Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Coklat Perpisahan


__ADS_3

Air minum Mei tertumpah. Aku spontan menegakkan gelasnya dan menarik lembaran tisu. Aku bergegas mengelap air yang tertumpah di meja.


Lalu, aku menatap Mei yang diam. Aku memperhatikan ekspresi wajahnya yang bengong lalu perlahan berubah jadi terbentuk senyuman di wajahnya. "Wuaww! Kau sangat mengejutkanku, Rhama."


"Kau pasti bercanda, Rhama," ucapnya dengan yakin.


"Kau ingin mengakhiri hubungan kita yang sekarang ... karena, kau ingin hubungan yang baru kan?"


Aku diam, masih menatapnya.


"Kau ingin kita mengakhiri hubungan ini. Kau ingin kita berhenti pacaran ... Kau ingin kita bertunangan?"


Aku tersentak kaget mendengar ucapannya. Sedangkan, ia lanjut berkata masih dengan senyumannya, "Tebakanku benar kan? Kau ingin mengejutkanku?"


"Tidak, Mei," ucapku segera. "Aku serius. Aku ingin kita berpisah. Hubungan kita selesai," ucapku tegas.


"Apa kau... serius?" tanyanya. Aku mengangguk.


Mei kembali langsung terdiam, tercengang, matanya membola. Lalu, bibirnya dengan spontan bergumam, "Tidak mungkin."


Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak mungkin."


"Apa yang membuatmu ingin mengakhiri semuanya, Rhama?" Matanya memburuku. "Apa aku melakukan kesalahan?"


"Tidak, Mei. Tidak," jawabku. "Kau sangat baik. Kau tak bersalah apapun padaku."


"Lalu, mengapa?" Matanya mulai tampak berkaca-kaca.


"Akulah yang salah, akulah yang tidak baik," ucapku. "Kau sangat baik. Karena itu, aku tak ingin meneruskan hubungan ini. Aku tak ingin kau terluka. Aku tak ingin hanya memberikan harapan palsu padamu. Kau layak untuk mendapatkan cinta yang lebih tulus."


Air mata Mei kini sudah menetes dan aku hanya bisa berkata, "Maafkan aku, Mei!"


"Maafkan aku!"


"Kau sudah berjanji pada Ibu untuk tidak menyakitiku, Rhama," ucapnya dengan suara bergetar.


"Aku sangat tidak ingin menyakitimu, Mei. Karena itu, aku ingin kita sudahi hubungan ini."


"Apa maksudmu, Rhama? Kau mengejarku, membuatku naik setinggi-tingginya. Kau melambungkanku... agar aku memberikan hatiku. Lalu, setelah mendapatkannya... kau segera menjatuhkanku, menghempaskanku, mencampakkanku begitu saja. Kau keterlaluan, Rhama. Ternyata kau hanya ingin mempermainkan perasaanku."

__ADS_1


Aku terdiam, melihat deraian air mata di wajah Mei. Ia kembali berkata, "Aku tak bisa memaafkanmu."


"Aku tak ingin mempermainkanmu, Mei. Itu tak seperti yang kau pikirkan."


"Kau membuangku, kau mencampakkanku," tegasnya. "Apa alasannya? Apa yang membuat kau ingin kita putus?"


"Hehh, kau menyukai gadis lain?" tanyanya dan bibirku bergetar, namun tak mampu mengeluarkan jawaban apapun padanya. Aku menundukkan wajahku.


"Karena Mimi kan?" tebakan Mei membuatku segera mengangkat wajahku, menatapnya. Aku kaget. 'Darimana Mei tahu?' pikirku.


"Hanya karena gadis urakan seperti dia kau mencampakkanku, Rhama. Gadis bodoh, tidak jelas...."


"Jangan berkata seperti itu tentang Mimi!" ucapku segera.


"Mengapa?" ucap Mei, namun aku diam. "Hahh... ternyata benar dugaanku. Kau suka pada Mimi. Kau tidak suka aku menghinanya, bukan?"


"Dia tidak salah. Akulah yang salah, Mei. Maafkan aku...."


"Kau egois, Rhama," ucap Mei. "Kau mengakhiri hubungan ini hanya karena kau ingin lepas dariku untuk bisa bersamanya, bukan?" Lagi-lagi aku terdiam menatapnya. Ucapannya begitu menikam di hatiku.


"Ini tak adil untukku. Kau akan berbahagia dengannya. Lalu, apa yang kudapatkan dari semua ini? Hanya luka, sakit hati, kekecewaan, kesedihan." Perkataan Mei semakin membuatku merasa bersalah.


"Tidak." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. "Tidak. Aku tidak bisa, Mei," tegasku.


Mei kembali menitikkan air matanya. "Maafkan aku, Mei. Aku bisa melakukan hal lain untukmu, tapi aku benar-benar tak bisa melanjutkan hubungan kita ini." Aku berkata dengan begitu serius.


Mei terlihat begitu terluka dan shyok. "Melakukan hal lain?" gumamnya. "Pegang ucapanmu, Rhama! Suatu hari aku akan menagihnya."


