Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Pernyataan Cinta


__ADS_3

'Mei tidak les piano,' pikirku. Tapi, kemarin ia berkata ia harus segera les piano. Ia bahkan hampir terlambat. Harusnya ia bergegas pergi ke tempat les pianonya. 'Tapi, mengapa ia tidak les piano kemarin?' pikirku.


Karena itu, begitu sampai di depan rumahnya saat menjemput aku bertanya padanya, “Mei bagaimana dengan les pianomu kemarin? Apakah kau jadi terlambat?”


“Hmm, tidak, Rhama. Aku tidak terlambat,” ucapnya sambil memasuki mobilku. “Aku bahkan sempat mampir menemui ibuku dulu,” jawabnya santai.


“Ohh,” gumamku singkat dan aku mulai menjalankan mobilku. 'Ternyata ia tidak terlalu tergesa-gesa,' pikirku.


'Mengapa ia kemarin bahkan tidak mau memberikan waktu lima menit saja kepada gadis cerewet itu untuk bertanya tentang pelajaran padaku?' tanyaku dalam hati dan aku pun mulai terbayang dengan ekspresi kecewa gadis cerewet itu kemarin.


Wajahnya tampak begitu kecewa. Aku mengingatnya sambil mengemudikan mobil. 'Mengapa aku jadi begini? Apa aku merasa bersalah padanya?' pikirku.


'Hahh ... tidak, tidak, tidak,' batinku. Aku bergegas menghalau rasa bersalahku. 'Gadis cerewet itu bukan siapa-siapa. Tentu saja Mei lebih penting,' ucapku dalam hati.


'Ya benar ... Mei lebih penting,' ucapku lagi dalam hati. 'Tindakanku kemarin sudah benar. Aku lebih mendahulukan


kepentingan Mei daripada gadis cerewet itu.' Tapi, tetap saja wajah kecewa gadis cerewet itu muncul dalam bayangan pikiranku. Aku tak bisa menghalaunya dari pikiranku.


'Mengapa aku sibuk memikirkan gadis cerewet itu?' batinku sambil terus mengemudikan mobil. 'Padahal, Mei duduk di sampingku saat ini.'


'Hahh ... dia benar-benar merusak suasana. Bayangannya benar-benar mengganggu waktuku bersama Mei saat ini,' pikirku sambil melirik Mei yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan musik di mobilku.


Lalu, tanpa terasa mobilku pun telah sampai di sekolah. 'Huhh ... Padahal, aku bahkan belum sempat mengutarakan isi hatiku pada Mei.' Kami berdua hanya saling diam di sepanjang perjalanan.


“Terima kasih, Rhama,” ucap Mei ketika ingin turun dari mobilku.


“Mei,” ucapku segera.


Mei menoleh dan batinku segera berkata, 'Katakan sekarang, Rhama! Katakan! Katakan! Katakan! Kau harus


mengatakannya! Harus!'


Aku tak bisa mengontrol diriku dalam seketika. Rasanya tiba-tiba saja aku tak sanggup untuk memandang wajah Mei. Aku tertunduk dan jantungku serasa berloncatan. Tubuhku gemetar dan menjadi berkeringat. 'Ada apa denganku?' pikirku.


“Ada apa, Rhama?” tanya Mei kemudian.


Bibirku bergetar dan aku berusaha untuk mengingat apa yang ingin aku ucapkan. Tapi, entah mengapa semuanya buyar. Padahal, aku sudah merangkainya dan berlatih mengatakannya semalaman.


“Jika tidak ada yang ingin kau katakan, aku turun duluan ya, Rhama,” ucap Mei lalu keluar dari mobilku.


“Mei!” panggilku segera. Aku turun dari mobilku dan bergegas menghampirinya.


“Mei, aku mencintaimu,” ucapku tiba-tiba.


“Apa?” tanya Mei.


“Aku mencintaimu, Mei. Benar-benar mencintaimu.” Aku begitu serius mengatakannya. Tapi, dalam sekejap tawa Mei pecah begitu saja. “Ha ... ha ... ha ... ha ....”

__ADS_1


“Aku tak mengerti maksud tawamu, Mei,” ucapku dan Mei hanya tersenyum santai. Tak ada ekspresi gugup atau terkejut sedikitpun di wajahnya.


“Lihat! Semua orang memperhatikanmu, Rhama,” ucapnya dan aku pun mulai tersadar ternyata siswa-siswa yang lainnya benar-benar sedang memperhatikan kami. Wajahku memerah seketika, tapi aku tak peduli. Aku melanjutkan ucapanku, “Maukah kau menjadi pacarku, Mei?”


“Aku serius,” ucapku lagi.


“Aku tidak akan mempermainkanmu. Aku benar-benar menyukaimu sejak dulu.”


“Ya, aku sudah tahu, Rhama,” ucap Mei.


“Kau sudah tahu?” tanyaku.


“Aku bisa merasakannya,” jawabnya. “Kau mempunyai perasaan lebih terhadapku sejak dulu, sejak awal kau pindah ke sekolah ini.”


“Ya,” jawabku gugup. “Wanita pertama yang membuatku terpukau saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini adalah kau, Mei. Hari pertama aku bersekolah di sini menjadi begitu berkesan bagiku karena itu hari pertama aku bertemu denganmu,” ucapku.


Aku masih ingat dengan jelas bagaimana pertama kali aku menginjakkan kaki di kelasku. Saat itu  perhatianku tiba-tiba saja tersedot hanya ke satu arah, yaitu Mei. Itulah pertama kalinya dalam hidupku aku merasa terpesona


pada wanita. Padahal,  selama ini sangat banyak wanita yang kutemui. Tapi, Mei berbeda.


