
Aku dan Mei pun meninggalkannya sendirian di depan kelas. Bahkan, aku tak menolehkan sedikitpun lagi wajahku untuk melihatnya. Sehingga, aku sama sekali tak bisa melihat gurat kesedihan di matanya. Ia menggigit bibirnya begitu kuat untuk menahan kecewa.
Sementara itu, aku malah merekahkan bibirku saat membukakan pintu mobilku untuk Mei. Aku tak peduli pada perasaan gadis cerewet itu. Aku terlalu senang dengan suasana yang aku alami saat ini.
Seperti mimpi rasanya bisa mengantar Mei pulang. Tapi, ini kenyataan. Aku dan Mei berada dalam mobil yang sama. Aku mengemudikan mobilnya dan ia duduk di sampingku. Rasanya aku bahagia sekali dan ingin lebih lama lagi bersama Mei.
Tapi, tanpa terasa mobilku telah sampai di depan rumah Mei. 'Houh ... Mengapa cepat sekali sampai?' batinku. Padahal, aku sudah berusaha mengemudikan mobil sepelan mungkin.
“Terima kasih Rhama telah mengantarku pulang,” ucap Mei lalu bergegas ingin turun dari mobilku.
“Mei, tunggu dulu!” Aku mencegahnya untuk segera turun dari mobilku.
“Ada apa?” tanya Mei sedikit heran.
“Hmmm ... hmmm ....” Aku tak bisa berkata apa-apa. Sebenarnya aku ingin mengatakan perasaanku, tapi entah mengapa tiba-tiba tubuhku menjadi berkeringat dingin. Jantungku berdebar sangat kencang, Adrenalinku memuncak. Rasanya begitu sulit untuk mengucapkannya.
“Ada apa, Rhama?” tanya Mei lagi.
“Maukah kau ... hmm, maukah kau ... maukah kau besok aku jemput pergi sekolah?” Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku.
“Baiklah ... aku tunggu besok pagi,” jawab Mei segera. Lalu, ia turun begitu saja dari mobilku.
'Haaaaahh ... Mengapa aku begitu bodoh?' pikirku. “Menyatakan cinta saja tidak bisa,” gumamku. “Bodoh sekali."
Karena itu, begitu sampai di rumah aku langsung menghadap cermin di kamarku. “Mei ... aku mencintaimu,” ucapku.
“Hikhh ... dia pasti akan menganggapku bercanda jika aku berkata seperti itu,” gerutuku.
“Mei ... maukah kau menjadi pacarku?” Aku berkata sambil melihat ekspresiku di cermin. “Kumohon!” ucapku
lagi.
“Hakh, tidak, tidak. Itu terdengar seperti terlalu memaksa.” Aku mengomentari ucapanku sendiri.
“Hmm ... bagusnya seperti apa aku mengungkapkannya, ya?” Aku bergumam sendiri sambil berjalan mondar-mandir di depan cermin. Aku bingung. Otakku bekerja keras, tapi entah mengapa rasanya pikiranku tidak bisa fokus. Aku seakan tiba-tiba menjadi linglung. “Sebenarnya apa yang ingin aku ucapkan?” tanyaku.
Jarum jam terus berdetak, tapi aku tetap tak tahu apa yang harus aku katakan. Hingga akhirnya, aku menatap wajahku di cermin dengan serius dan mulai berkata, “Mei, aku tak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. Tapi, aku sejak dulu sudah mencintaimu, mengagumi, dan menginginkan kau selalu ada di sisiku. Maukah kau jadi pacarku? Maukah kau menerima cintaku?”
Kemudian, aku terdiam setelah mengatakan hal itu. Tak berapa lama kemudian senyum pun terkembang di wajahku. “Kedengarannya bagus,” ucapku memuji kalimat yang baru saja terlontar dari bibirku sendiri.
__ADS_1
“Aku akan mengatakannya seperti itu,” gumamku kemudian.
***
Esoknya ....
“Mei ... aku tak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku,” ucapku. “Tapi, aku sejak dulu sudah mencintaimu,
mengagumimu, dan menginginkan kau selalu ada di sisiku,” lanjutku.
“Maukah kau jadi pacarku?”
Aku menarik nafasku sejenak lalu menghembuskannya.
“Maukah kau menerima cintaku, Mei?” Aku mengakhiri ucapanku.
“Plokk! Plokk! Plokk! Plokk! Plokk!” Suara tepukan tangan segera mengalihkan pandanganku yang sejak tadi terfokus pada cermin.
“Mama,” ucapku terkejut. “Sejak kapan Mama berdiri di depan pintu kamarku?” tanyaku segera.
“Mama sudah mendengar semuanya, Rhama,” ucap mama dengan senyumannya yang begitu ceria. “Tidak perlu takut dan cemas. Mama sudah mengetahui semuanya.”
