
Aku menutup pembicaraanku lalu menyimpan ponsel. Saat aku berbalik ke arah kursi teras, tak kutemukan lagi Mimi di sana. Ternyata ia sudah menghilang sejak tadi. Tak lama ia muncul kembali dari dalam rumahnya sambil membawa seteko air minum dan dua buah gelas.
Ia meletakkannya dan berkata, "Jika kau haus, minumlah!"
"Terima kasih," ucapku singkat.
"Apa kau sudah makan siang?"
"Krooookkkkk!" bunyi perutku saat ini. Sebenarnya aku belum makan, tapi aku tak ingin merepotkannya. Jadi, aku mengangguk dan berkata, "Sudah."
"Baiklah, jika begitu ayo lanjut lagi! Jelaskan padaku! Jadi, bagaimana cara mengerjakan soal yang kau berikan tadi?" ucapnya.
"Kita ganti soal lain saja," ucapku segera.
"Apa?" tolaknya cukup histeris. "Mana bisa begitu... kau curang!"
"Kau sendiri tadi yang bilang... soal itu konyol," ucapku. "Jadi, soal seperti itu tak usah kau pikirkan!"
Mimi menatapku dengan tajam. "Kau membuang-buang waktuku," gumamnya. "Aku serius ingin belajar. Tapi, sepertinya kau hanya bermain-main."
"Aku serius ingin mengajarimu. Sebentar lagi akan ada guru privat ke sini untuk mengajarimu. Aku memintanya datang ke sini."
Tadi aku meminta nomor ponsel Pak Yuta, guru privatku pada mama. Lalu, aku meneleponnya dan memintanya untuk memindahkan lokasi privat hari ini ke rumah Mimi. Untungnya dia tidak keberatan. Setelah dia sampai di depan lorong, aku akan menjemputnya untuk mengarahkannya ke rumah Mimi.
Tiba-tiba, "Ting! Ting! Ting! Ting! Ting! Model... modeel... Tekwan... tekwannn!" Suara penjaja makanan gerobak keliling membuatku segera menoleh tanpa mempedulikan kesewotan Mimi yang memprotes, "Untuk apa kau memanggil guru privat?"
Aku segera berlari turun dari teras dan memanggil penjaja makanan itu. "Mang...! Mang...!" Perutku sudah sangat lapar.
Mamang penjaja makanan itu segera merapat. Aku menoleh pada Mimi dan bertanya, "Kau mau makan apa?"
Ia mematung, melihatku dari kejauhan dan aku kembali berkata, "Ada model tahu, model telur, tekwan, dan model gandum. Kamu mau apa?"
Ia menggeleng. "Aku masih kenyang," ucapnya.
"Oh, baiklah. Jika begitu, aku pesan dua model gandum, Mang," ucapku.
__ADS_1
Aku tak peduli Mimi berkata ia masih kenyang. Aku memesankan model juga untuknya. Ia harus makan. Lalu, aku menyodorkan semangkuk model panas padanya. "Makanlah!" ucapku.
"Aku tidak pesan," jawabnya.
"Aku yang traktir." Aku memaksanya. "Makanlah! Air liurmu hampir menetes."
Akhirnya kami menyantap model gandum itu berdua di teras rumahnya. Lalu, ia bertanya, "Mengapa kau memilih memesan model gandum?"
"Aku suka," ucapku sambil terus menyuap kuah model ke dalam mulutku.
"Model gandum tidak menggunakan ikan sama sekali. Biasanya orang menyukai model karena rasa ikannya," gumamnya.
"Aku tidak butuh rasa ikan untuk menyukai model gandum," ucapku. "Aku suka karena rasanya yang lebih sederhana."
Mimi hanya diam saja sambil terus menyantap modelnya. Sementara itu, aku bergumam dalam hati, 'Begitu juga dengan rasa sukaku padamu. Aku tak butuh kau terlihat menawan, elegan, atau rapi untuk bisa menyukaimu. Aku menyukaimu apa adanya.'
Lalu, aku lanjut berkata, "Rasa suka itu sifatnya abstrak, kadang tidak bisa dinalar. Pikirkanlah mengapa kita menjadi begitu menyukai seseorang? Pertanyaan yang kadang tak bisa kunalar jawabannya."
"Itu karena adanya ketertarikan," ucap Mimi dengan santai.
"Entahlah," jawabnya seenaknya.
"Apa kau pernah tertarik pada seseorang, menyukai seseorang?" Pertanyaanku terus mengerucut.
Mimi berhenti menyuap model ke dalam mulutnya. "Untuk apa kau menanyakan ini semua? Dari topik model ... pembicaraanmu jadi melantur kemana-mana," ocehnya.
