
Aku menghentikan mobilku tepat di depan rumah Mimi. Untuk sejenak aku terdiam. 'Maafkan aku, Mama!' ucapku dalam hati. Lalu, aku turun dari mobil.
Aku mengetuk pintu rumah Mimi. Tak lama ia datang untuk membukakan. Lalu, ia berkata, "Rhaama?" Ekspresinya agak heran.
"Ada apa? Apa kau mencariku?" tanyanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Aku sedikit grogi. Aku tak ingin ia menganggap aku mengejar-ngejar dirinya, walaupun sebenarnya begitulah kenyataannya. Aku tak ingin ia besar kepala dan menertawakanku karena setahuku dia tak merasakan perasaan apapun padaku.
"Mengapa kau ke sini?" tanyanya lagi.
"Kau jangan ge-er ya!" ucapku. "Tadi di jalan aku merasa ingin buang air kecil dan kebetulan aku berada di jalan tak jauh dari rumahmu. Jadi, aku mampir hanya untuk menumpang buang air kecil." Aku tak punya alasan yang bisa kukatakan padanya selain alasan ingin buang air kecil.
"Hahhh??" Itu ekspresi pertama yang kudengar dari bibirnya. Kemudian, dilanjutkan dengan ocehan, "Apa kau pikir rumahku ini toilet umum?"
Aku terdiam. Aku tak punya alasan lain. Sementara itu, dia memperhatikanku yang terdiam kaku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Lalu, ia berkata dengan ketus, "Ya sudah, masuklah!"
Aku menggiringi langkahnya masuk ke dalam rumah melalui ruang tamu dan tiba di ruang keluarga. Ada tiga pintu di sana. Salah satu pintu kulihat berwarna putih dan tergantung tulisan 'MyRoom'. Pintu lainnya berwarna coklat dan pintu yang satunya lagi adalah pintu toilet.
Ia berhenti di depan pintu itu sambil berkata, "Ini toiletnya. Jangan lupa untuk menyiramnya dengan bersih!"
"Hahh, kau cerewet sekali," gumamku lalu melangkah masuk ke dalam toilet yang ternyata begitu bersih dan mengkilat.
"Wuawww!" ucapku dalam hati saat sudah menutup pintu toiletnya. 'Mimi memang gadis yang rajin,' batinku. 'Walaupun sederhana, toiletnya bisa sebersih ini.'
Lalu, mataku menangkap beberapa botol yang terpajang di atas rak toilet. Aku penasaran shampoo dan sabun apa saja yang dia pakai selama ini?
'Shampoo pria,' batinku geli. 'Pencuci wajah pria.' Mataku mengamati semua benda di atas rak toilet itu. 'Sikat gigi dan odol standar. Sabun standar. Tak ada conditioner, tak ada lulur, tak ada produk perawatan lainnya.'
'Hmmhh... Dia tidak suka merawat diri,' gumamku dalam hati. 'Pantas saja penampilannya urak-urakan.' Aku tersenyum-senyum sendiri.
Tak lama kemudian aku keluar dari toilet. Saat aku membuka pintu kulihat Mimi baru saja keluar dari pintu putih yang tadi kami lewati. Ia kemudian menutup pintu bertuliskan 'MyRoom' itu dengan sangat rapat.
'Itu pasti kamarnya,' batinku.
Entah mengapa aku jadi begitu penasaran ingin melihat seperti apa bentuk isi kamarnya. 'Apa warna catnya? Apakah tak ada satupun produk kecantikan di kamarnya? Atau jangan-jangan juga tak ada meja rias di kamarnya.'
__ADS_1
Aku terus memandangi pintu putih itu. 'Apakah kamarnya berantakan? Atau rapi?' Aku penasaran sekali.
"Berhentilah melamun! Jika kau sudah selesai dari toilet, cepatlah keluar dari rumahku!" usirnya. "Nanti orang-orang sekitar berpikir macam-macam tentang kita."
"Hmmmmhhhhhh...." Aku sedikit mendengus. 'Lagi-lagi ia mengusirku.' Namun, meskipun begitu aku tak tersinggung sama sekali. Aku tahu dia gadis yang baik dan sangat menjaga jarak dengan pria. Itu salah satu poin yang membuatku semakin suka padanya. Dia tidak murahan.
"Sebenarnya apa tujuanmu ke sini?" Ia bertanya saat aku sudah sampai ke teras, keluar dari rumahnya.
"Aku hanya ingin melihatmu," jawabku santai.