“Apa maksud Mama?” tanyaku heran.
“Bagaimana bisa?” tanyaku seakan tak percaya.
"Hmm ... Sebenarnya mama kemarin khawatir sekali akan terjadi hal buruk padamu jika mengendarai mobil sendiri.
Hati mama ini tidak tenang, Rhama,” ucap mama seraya meletakkan tangannya di dada.
“Lalu, apa hubungannya dengan Mei?” tanyaku.
“Mama tidak yakin kau bisa mengendarai mobil dengan baik. Karena itu, mama sengaja menunggu di depan pagar
sekolahmu saat jam pulang sekolah kemarin. Mama menunggu di dalam taksi agar kau tidak melihat mama. Lalu, saat mobilmu meluncur keluar dari pekarangan sekolah, mama segera menyuruh sopir untuk membuntutimu. Ternyata, kau tidak langsung pulang ke rumah. Mama penasaran sekali sebenarnya kau ingin pergi ke mana. Jadi, mama terus mengikutimu. Ternyata, kau mengantar pulang gadis yang cantik sekali,” ucap mama. Seketika wajahku menjadi memerah karena malu.
“Mama bangga sekali padamu.” Mama nyaris menitikkan air matanya mengatakan hal itu. “Ternyata, seleramu sungguh berkualitas. Kau memang pria sejati,” ucap mama, sedangkan aku malah terkejut mendengarkan ucapan mama.
“Gadis itu sungguh cantik. Kulitnya putih bersih, mulus, dan kelihatan empuk sekali. Rambutnya coklat seperti warna kayu eboni. Tubuhnya semampai dan begitu langsing. Wajahnya juga manis sekali seperti madu. Benar-benar mengagumkan,” puji mama dengan begitu ekspresif.
__ADS_1
“Namanya Mei,” celetukku.
“Bawakan dia untuk menjadi menantu mama, Rhama,” ucap mama dengan serius.
“Hakh!” Desahku sedikit terkejut. “Apakah ini artinya Mama setuju jika aku berpacaran dengannya?” tanyaku sambil
tak kuasa menahan keceriaan.
“Tentu saja. Mama sangat merestuimu.” Mama menganggukkan kepalanya.
“Tapi, bukankah Mama melarangku berpacaran sampai usiaku 18 tahun?” tanyaku.
“Ini pengecualian, Rhama,” ucap mama. “Mei itu ibarat bibit unggul. Jika kau tak segera mendapatkannya, maka ia
akan segera diambil oleh orang lain. Kau tidak boleh didahului orang lain. Kau harus segera mendapatkannya. Kau harus segera menyatakan perasaanmu padanya.”
“Ya, Mama,” ucapku dengan semangat membara.
“Dia itu sempurna,” lanjut mama. “Keluarganya juga dari kalangan terhormat. Ibunya mempunyai butik yang sangat memukau dan elegan, desain gaun kreasinya luar biasa indah,” cerocos mama.
“Bagaimana Mama bisa tahu semua itu?” ucapku heran. “Aku sendiri saja tidak tahu apa profesi ibunya.”
“Hmm, sebenarnya mama kemarin tidak langsung mengikuti mobilmu pulang usai mengantar Mei,” ucap mama.
“Mama masih sangat penasaran dengan Mei. Tapi, dia sudah masuk ke dalam rumahnya. Jadi, mama hanya bisa
memperhatikan seluruh detil rumahnya yang sangat indah. Rumahnya minimalis, tapi mempesona. Bunga-bunga tumbuh dengan rapi dan terawat. Bunga kamboja jepang termahal yang ingin mama beli dulu itu pun ternyata sekarang ada di halaman rumahnya. Mama ingat sekali detil bunga itu. Jadi, mama yakin sekali itu adalah bunga yang sangat ingin mama beli dulu,” cerocos mama.
“Lalu, apa hubungannya Ma dengan Mei?” tanyaku yang semakin tak mengerti arah pembicaraan mama.
“Itu artinya keluarga Mei benar-benar berselera tinggi Rhama, sama seperti mama.” Sambil tersenyum mama begitu serius dan bangga mengatakannya.
“Haaahhh ....” Aku menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Lalu, tak lama setelah itu Mei keluar dari rumahnya, Rhama,” lanjut mama.
“Ya, aku tahu. Dia pasti ingin les piano,” ucapku.
“Bukan. Dia bukan ke tempat les piano. Dia diantar sopirnya ke sebuah butik yang sangat indah. Mama pikir dia
__ADS_1
ingin belanja. Mama ikut masuk ke dalam butik itu. Mama memperhatikannya sambil melihat-lihat gaun-gaun di sana. Ternyata, ia menemui ibunya yang tidak lain adalah pemilik butik itu.”
Aku terdiam mendengar ucapan mama. Otakku segera berpikir, “Jadi, Mei tidak les piano...."