Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Tidak Waras


__ADS_3

"Berhenti berkelahi di depan rumah ini! Ini bukan ring tinju. Cari tempat lain untuk berkelahi!" Lelaki dewasa itu terlihat emosi dan mengusir kami.


"Pak, sudah Pak!" ucap wanita di belakangnya. "Tidak usah ikut campur urusan anak-anak berandalan. Kita pergi saja, nanti terlambat."


Aku dan Reno cukup kaget dengan kehadiran mereka berdua. 'Lelaki dan wanita ini... apa mereka paman dan bibi Mimi?' batinku segera. Karena, kulihat pintu rumah Mimi terbuka dan mereka berada di halaman rumah Mimi. Ini menandakan sepertinya mereka baru saja keluar dari dalam rumah Mimi.


"Pergi sana! Jangan buat keributan di sini!" Lelaki itu mengusir kami dengan lantang.


Suaranya cukup keras membuat Mimi bergegas muncul di ambang pintu rumahnya. "Paman, ada apa?" tanyanya segera.


Kulihat ia sudah berseragam sekolah lengkap dan dugaanku benar. Ia memanggil lelaki itu dengan sebutan 'Paman'. Dan, wanita itu pasti bibinya.


"Rhama!" Nada suara Mimi terdengar seperti terkejut. "Reno!" ucapnya lagi.


Ia bergegas turun ke halaman rumahnya dan bibinya segera bertanya, "Kamu mengenal mereka? Apakah mereka adalah temanmu?"


Mimi mengangguk. "Iya, Bi."


"Paman tidak suka teman-teman kamu ini pagi-pagi membuat masalah di sini," ucap paman Mimi. "Suruh mereka pergi!"


Mimi pun langsung menanggapi dan berkata, "Pergilah! Untuk apa kalian berdua pagi-pagi datang ke sini? Berkelahi, membuat masalah."


"Aku menjemputmu untuk pergi sekolah," ucap Reno.


"Aku juga," ucapku segera. Seketika mulut paman dan bibi Mimi jadi ternganga.


"Ikutlah bersamaku!" ajak Reno.


"Tidak, denganku saja! Lebih aman denganku. Dia berandalan."


"Apa kau bilang? Beraninya kau!" Aku dan Reno kembali beradu mulut dan tersulut emosi.


"Sudah hentikan!" ucap Mimi segera. "Aku bisa pergi sendiri. Kalian berdua pergilah! Tak perlu mengantarku sekolah." Ia menolak dengan tegas.


"Tidak aman bagimu jika kau pergi sendiri," ucapku spontan.

__ADS_1


"Ya, preman itu bisa saja menyakitimu," ucap Reno. "Ikutlah denganku! Aku akan memastikanmu aman sampai di sekolah."


"Tidak!" selaku segera. "Aku yang akan mengantarnya ke sekolah."


"Tidak aman bagimu naik motor ugal-ugalan. Lebih aman naik mobil bersamaku," ucapku pada Mimi.


"Aku akan jalan kaki," tegas Mimi. "Pergilah dari sini!"


"Tidak, aku tetap di sini," ucap Reno bersikeras. "Aku akan memastikanmu selamat sampai di sekolah. Jika kau tak mau kuantar, maka aku akan menggiringmu berjalan sampai ke sekolah."


"Aku juga," sahutku tak ingin kalah dari Reno.


"Hhhhhhh... mengapa kalian begitu menyebalkan?" gerutu Mimi dengan kesal. Ia bergegas membalikkan badan, menghadap paman dan bibinya yang ternyata terbengong menatap kami.


Dari ekspresi mereka kulihat Paman dan bibinya sepertinya benar-benar tidak menyangka kami berdua berebut ingin mengantar Mimi. Mereka hanya terdiam, tidak bisa berkata-kata.


"Paman," ucap Mimi tiba-tiba. "Tolong antarkan aku pergi ke sekolah!"


"Hahhh!" desah bibinya karena cukup terkejut.


"Kali ini saja," pinta Mimi.


Di saat yang bersamaan bibinya berkata, "Bukankah kita tidak searah Mimi? Paman dan bibi harus segera berangkat untuk membuka toko."


Aku cukup terkejut mendengar ucapan bibinya. Ia langsung menolak secara halus. Tak kusangka ia tak memihak pada Mimi sedikitpun.


"Paman sekali ini... saja aku minta antar padamu," pinta Mimi lagi dan pamannya hanya diam.


