunkan tangannya dari sikap hormat pada bendera.


"Ya, kamu,' ucap Ibu Meli. "Sudah sepuluh menit. Kamu boleh masuk ke kelas sekarang."


Gadis cerewet segera menjawab, "Baik, Bu." Dia tersenyum dan bergegas masuk ke kelas. Sementara itu, Reno tercengang. Ia belum mendapatkan jawaban dari Mimi.


Aldo dan Yoga pun serempak berkata, "Kami, Buuuu... kami juga boleh masuk ke kelas?"


"Hushh!" ucap Ibu Meli segera. "Kalian tetap di lapangan! Dosa minggat kalian jauh lebih besar dari dosa terlambat." Ibu Meli tampak kesal dan kembali meninggalkan mereka.


Aldo dan Yoga pun kecewa dan bersungut-sungut. "Hoohh, sampai kapan kita terus di siniiii?"


Sementara itu, di dalam kelas hatiku juga bersungut-sungut. 'Sial, mengapa Reno tiba-tiba berubah seperti itu? Tampangnya sudah seperti anak baik-baik. Tapi, aku yakin kelakuannya pasti masih bejat.' Entah mengapa aku kesal sekali pada Reno.


Lalu, saat jam istirahat aku semakin kesal karena harus berpapasan dengannya di halaman kantin sekolah. Ia menyapaku, "Hai, Kakak Sepupu!"


"Berhentilah memanggilku seperti itu!" ucapku sarkas.


Dia tersenyum tipis. "Mengapa Kakak tidak suka? Kakak masih tidak mau membantu aku mendekati Mimi?"

__ADS_1


"Mengapa aku harus mau?" ucapku kesal. "Mengapa kau bersikeras menyukainya? Masih banyak gadis lain. Nanti kau akan menyesal berusaha mendekatinya. Dia itu gadis yang memiliki dua tanduk di kepalanya." Maksud perkataanku adalah mengejek sikap jelek dan kasar gadis cerewet.


Reno mengernyitkan dahinya. "Aku tidak melihatnya," ucap Reno.


"Matamu sudah buta. Hapus dulu cinta monyetmu! Setelah itu kau baru akan bisa melihatnya."


Dia tersenyum meremehkanku. "Yang kulihat tidak ada tonjolan apapun di kepalanya. Aku tidak melihat apapun."


"Hehhh, kau sudah memeriksanya?" ucapku.


Reno terdiam. Tampangnya mulai berubah menjadi serius. Lalu, ia berkata, "Hei apa Kakak serius? Apa benar-benar ada tonjolan di kepala Mimi? Apa tertutup oleh rambutnya?"


Aku tersenyum senang melihat Reno mulai terkecoh dan aku berkata, "Ya, ada dua tonjolan kecil di balik rambut tebalnya. Itu bawaan sejak lahir."


Reno tampak serius dan mengernyitkan dahinya. Lalu, dia berkata dengan mantap, "Aku tetap menyukainya."


"Hohh," cibirku. "Kau benar-benar sudah buta karena cinta. Kotoran kambing pun terasa seperti coklat."


"Hai, Mimi!" Tiba-tiba Reno memanggil Mimi yang sedang berjalan ke kantin sebelah. Ia segera menghampiri Mimi.


Tampaknya Mimi lebih memilih untuk jajan di kantin sebelah yang penuh sesak dengan manusia berdesak-desakkan. Ya, memang gorengan di kantin itu lebih 'nyess' dan enak daripada di kantin lainnya. Tapi, ampuuunnn... siswa peminat kantin itu selalu berjubel, membuat aku paling malas ke kantin itu. Tak kusangka Mimi adalah salah satu dari siswa penggemar kantin itu yang rela berdesak-desakkan hanya demi gorengan.


'Huekkk!' batinku. Reno menawarkan diri untuk membantu gadis cerewet itu membelikan jajanan. 'Dia benar-benar berakal bulus,' ocehku dalam hati.


"Tidak perlu," jawab Mimi. "Aku bisa sendiri." Dia segera melangkahkan kakinya ke dalam kantin itu dan aku tertawa dalam hati. 'Haha, dia menolaknya,' batinku.


"Tidak apa, biar aku saja yang membelikan." Reno bersikeras.


Ia segera masuk ke kantin dan berdesakan di antara siswa lainnya. Gadis cerewet tampak heran dan ia tetap juga ikut berdesakan ingin membeli gorengan.


"Hahhh, pertempuran memperjuangkan gorengan," ledekku dari kejauhan. "Semoga semua menang dan mendapatkan gorengan."


Sementara itu, perjuangan siswa-siswa untuk mendapatkan gorengan bertambah sengit. Dengan cepat Reno sudah menyusup ke deretan terdepan. Ia segera membeli beberapa gorengan yang masih tersisa. Ia mengambil beberapa bakwan, tempe, tahu, pempek pistel, dan pisang goreng lalu segera membayarnya.


