
Reno membuka pintu rumahnya sambil bersiul riang lalu berlari ringan menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Ia membuka pintu kamar itu, melempar tasnya ke sembarang arah, dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan senyum terkembang.
Hatinya berbunga-bunga. Wajah Mimi terbayang-bayang dalam ingatannya. Ia baru saja mengantar Mimi pulang ke rumah dan masih belum bisa move on dari perasaan senangnya.
“Hahhh… mengapa aku jadi senyum-senyum sendiri seperti ini?” gumamnya saat meraba wajahnya. Namun, ia tetap saja terus tersenyum.
Ia bangkit dari tempat tidurnya dan memandang wajahnya di cermin dinding. Namun, yang terlihat olehnya di dalam cermin itu malah wajah polos Mimi. “Hahh, aku benar-benar sudah gila.” Ia mengosok-gosok rambutnya yang berantakan dan hampir gondrong.
“Mengapa aku jadi seperti ini?”
Hingga malam tiba Reno tetap saja galau dan ia berkata, “Aku sudah gila.” Lalu, ia mengambil ponselnya dan menelepon kedua sobatnya.
“Hei, temui aku di cafe biasa!” ucapnya.
Lalu, ia bergegas pergi menuju café untuk menongkrong bersama kedua temannya. Di sana ia memesan bakso dan es jeruk. Namun, hingga Aldo dan Yoga selesai melahap semua bakso mereka hingga tak berbekas, Reno sama sekali belum menyentuh baksonya.
“Mengapa dari tadi Bos bengong?” tanya Yoga.
“Bakso Bos kuahnya sudah dingin,” ucap Aldo. “Mengapa tidak dimakan?”
Reno pun mulai menyendok baksonya, namun hanya beberapa suap. Ia mengakhiri makannya dan hanya menyeruput es jeruknya.
“Bos sakit?” tanya Yoga sambil mengeluarkan rokok dan menyodorkan pada Reno.
Reno menggeleng dan juga menolak rokok yang ditawarkan Yoga. Sehingga, Aldo dan Yoga saling berpandangan. Tidak biasanya Reno menolak rokok. Biasanya sehabis makan Reno pasti ingin merokok. Yoga dan Aldo sudah paham betul kebiasaan Reno.
“Ada apa Bos? Bos bisa cerita,” ucap Aldo.
“Aku sedang tidak nafsu makan,” jawab Reno.
“Ya, mengapa?” tanya Yoga. “Bos punya masalah?”
“Aku… Huffhhhh….” Reno menarik nafasnya dalam.
Sedangkan, Yoga dan Aldo sama-sama terdiam, menanti-nanti kelanjutan ucapan Reno dengan sangat antusias. Mereka sudah menyiapkan telinga mereka sebaik mungkin untuk mendengarkan curahan hati Reno. Namun, Reno hanya diam dan memalingkan wajah, membuat mereka semakin penasaran.
“Sebenarnya ada apa Bos?”
__ADS_1
“Jangan buat kami mati penasaran!”
“Ayo Bos katakan saja!”
“Aku sudah gila,” ucap Reno kemudian.
“Hakh!” Aldo dan Yoga tercengang. Mereka saling berpandangan dan serentak bertanya, “Gila? Mengapa? Mengapa bicara seperti itu Bos?”
“Lihat saja! Semua wajah orang yang kulihat di café ini mengapa berubah menjadi wajah Mimi? Ia ada dimana-mana.” Reno begitu serius mengatakannya. “Bahkan, wajahmu dan wajahmu.” Ia menunjuk wajah Aldo dan Yoga yang tercengang.
“Hahhhh….” gumam Aldo.
“Bisakah kalian membuat aku kembali normal?” tanya Reno.
“Akhir-akhir ini aku sulit untuk tidur. Bahkan, pernah satu malam aku tidak tidur sama sekali dan aku rasa malam ini aku juga tidak akan bisa tidur,” ujar Reno.
“Mengapa Bos? Apa wajah Mimi begitu menyeramkan hingga menghantui Bos, membuat Bos tidak bisa tidur?” tanya Yoga dengan begitu lugunya.
“Heh, Bodoh!” ucap Aldo sambil menyikut lengan Yoga. “Bos sepertinya sedang jatuh cinta,” bisiknya pada Yoga.
“Bos apa kau benar-benar yakin dengan perasaanmu?” tanya Yoga segera.
“Apa maksudmu?” ucap Reno.
