Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Menikmati Hidup


__ADS_3

"Haaahhh! Hahhh... Aaaa...." Aku tergagap dan salah tingkah. Gadis cerewet memergokiku sedang menatapnya.


"Kau ge-er sekali," ucapku. "Aku hanya kasihan melihat tampangmu yang saat ini benar-benar tidak good looking. Kusut, dekil, banjir keringat, bau. Kau kelihatan sangat lelah dan kehausan. Bahkan, ada butiran tanah melekat di pipimu." Aku sembarang bicara.


Gadis cerewet segera menyeka pipinya yang memang terdapat butiran tanah lalu berkata, "Puas kau mengejekku?"


Sedangkan, aku tiba-tiba melihat ada tukang es mendorong gerobaknya sambil memukul-mukul mangkok. "Ting, ting, ting, ting!"


"Hahhhh, kau pasti sangat haus. Kita beli es saja. Aku traktir." Aku berusaha mengalihkan fokus pembicaraannya. Lalu, tanpa menunggu persetujuannya aku bangkit dan segera memanggil tukang es itu.


"Esssss... esss...!" Teriakanku membuat tukang es itu bergegas mendekat. Kulihat pada badan gerobaknya tertulis 'es bubur sumsum'.


"Mang, esnya dua." Aku segera memesan dan ia pun langsung sigap menyiapkan pesananku. Sementara itu, gadis cerewet hanya terdiam sejak tadi dan masih dalam posisi duduknya.


Lalu, tak lama kemudian aku menyodorkan sekantung es bubur sumsum padanya. "Untukmu," ucapku.


Lalu, aku kembali duduk di sampingnya. Aku menyeruput es di tanganku dan spontan berkata dengan lantang, "Hmmmmhhh... nikmat sekali. Rasa manisnya sungguh paaaaaas. Rasanya lega sekali. Sejak tadi aku sudah haus."


Gadis cerewet pun menyedot es itu sedikit. Namun, yang membuat aku heran ia tak berekspresi apapun. Ia diam saja.


"Mengapa?" tanyaku. "Apa kau tidak suka dengan esnya?"


"Suka," ucapnya.


"Lalu, mengapa kau seperti tak semangat untuk meminumnya?"


"Memangnya aku harus berteriak lebay sepertimu 'Wahhh, nikmat sekali'?" Ia memperagakan gaya dan ekspresiku tadi.


"Aku sudah sering minum es seperti ini," tambahnya.


"Oh, ya?" ucapku sambil terus meminum esku.


"Dulu nenek sangat suka minum es bubur sumsum," ucapnya.


"Es ini mengingatkanmu pada nenekmu?"


"Ya, itu kenangan indah dalam hidupku. Saat itu aku merasa bahagia." Ia mengatakannya dengan wajah murung.


Sehingga, aku berkata, "Ayolah, saat ini dan nanti pun kau juga bisa merasa bahagia."

__ADS_1


"Kau hanya...." Aku berargumen,"... kurang menikmati hidup."


"Kau tidak menikmati hidupmu. Kau tidak melakukan hal-hal yang membuatmu bahagia," tambahku.


"Aku menikmati hidupku," ucapnya.


"Hahh, sudahlah tak usah membantahku!" ucapku segera. "Kapan terakhir kali kau bersenang-senang?"


"Apa maksudmu?" tanyanya.


"Lihatlah! Kuperhatikan setiap hari Minggu kau selalu menghabiskan hari liburmu dengan melakukan tugas laki-laki seperti ini. Tidak pernahkah kau jalan-jalan, bersantai, memanjakan diri?"


Ia hanya diam. Sedangkan, aku terus bertanya padanya, "Mengapa kau tak pernah menggunakan hari liburmu untuk melakukan hal yang menyenangkan? Kau menghabiskannya untuk melakukan hal-hal yang melelahkan, mengapa?"


"Kare...naa... jika bukan aku yang melakukan tugas-tugas ini, siapa lagi?" ucapnya pelan.


"Hmmhh... lalu jika bukan kau yang berusaha untuk membuat dirimu bahagia, siapa lagi? Apa rumput ini, apa pohon ini, apa cangkul itu? Apa benda-benda ini bisa membahagiakanmu?" ocehku.


"Kau terkurung dalam ruang kesedihanmu sendiri... karena kau tidak membuka jendela dan pintunya. Lihatlah di luar jendela sana banyak hal menyenangkan di sekitarmu! Ayo buka pintu itu dan pergi!" Aku berkata dengan begitu berapi-api sambil berdiri.


Sementara itu, gadis cerewet hanya melongo melihatku dan masih tetap dalam posisi duduknya. "Kau aneh," ucapnya kemudian.


"Kau yang aneh," balasku. "Tidak mau menyenangkan diri."