Ia bergegas keluar dari kerumunan begitu mendapatkan gorengan. Sementara itu, gadis cerewet baru saja bisa masuk ke deretan terdepan berhadapan dengan gorengan dan... seketika siswa-siswa lainnya segera mundur.


"Yaaaa... habis," gumam mereka kecewa. Gorengannya sudah habis. Gadis cerewet tak mendapatkan apapun. Seketika kantin itu jadi lengang. Gadis cerewet pun keluar dari kantin. Ia melangkahkan kakinya ke tanah dengan kecewa.


"Huuuuhhh, perjuangan yang sia-sia," ledekku. "Gorengan sudah di depan mata, tapi apalah daya takdir harus berkata lain."

__ADS_1


"Sabaaarr! Ini ujian," ucapku dengan senyuman kegembiraan sambil berjalan mendekatinya. Entah mengapa aku senang sekali melihat wajah kusut dan kecewanya.


"Tidak apa, Mimi," ucap Reno segera. "Aku sudah mendapatkannya." Reno memperlihatkan sebungkus gorengan di tangannya lalu menyodorkannya pada gadis cerewet. "Ambillah! untukmu."


Mimi terdiam dan tidak langsung mengambil gorengan itu. Sementara itu, aku tidak suka dan menepis tangan Reno. "Tidak usah terima!" ucapku. "Jangan-jangan ada peletnya."


"Hohh, mana mungkin," ucap Reno. "Jangan percaya Mimi! Aku tulus memberikannya padamu."


"Makanlah selagi hangat!" Reno kembali menyodorkan tangannya dan aku dengan sigap menangkis sodoran tangannya hingga kantong gorengan itu terpelanting dan 'Uppss!' batinku. Gorengannya berhamburan di tanah.


Aku sama sekali tak bermaksud seperti itu. Tapi, tanpa sengaja dan kuduga gorengan-gorengan itu sekarang sudah terkapar di tanah dengan posisi mereka masing-masing. Reno melotot menatapku.


Ia begegas menarik kerah bajuku. Sikap aslinya keluar, ia kembali menjadi pria yang beringasan dan berkata keras, "Kamu sengaja ya?"


"Aku benar-benar tidak sengaja," ucapku dan gadis cerewet bergegas melerai kami.


"Sudahlah! Sudah!" ucapnya. "Hentikan, Reno!"


Reno pun terpaksa melepas cengkeraman tangannya dari kerah bajuku. Ia tampak masih emosi. Sementara itu, para siswa lainnya ternyata sudah tercengang melihat kami bertiga di sana.


"Apa yang kalian lihat?" bentak Reno. "Ini bukan tontonan." Para siswa pun berhenti menatap kami dan kembali ke aktivitas mereka masing-masing sambil tetap curi-curi pandang menantikan kelanjutan adegan kami.


"Sudahlah, Reno!" ucap Mimi. "Terima kasih sudah membelikan gorengan untukku. Gorengannya sudah jatuh. Tidak apa-apa."


Kemudian, Mimi segera memungut gorengan-gorengan yang sudah berjatuhan itu dan memasukkannya ke dalam kantong kembali. Aku dan Reno langsung tercengang. "Untuk apa kau memungutnya kembali?" tanyaku segera.


"Itu sudah kotor, Mimi," ucap Reno. "Kau tak perlu memungutnya."


"Ini makanan," ucap Mimi. "Sayang, mubazir, tidak boleh dibuang-buang."


Aku bertambah tercengang mendengar perkataannya. 'Apa dia ingin makan gorengan yang sudah kotor itu?' tanyaku dalam hati.


"Sudahlah, Mimi. Buang saja! Nanti aku akan membelikanmu lagi," ucap Reno dengan tegas. Namun, Mimi hanya tersenyum dan berkata, "Tidak perlu."


"Kau tidak perlu seperti ini," ucap Reno. "Aku tahu kau ingin berusaha menghargai pemberianku kan? Kau sampai seperti itu karena aku tadi marah. Sudahlah! Buang saja! Aku tidak ingin marah lagi."


Mimi menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, ia berjalan mendekati seekor ayam jantan milik bapak kantin yang dikurung di dalam sangkar di bawah pohon. Ia lalu memberikan gorengan-gorengan itu pada si ayam dan membuang bungkusnya di tong sampah.


Ayam itu tampak kesenangan dan segera mematuk-matuk gorengan itu. Aku dan Reno sama-sama terdiam melihat tingkah Mimi.

__ADS_1


"Tidak boleh membuang makanan," ucapnya. "Masih banyak yang membutuhkan."


__ADS_2