Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Perpisahan dan Pertemuan


__ADS_3

Mimi meneliti paper bag yang kuserahkan padanya. "Pakailah!" ucapku.


"Ini ponsel?" tanyanya setelah mengintip isi paper bag itu.


"Ya, agar kita bisa saling berkomunikasi," jawabku.


"Tidak, tidak, tidak!" Ia segera menyerahkan paper bag itu kembali padaku. "Ini terlalu mahal, aku tak bisa menerimanya."


"Aku memberikannya agar aku bisa menghubungimu," ucapku.


"Aku memang tak punya ponsel. Tapi, kau bisa menghubungiku lewat cara lain," ucapnya keras kepala. "Kau bisa mengirimiku surat atau kau bisa menulis email untukku. Aku akan ke warnet nanti untuk membaca emailmu."


Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Ini sudah tahun 2006. Dunia sudah modern. Aku ingin menghubungimu kapan pun aku mau dan aku ingin kau meresponnya dengan cepat. Aku tak ingin berhari-hari menunggu balasan surat darimu atau menunggumu ke warnet dulu untuk mengecek email masuk dariku."


"Aku akan sering meneleponmu. Kau butuh ponsel ini. Pakailah!"


"Aku tak bisa menerima pemberian seperti ini," ucapnya. "Aku tak ingin uangmu atau fasilitas darimu."


"Aku tak ingin menjadi wanita murahan dan materialistis," tegasnya dan sepertinya dia sedikit tersinggung.


"Huffhhh!" Aku menarik nafas berat. Dia benar-benar keras kepala.


Aku menarik tangannya dan meletakkan tali paper bag itu dalam genggamannya. "Aku memaksa," tegasku. "Kau bukan wanita matrealistis. Ini hadiah dariku. Aku memberikannya bukan untukmu, tapi untukku... untuk kepentinganku."


"Jadi, tolong terimalah!"


Saat itu tanpa kami sadari Mei melihat kami dari kejauhan. Ia menatap kami cukup lama, melirik paper bag yang kuberikan. Lalu, ia berlalu tanpa berkomentar apapun. Namun, dalam hatinya ia menilai aku benar-benar sedang mabuk asmara hingga rela memberikan ponsel pada Mimi. Kenyataan itu menyakitkan hatinya.

__ADS_1


Sementara itu, aku dan Mimi masih berdebat untuk menerima hadiah itu. Hingga akhirnya Mimi berkata, "Baiklah aku akan menerimanya sekarang, tapi aku akan membayarnya nanti. Aku tidak mau menerima ini dengan gratis. Ini tidak murah."


Aku tersenyum lebar sebagai tanda kemenanganku. "Terima kasih," ucapku senang.


"Aku yang harusnya berterima kasih. Aku akan membayarnya nanti," ucap Mimi.


"Ya, kau harus membayarnya," ucapku. "Aku akan menagihmu nanti." Aku tak serius.


"Aku harus bekerja keras untuk membayar ini. Kau membuatku berhutang banyak," gerutunya.


Aku tersenyum. "Pakai saja dulu!"


"Dengan ponsel ini kita lebih mudah berkomunikasi. Kau juga bisa menelepon orang tuamu. Tidak perlu repot ke wartel lagi," seruku.


"Bukankah kau ingin menghubungi orang tuamu? Apa kau sudah dapat nomor ponselnya?" Aku ingat aku telah menghilangkan nomor ponsel ibunya.


Tanpa kuduga ternyata Mimi mengangguk dengan ceria. "Beberapa hari lalu ayah menghubungi paman. Ternyata ia ingat bahwa aku akan lulus SMA dan dia mengirimkan uang untukku berkuliah."


Itu adalah hari terakhir kami bertemu di sekolah. Karena, saat cap tiga jari untuk ijazah dilakukan aku sudah tidak berada di Kota Palembang lagi. Aku sudah berada di Jakarta, melakukan persiapan untuk berkuliah di sana. Setelah itu, aku kembali lagi ke kotaku hanya beberapa hari untuk melakukan cap tiga jari susulan dan bersiap pergi lagi ke Jakarta untuk berkuliah.


