Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Aku Normal


__ADS_3

“Pa, aku sudah menemukan, Rhama!” teriak mama histeris begitu turun dari mobil.


Ia bergegas masuk ke dalam rumah dan kembali ke luar sambil menggeret tangan papa. “Lihat, Pa! Lihat!” ucap mama sambil mempertunjukkan tampang diriku yang babak belur di hadapan papa.


Papa memperhatikan penampilanku dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Rambutku semrawut, acak-acakkan. Wajahku memar, benjol tak beraturan. Baju dan celanaku sangat kotor. Ada noda darah gadis cerewet itu di baju putihku.


“Mama tadi ingin menjemput Rhama ke sekolah karena mama khawatir, ia tak juga pulang. Lalu, tiba-tiba saat akan melintas di persimpangan jalan, mama melihat ada perkelahian dan ternyata itu Rhama, Pa. Rhama memukul seorang anak laki-laki berkali-kali. Rhama berkelahi, Pa. Rhama berkelahi. mama melihatnya,” ucap mama berapi-api.


“Aku tak bermaksud melakukannya, Ma. Aku terpaksa,” ucapku segera. Aku berusaha membela diriku. “Aku hanya ingin menolong Mei, teman sekelasku. Pria itu memperlakukan Mei dengan kasar. Percayalah! Aku sama sekali tak berniat berkelahi.”


“Hah, sudahlah!” ucap mama segera. “Tak peduli apa pun alasanmu, kau tetap sudah berkelahi.”


“Tapi, Ma ....” Aku tak sempat menyelesaikan ucapanku, mama segera memotongnya dengan berkata, “Mama bangga padamu, Rhama. Mama bangga sekali.”


“A ... apa?” Tiba-tiba aku menjadi gagu mendengar ucapan mama.


“O, ya ... mama harus mengabadikan momen bersejarah ini,” ucap mama seraya mengeluarkan ponselnya dan memotretku berkali-kali.


“Klik ... Klik ... Klik ....” Berkali-kali mama memotretku, terutama wajahku. Mama bahkan sepertinya men-zoom bagian wajahku yang terluka agar detailnya terlihat jelas di kamera.


“Apa maksud semua ini?” tanyaku begitu kebingungan. Namun, mama terus asyik memfoto wajah babak belurku.


“Mama, sudah ... hentikan!” ucapku. “Berhentilah mengambil gambarku! Wajahku sedang begitu berantakan.”


“Semakin berantakan, semakin bagus ... lebih terlihat garang seperti pria sejati.”


'Apa yang terjadi?' pikirku. “Biasanya orang tua akan marah besar jika anaknya membuat keributan, apalagi berkelahi. Tapi, Mama ... mengapa Mama begitu girang sekali? Papa juga tak memarahiku sedikitpun. Sebenarnya ada apa ini?” ucapku.


“Ini sungguh aneh. Apa aku sedang bermimpi?”


Papa mendekatiku dan menepuk bahuku.


“Akh!” Aku spontan merasa sedikit kesakitan. 'Ternyata bukan mimpi,' pikirku.


“Papa tidak khawatir lagi padamu,” ucap papa dengan senyumannya yang membuatku bertambah bingung. “Kau benar-benar pria sejati. Pria sesungguhnya.”

__ADS_1


“Kau tidak seperti yang teman-teman arisan mama katakan,” tambah mama dengan bangga.


“Memangnya apa yang mereka katakan?” desakku segera.


“Mereka berkata kau tidak normal ... mereka bilang mana ada anak lelaki yang tidak pernah berkelahi. Intinya mereka beranggapan bahwa kau bukan lelaki tulen. Mama benar-benar sakit hati, Rhama. Mama tidak mau lagi datang ke acara arisan mereka. Mama yakin kau sebenarnya tidak seperti yang mereka katakan."


"Lalu, siang tadi saat masuk ke kamarmu mama menemukan... alas bedak dan bedak mama di kamarmu.” Ucapan mama membuat mataku terbelalak.


“Hahh ... mama begitu panik ketika menemukan semua kosmetik itu. Mama takut apa yang dikatakan mereka memang benar. Mama takut sekali.” Mata mama berkaca-kaca saat mengucapkan kata-kata itu.


“Kau anak laki-laki mama satu-satunya, Rhama. Kau putra kebanggaan mama.” Mama mengusap wajahku. “Semua itu tidak benar, ‘kan?”  Mama begitu dalam menatapku.


Aku tak tega melihatnya. Tapi, tiba-tiba aku segera berkata, “Hakhh ... Mengapa Mama begitu meragukanku?” keluhku.


