Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Seperti Mumtaz Mahal


__ADS_3

Aku masih takjub dan sulit percaya dengan sikap gadis cerewet yang memaafkanku dan memperbolehkan aku masuk ke rumahnya. Selain itu, aku benar-benar tak menyangka ia bisa memasak. Ternyata, ia punya sisi wanita. Kupikir dia seperti pria. Dan, lebih benar-benar tak kusangka lagi tak lama kemudian ia muncul kembali di hadapanku dengan nampan berisi 2 piring, semangkuk besar nasi, 2 cangkir, dan sebotol air putih. Kemudian, ia pergi lagi ke dapurnya dan kembali lagi dengan membawa masakan yang ia buat.


Aku terdiam, tercengang melihat tindakannya. 'Apa aku tidak salah lihat?' pikirku. 'Gadis cerewet menyajikan makanan untukku. Seperti mimpi saja,' gumamku dalam hati. Sangat sulit untuk kupercaya ia melakukan semua itu. Aku menatap wajahnya heran.


“Apa yang kau lihat?” ucapnya ketus. “Ayo makan!”


Aku mendadak curiga padanya. Sebenarnya aku tak ingin mengatakannya. Tapi, aku harus mengatakan, “Apa kau ingin meracuniku?”


Matanya melotot besar sekali ke arahku. “Dasar pria bodoh! Jika makanan ini beracun, maka aku juga akan mati karena ikut memakannya.”


'Benar juga,' pikirku. 'Mana mungkin ia akan meracuni makanan yang juga akan ia makan,' pikirku lagi.


Karena itu, aku pun mulai berani memasukkan nasi ke piringku. Lalu, aku memperhatikan masakan yang dibuatnya. Telur dadar yang baunya menyengat harum sekali, daun selada yang dijadikan lalapan, dan semangkuk saus oranye yang baru pertama kali ini kulihat.


“Ini saus apa?” tanyaku karena merasa aneh.


“Itu bukan saus,” ucap gadis cerewet itu.


“Apa ini krim? Tapi, aromanya menusuk sekali,” ucapku.


“Kau ini pura-pura bodoh atau benar-benar bodoh?” umpatnya. “Mana mungkin kau tidak tahu ini sambal tempoyak.”


“Apa? Sambal tempoyak,” ucapku heran.


Gadis cerewet itu tak menggubris ucapanku. Sepertinya ia kesal padaku.


“Aku baru pertama kali ini melihatnya. Ibuku tak pernah memasak masakan seperti ini seumur hidupku,” ucapku lagi. “Ibuku sangat tidak suka tempoyak,” lanjutku.


“Ya sudah … jika tidak suka, tidak perlu dimakan.” Ia menarik mangkuk sambal itu dari hadapanku.


“Hei ….” Aku spontan menyentuh pergelangan tangannya untuk mencegah ia menarik mangkuk itu.


Ia mendadak menatapku begitu tak senang. “Singkirkan tanganmu!” ucapnya dengan keras.


“Maaf,” ucapku sambil lekas menarik tanganku. “Aku tak bermaksud menyentuh tanganmu,” jelasku. “Aku hanya tidak ingin kau mengambil mangkuk itu.”


“Aku ingin mencoba rasa sambal tempoyak itu,” ucapku.


“Hmmh ….” Ia menghela nafasnya seraya menatapku. “Makanlah!” ucapnya sambil menyodorkan mangkuk itu padaku.


Aku pun segera mengambil nasi dan memasukkan sambal tempoyak ke piringku.

__ADS_1


“Rasanya lezat sekali,” pujiku segera begitu menyantapnya. “Ada rasa manisnya, asin, asam, pedas ... bercampur jadi satu menciptakan rasa yang hmmmhhh... Aku belum pernah makan ini seumur hidupku.” Aku makan dengan lahap.


“Telur dadar, nasi hangat, sambal tempoyak, dan lalapan ini sungguh menu yang pas, klop. Perpaduannya membuat selera makanku semakin bertambah. Aku belum pernah menemukannya di restoran mana pun,” pujiku sambil terus mengunyah.


“Meskipun menunya sederhana, tapi sungguh membuat mulut ingin terus makan, tidak mau berhenti.”


“Ya, juga membuat mulutmu tidak mau berhenti bicara sejak tadi,” ejeknya. “Tutup mulutmu dan habiskan dulu makanannya! Setelah itu baru bicara,” ucapnya ketus.


“Hmm.” Aku terus mengunyah. “Enak sekali.”


Aku menambah nasi berkali-kali hingga tiga piring dan ia terus memandangiku seperti melihat orang yang sedang kelaparan.


“Kau ini rakus sekali,” ejeknya.


“Kau pintar memasak,” pujiku untuk membalasnya.


“Tidak,” ucapnya segera. “Aku tidak pintar memasak. Sambal tempoyak masakan yang mudah. Setiap orang bisa memasaknya.”


“Benarkah?” ucapku. “Jika begitu, catatkan resepnya untukku. Aku ingin mencoba membuatnya di rumah.”


“Untuk apa aku membagi resepnya padamu?” gumamnya sinis.


“Tolong catatkan saja! Sebagai gantinya aku akan memberikan hadiah untukmu.” Aku berusaha merayunya.