“Maksudku… Mimi itu sama sekali bukan tipe gadis yang menarik, dia biasa-biasa saja, tidak mengesankan. Apa Bos yakin Bos menyukainya?”
“Apa maksudmu dengan kata-kata tidak menarik, tidak mengesankan?” Suara Reno tiba-tiba meninggi. Ia benar-benar tidak suka Yoga berkata seperti itu tentang Mimi.
Yoga pun terdiam dan menundukkan wajah karena tak berani menentang Reno. Dari reaksi Reno ia langsung bisa menangkap bahwa memang benar ternyata Reno sudah jatuh cinta pada Mimi. Padahal, dalam hatinya ia bergumam, ‘Apa yang spesial dari gadis itu hingga Bos bisa jatuh cinta padanya? Dia gadis yang sangat biasa-biasa saja.’
“Bos, apa tidak sebaiknya kau menyatakan perasaanmu padanya?” Pertanyaan Aldo seketika bisa meredam emosi Reno.
“Perasaanku,” gumam Reno.
“Bos sedang jatuh cinta pada Mimi dan itu sangat menyiksa jika Bos hanya terus memendamnya. Bos harus segera bergerak maju, nyatakan perasaan Bos padanya!” Aldo berkata dengan menggebu-gebu.
Reno terdiam. Sementara itu, Aldo kembali berkata, “Nyatakan Bos! Nyatakan Bos!”
__ADS_1
“Nyatakan!” ucap Aldo.
Reno bergegas menatap wajah Aldo dan wajah Yoga silih berganti. “Apa iya ini perasaan jatuh cinta?”
Aldo dan Yoga serempak mengangguk sambil bergumam, “Hmmmm… eh.”
“Aku sedang jatuh cinta?” tanya Reno pada dirinya sendiri sambil meraba pipi dengan kedua tangannya.
“Iya,” jawab Aldo. “Dan, Bos bisa benar-benar gila jika tidak segera mengungkapkannya.”
“Aku sedang jatuh cinta,” gumam Reno lagi. Lalu, ia menatap Aldo dan Yoga silih berganti kemudian berkata, “Aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Aku harus mengungkapkannya.”
“Iya, harus Bos,” tambah Yoga.
Lalu, tiba-tiba wajah Reno berubah drastis, mendadak murung. “Tapi, apa dia mau menerimaku?” gumamnya.
“Iya, pasti Bos,” ucap Aldo.
“Bos itu keren, tampan, gagah, cool. Banyak wanita menyukai Bos dan berusaha mendekati,” ucap Yoga penuh semangat.
“Itu salah satu buktinya,” ucap Aldo sambil menunjuk tiga gadis di meja makan sebelah.
Reno melirik ke samping, ternyata sejak tadi tiga gadis itu diam-diam terus memperhatikan Reno. Reno menoleh dan gadis-gadis itu langsung grogi, bergegas menundukkan wajah mereka sambil tersenyum-senyum. “Dia tampan,” bisik salah satu dari mereka.
“Tunggu apa lagi Bos?” ucap Yoga. “Nyatakan! Dia pasti akan menerima cintamu.”
Lalu, siang tadi Reno pun akhirnya memberanikan menyatakan perasaannya pada Mimi. Namun, di luar nalar dan perkiraannya Mimi malah menolak mentah-mentah. Sehingga, perasaan Reno sangat kacau hingga malam ini. Sejak tadi ia tidak menjawab panggilan telepon dari siapapun. Ia ingin menyendiri di kamarnya.
Ia tak tahu mengapa Mimi dengan santainya menolak perasaannya mentah-mentah, tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. ‘Apakah aku tak cukup pantas untuknya?’ tanya Reno dalam hatinya.
‘Mengapa aku harus jatuh cinta padanya?’ Ia benar-benar merasa down.
Ia mengambil gitarnya di samping tempat tidur lalu memetik nada-nada lagu mellow yang membuat perasaannya semakin kacau balau. Lalu, setelah lama terdiam, mendadak ia bangkit dari tempat tidurnya dan menghempaskan gitar di tangannya membentur lantai hingga patah. Ia begitu kesal.
“Huhh….” Ia menarik nafas dalam. “Berhenti memikirkan cinta! Wanita hanya membuatmu lemah,” ucapnya. “Jangan jadi pria lemah!”
Ia tak ingin terus larut dalam kekacauan perasaan yang menyiksanya. “Kau pria yang tegar,” ucapnya di depan cermin. “Kau tak butuh kasih sayang, kau tak butuh wanita itu.”
__ADS_1