
"Dasar Pria Bodoh! Mengapa kau masih menungguku di sini?" ucap orang itu dan sontak membuatku tersenyum lebar.
"Kau datang," gumamku penuh haru.
Dari ujung halte Mimi berjalan perlahan mendekatiku. Rambutnya lepek karena basah, pakaian longgarnya pun juga cukup basah.
"Dasar Gadis Bodoh!" ucapku. "Mengapa kau hujan-hujanan? Kau bisa sakit."
"Aku bukan anak manja sepertimu. Aku biasa kehujanan," ucapnya cuek. Padahal, sebenarnya tadi Mimi bisa berteduh lebih dulu. Awal ia berangkat dari rumah tidak turun hujan. Namun, di tengah perjalanan mendadak hujan turun begitu saja. Mimi tidak ingin membuang waktu, ia ingin cepat sampai ke halte untuk memastikan apakah aku masih menunggunya di sana. Sehingga, ia dengan nekat berlari menerobos hujan.
"Kau sendiri... mengapa kau belum pulang? Sampai kapan kau akan menunggu di sini?" tanya Mimi.
Aku tersenyum karena tak bisa menahan bahagiaku lantas aku berkata, "Sudah kubilang aku akan menunggumu. Feelingku tidak salah, akhirnya kau datang."
"Bagaimana jika aku tidak datang, Rhama?" tanyanya. "Aku kira kau sudah pulang sejak tadi."
"Apa kau pikir aku main-main? Aku sangat serius dengan ucapanku. Sudah kubilang aku akan menunggumu."
Tiba-tiba pandangan mata Mimi jatuh pada bunga mawar lecek di lantai yang berada di antara aku dan dia. Ia memungutnya dan aku segera berkata, "Eeeehhh... bunganya sudah rusak. Kau tak perlu memungutnya. Nanti aku bisa berikan yang baru untukmu."
"Apa ini bunga milikmu?" tanyanya.
"Hmmm... ya... awalnya aku mempersiapkannya untukmu. Tapi, sekarang bunga itu sudah rusak," jawabku dengan jujur.
Mimi menatapku yang saat ini sangat canggung dan grogi. "Terima kasih," ucapnya kemudian. "Aku akan menyimpan bunga ini."
"Aaaaa...." Aku jadi gagu dan tanpa kusadari seketika wajahku memerah. "Apa... apa... apa itu artinya kau mau... menerima cin... taku?" Aku berkeringat meskipun saat ini sedang turun hujan.
Jantungku pun juga berloncatan tanpa henti. "Dug! Dug! Dug! Dug! Deg! Dug! Deg!" Aku sangat menantikan jawaban dari bibirnya.
Namun, ternyata ia tak mengatakan apapun. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan itu sudah bisa membuatku langsung loncat kegirangan. "Aku tak salah kan?" tanyaku. "Kau serius menjawab ya?" Aku ingin memastikan.
Mimi kembali mengangguk dan menjawab ya. Saat itu juga rasanya aku lega dan bahagia sekali. Jauh melampaui rasa bahagiaku saat Mei menerima cintaku. Aku begitu terharu dan luar biasa bahagia saat ini hingga ingin menangis. Rasanya aku ingin memeluknya, tapi aku tak boleh melakukan itu. Dia bukan muhrimku. Jadi, aku hanya bisa tersenyum begitu lebar menatapnya.
__ADS_1
Kami berdiri canggung, sama-sama saling tersenyum, bertatapan, dan sedikit grogi. Hanya itu yang kami lakukan saat ini untuk beberapa saat ditemani alunan rintik hujan yang mereda. Bagiku momen ini sangat indah.
Lalu, bunyi keroncongan perutku membuyarkan semua itu. Aku baru ingat aku belum makan siang sejak tadi.
"Apa kau sudah makan?" tanyaku.
"Apa kau belum makan?" Mimi balik bertanya dan aku hanya mengangguk pasrah.
"Bodoh! Kau bisa sakit," ucapnya.
"Kau juga bodoh! Kau juga bisa sakit dan masuk angin karena hujan," balasku. "Bajumu basah. Kau harus cepat ganti baju." Aku mengkhawatirkannya, tak menghiraukan rasa laparku.
"Ayo! Aku antar kau pulang," ucapku dan akhirnya aku mengantarnya pulang.
Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam karena gugup. Tak terasa kami sudah sampai di depan rumahnya. Ia langsung turun dan hanya berkata, "Terima kasih." Tapi, hal itu sudah sangat membuatku begitu bahagia.
