
Aku kesal dengan diriku sendiri. Mengapa aku malah sibuk memikirkan wanita lain saat Mei bersamaku? Aku membasuh wajahku berkali-kali di wastafel toilet kamarku. "Ada apa denganmu, Rhama?" Aku menatap kesal wajahku di cermin wastafel.
'Aku harusnya setia pada Mei.'
"Aku harus setia," ucapku dengan kokoh. 'Aku tidak boleh tergoda dengan gadis cerewet itu.'
"Mulai sekarang aku harus menjauhinya." Aku bertekad. Aku tidak mau terombang-ambing dalam kegalauan perasaan seperti ini. Bagiku ini adalah sebuah godaan yang muncul dalam hubunganku dengan Mei. "Aku tak akan goyah semudah itu."
Aku tak ingin peduli lagi segala hal tentang gadis cerewet. Aku ingin menghapusnya dari memoriku. Jika tidak, dia bisa jadi orang ketiga dalam hubunganku dengan Mei.
Aku pun naik ke tempat tidurku, segera berbaring, menarik selimut hingga menutupi wajahku. Lalu, aku memejamkan mataku. Aku ingin tidur. Tapi, mengapa bayangan gadis cerewet itu lagi-lagi muncul dalam otakku meskipun aku sudah menutup mata.
Aku bergegas menarik selimut yang menutupi wajahku sambil bangkit dari bantalku. "Hahhhhhkh!" Aku mendengus kesal. "Mengapa aku terus mengingatnya? Dia benar-benar mengganggu."
Hingga jam menunjukkan pukul 12 malam aku tidak bisa tidur. Aku menyibukkan diri dengan bermain game ular yang membosankan di ponselku. Namun, entah mengapa otakku ini seperti sudah penuh dengan memori gadis cerewet. Hatiku juga sibuk bertanya-tanya, 'Apakah dia sudah tidur saat ini?' Hatiku membuatku sangat ingin meneleponnya jika ia punya ponsel. Tapi, sayangnya dia tidak punya.
Aku pun akhirnya menelepon Mei. "Ya, Rhama...." Sapa Mei dari seberang saluran dengan suara agak serak. Sepertinya ia tadi sudah tidur dan baru saja terbangun karena teleponku.
"Maaf mengganggumu... aku tidak bisa tidur," ucapku.
"Hmmmmm... kau mau aku nyanyikan lagu nina bobo?" Suara Mei terdengar lembut.
Mei sama sekali tak bertanya mengapa aku tidak bisa tidur. Dia sepertinya hanya ingin membantuku untuk bisa cepat tidur dengan menyanyikan lagu. 'Mungkin aku salah sudah meneleponnya. Aku pasti sudah mengganggu tidurnya.'
"Aku sebaiknya menutup telepon ini, Mei. Maaf sudah mengganggumu," ucapku.
"Ya, Rhama. Sampai ketemu besok di sekolah," ucapnya.
"Ya, sampai jumpa," jawabku mengakhiri teleponku.
Esoknya pagi hari aku menjemput Mei untuk berangkat sekolah bersama. Aku bertemu dengan Mei di dalam mobilku dengan kantung mata yang menghitam. Aku tidak bisa tidur hingga jam setengah tiga pagi dan itu cukup menyiksaku.
"Matamu merah," ucap Mei kemudian setelah beberapa saat.
"Ya, aku kurang tidur," ucapku dengan wajah mengantuk.
"Apa yang membuatmu meneleponku di tengah malam?" tanya Mei. "Apa kau sangat rindu padaku hingga tak bisa menunggu pagi untuk kita bertemu?" Ia mengatakannya dengan perasaan begitu bahagia.
Aku terdiam. Sungguh bukan karena itu aku menelepon Mei semalam. Mei sudah salah mengira. Mei terlanjur meyakini bahwa aku merindukannya. Bagaimana bisa aku mengatakan yang sebenarnya pada Mei?
"Sekarang aku sudah di hadapanmu. Apa yang ingin kau katakan padaku?" ucapnya dengan lembut.
"Aku tidak ingin mengatakan apa-apa."
"Lalu, untuk apa kau meneleponku semalam?" Ia mendesakku.
__ADS_1
"Hmmmhhh... Aku hanya ingin mendengar suaramu semalam," jawabku.
Lagi-lagi Mei tersenyum. "Kau sangat romantis, Rhama."
Aku agak tercengang karena ia malah mengira aku romantis. 'Sungguh bukan karena itu aku meneleponmu, Mei,' bisikku dalam hati.
"Lalu, mengapa kau tidak bisa tidur?" tanyanya lagi. "Ada yang kau pikirkan? Apa kau punya masalah?"
'Ya, aku punya masalah. Tapi, sungguh tak mungkin kuceritakan padamu,' ucapku dalam hati.
"Mengapa kau diam saja?"
"Ahhh, tidak. Aku tidak punya masalah. Aku hanya terlalu banyak minum kopi semalam. Jadi, aku tidak bisa tidur," jawabku dengan sedikit gugup.
"Kau suka minum kopi, Rhama?" tanya Mei segera. "Aku tahu tempat minum kopi yang sangaaaat nikmat. Itu restoran langganan ibuku. Kau harus coba. Minum secangkir saja, dijamin kau akan ketagihan dengan kopinya."
"Oh, ya?" ucapku.
"Ya." Mei mengangguk. "Bagaimana jika sore nanti kita minum kopi di sana? Kau harus mencobanya."
