
'Houhh... bagaimana agar Mimi percaya bahwa aku memang benar-benar menyukainya dengan tulus?' pikirku.
'Mengapa dia tidak percaya bahwa aku serius, tidak sedang bercanda?' Aku berpikir keras namun tetap tak bisa memuaskan rasa ingin tahuku.
'Aku harus menemuinya,' pikirku. 'Ya, aku harus bertemu dengannya.'
'Kami harus bicara,' tegasku dalam hati.
Dan, karena ini hari Minggu aku langsung meluncur ke rumahnya. Mama dan papa kebetulan sedang pergi kondangan. Sehingga, aku bisa ke rumahnya tanpa halangan dan cegahan dari mama.
"Brmmmm...." Aku mengendarai mobilku dan tiba dengan cepat di rumahnya.
Kali ini aku memergoki dia sedang mengecat dinding samping rumahnya. Kulihat ia berdiri di atas meja yang ditumpuk dengan kursi sambil memegang roll cat. Aku berkata, "Apa sekarang kau menjadi tukang cat?"
Ia melengos dan tak bersuara. Ia melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan, aku kembali berkata, "Minggu yang dulu kau jadi tukang kebun. Sekarang menjadi tukang cat. Ckk... ckk... ckk... Benar-benar multitalenta." Aku bergurau padanya. Namun, ia sedikit pun tak terhibur, bahkan tersenyum pun tidak. Pandangannya fokus pada alat roll cat yang ia balurkan ke dinding.
"Warna putih," gumamku memperhatikan dinding yang telah dicatnya. "Mengapa kau mengecat rumahmu dengan warna yang sama dengan warna cat yang dulu?" Dia terus diam.
"Apa kau tidak bosan? Apa kau tak ingin mencoba warna lain?"
Lagi-lagi ia hanya diam. Sementara itu, aku terus berkicau, "Mengapa kau tak mencoba warna hijau ... biru ... hmmh merah muda, atau coklat?"
Mimi menghentikan gerakan tangannya untuk mengecat. "Mengapa kau berisik sekali? Sebenarnya untuk apa kau ke sini?"
"Aku ingin bicara denganmu," ucapku serius.
"Katakan saja!" ucapnya tanpa menoleh padaku. Lalu, ia menyadari dinding di hadapannya telah dicat sempurna. Ia memutuskan untuk turun dari kursi untuk menggeser posisi meja dan kursinya agar bisa mengecat bagian dinding di sebelahnya.
Namun, ia begitu ceroboh. Kakinya tergelincir. Kursinya terjatuh dan, "Aaaaa...." Ia nyaris terjerembab di tanah jika aku tak segera maju dan menahan bahunya. Namun, yang tak bisa kuhalangi adalah galon cat yang ikut terpelanting dan isinya berhamburan tumpah ke bajuku, bahkan mengenai badanku.
"Hmmmmh... mmm... maaf...." ucap Mimi dengan pelan. Sedangkan, aku jadi terdiam seketika dan kaku. Sebagian rambutku pun putih terkena percikan cat.
"Ada keran air di sana!" Mimi menunjuk ke dekat teras rumahnya. "Bersihkanlah badanmu!"
Aku menatapnya dengan dalam. 'Tadi ia bersikap begitu dingin, sekarang mendadak melunak dan perhatian padaku,' pikirku.
__ADS_1
"Mengapa kau diam saja? Ayo cepatlah! Sebelum catnya mengering." Mimi tampak sedikit kesal karena aku hanya diam mematung.
Aku pun berjalan ke arah keran, membersihkan rambutku dan badanku yang terkena tumpahan cat. Tak lama Mimi datang dan menyodorkan sebuah kaos padaku. Lagi-lagi aku menatapnya dan masih hanya diam saja.
"Mengapa kau bengong? Pakailah! Ganti bajumu!"
Aku masih tetap diam dan terus menatapnya.
"Aaa... apa kau tidak mau?" tanyanya dengan gagu.
"Ya, ini memang kebesaran untukmu. Ini kaos pamanku, tapi apa salahnya kau pakai dulu?" ucapnya. "Bajumu penuh cat."
"Cepatlah! Ganti bajumu!" ucapnya lagi.
Sebenarnya bukan ukuran bajunya yang membuatku terdiam dan tak segera mengambil baju itu. Tapi, sikapnya yang perhatian padaku yang membuatku jauh berpikir sepertinya tidak mungkin Mimi tidak memiliki perasaan padaku.
"Terima kasih." Aku menyambar baju kaos itu dari tangannya. Lalu, aku menarik ujung bajuku ke atas, mengangkatnya.