“Mama perlu pernyataan darimu, Rhama. Mama ingin dengar dengan telinga mama sendiri kau berkata yang sesungguhnya. Ayo katakan dengan lantang!”


“Aku ini normal, Ma,” ucapku segera.


“Hmm ... tunggu!” Mama bergegas mensetting ponselnya. “Ayo katakan lagi!” pinta mama. “Mama akan merekamnya.”


“Aku benar-benar normal,” tegasku.


“Katakan lebih banyak lagi!” Mama tampak bersemangat sekali.


“Huehh ....” desahku. “Baiklah, baiklah,” ucapku.


“Aku Rhama mengaku bahwa diriku benar-benar normal. Aku bukan seorang homo atau penyuka sesama jenis,” ucapku dengan sangat tegas. “Buktinya aku tertarik pada wanita dan aku sangat ....” Aku mendadak gugup untuk melanjutkan ucapanku. “Aku sangat ... Aku sangat mencintai Mei, teman sekelasku.”


“Hahh!” Mama begitu kaget mendengarnya, tapi aku tetap terus melanjutkan ucapanku, “Itu adalah bukti bahwa aku bukanlah penyuka sesama jenis. Aku pria sejati, aku normal, dan aku sangat menyukai wanita yang kucintai.”


“So sweet ....” ucap mama segera. Mama begitu terharu hingga menitikkan air mata dan papa hanya tersenyum kecil melihatku.


“Mama bangga padamu, Rhama,” ucap mama seraya memelukku seperti anak kecil dan aku begitu malu diperlakukan seperti itu.


Sehingga, mama segera melepaskan pelukannya dan bertanya padaku, “Sejak kapan kau jatuh cinta pada gadis itu? Katakan pada mama! Mengapa kau tak pernah menceritakannya?”

__ADS_1


“Mama ... sebaiknya tidak perlu ikut mencampuri urusan hati Rhama,” ucap papa segera. “Ia sudah dewasa dan pasti tahu mana gadis yang terbaik untuk dirinya.”


“Ya, benar, Pa,” sahutku segera. “Aku sudah dewasa,” tegasku.


“Hahh ... usiamu saja belum sampai 18 tahun. Kau belum dewasa,” tolak mama segera.


“Ehmm ... Ehmmm ....” Papa berusaha memperingatkan mama agar tidak memperlakukanku seperti anak kecil lagi dan aku hanya tersenyum geli. Sedangkan, mama masih saja tetap kukuh beranggapan aku belum dewasa.


***


Hingga pagi ini pun mama masih saja mempertahankan anggapannya. “Usia Rhama belum sampai 18 tahun, Pa,” rengek mama. “Mana boleh membawa mobil sendiri,” protes mama sambil berjalan menggiring papa menuju ruang makan. “Bagaimana jika terjadi kecelakaan? Bagaimana jika ia ditilang polisi?”


“Mama ....” Ucapan papa segera membuat rentetan perkataan mama terhenti. “Mama ingin Rhama tumbuh menjadi pria sejati ‘kan?” ucap papa dan mama hanya bisa mengangguk pelan.


“Jika begitu, biarkan Rhama membawa mobil sendiri. Biarkan ia bertindak seperti pria. Lepaskan saja, Rhama pasti bisa bertindak dengan benar. Ia sudah dewasa,” ucap papa dan akhirnya mama hanya bisa merelakan keputusan papa dengan pasrah.


“Ini kunci mobil yang bisa kau pakai,” ucap papa saat meletakkan kunci salah satu mobil di garasi di atas meja sarapan kami pagi ini.


“Aaaahh ....” Aku melongo kaku. Aku kebingungan dan sedikit terkejut.


“Kau boleh membawa mobil sendiri mulai hari ini ... tanpa sopir,” ucap papa.


Dan, ekspresiku adalah, “Sungguh?”


“Ya,” jawab papa.


“Apa aku benar-benar boleh pergi membawa mobil tanpa sopir, Ma?” tanyaku segera pada mama.


“Hmmm ... ehh.” Mama mengangguk begitu pelan dan seketika itu juga aku meloncat kegirangan dari kursi meja makan yang kududuki sejak tadi.


“Terima kasih, Ma ... Terima kasih, Pa.” Aku bergegas mencium tangan mama dan papaku. Lalu, aku segera berkata, “Aku pergi dulu.”


“Hahh ... Rhama, kau belum menyelesaikan sarapanmu,” ucap mama. Tapi, aku terlalu senang hingga tak mempedulikan sarapanku. Dalam sekejap aku sudah berlari meninggalkan ruang makan.


            .

__ADS_1


__ADS_2