Dia terdiam dan mendadak menatapku dengan ekspresi bengong. "Kau aneh," celetuknya kemudian.
"Haahhh... kita hari ini pulang lebih awal. Aku tak punya kegiatan. Jadi, aku putuskan untuk mampir ke sini," ucapku.
Dia menekuk keningnya. "Kau tak punya kegiatan. Lalu, mengapa harus ke sini merepotkanku? Aku punya banyak kesibukan," omelnya.
"Kesibukan apa?" tanyaku. "Akan aku bantu."
"Tidak, terima kasih. Kau hanya akan menggangguku. Pulanglah ke rumahmu! Aku tak ingin melihatmu lagi di sini."
"Ya." Ia mengangguk dengan begitu pasti.
"Baiklah, aku akan pergi," ucapku.
"Silakan!" ucapnya lalu ia membalikkan badan, masuk ke rumah, menutup pintu, dan segera menguncinya.
"Keterlaluan," gumamku lalu aku turun dari terasnya dengan kesal, berjalan menuju mobilku yang terparkir di sisi jalan.
Tapi, belum sampai ke mobil aku berbalik. "Aku tak terima dia mengusirku. Tamu adalah raja," ocehku. Aku kembali berjalan menuju teras rumahnya.
"Dukk! Dukk! Dukk!!" Aku mengetuk pintu rumahnya dengan keras. "Dukk! Dukk! Dukkk!"
"Ada apa lagi?" ucapnya begitu membuka pintu.
"Tak bisakah kau menghargai kedatanganku sedikit saja?" Aku kesal.
__ADS_1
"Mengapa kau begitu sewot?" Ia balik bertanya.
"Jika kau tak punya kesibukan, jangan menggangguku!" ucapnya. "Memangnya tidak ada orang lain yang bisa kau ganggu? Mengapa kau selalu menggangguku?"
"Hehh, Aku tak ingin mengganggumu," jawabku segera. "Aku hanya ingin bertemu denganmu." Aku terceplos.
"Untuk apa?" tanyanya dan aku sekarang terdiam.
Kemudian, aku berkata, "Apakah dalam dua hari terakhir ini kau tidak merasa ada sesuatu yang hilang?"
"Hilang?" gumamnya. "Seingatku barangku tidak ada yang hilang." Ia menjawab dengan begitu polos.
'Hiiiiiiiihhhhh....' Ucapannya membuatku menjadi geregetan. Dia sama sekali tak menalar dengan apa yang aku maksud. Dua hari terakhir ini aku tak menemuinya, tak mencarinya, berusaha menjauhinya. Tidakkah dia merasa ada sesuatu yang berbeda, ada sesuatu yang hilang?
"Apa kau menemukan barangku tercecer?" tanyanya dan itu membuatku semakin geram.
"Aku tidak menemuimu selama dua hari terakhir." Aku memperjelasnya dengan lugas. "Apa kau tidak merasa ada yang aneh?"
"Biasa saja," jawabnya dengan santai. "Memangnya kita harus bertemu setiap hari?"
Aku menggigit bibirku dengan kuat karena geram padanya. Aku berjuang untuk menjauhinya selama beberapa hari terakhir dengan penuh kesulitan. Sedangkan, ia tak merasakan apapun.
"Jawab dengan jujur! Apa kau benar-benar tak merasakan perasaan apapun padaku?" tanyaku dengan kesal.
Mimi menatap wajahku bulat-bulat sambil melongo dan bergumam, "Apa maksudmu?"
"Tidak usah basa-basi. Sebenarnya kau suka padaku tidak?" Entah mengapa aku jadi begitu agresif.
Dan, dia tersenyum lalu terkekeh. "Kau ge-er sekali. Kau berharap aku menyukaimu seperti gadis-gadis lain."
"Mengapa tidak?" ucapku segera. Aku berusaha menutupi perasaan gugupku dengan sikap sok percaya diri.
"Kau gila," ejeknya. "Tidak semua wanita suka padamu. Lagipula, mengapa aku harus suka padamu?"
"Karena, aku suka padamu." Ucapan itu meluncur begitu saja dari mulutku, membuat mulutnya yang sejak tadi terus bicara jadi diam seketika.
__ADS_1
Hening. Tatapan mata kami saling bertemu. Lalu, entah mengapa seketika ia jadi kikuk, melangkah mundur. Dalam hitungan detik ia langsung masuk ke dalam rumahnya. Tanpa berkata-kata apapun lagi ia mungunci pintu rumahnya dari dalam, meninggalkanku sendiri yang terbengong di teras.