Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Pertengkaran Pertama


__ADS_3

Aku sudah sampai di kelas. Tapi, Mimi tak menyusulku. Ia tetap di kantin hingga jam istirahat berakhir. Ada Mei yang tersenyum padaku, namun aku tak mempedulikannya. Ujian terakhir pun dimulai. Aku mengerjakannya dengan penuh kegalauan. Aku sulit berkonsentrasi.


Akhirnya ujian berakhir dan semua siswa menghambur keluar kelas. Aku pulang bersama Mimi, tapi tak mengeluarkan sepatah kata pun. Mimi pun sejak tadi hanya diam dan itu sesungguhnya membuatku semakin kesal. Ia terlalu cuek, tak memperhatikan bagaimana perasaanku.


Aku berpikir apakah jika tak lagi bersama nanti, ia akan tetap memiliki rasa padaku? Ataukah semua rasa akan menjadi hambar dan kering? Bukankah intensitas pertemuan akan mempengaruhi perasaan? Semakin sering bertemu dapat membuat hubungan semakin erat.


'Bagaimana jika dia nanti bosan dan melupakanku? Mengapa aku merasa begitu takut kehilangan dia?'


'Apa yang harus aku lakukan jika kami tak bisa bersama lagi?' Kami akan berada di dua kota yang berbeda dan hari itu semakin dekat.


'Mimi....' gumamku lirih. Sebenarnya aku kecewa saat menyadari cintanya belum sebesar cintaku padanya.


'Bagaimana agar ia tetap memiliki rasa padaku saat kami sudah tak bertemu lagi nanti?'


'Haahhh... mengapa aku begitu gila memikirkan hari-hari perpisahan itu yang makin mendekat?' Sedangkan, ia tampak biasa saja. 'Apakah aku terlalu berlebihan?'


Aku ingin bersamanya. Aku benar-benar mabuk asmara. Aku harus memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik mungkin. Karena itu, akhirnya aku melemahkan egoku dan menghalau kekesalanku padanya.


Bagaimanapun caranya aku ingin mempertahankannya. Aku tak ingin kami bertengkar sebelum berpisah. Menurutku itu justru akan membuat hubungan kami menjadi renggang. Aku ingin hanya kenangan yang indah melekat di otaknya.


Hari perpisahan sekolah pun tiba. Sekolah memeriahkannya dengan mengadakan pentas seni. Aku tak terlalu memperhatikan acara yang berlangsung. Otakku berkecamuk memikirkan hari perpisahan kami mendekat dan mengingat hari pertama kami bertemu di koridor sekolah. Rasanya itu baru saja terjadi kemarin.


Tiba-tiba suara microphone yang berdenging membuatku tersadar. Lalu, suara seorang siswa terdengar. "Meskipun dia tidak suka... tapi, aku tetap suka. Walau sulit... Aku bahagia... jika dia bahagia. Lagu ini untuknya."


Lalu, petikan gitar terdengar dan ia bernyanyi. Mataku membelalak. Ia Reno. 'Untuk apa ia berkata seperti itu di atas panggung?'


Ia bernyanyi penuh emosi dan menghayati. Aku terdiam tak bersuara. Aku menatap Mimi yang duduk jauh di depanku, di barisan kursi para siswi. 'Semoga ini tidak menggoyahkan perasaan Mimi padaku dan tidak meluluhkan hatinya untuk Reno.' Reno menjadi ancaman bagiku.


Lagu pun berakhir dengan gemuruh tepuk tangan para siswa. Namun, kulihat dari kejauhan Mimi tidak bertepuk, ia hanya terdiam. Dan, aku sungguh tak senang dengan keadaan saat ini.

__ADS_1


"Apa kau senang Reno menyanyikan lagu untukmu?" tanyaku ketika aku mengantar Mimi pulang.


"Mungkin bukan untukku," jawabnya.


"Hehhh, tak usah mengelak lagi! Sudah jelas dia bernyanyi untukmu," ucapku kesal.


"Dia sangat romantis bukan? Kau pasti begitu menyukainya." Suaraku terdengar sinis.


"Dia bukan tipeku," ucap Mimi datar.


"Hahh, jawaban klise," gumamku kesal.


Mimi terdiam. Dia menatapku dan aku terus menyetir. Hingga kami sampai di depan rumahnya.


Mimi segera turun dan menutup pintu mobil begitu saja, tanpa sepatah kata pun. Ia sepertinya marah dan tak terima dengan ucapanku. Ia bergegas berjalan masuk ke halaman rumahnya tanpa menoleh sedikitpun. Sedangkan, aku kesal dan segera berlalu dari rumahnya.