Tiba-tiba Mimi segera berkata, "Eeeehhh... apa yang ingin kau lakukan? Ganti bajumu di dalam toilet! Jangan di sini!" Ia tampak malu.
"Mengapa kau tak mau melihatku?" ledekku. "Gadis-gadis di luar sana banyak yang sangat ingin melihat postur badanku yang sempurna."
"Huekkkk!" Dengan refleks ia mengarahkan wajahnya padaku dan tak sengaja melihat tubuhku bertela*nj*ang dada. Lalu, secepat kilat ia segera kembali memalingkan wajahnya dan menundukkan kepala.
"Mengapa?" tanyaku. "Apa kau takut terpesona padaku?"
"Kau ge-er sekali," ucapnya tanpa menoleh padaku.
Aku segera mencengkeram pergelangan tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Ia spontan melotot, tapi tetap tidak menoleh padaku.
"Lepaskan tanganku dan cepat pakai bajumu!" ucapnya dengan nada sengit. Ia menarik tangannya.
Aku tetap menggenggamnya dengan kuat. Sehingga, mau tak mau membuatnya refleks menoleh padaku. Lalu, ia tercengang karena tidak seperti dalam pikirannya. Ternyata aku sudah memakai kaos pamannya yang lumayan besar dan penampilanku tampak konyol.
"Mengapa kau tidak mau menatapku?" tanyaku dengan tetap menggenggam pergelangan tangannya dan tak satupun suara kudengar muncul dari bibirnya.
__ADS_1
"Apa kau takut ... jatuh cinta padaku?" tanyaku kemudian dan kurasakan angin berhembus melewati kami berdua yang kemudian sama-sama terdiam dan saling pandang.
Sesaat kemudian perlahan aku melepas tangannya lalu berkata, "Aku tak yakin kau tak punya perasaan padaku."
Ia refleks kembali menatap wajahku. Sorot matanya mengarah ke mataku, bibirnya bergetar. Namun, ia tetap diam.
Aku masih terus menatapnya, menunggu ucapan dari bibirnya. Lalu, dengan nada datar muncul perkataan, "Mengapa... kau... begitu memaksa?"
Aku langsung tercengang mendengar ucapannya. Benar-benar tak kusangka ia akan berkata seperti itu. Tatapannya pun kini tampak tak bersahabat.
'Ternyata ... ia merasa aku memaksanya,' pikirku. Sehingga, aku pun mundur beberapa langkah, lalu berbalik badan dan meninggalkannya, meninggalkan rumahnya.
Aku kecewa. Mimi seperti sama sekali tak berniat untuk membalas perasaanku. Aku sudah blak-blakan mengungkapkan perasaanku, mengejarnya. Namun, ia seolah tak mau merespon dan menganggapku telah memaksanya untuk meladeni perasaanku.
Aku tak ingin ia merasa terpaksa. Aku pikir ia bisa menyukaiku dan membalas perasaanku. Gadis-gadis lain bisa menyukaiku dengan begitu mudahnya, tapi ternyata tidak dengan Mimi.
Hari-hari pun terus berlalu. Kami menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa. Namun, sejak saat itu kami tak lagi pernah saling sapa ataupun bicara. Kami berdua seperti dua orang yang tidak saling mengenal.
Komunikasi kami berdua terputus sampai di hari itu. Mimi pun ternyata juga berusaha memutuskan komunikasi dengan Reno. Ia meminta Reno untuk berhenti menggiringnya saat pulang dan pergi sekolah.
"Tidak," tolak Reno mentah-mentah. "Tidak aman untukmu. Preman itu bisa saja mencarimu lagi."
"Untuk apa kau melakukan semua ini?" ucap Mimi.
"Aku ingin selalu menjaga orang yang aku sayangi... itu adalah kau."
"Tidak perlu," ucap Mimi segera. "Aku bisa menjaga diriku sendiri. Dan ... berhentilah memberi perhatian lebih padaku! Karena, aku tak bisa membalasnya."
"Mengapa?" tanya Reno.
"Karena, aku hanya menganggapmu teman," jawab Mimi dengan lugas.
"Tak bisakah kau menganggapku lebih dari sekedar teman?" Ucapan Reno terdengar memaksa.
"Aku ingin kita lebih dari sekedar teman." Reno kembali menegaskan ucapannya.
__ADS_1
Mimi terdiam. Kemudian, ia berkata, "Jika begitu, aku akan menganggapmu sebagai kakakku." Seketika itu juga ucapan Mimi membuat Reno terdiam.