
'Aku tak bisa membiarkan preman itu menyakiti gadis cerewet.'
Sementara itu, sesuai perkiraanku gadis cerewet bertemu dengan preman itu di perjalanan pulang. Preman itu menyeringai lebar seraya berkata, "Kali ini kau takkan lolos."
Gadis cerewet bergegas membalikkan badan dan ingin berlari. Namun, tangan preman itu segera mencengkeram tas ransel gadis cerewet dari belakang dan menarik badannya hingga ia terjatuh di atas trotoar.
Tiba-tiba seseorang berlari dan langsung meni*nju preman itu. Gadis cerewet terkejut. Ternyata orang itu adalah Reno. Ternyata sejak tadi Reno menggiringnya berjalan pulang menuju rumah dengan motornya. Karena berjalan dengan cepat, gadis cerewet tak menyadarinya.
Preman itu marah dan mengeluarkan pis*au. Gadis cerewet langsung menjauhi preman itu. Sementara itu, Reno yang berada di hadapan preman berusaha menangkis pis*au yang disodorkan padanya. Kemudian, dalam hitungan detik preman itu mengayunkan pis*aunya ke badan Reno. Sehingga, lengan kanannya pun terte*bas. Bajunya robek dan darah mengalir dari lengannya.
Gadis cerewet berteriak keras, "Pembunuuuuuuhhhh! Ada pembunuh di siniiiii! Pembunuuuuhhhh!"
Orang-orang yang berkendara segera menoleh dan melihat dar*ah mengalir dari tangan Reno. Beberapa laki-laki pengendara motor langsung berhenti dan turun dari motor mendekati preman itu dengan wajah beringas. Aku yang baru sampai di lokasi mereka pun juga bergegas turun dari mobilku.
Preman itu spontan melangkah mundur seperti merasa terdesak. Banyak orang berlari ke arahnya sambil berteriak, "Hei! Hei!"
Ia panik dan langsung melarikan diri. Ia berlari dengan cepat dan beberapa orang tampak mengejarnya. Sedangkan, aku bergegas menemui gadis cerewet itu dan bertanya dengan ekspresi sangat khawatir, "Apa kau baik-baik saja?"
Mei yang berdiri di dekat pintu mobilku menatap dari kejauhan tanpa sama sekali aku sadari. Karena, dalam beberapa menit aku seakan begitu lupa dengan kehadiran Mei di dekatku. Aku terlalu mengkhawatirkan gadis cerewet.
"Apakah preman itu menyakitimu?" Aku bertanya lagi, masih dengan nafasku yang memburu.
Gadis cerewet tak menjawab apapun. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Lalu, pandangan matanya segera beralih pada Reno yang tampak memegang lengan kanannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya gadis cerewet padanya dan dalam sekejap aku tersentak. 'Ia mengkhawatirkan Reno,' pikirku. Aku merasa terpukul sekali mendengar kalimat yang terucap dari bibirnya itu. Aku benar-benar cemburu. Ia tak peduli aku begitu mengkhawatirkannya. Ia lebih peduli pada Reno.
__ADS_1
"Sebaiknya kau segera ke rumah sakit, Reno." Ucapan Mei membuatku tersadar ada kehadirannya di sini. Aku berbalik dan ia ternyata sudah berada di dekatku.
"Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka sayat luar. Aku hanya tergores, tidak perlu ke rumah sakit," ucapnya.
"Tapi, tetap saja harus diobati," ucap gadis cerewet dan ucapannya itu membuatku kembali menatapnya. 'Ia sangat mengkhawatirkan Reno,' pikirku.
"Rhama, di mobilmu apakah ada kotak P3K?" tanya Mei padaku yang bengong seolah mematung.
"Aku akan ambilkan," jawabku. Lalu, tak lama aku kembali ke hadapan mereka dengan membawa kotak P3K. Aku menyodorkannya pada Reno yang masih memegang lengannya.
Namun, tanpa kuduga gadis cerewet kemudian menyambar kotak itu. Aku tercengang. Ia membukanya dan mengambil kapas, membasahinya dengan alkohol. Ia mendekati Reno dan membersihkan luka di lengannya.