"Aku akan segera mengambil tasku dan mengunci pintu," ucap Mimi kemudian sambil bergegas masuk ke rumahnya diiringi dengan teriakan aku dan Reno. "Mimi!"


'Hahhkh! Dia keras kepala," gerutuku dalam hati.


Tak lama Mimi pun muncul dan mengunci pintu rumahnya dari luar. "Ayo paman!" ucapnya sambil turun dari teras.


Bibinya dengan wajah cemberut terpaksa melepaskan helm yang sudah terlanjur ia pakai. Lalu, ia memberikannya pada Mimi tanpa senyum sedikitpun. Sementara itu, aku dan Reno tetap saja berebut ingin mengantar Mimi.

__ADS_1


"Mimi ikut aku saja!" ucapku.


"Ikut aku saja, Mimi!" pinta Reno.


Namun, dengan mantap Mimi tak memilih salah seorang pun dari kami berdua. Ia segera duduk di atas jok motor bebek pamannya. "Ayo kita berangkat, Paman!" ajak Mimi dan motor pun melaju.


"Haakkkhhh! Siall!" gerutu Reno dengan kesal sambil mengayunkan kakinya seolah menendang. Lalu, ia menatapku tajam sambil naik ke atas motor dan menghidupkannya.


"Ngauuungggg! Ngaunggg! Ngaungggggg!" Ia mengegas motornya dengan penuh kemarahan. Lalu, "Ngeeeeeeeeengggggg...." Ia menjalankan motornya dengan kencang meninggalkanku dan bibi Mimi.


"Hooohhh... dia sepertinya anak nakal," ucap bibi Mimi dengan arah pandangan pada Reno yang memacu kencang motornya.


"Tak kusangka kalian memperebutkan Mimi," ucapnya lagi dan kali ini ucapannya membuatku menoleh.


"Anak itu merepotkan saja. Kami jadi akan terlambat membuka toko. Padahal, pagi-pagi seperti inilah toko diserbu pembeli. Jika belum buka, maka pembeli akan lari ke toko lain," oceh bibi Mimi dan benar-benar tak kusangka ia akan berkata seperti itu.


"Ini semua karena kalian berebut ingin mengantarnya."


Aku hanya diam.


"Sebenarnya apa yang kalian lihat dari Mimi hingga ingin memperebutkannya? Dia itu pembuat masalah."


Aku tetap diam dan bibinya lanjut berkata, "Apalagi kamu. Dengan tampangmu, kamu bisa mendapatkan gadis yang lebih segalanya dari Mimi. Untuk apa repot-repot mengejarnya? Pagi-pagi membuat huru-hara di sini... hanya untuk memperebutkan gadis seperti Mimi. Kalian berdua sudah tidak waras. Seperti tidak ada gadis lain di dunia ini."


Dari semua kalimat yang terlontar dari bibirnya aku bisa menyimpulkan. 'Ternyata dia tidak menyayangi Mimi,' batinku. Aku sangat terkejut mengetahui kenyataan ini. Ternyata Mimi selama ini tinggal dan hidup bersama orang-orang yang tidak menyayanginya, tidak menginginkannya. Paman dan bibinya seperti tidak peduli padanya.


Aku jadi kesal mendengar ucapan bibinya. Sehingga, aku pun berkata, "Aku memang sudah tidak waras, Bi... karena Mimi yang sudah membuatku tergila-gila padanya."


Detik itu juga mata bibi Mimi melebar dan mulutnya menganga. Entah itu ekspresi shyok atau ekspresi tak percaya, aku tak peduli dan tak ingin mendengar ocehannya lagi. Aku bergegas masuk ke mobilku dan menyalakannya untuk segera menuju ke sekolah.


Di sepanjang perjalanan aku terngiang-ngiang dengan ocehan bibinya. 'Anak itu merepotkan saja... Dia itu pembuat masalah.'


'Mereka sama sekali tak peduli padanya,' batinku. 'Dia tidak mendapatkan kasih sayang, bahkan dari orang yang membesarkannya.'


'Bagaimana bisa dia hidup seperti itu?' Aku benar-benar merasa terharu pada jalan hidup Mimi dan entah mengapa keinginan untuk berada di sisi Mimi semakin kuat menggebu di dadaku.

__ADS_1


'Aku akan membahagiakanmu Mimi. Aku tidak akan menyia-nyiakanmu. Kamu gadis polos dan unik yang aku kenal. Kamu telah menculik hatiku tanpa kamu sadari.'


'Aku ingin selalu berada di sisimu.'


__ADS_2