"Kapan terakhir kau jalan-jalan?" tanyaku.


"Aku tidak suka jalan-jalan," jawabnya cepat.


"Mengapa?" sambarku tak kalah cepat.


"Lebih baik aku beristirahat di rumah."


"Nah, itulah kesalahanmu," ucapku. "Tidak mau melihat dan merasakan hal-hal yang bisa membuatmu bahagia."


"Aku merasa nyaman di rumah." Ia terus membantahku.


"Tapi, kau akan lebih senang jika kau menyegarkan otakmu, refreshing ke luar. Tidak selalu mengurung diri di dalam rumah."


"Ayo kita jalan-jalan sekarang!" ajakku.

__ADS_1


"Kemana?" tanyanya spontan.


"Terserah kau ingin kemana," jawabku. "Atau, bagaimana jika kita makan bakso?" ajakku. "Sekarang sudah hampir siang, pasti kau lapar kan? Ayo kita pergi! Aku yang akan traktir."


"Tadi aku sudah masak untuk makan siang," jawabnya.


"Hehhhhhh...." Aku menarik nafas panjang. "Tidak ada salahnya jika sekali-kali kau makan di luar. Tidak berdosa," ucapku agak kesal.


"Aku tidak mau jalan denganmu," ucapnya. "Aku tidak mau jadi orang ketiga," tambahnya.


"Hahahhahahahaha...." Seketika aku terbahak. "Kau ge-er sekali."


Ia melotot dan aku lanjut berkata, "Perasaanku pada Mei dan padamu sangat jauh berbeda. Aku hanya menganggapmu teman biasa, bahkan kadang-kadang aku jengkel padamu."


"Jadi, kau jangan berpikiran macam-macam!"


"Aku tidak berpikir macam-macam. Aku hanya mengingatkanmu untuk menjaga perasaan Mei. Aku tak mau ikut campur dalam hubungan kalian." Ia berkata dengan nada sedikit kesal lalu ia bergegas berdiri dan berjalan meninggalkanku.


"Hei, kau mau kemana?" ucapku spontan.


"Ke toilet. Mengapa? Apa kau mau ikut?" Ia melotot.


Aku memanyunkan bibirku. Lalu, ia melanjutkan langkahnya menuju teras rumahnya dan menghilang dari pandanganku. Ia masuk ke dalam rumah untuk beberapa saat dan aku masih menunggunya di halaman.


Aku kembali duduk, menghadap ke jalan, dan menatap langit. Lalu, aku tersenyum-senyum sendiri. 'Dia pikir dia akan jadi orang ketiga,' pikirku. 'Dia ge-er sekali.'


'Dia sama sekali tak sebanding dengan Mei,' pikirku. 'Mei nilainya 100, dia... nilai 30 pun sepertinya terlalu besar untuknya.' Aku geli sendiri memikirkannya dan menggeleng-gelengkan kepalaku sambil tersenyum lebar.


"Hei!" Suaranya sungguh mengagetkanku. Aku membalikkan badan. Ternyata dia sudah berdiri di belakangku. Tangannya membawa nampan. Ia meletakkan nampan itu di hadapanku, di atas hamparan rumput jepang halaman rumahnya yang tebal seperti karpet.


Aku terkesima dengan isi nampan itu. Semangkuk sup yang kelihatan sangat segar. Perpaduan warna wortel dan sayur lainnya begitu menyegarkan mataku. Semangkuk kecil sambal dan dua buah gelas. Ia menurunkan semua isi nampan itu di hadapanku. Lalu, ia bergegas masuk kembali ke rumahnya.


Sementara itu, aku jadi melongo karena semua ini benar-benar di luar ekspektasiku. Aku menatap kepulan asap tipis yang muncul dari atas sup itu dan baunya... begitu nikmat terhirup oleh hidungku. 'Ini sup ayam yang sepertinya sangat enak,' pikirku.


Tak lama kemudian gadis cerewet muncul lagi dengan membawa nampan yang berisi nasi dan dua piring. Seketika aku berkata, "Kau ingin mengajakku makan?"


"Ini sudah siang. Waktunya makan," ucapnya.


Senyuman tersungging di wajahku. Aku bergegas mencuci tanganku dengan air keran untuk menyiram bunga di halamannya. Lalu, aku segera duduk di rumput menghadap sup yang disajikannya. "Kita seperti sedang berpiknik," gumamku.

__ADS_1


"Cepatlah makan!" ucapnya.


Lalu, aku segera mengambil nasi, sup, dan sambal. Setelah membaca doa, aku bergegas menyuapkan makanan itu ke mulutku. Begitu sesendok nasi meluncur ke dalam mulutku, mataku seketika itu juga melebar.


__ADS_2