Seketika itu juga hatiku rasanya terbakar. Aku menatap mereka berdua dengan lekat. Gadis cerewet tampak cemas. Sedangkan, Reno sesekali meringis menahan pedih lukanya. Namun, kemudian ia tersenyum menatap gadis cerewet yang sangat fokus membersihkan lukanya.
"Kau lambat sekali," ucapku begitu kesal. Sebenarnya aku kesal bukan karena gadis cerewet lambat membersihkan luka Reno. Namun, karena aku tak suka ia begitu perhatian pada Reno.
Aku segera meneteskan obat merah di atas luka sayatan di lengan Reno. Sehingga, ia spontan berteriak, "Akkhhh!" Lukanya pasti terasa sangat pedih ketika terkena obat merah. Namun, aku sengaja meneteskannya dengan banyak sambil berkata, "Tak usah berteriak! Ini hanya obat merah. Jangan cengeng!"
Ia pun meringis menahan pedih. Lalu, aku membalut lukanya dengan perban. Aku melakukannya dengan kasar dan ia hanya bisa meringis. Aku membalut lengannya berkali-kali dengan cepat hingga tebal karena aku begitu kesal padanya. Aku tidak suka dia berada di dekat gadis cerewet.
"Sudah selesai," ucapku ketus. "Kau bisa pulang sekarang!"
"Terima kasih," ucapnya dan aku hanya mengangguk tanpa menoleh padanya.
"Mimi, aku antar kau pulang," ucap Reno dan hal ini membuatku segera menoleh padanya.
__ADS_1
"Iya, sebaiknya Mimi tidak pulang sendirian dulu," ucap Mei. "Mungkin saja preman itu masih menunggumu di jalan."
"Preman itu melarikan diri dengan cepat. Sepertinya orang-orang tadi tidak berhasil menangkapnya," ucap Mei lagi. "Akan lebih aman jika Mimi pulang diantar Reno."
"Tidak," ucapku segera. "Mimi ikut kita saja, kita akan mengantarnya pulang."
Mei tampak tercengang mendengar ucapanku. Sehingga, aku segera berkata, "Maksudku... bukankah Reno sedang terluka? Sebaiknya ia langsung pulang dan beristirahat."
"Tidak," ucap Reno. "Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil. Aku akan mengantar Mimi pulang."
"Tidak," ucapku tegas. "Mimi akan ikut kami." Aku bersikeras agar Reno tak mengantarnya pulang. Sementara itu, Mei tampak begitu serius menatap ekspresi wajahku dan wajah Reno. Kami berdua sama-sama bersikeras ingin mengantar Mimi pulang.
Lalu, Mimi pun berkata, "Rhama, terima kasih sudah menawarkan mengantarku pulang. Tapi, sebaiknya aku pulang bersama Reno saja."
"Deg!" Kali ini aku yang menjadi sangat tercengang. Aku tidak sedang salah dengar. Gadis cerewet lebih memilih Reno untuk mengantarnya pulang daripada aku. Aku benar-benar syok. Biasanya dia selalu menolak kebaikan Reno, tapi tidak kali ini.
'Apakah ini berarti... dia sudah mulai memiliki rasa pada Reno?' Hatiku sangat bergemuruh. Seketika itu juga aku seakan merasa lemas, tak bersemangat. Perkataannya benar-benar menghancurkan perasaanku, menyayat hatiku.
'Aku tidak sedang salah dengar.' Dia benar-benar pulang bersama Reno. Dia lebih memilih Reno. 'Apakah karena saat ini aku sedang bersama Mei? Ataukah, karena memang hatinya lebih memilih Reno daripada aku?'
Di sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam membisu. Mei bertanya padaku, "Rhama, sebenarnya ada apa? Mengapa tadi kau sepertinya sudah tahu preman itu akan mengganggu Mimi?"
"Rhama? Rhama?" Mei memanggilku berkali-kali. Namun, aku tetap saja diam membisu. Aku tak ingin berkata apapun. Perasaanku saat ini benar-benar kacau.
Aku kesal. Aku sangat cemburu. Namun, aku tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1