Itu pertengkaran pertama dalam hubungan kami. Dan, aku masih mengingatnya betul hingga saat ini. 'Aku rindu padamu Mimi,' batinku.


Kini semua orang memanggilku dengan sopan. Tak ada yang menghinaku, mengejekku. Semua orang menghormatiku. Tak dipungkiri, posisiku saat ini sebagai pemimpin perusahaan yang sangat sukses di usia muda menyedot perhatian dan kekaguman orang. Tapi, semua kekaguman itu tak ada artinya bagiku.


Aku rindu sosoknya. Dia satu-satunya wanita yang bersikap apa adanya di hadapanku. Para wanita lain selalu berusaha keras bersikap sempurna di hadapanku, ingin memenangkan hatiku. Tapi, aku tak tertarik.


...****************...


Karena perpisahan diadakan di hari Sabtu, hari berikutnya kami tak sekolah dan kami tak saling bertemu, tak saling bicara. Aku masih larut dengan kekesalanku. Dan, hari berikutnya ... khusus untuk siswa kelas tiga sudah diliburkan. Jadi, kami tidak masuk sekolah seperti biasa lagi. Kami berada dalam masa menunggu pengumuman kelulusan. Sehingga, berhari-hari aku tidak bertemu dengannya.


Sejujurnya aku rindu, tapi aku terlalu gengsi untuk menemuinya. Aku bahkan mengendarai mobilku hingga ke depan rumahnya. Namun, rumahnya tampak sangat sepi dan aku memutuskan berlalu begitu saja tanpa mampir atau sekedar memarkirkan mobilku di sisi jalan.


Sementara itu, mama sudah mempersiapkan koper untuk keberangkatanku. Saat aku pulang mama berkata, "Rhama mama sudah menyiapkan pakaianmu. Jika ada barang lain yang ingin kau bawa, masukkan di koper ini, Sayang!"

__ADS_1


Aku tertegun setelah mendengar ucapan mama. Sebentar lagi aku harus pergi untuk mengikuti ujian saring masuk di perguruan tinggi. Itu artinya hari perpisahan kami makin dekat dan sudah sangat dekat.


"Huuuufffffhhhhh...." Aku menarik nafas seakan lelah menghadapi kenyataan.


Tak bisa kuhindari. Perpisahan itu semakin tampak nyata. Tinggal sedikit waktu tersisa. 'Mengapa aku menyia-nyiakan waktu yang sedikit ini dengan bertengkar?'


'Aku tak ingin kehilangan dia,' bisikku dalam hati.


Sebenarnya aku sendiri tak tahu apa kesalahan Mimi hingga aku begitu kesal dan bertengkar dengannya. Mimi tak melakukan apapun, dia tidak selingkuh, dia tidak bohong, dia tidak mengkhianatiku. Entahlah mengapa aku begitu marah dan emosi? Api cemburu yang berusaha kutahan ini sudah tak bisa kubendung lagi.


Sore harinya aku berjalan ke pusat perbelanjaan, membeli sesuatu di sana dengan sisa uang jajan yang kukumpulkan. Saat aku berjalan ke luar toko, aku berpapasan dengan Mei dan ibunya yang berjalan ingin memasuki toko.


"Hai, Rhama!" sapa Ibu Mei dengan ramah.


"Tante." Aku bergegas menyalimi Ibu Mei.


"Sudah lama ya tidak bertemu," ucapnya dan aku agak canggung.


"Habis berbelanja?" tanyanya saat melirik kantong di tanganku.


"Ya." Aku mengangguk.


Dia tersenyum. "Tentu saja mahasiswa baru butuh ponsel baru," gumamnya kemudian.


"Mei berencana kuliah di luar kota. Jadi, Tante juga ingin membekalinya... supaya komunikasi tetap lancar."


"Oh... iya, Tante," imbuhku sekadarnya. Karena, sejujurnya aku tak peduli Mei akan berkuliah dimana.


"Bu, sudah," ucap Mei yang tampak risih. "Ayo!" Ia menggeret tangan ibunya. Lalu, ibunya tersenyum padaku dan aku balik senyum padanya. Setelah itu, kami berpisah.

__ADS_1


Aku pulang ke rumah dan tak sabar menanti hari esok tiba. Besok adalah hari pengumuman kelulusan. Itu artinya aku akan ke sekolah dan bertemu dengan Mimi. 'Semoga dia tidak marah lagi padaku,' bisikku dalam hati.


__ADS_2