Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Wanita Pertama


__ADS_3

“Hei, apa yang kau lakukan di sana?” tanyaku sambil berjalan  ke arahnya.


Dia segera mengangkat kepalanya yang sejak tadi terus tertunduk dan kulihat air mata mengalir di pipinya. Ia menangis. Itu yang kulihat. Tapi, fokus perhatianku bukanlah pada air matanya. Aku melihat ia memegang kaki kanannya yang tertutup rok panjang.


“Ada apa dengan kakimu?” tanyaku.


Dia tak mengatakan apapun dan kulihat ada noda di roknya.


“Kau ....” ucapku sambil menatapnya. Aku begitu penasaran dan tanpa seizinnya aku segera menyibak ujung roknya.


“Astaga!” ucapku. Betisnya di bagian depan terluka, mengalir darah banyak sekali hingga kaos kaki putihnya menjadi merah.


'Pasti sakit sekali,' batinku. Karena, aku juga pernah merasakan bagaimana sakitnya luka di bagian depan betis, tepat mengenai tulang. Sakit sekali. Aku bahkan sampai tidak bisa berjalan dengan lurus saat itu.


Selain itu, dengkulnya juga tampak memar membiru. “Apa kau bisa berdiri?” tanyaku.


Dia menggelengkan kepalanya. “Kakiku... terkilir,” ucapnya kemudian.


“Hoahh, memangnya apa yang kau lakukan hingga kakimu menjadi seperti ini?” Aku spontan berkata seperti itu.


Ia diam dan aku sebenarnya sudah bisa menduga pasti semua ini karena ia ingin melompati tembok. Aku sudah bisa membayangkan ia pasti bergegas ingin melompati tembok, tapi tiba-tiba terjatuh dan betisnya menghantam batu tajam yang berada di dekatnya saat ini.


'Ukhh! Pasti rasanya sakit sekali,' pikirku saat membayangkannya. Aku jadi merasa ngilu sendiri.


“Kakimu harus segera diobati,” ucapku.


“Aku ingin segera keluar dari lokasi sekolah ini,” ucapnya.


“Tapi, bagaimana?” tanyaku. “Gerbangnya sudah terkunci. Kau tak akan bisa melompati tembok lagi dengan kondisi kaki seperti ini.”


“Aku akan berusaha,” tegasnya. “Tolong bantulah aku!”


“Tentu,” ucapku segera. “Tentu aku akan membantumu. Mana mungkin aku meninggalkanmu terkurung sendirian di sini.”


"Bantu aku berdiri!" Ia berusaha mengangkat badannya dengan bertumpu pada tembok pagar. Namun, "Eekkhh!" Ia kembali terjatuh. Kakinya terlalu sakit untuk digunakan menumpu badannya. Seperti yang dikatakannya tadi kakinya terkilir.


Lalu, ia diam dan aku berpikir sejenak. Kemudian, aku berkata, “Naiklah ke punggungku!” Aku berjongkok dan memintanya naik ke punggungku. Aku ingin mendukungnya. Tapi, ia hanya terdiam kaku lalu berkata, “Aku tidak mau.”

__ADS_1


“Huehh!” desahku. “Kau ingin keluar dari sini atau tidak?” tanyaku. “Atau, kau lebih suka bermalam sendirian di sekolah ini sampai besok pagi?”


Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, dengan begitu ragu akhirnya aku merasa tangannya menyentuh pundakku. Akhirnya, ia naik ke punggungku.


“Hmm, benar-benar tak kusangka kau akan menjadi wanita pertama yang kudukung dan kugendong,” ucapku sedikit tak rela sambil berusaha berdiri.


“Kau beruntung sekali,” ucapku lagi sambil mulai memanjati besi-besi pagar di antara tembok.


 “Hekh, kau pikir aku suka kau dukung seperti ini,” ucapnya. “Aku terpaksa,” ucapnya lagi dengan keras, tapi aku tak peduli. Aku terus memanjati pagar dan akhirnya kami berhasil keluar dari pagar itu.


“Turunlah!” ucapku dengan ketus sambil menjongkokkan badanku. Sehingga, ia pun bergegas turun dari punggungku dan terduduk di rumput depan pagar. Lalu, aku berusaha merapikan pakaian seragamku. Tapi, “Akh!” Aku mendesah sedikit marah. Aku melihat noda darah di seragam putihku, tepatnya di bagian pinggang kananku.


“Maaf,” ucapnya segera.


'Darah lukanya menempel di bajuku. Mama pasti akan berpikir macam-macam saat melihatnya,' batinku sedikit kesal. Tapi, aku tahu gadis cerewet ini pasti benar-benar tak sengaja melakukannya. Jadi, aku tak mau mempermasalahkannya.         


“Aku janji akan mencucinya,” ucap gadis cerewet itu.


“Sudahlah, tidak perlu,” ucapku singkat.