"Besok aku akan menjemputmu," ucapku saat dia telah turun dari mobil.
"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri," ucapnya.
...****************...
Pagi-pagi aku sudah siap di depan rumah Mimi. Aku menunggunya keluar dari rumah dan ia terkejut ketika membuka pintu, ia mendapatkanku sudah berada di hadapannya.
"Selamat pagi!" Sapaku dengan begitu sumringah. Ini pagi yang cerah. Sejak sore kemarin aku sudah mempersiapkan mobilku senyaman, serapi, dan sebersih mungkin untuk berangkat sekolah bersamanya.
Kami pun berangkat sekolah bersama dan ini untuk pertama kalinya. Aku merasakan sedikit kecanggungan, mungkin begitu juga dengan Mimi. Ia tak banyak bicara, hanya sesekali tersenyum.
Namun, tiba-tiba, "Ngeeeeengggggg!" suara keras motor memekakkan telinga dan itu tentu saja motor Reno. Ia menghadang laju mobilku, membuatku harus segera mengerem tiba-tiba, dan menghentikan mobil.
"Apa yang dia inginkan?" gerutuku.
Ia berjalan mendekati mobilku, mengetuk kaca pintu di tempat Mimi duduk. Sehingga, Mimi menurunkan kacanya.
__ADS_1
Ternyata selama ini Reno terus mengawasi Mimi walaupun ia tak menggiringnya pergi dan pulang sekolah lagi. Reno melakukannya untuk memastikan preman tidak mengganggu Mimi. Dan, ia melakukannya tanpa sepengetahuan Mimi.
Kali ini ia menyaksikan Mimi tidak berjalan kaki, tapi pergi sekolah bersamaku dan itu membuatnya cukup emosi. Sehingga, saat ini dia berkata, "Mengapa kau tak pernah mau aku antar dan sekarang lebih memilih Rhama untuk mengantarmu?"
"Aku bebas menentukan pilihanku," jawab Mimi tanpa gemuruh amarah sedikitpun dalam ucapannya. Ia terlihat tenang dan santai.
Sedangkan, Reno merasa tak bisa terima. Sehingga, ia berkata, "Apa karena dia naik mobil dan aku hanya naik motor?"
Mimi melotot seketika. Ia kesal mendengar ucapan Reno yang terkesan merendahkannya. Ia cukup tersinggung.
"Apa kau pikir Mimi serendah itu?" Aku tak terima Reno berkata seperti itu. Aku berusaha membela Mimi.
"Lalu, mengapa?" Reno menggebu-gebu.
"Kau tak perlu lagi mengejar Mimi!" ucapku. "Kami sudah resmi mengikat hubungan. Dia pacarku." Aku sangat bangga. Sedangkan, Reno mendadak terbelalak tak percaya.
"Mimi, apa benar yang Rhama katakan?" ucap Reno segera.
Mimi mengangguk. "Maafkan aku, Reno! Kau pantas mendapatkan gadis yang lebih baik."
"Mengapa kau pilih dia?" Suara Reno terdengar bergetar.
Mimi terdiam sejenak. "Karena, aku menyukainya," ucapnya kemudian.
Sementara itu, aku tak mau berlama-lama meladeni Reno. Sehingga, aku segera memasukkan gigi mobilku dan menjalankannya. Kami meninggalkan Reno yang tercengang kaku di trotoar jalan. Ia masih berdiri di sana dengan tatapan kosong dan tak berkutik. Aku tak peduli padanya.
Tapi, kulihat Mimi memperhatikannya dari kejauhan melalui kaca spion mobilku. Hal itu membuatku segera menambah kecepatan mobil. Aku memacunya lebih cepat agar bayangan Reno tak tampak lagi di matanya. Aku tak ingin ia merasa iba dan berubah pikiran.
Susah payah aku mendapatkan cinta Mimi. Takkan kubiarkan orang lain merebutnya begitu saja. Reno sama sekali tak boleh ada di hatinya. Aku tak akan memberikan kesempatan.
Lalu, aku pun membuka pembicaraan utk mengalihkan fokus perhatiannya. "Bagaimana jika pulang sekolah nanti kita jalan-jalan?" ucapku.
"Kau harus mau, ini kencan pertama kita," tambahku.
__ADS_1
Mimi pun mengangguk. "Baiklah," ucapnya.
"Wouww! Aku tak sabar lagi menunggu jam pulang sekolah tiba," gumamku.