Kali ini kulihat sosok gadis bercelana kargo dan berkaos longgar di bandara. "Mimi," gumamku cukup terkejut. Ia ingin mengantar keberangkatanku. Aku menyapanya dari kejauhan dan ia tersenyum. Namun, mama yang berdiri di sampingku mendadak cemberut. Jelas sekali terbaca ia tak suka pada Mimi.


"Tante," sapa Mimi saat berhadapan dengan mama. Ia mengulurkan tangan ingin menyalimi mama. Namun, mama mendadak melengos membuang muka.


"Ma," ucapku segera. Aku kecewa dengan sikap mama.


Sementara itu, mama segera menggandeng tanganku. "Ayo cepat! Kau bisa terlambat dan ketinggalan pesawat." Mama menarikku.

__ADS_1


"Tapi, Ma...."


Mama melihat jam di tangannya dengan ekspresi kesal. Memang waktuku tidak banyak. Aku harus segera berangkat.


"Pergilah!" ucap Mimi. "Hati-hati di jalan!" Ia tetap tersenyum.


Aku mengangguk. "Aku pergi dulu. Nanti aku akan menghubungimu."


Mata mama membelalak dan aku tak peduli. Aku berkata, "Hati-hati pulang ke rumah!"


"Sudah! Sudah!" ucap mama. Ia mendorong tubuhku, meninggalkan Mimi. Beberapa kali aku menoleh ke belakang pada Mimi dan Mimi melambaikan tangannya. Dalam hati mama menggerutu, 'Huhh! Gadis itu agresif sekali. Untuk apa dia datang ke sini?'


Akhirnya aku mengudara ke Jakarta dan Mimi hanya bisa memandangi pesawat yang kunaiki dari jauh. Ia menatap ke langit, berusaha melihat pesawatku. Namun, aku tak dapat melihatnya. Aku hanya bisa memandang daratan yang kutinggalkan.


Setelah itu, kami tak bisa saling memandang selama berbulan-bulan. Aku rindu padanya dan aku sedikit kesal dengan keadaan. Ternyata Reno satu fakultas dengan Mimi di sebuah universitas swasta. Tapi, mereka berbeda jurusan.


Mimi mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual. Ia merasa otaknya tak cukup kuat dalam pelajaran ilmiah dan rumit. Karena itu, ia memutuskan mengambil jurusan yang mengarah ke seni dan ia sepertinya sangat bersemangat.


Hari berganti hari, namun dirinya tak terganti di hatiku. Banyak wanita di kampusku, entah mengapa semua pesona mereka seakan tertolak dari pandanganku. Hati ini sudah terisi, tempat itu hanya untuk Mimi. Semoga Mimi juga merasakan hal yang sama padaku.


Aku terus mengingatnya dan berharap libur semester perkuliahan segera tiba. Aku sudah tak sabar lagi. Bulan demi bulan kulalui dan rasanya bagiku sangat lama. Aku ingin segera bertemu dengan Mimi.


Hingga akhirnya hari libur itu tiba. Aku terbang kembali ke kotaku dengan senyuman. Besok aku akan bertemu dengan Mimi. Kami memutuskan untuk bertemu di sebuah cafe. Dia tak ingin aku menjemputnya di rumah. Kami 'janjian' untuk bertemu seperti pasangan lainnya yang berkencan.


Aku mengetuk-ngetuk meja cafe karena ia belum juga datang. Aku sudah tak sabar lagi dan sejak tadi sudah mengirimkan SMS padanya, "Hati-hati di jalan!"


Berulang kali kubuka pesanku, tapi tak ada balasan darinya. 'Mungkin dia sedang di jalan dan tak sempat membalas,' pikirku. Tapi, tetap saja terlintas di benakku, 'Dia masih saja belum berubah, sering datang terlambat.'

__ADS_1


Lalu, ada seseorang yang memasuki cafe. Sekilas kulihat dari jauh. 'Tentu saja itu bukan Mimi,' pikirku. Aku tak mempedulikannya. Aku kembali mengetuk-ngetuk meja.


Lalu, orang itu berhenti berjalan di depan mejaku, membuatku spontan mendongakkan wajah. Seorang gadis yang terlihat modis dengan menggunakan rok asimetris dan sandal wedges. Aku sangat terkesima hingga tak kusadari bibirku menganga. Gadis itu tersenyum dan aku semakin takjub. Gadis itu Mimi.


__ADS_2