"Kupastikan kau akan menyesal karena sudah mencampakkanku," ucap Mei. Lalu, ia berdiri, meraih tasnya, dan segera pergi meninggalkanku di restoran. Aku terdiam dan tak mengejarnya sama sekali.


Mei segera pulang dengan menaiki taksi. Ia menangis di sepanjang perjalanan pulang. Sedangkan, aku di sepanjang perjalanan pulang benar-benar merasa bersalah pada Mei.


Aku jadi teringat pada momen saat pertama kali bertemu dengannya. Dia gadis yang sangat baik dan manis. Berbulan-bulan aku mengejarnya, hampir setahun. Benar-benar tak kusangka akan berakhir seperti ini. Aku menjadi pria buruk dalam hidupnya dan menyia-nyiakannya.


Setelah sampai di rumah aku memandangi kotak kecil berpita yang tadi diberikannya padaku. Perlahan aku membukanya. Tampak di dalamnya coklat berbentuk hati tersusun dengan rapi. Aku semakin merasa bersalah padanya. Sehingga, aku segera menutup kembali kotak itu.


Sementara itu, di saat yang sama Mei memandangi toples kaca di atas meja belajarnya. Kemarin ia baru saja mengisi toples itu dengan coklat berbentuk hati. Mei teringat saat di dapur ibunya kemarin bertanya, 'Apa yang sedang kau lakukan, Mei? Biasanya kau tidak pernah memasak.'


'Aku hanya membuat coklat, Bu,' ucap Mei sambil menuangkan coklat ke dalam cetakan berbentuk hati. 'Aku membuat coklat untuk Rhama.'

__ADS_1


'Wuahh, Ibu jadi sangat iri pada Rhama.' Ibu Mei tersenyum dan mengusap-usap kepala anaknya. Lalu, ia memperhatikan tangan Mei yang sedikit terluka.


'Mengapa tanganmu?' tanyanya.


'Oohh, tidak apa-apa. Tak sengaja tersenggol panci panas tadi,' jawab Mei dan ibunya tampak sangat khawatir.


Mei meraba tangannya yang masih terdapat luka karena membuat coklat kemarin. Ia lalu mengambil toples coklat di hadapannya dan segera membantingnya. Pecahan kaca dan coklat pun bertebaran di lantai.


"Aku benci kamu, Rhama!" ucapnya dan diiringi air mata.


...****************...


Esoknya Mei tak masuk sekolah tanpa berita dan tak mengirim surat. Sehingga, aku mengirim pesan padanya saat jam istirahat.


"Apa kau baik-baik saja, Mei? Mengapa tidak sekolah?" Kutulis pesan via BBM.


Pesan itu sampai di ponselnya. namun tak dibaca oleh Mei. Sepertinya ia benar-benar marah padaku. 'Semoga kemarahannya tidak lama,' doaku dalam hati.


Tiba-tiba Ken bertanya padaku, "Mengapa Mei tidak masuk hari ini?"


"Aku tidak tahu," jawabku singkat.


"Hehh, bagaimana bisa kau tidak tahu? Kalian dua sejoli kan? Biasanya pergi sekolah bersama. Apa kau tidak menjemputnya hari ini?" Ken begitu kepo.


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku tidak menjemputnya."


"Ooooohhhh, kau pasti sedang ada masalah dengannya." Ken menarik kesimpulan sendiri. "Aku yakin sekali kalian sedang punya masalah."


"Hahhh...." Aku menarik nafasku dan sedikit menggeleng. Lalu, aku segera bangkit dari tempat dudukku untuk meninggalkan Ken. Aku tak ingin berbincang lebih lama dengannya. Dia laki-laki, tapi bibirnya sangat suka bergosip seperti para gadis. Aku tak mau berita tentangku dan Mei merebak di sekolah.


Karena itu, aku segera melangkahkan kakiku ke luar kelas saat ini. Aku berjalan di koridor depan kelas Mimi dan aku melihatnya ada di dalam kelas. Ia duduk di bangkunya, sedang mengerjakan soal dan tampak sangat bersungguh-sungguh.


Langkahku terhenti. Aku menatapnya dari jauh. 'Dia memang tidak pintar, tapi dia kelihatan sangat berusaha dalam belajar,' pikirku.


Sementara itu, ternyata seseorang juga sedang mengawasiku dari belakang. "Hoh, ternyata cinta segitiga," gumam Ken pelan sambil memperhatikan gelagatku.


Lalu, tiba-tiba Reno datang dan langsung masuk ke kelas Mimi. Dia mendekat ke bangku Mimi. Aku langsung melotot seketika dan geram. "Untuk apa dia ke sini?"


"Hah, ternyata cinta segiempat." gumam Ken lagi hingga terdengar ke telingaku.

__ADS_1


Aku membalikkan badan dan dia langsung melarikan diri dari pandanganku. Sedangkan, Reno masih berada di dalam kelas Mimi dan membuat perasaanku sungguh terbakar.


__ADS_2