Ia begitu anggun dan sesuatu dalam dirinya membuatku tergila-gila padanya. Mei seperti mempunyai magnet yang


membuat setiap pria tertarik padanya, tidak terkecuali diriku. Aku luluh di hadapannya. Dan, saat ini aku sangat berharap ia mau mengerti perasaanku dan menerima cintaku.


“Apa kau mau menjadi pacarku, Mei?” tanyaku lagi.


“Hmm ... apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.


“Aku belum bisa memutuskan sekarang,” ucapnya. “Aku harus berpikir matang-matang. Setelah aku siap, aku akan


memberikan jawabannya padamu.”


“Ohh ....” gumamku datar. “Baiklah, jika begitu.”


'Setidaknya Mei tidak serta-merta menolakku,' pikirku. 'Setidaknya dia mau mempertimbangkan cintaku dan semoga saja dia mau menerimanya.'


'Semoga,' batinku.


Sedikit lega rasanya setelah mengungkapkan perasaanku pada Mei. Tapi, tetap saja hati ini sedikit gelisah. Aku terus memikirkan apakah kira-kira jawaban yang akan diberikan Mei.


'Apakah Mei akan menerimaku atau menolakku?' tanyaku berkali-kali dalam  hati. Aku tidak tenang sebelum mendapatkan jawabannya. Rasanya aku ingin sekali mengetahui jawabannya saat ini juga. Tapi, aku tidak mungkin akan memaksa Mei menjawabnya segera.


'Hohh ... semoga saja dia mau menerimaku,' pintaku dalam hati ketika jam istirahat tiba.


Lalu, tiba-tiba, “Rhama, ternyata kau gesit sekali.” Ken tiba-tiba berkata dan aku sama sekali tak mengerti maksud ucapannya.


“Sudahlah, tak perlu malu,” ucapnya ketika melihat ekspresi bingungku. “Aku sudah tahu semuanya. Kau menyatakan cinta pada Mei, ‘kan? Beritanya sudah tersebar ke mana-mana.”

__ADS_1


“Ouww ...  itu. Ya, memang aku telah menyatakan perasaanku padanya.” Aku mengakuinya.


“Aku salut padamu. Kau bergerak sangat cepat. Mei baru saja diputuskan Alvin dan kau segera menyatakan perasaanmu padanya,” ucap Ken. “Kau tidak memberikan kesempatan pada pria lain untuk mendekatinya.”


“Mei baru saja diputuskan Alvin?” Aku mengulangi ucapan Ken.


“Ya, Mei diputuskan Alvin, pacarnya,” tegas Ken.


“Diputuskan?” tanyaku lagi.


“Ya, Mei diputuskan. Alvin ketahuan selingkuh, Mei tidak terima. Lalu, Alvin mencampakkan Mei begitu saja dan pergi bersama selingkuhannya,” jelas Ken.


“Alvin mencampakkan Mei?” tanyaku semakin tak percaya.


“Ya,” jawab Ken. “Masa kau tidak tahu?" Aku hanya terdiam.


“Makanya, kau jangan hanya selalu belajar, belajar, dan belajar. Mengikuti perkembangan kabar terkini itu juga


penting,” oceh Ken dan aku tetap terdiam.


Aku terdiam bukan karena baru mengetahui kenyataan itu. Tapi, aku terdiam karena aku tak percaya ada lelaki di dunia ini yang tega mencampakkan wanita sesempurna Mei begitu saja.


'Lelaki itu benar-benar bodoh,' umpatku dalam hati. 'Mei tidak pantas diperlakukan seperti itu.'


'Jika aku menjadi pacar Mei, aku akan merasa sangat beruntung dan aku akan selalu berusaha membahagiakannya,' pikirku. 'Aku akan berusaha memberikan apapun yang ia inginkan. Aku akan mengantarnya kemana pun ia mau, menemaninya baik dalam bahagia maupun dalam kesedihan, menerimanya apa adanya, mengucapkan cinta padanya setiap hari, selalu melindunginya, dan masih banyak lagi yang akan aku lakukan jika aku benar-benar menjadi pacarnya kelak,' ucapku dalam hati.


'Aku akan mencintainya sepenuh hatiku.'


'Aku akan mencintaimu sepenuh hati, Mei … andai saja kau mau menerima cintaku,' bisikku dalam hati.


Tak peduli apakah kau akan mencintaiku sepenuh hati atau tidak, asalkan kau menerima cintaku aku akan bertahan untuk mencintaimu sepenuh hatiku. Tak masalah bagiku apakah kau akan mengacuhkanku atau tidak, aku akan tetap ada untukmu.


'Aku mencintaimu, Mei,' gumamku dalam hati ketika di tengah perjalanan mengantarnya pulang dari sekolah.


"Rhama, lihat!” ucap Mei tiba-tiba sambil menunjuk ke luar kaca jendela mobilku.


Di sisi jalan tak jauh dari mobilku, aku melihat Reno mengemudikan motornya dengan sangat pelan.


“Itu kan siswa yang kemarin minta diajarkan olehmu,” ucap Mei.


Aku memperhatikan lebih seksama dari kaca mobilku. Ternyata, benar … gadis cerewet. Ternyata, Reno sedang menggiring gadis cerewet yang berjalan di trotoar. Reno sepertinya mengatakan sesuatu dan gadis cerewet itu berulang kali menggelengkan kepala. Ia terus berjalan dengan cepat tanpa henti dan Reno terus mengikutinya.


Aku pun terus mengendarai mobilku hingga Reno dan gadis cerewet itu tak tampak lagi olehku.


“Sepertinya mereka pacaran,” gumam Mei.


“Apa?” ucapku lantang dengan spontan.

__ADS_1


__ADS_2