"Eeehhhh...." Aku agak sedikit ragu harus menjawab apa. Tak terasa mobilku sudah hampir memasuki gerbang sekolah. Lalu, tiba-tiba gadis cerewet melintas masuk ke gerbang sekolah. Aku tak sengaja melihatnya melalui kaca mobil. Ia berjalan dengan cepat tanpa menoleh.
"Waww, tidak terlambat hari ini," gumamku tanpa sadar.
"Terlambat apa maksudnya, Rhama?" tanya Mei.
"Ya... maksudku ... tidak terlambat untuk mencicipi kopi itu hari ini. Aku sangat ingin tahu rasanya," ucapku untuk menutupi kesalahan bicaraku.
Sementara itu, Mei tersenyum mendengar ucapanku. "Baiklah sore ini aku tunggu di restoran itu ya. Letaknya tidak jauh dari tempatku les piano. Aku akan langsung ke sana sepulang les."
"Tapi, aku tak tahu dimana restorannya," ucapku segera.
"Nanti aku akan mengirimkan alamatnya via ponsel."
Dan, aku pun mengangguk, tanda setuju. Sehingga, sore ini aku sudah berada di restoran itu. Aku tiba lebih awal dan masih menunggu kedatangan Mei. Seorang pelayan berambut pendek melintas di depanku. Sekilas postur tubuhnya mengingatkanku pada gadis cerewet.
"Seperti gadis cerewet," gumamku tanpa melepaskan pandangan mataku padanya. Aku menunggu-nunggu detik-detik ia membalikkan badan.
"Hai, Rhama!" Tepukan di bahuku sangat mengagetkanku. Aku spontan menoleh. Ternyata Mei sudah datang.
"Maaf mengagetkanmu," ucapnya.
Dan, yang membuat aku lebih kaget lagi adalah... ternyata Mei tidak datang sendirian. Ia datang bersama ibunya. Hal ini membuatku sangat tercengang.
"Hei, mengapa bengong?" tanya Mei. "Tadi mama menjemputku pulang les. Jadi, aku ajak sekalian ke sini. Karena, mama juga suka kopi," ucap Mei.
__ADS_1
"Oh, iya," ucapku lalu bergegas menyalimi tangan Ibu Mei. "Silakan duduk, Tante," ucapku sambil menarik kursi untuk Ibu Mei.
"Senang bertemu denganmu, Rhama," ucap Ibu Mei. "'Semoga Tante tidak mengganggu."
"Oh, tidak, tidak, Tante," ucapku segera. "Aku senang bisa minum kopi bersama Tante." Aku tersenyum.
"Hahahha... kau pria yang sangat manis, Rhama," ucap Ibu Mei dan itu membuatku sedikit tersipu malu.
Lalu, kami memesan memesan kopi dan makanan. Pelayan yang kukira gadis cerewet itu datang ke meja kami menyajikan pesanan. Aku langsung melihat wajahnya dan bergumam dalam hati, 'Untunglah bukan dia. Wajahnya sangat tidak mirip.' Tapi, tetap saja otakku teringat pada gadis cerewet.
'Aku benar-benar harus menghapusnya dari ingatankuuuuu,' ucapku sedikit kesal dalam hatiku. 'Jangan mengacaukan momen ini, apalagi saat ini ada Ibu Mei.'
Tapi, tetap saja pikiran ini meronta dan terus berpikir, 'Jika pelayan di restoran ini bukan gadis cerewet, kira-kira dia sekarang sedang ada dimana ya?'
'Hahhhh, pasti sedang ada di rumahnya. Tapi, kira-kira dia sedang apa ya saat ini?' Aku berpikir lagi.
"Rhama! Rhama!" panggilan Mei membuatku tersadar. "Kamu tidak menjawab pertanyaan mama. Mengapa diam saja?"
"Hahhhh!" Aku gelagapan. "Maaf, aku tidak fokus," ucapku segera.
"Hmmmhhh... Mengapa? Sepertinya kamu grogi, Rhama," ucap Mei dengan tertawa kecil.
"Tidak apa-apa," ucap Ibu Mei. "Kamu tidak perlu sungkan dengan Tante."
Aku hanya diam dan mungkin sedikit pucat. Sementara, pandangan Ibu Mei terus tertuju padaku.
"Kamu sepertinya masih sangat polos," ucap Ibu Mei blak-blakan lalu meminum kopinya.
"Rhama baru pertama kali pacaran, Ma," bisik Mei pada ibunya, namun terdengar di telingaku.
"Tante harap kamu tidak mempermainkan perasaan Mei."
Aku yang sedang mengangkat cangkir kopi untuk meminumnya jadi menurunkan cangkirku kembali. Ibu Mei menatapku tajam sambil berkata, "Jangan sia-siakan Mei! Jangan pernah menyakitinya!"
"Berjanjilah pada Tante!" Ibu Mei terus menatapku.
"Iya, Tante... saya janji," ucapku.
"Semoga kau menepatinya," ucap Ibu Mei.
"Tenang saja, Ma. Rhama pria yang baik," ucap Mei.
"Janji yang terlalu mudah diikrarkan biasanya tidak serius untuk ditepati." Perkataan Ibu Mei terdengar begitu menohokku. Seketika aku menjadi gugup.
Aku memang tidak ingin mempermainkan perasaan Mei. Dari awal tidak ada niatku sedikitpun untuk menyakitinya. Namun, akhir-akhir ini aku merasakan perubahan perasaanku terhadapnya dan hal itu sama sekali tak bisa kutolak. Aku sendiri ragu dengan perasaanku sendiri. Namun, dengan mantap aku berkata pada Ibu Mei, "Aku akan berusaha menepatinya."
__ADS_1