"Kau menghindar untuk menjawab," ucapku. "Kau menyembunyikan sesuatu." Mimi hanya diam.
"Ada seseorang yang pernah kau sukai," ucapku lagi. "Kau tak mau memberitahukannya padaku bukan? Kau berusaha menyembunyikannya."
"Hehhh...." Mimi mendengus. Ia melihatku, ia berkata, "Mengapa kau akhir-akhir ini jadi aneh?" ucapnya. "Mengapa akhir-akhir ini kau terus mengangguku? Pertanyaan-pertanyaanmu ini... Untuk apa kau berusaha mengorek masalah pribadiku?"
"Mengapa kau jadi begitu sinis? Aku hanya bertanya. Jika kau tak mau menjawab, aku tak memaksa." Aku berusaha bersikap santai. "Lagipula, jawabanmu tak penting untukku."
"Baiklah, sekarang aku yang ingin bertanya padamu?" ucapnya.
__ADS_1
"Mengapa tadi pagi kau tiba-tiba ingin menjemputku? Mengapa kau berkelahi dengan Reno, membuat keributan di depan rumahku? Mengapa kau melakukannya?"
"Hahh... itu karena ternyata Reno akhirnya tahu... kau bukanlah sepupuku. Ia marah karena merasa dibohongi," ucapku.
"Oooohhh...." gumam Mimi dengan serius.
"Lalu, mengapa kau tiba-tiba pagi tadi menjemputku? Untuk apa kau melakukan itu? Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"
"Aku tak merencanakan apapun. Aku hanya sekalian lewat menuju ke sekolah. Jadi, kupikir tidak ada salahnya jika aku mengajakmu pergi sekolah bersama." Aku terus menghindari jawaban sebenarnya.
"Aku tidak yakin itu alasanmu yang sebenarnya," ucap Mimi. "Sepagi itu kau sudah berada di depan rumahku dan kau repot-repot memasuki lorong rumahku ini yang tak searah dengan sekolah."
"Hahhh... kau ge-er sekali. Kau pikir aku sengaja ingin menjemputmu," ucapku sambil tertawa.
"Apa yang kau rencanakan sebenarnya?" tanyanya dengan tegas sambil menatapku.
Aku pun menatapnya. Dalam hati aku berkata, 'Apakah kau begitu tak tahu alasannya Mimi? Seisi sekolah sudah menggosipkan kita berdua, bahkan siswi-siswi nakal itu menjahilimu. Apakah kau benar-benar tak tahu apa alasan semua itu? Apa alasanku menjemputmu? Apa alasanku berada di sini saat ini? Apa kau benar-benar tak tahu?'
'Aku menyukaimu,' gumamku dalam hati. 'Itulah alasan dari semua kejadian ini.'
"Mengapa kau diam saja?" tanyanya sambil masih terus menatapku.
Aku hanya menggelengkan-gelengkan kepala. "Aku rasa aku harus segera menjemput Pak Yuta di depan lorong. Sebentar lagi ia akan sampai." Aku lalu berdiri, mengembalikan mangkuk modelku pada penjaja model dan membayar pesananku. Lalu, aku masuk ke mobil dan menjalankannya, meninggalkan Mimi yang masih terduduk di teras rumahnya.
Dalam mobil aku sedikit kesal. 'Mengapa ia tak mengerti alasannya? Dia tidak peka,' batinku. 'Apakah ia benar-benar tak merasakan secuil pun perasaan padaku?'
'Apakah hatinya sudah terisi untuk orang lain?' Aku kesal.
Karena itulah, di sepanjang waktu privat aku tak berkata-kata apapun pada Mimi. Aku hanya diam dan membiarkan Pak Yuta terus menjelaskan. Aku sama sekali tak fokus mendengarkan pelajaran dari Pak Yuta. Aku hanya bengong dan memikirkan hal lain. Moodku sedang tidak bagus. Dan, tanpa kusadari jam privat pun telah berakhir.
Aku pulang ke rumah tanpa mengatakan hal apapun pada Mimi, kecuali, "Aku pulang." Ia pun hanya mengangguk dan berkata, "Terima kasih."
Entah mengapa aku merasa kami berdua seolah menjadi canggung. Di sepanjang perjalanan pulang aku hanya terdiam tak bersemangat sambil terus menyetir mobil.
Setelah sampai di rumah mama langsung menyambutku begitu membuka pintu. "Rhamaaaa...." Mama langsung menghampiriku.
__ADS_1
"Katakan! Sebenarnya kau belajar kelompok di rumah siapa?" Pertanyaan dari mama langsung menyengatku.