“Oya, aku kan belum memberikan hadiah ulang tahun padamu,” seruku tiba-tiba. “Aku hampir lupa.”


"Tidak perlu," ucapnya segera. "Kau sudah memberikan aku kue." Ia tetap saja ketus.


“Kau ingin apa? Katakan padaku! Aku akan berusaha memberikannya untukmu,” ucapku lagi.


“Tidak perlu,” tegasnya lalu segera membereskan piring-piring dan sisa makanan.


“Hei, kau tak perlu malu. Aku serius akan berusaha memberikannya untukmu. Anggap saja sebagai hadiah ulang tahunmu, tanda permintaan maafku telah merusak kertas nomor ponsel, dan tanda terima kasih jika kau mencatatkan resep sambal tempoyak untukku.” Aku berusaha meyakinkannya.


“Katakan saja! Apa yang paling kau inginkan?” Ia diam saja.


"Apa yang paling kau inginkan selama ini, tapi kau tak bisa memperolehnya sampai saat ini? Ayo katakan! Aku akan memberikannya untukmu."


“Kau tidak akan sanggup memenuhinya,” tegasnya.


"Hehh, jangan meremehkanku!" Jiwaku merasa tertantang mendengar ucapannya. "Aku serius."

__ADS_1


"Kubilang kau tidak akan sanggup," ucapnya lagi dengan agak kesal.


“Tidak sanggup memenuhinya....” gumamku. “Hmmmm … memangnya apa yang kau inginkan?” Aku


menjadi begitu penasaran.


Ia terdiam dan aku kemudian meledeknya, “Haaaahh… kau pasti ingin punya banyak uang.” Ia tetap saja terdiam. Aku pun berkata lagi, “Kau ingin jadi populer?” Namun, ia tetap terdiam. “Kau ingin jalan-jalan ke luar negeri? Kau ingin bertemu dengan artis? Kau ingin naik haji?” tebakku.


“Atau… jangan-jangan kau ingin operasi plastik supaya mirip seperti Barbie? Hahahaha….” Aku berkata diiringi gelak tawaku sendiri.


“Aku ingin … menjadi seperti Mumtaz Mahal,” ucapnya kemudian tiba-tiba dengan wajah serius.


“Hpp … Hpp … Hmmmpphh … Hahahahahahahaha....” Tawaku pecah seketika meskipun aku sudah berusaha menahannya.


“Hahahaahahahahahhahaha .... Kau ini lucu sekali,” ucapku.


“Mana ada raja yang akan membangun Taj Mahal untukmu,” ejekku. "Hahahahahahhaaa...."


“Jika dipikir-pikir, kau ini juga matre,” ejekku lagi. “Berharap seorang pria kaya akan membangunkan sebuah istana untukmu. Hahahahahahahahaa….” Aku terus menertawainya.


“Terserah kau ingin menertawakanku," tegasnya. "Kedengarannya mungkin memang konyol.” Ia tampak benar-benar tak senang dan aku langsung terdiam.


“Sejak dulu aku hanya berpikir betapa beruntungnya Mumtaz Mahal,” ucapnya dengan serius. “Ada seorang pria yang benar-benar sangat mencintainya dan ingin terus mengenangnya meskipun dia sudah tidak ada di dunia lagi. Betapa beruntungnya dia.”


“Aku tidak berharap kelak akan ada pria kaya raya membangunkan sebuah istana atau pun rumah untukku. Aku tidak berharap seperti itu. Aku hanya berharap bisa seperti Mumtaz Mahal, dicintai dengan begitu dalam dan luar biasa. Hingga saat ia sudah meninggal pun, sang raja begitu ingin terus mengenangnya, terus larut dalam cintanya. Aku ingin seperti itu. Aku ingin ada orang yang menganggapku benar-benar penting dan sangat berarti dalam hidupnya.” Gadis cerewet tampak menahan air matanya yang hampir jatuh.


Entah mengapa aku pun ikut merasa sedih. Tak bisa kubayangkan jika aku menjadi dirinya. Ia memang kekurangan kasih sayang. Tak ada yang mempedulikannya atau memberikan perhatian padanya. Namun, ia selalu berusaha untuk tegar dan mandiri.


“Kau tahu bagaimana rasanya jika kau hidup di dunia, tapi tak seorangpun menginginkan kehadiranmu?” gumamnya.


“Tak seorangpun menginginkanku di dunia ini,” tegasnya. “Apa kau tahu bagaimana rasanya?” Aku diam tak mampu menjawab.


“Kau tak akan pernah tahu,” jawabnya. “Karena, setiap orang menginginkanmu,” ucapnya sebelum pergi meninggalkanku sendirian di ruang tamu.


Aku terdiam, tak tahu harus bagaimana. “Hmmh.” Lagi-lagi aku berbuat salah padanya. Aku menyesal sekali telah menertawakannya. Padahal, aku ke rumahnya berniat meminta maaf. Tapi, sekarang aku sudah berbuat kesalahan lagi. “Aku memang benar-benar bodoh,” gumamku.


Lalu, tak lama kemudian, “ Ngeeeeeeeeenggggg ….”


Aku tak asing lagi mendengar suara motor itu. Aku bergegas menoleh ke luar pintu untuk melihat siapa yang datang.


'Reno … sudah kuduga,' batinku.

__ADS_1


__ADS_2