Aku melirik jam tanganku. 'Astaga!' batinku. Sekarang sudah lewat jam tiga siang dan aku belum pulang. 'Mama pasti akan mencariku,' pikirku.


“Aku tak punya banyak waktu,” ucapku pada gadis cerewet itu. “Naiklah ke punggungku! Aku akan mengantarmu pulang.”


“Apa?” ucapnya terkejut sambil menatapku yang berjongkok di hadapannya.


“Aku tidak mau,” tegasnya. Sehingga, aku bergegas memutar kepalaku ke belakang untuk melihat ekspresi wajahnya.


“Rumahku lumayan jauh dari sini. Aku tidak mau kau mendukungku sampai ke rumah. Itu hal yang sangat memalukan, apalagi jika dilihat orang,” lanjutnya.


"Kau ini...” ucapku sedikit kesal. “Harusnya kau merasa beruntung pria tampan seperti aku mau mendukungmu sampai ke rumah. Di luar sana begitu banyak wanita yang berebut untuk bisa kudukung.”


“Aku tidak gila seperti mereka,” teriaknya. “Aku tidak mau.”


“Dasar gadis bodoh,” ucapku kesal. “Kakimu tidak bisa berjalan dan aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu ojek lewat menghampirimu di sini. Aku harus segera pulang,” ucapku. “Karena itu, jangan banyak protes. Kau ingin pulang atau tidak?”


“Aku tidak pernah memintamu untuk tetap di sini menemaniku menunggu ojek,” ucapnya membuatku semakin kesal.

__ADS_1


“Hikkh!” Aku kesal padanya. “Aku tidak mungkin membiarkanmu terbengkalai sendirian di sini,” ucapku. “Sebagai pria sejati aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja di sini sendirian dalam keadaan terluka seperti saat ini.”


 Lalu, tiba-tiba, “Ngeeeee...enggggggg!” Suara sebuah motor di jalan memekakkan telingaku. Gadis cerewet itu melihat motor itu melintas dengan begitu cepat lalu bergumam, “Itu Reno.”


“Hahh!” Aku segera membalikkan badanku untuk melihatnya dan berteriak, “Hei, Reno! Reno! Renooo!”


Tapi, motornya terlalu cepat, dia sudah pergi jauh. “Hoahh!” Aku hanya bisa berdiri di trotoar dan menatapnya yang semakin tidak kelihatan lagi. Lalu, tiba-tiba sebuah motor berhenti di pinggir trotoar. Pengemudinya membuka helm dan ternyata itu Yoga, salah satu teman Reno yang pernah memukulku.


“Ada apa kau memanggil Reno?” tanyanya.


"Hohh, syukurlah kau melihat kami." Aku sangat senang. “Itu, lihat!” Aku menunjuk gadis cerewet itu.


“Dewi penolong Reno sedang terluka. Lututnya memar, kakinya terkilir, dan betisnya berdarah. Ia tidak bisa berjalan. Apa kau bisa mengantarnya pulang ke rumah?” cerocosku.


“Hmmh, baiklah,” ucap Yoga. “Aku akan mengantarnya. Tapi, sebentar... aku harus menelepon Reno terlebih dahulu.”


“Baiklah,” ucapku lega. Sedangkan, gadis cerewet itu hanya terdiam. Sepertinya ia tak berani memprotes untuk menghindari aku mendukungnya pulang ke rumah.


“Bos,” panggil Yoga ketika Reno menjawab teleponnya. “Aku tidak langsung ke sana. Aku masih di depan sekolah. Aku ingin mengantar dewi penyelamatmu pulang ke rumah terlebih dahulu. Ia terluka,” ucap Yoga dan ekspresi Reno ternyata luar biasa.


“Apa? Terluka?” ucapnya. “Kau jangan kemana-mana, tetap di sana, dan jaga dia. Aku akan segera ke sana.”


“Baik, Bos.” Yoga mengangguk dan Reno bergegas kembali ke sekolah.


“Ngeeeeeee...eeenggg.” Suara motor Reno memekakkan telingaku. Reno kembali dan bergegas turun dari motornya.


“Apa kau baik-baik saja?” Reno segera menghampiri gadis cerewet itu.


“Kakinya terluka,” ucapku dan Reno bergegas melihat lukanya. 'Sepertinya ia perhatian sekali,' pikirku.


“Lukamu cukup parah,” ucapnya. “ Aku akan membawamu ke dokter.”


“Jangan, tidak perlu,” cegah gadis cerewet. “Aku ingin pulang saja, aku bisa mengobati lukaku sendiri di rumah,” ucapnya.


“Ohhh... Baiklah, aku antar kau pulang sekarang,” ucap Reno sambil bergegas meraih ransel gadis cerewet itu.


'Ia sigap sekali,' pikirku sambil memandangi Reno yang bergegas menuju motornya. 'Jangan-jangan... ia menyukainya,' pikirku lagi.

__ADS_1


__ADS_2