Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Kebingungan Rasa


__ADS_3

'Hmmmh, tidak adil,' gerutuku dalam hati. Karena, aku baru saja membeli tiketnya, kini aku dapat tempat duduk yang terpisah dari Reno dan Mimi. Mereka berdua duduk bersebelahan. Sedangkan, aku duduk cukup jauh dari mereka.


Pikiranku pun mulai berimajinasi. Reno dan Mimi akan semakin akrab seperti sepasang kekasih. Reno pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Reno mungkin akan berusaha untuk merayunya.


Aku pun tak tinggal diam. Aku segera melobi wanita yang duduk di bangku sebelah gadis cerewet. Awalnya ia tak mau bertukar posisi denganku, namun aku menawarkannya uang sehingga ia kegirangan dan secepat kilat pindah ke tempat dudukku.


'Hahahahaha....' Aku tertawa dalam hati. 'Tapi, sebenarnya untuk apa aku melakukan ini?' Bukankah duduk di mana saja aku akan tetap dapat menonton film ini. Mengapa aku harus peduli dengan kedekatan dia dan Reno.


"Untuk apa kau pindah ke sini, Kakak Sepupu?" tanya Reno begitu aku duduk di sebelah gadis cerewet.


"Aku hanya ingin menonton bersama kalian. Tidak enak rasanya jika harus duduk sendirian terpisah," jawabku.


"Ohh." Reno memanggut-manggut dengan tatapan curiga.


Lalu, mendadak lampu ruangan dimatikan. "Hahhh, mengapa lampunya mati?" Gadis cerewet tampak panik.


"Hahahahaha... kau kampungan sekali," ejekku.


"Ini tanda filmnya akan segera dimulai, Mimi," ucap Reno menenangkan gadis cerewet itu. "Saat film diputar di layar lebar itu, lampu memang dimatikan supaya semua orang fokus menonton," jelasnya.


"Oohh, aku baru tahu," gumam gadis cerewet.


"Kau seperti katak dalam tempurung," ejekku lagi padanya dan sangat tak seperti biasanya, kali ini ia diam saja... tak sedikitpun menggubris ejekanku. Sedangkan, Reno tampak tak senang menatapku.


Film pun dimulai dan kuperhatikan suara dari film yang begitu keras membuat gadis cerewet merasa tidak nyaman. "Haruskah suaranya menggelegar begitu keras seperti ini?" gumamnya.


Reno tersenyum kecil kemudian berkata lembut, "Nanti kau akan terbiasa."


'Ciiihhh!' Aku meludah dalam hatiku. 'Dia sok perhatian sekali.' Lalu, aku menyedot dengan cepat semua minumanku hingga habis tak bersisa. Entah mengapa aku merasa kesal pada tingkah Reno.


Sejujurnya sepanjang film ditayangkan pikiranku kacau. Aku jadi tidak menyimak alur filmnya dengan baik. Hingga muncul adegan pemeran wanita di dalam film itu sakit keras dan sekarat. Bagiku itu adegan yang sangat klise. Namun, aku terkejut saat tak sengaja melirik ke arah gadis cerewet.


"Tess!" Butiran air menetes.

__ADS_1


'Apa aku tak salah lihat?' pikirku. 'Wouww... Dia menangis?' Aku cukup tercengang dan aku membiarkannya. Aku pura-pura tak menyadarinya.


Dia terus menangis tanpa membuat suara sedikitpun. Reno yang duduk di sebelahnya pun sepertinya tak menyadarinya. Kulihat ia sibuk mengunyah pop corn dalam genggamannya.


'Mengapa dia begitu mudah menangis hanya karena menonton film seperti ini?' pikirku. 'Dasar gadis aneh. Mudah marah, mudah menangis.' Aku terus memperhatikannya menangis tanpa ia sadari. Dan, entah mengapa perhatianku terus lebih tertarik pada air matanya daripada film di hadapanku.


'Aku tak menyangka ia menangis,' batinku. 'Ia kasar seperti pria.'


'Haruskah aku memberikan sapu tangan padanya?' Aku merogoh saku celanaku. Tapi, aku mengurungkan niatku. 'Hahh, tidak. Dia akan malu jika tahu bahwa aku memperhatikannya menangis.' Aku tetap pura-pura tidak tahu.


Lalu, ia mengusap kedua pipinya dengan kedua tangannya, tak menyisakan sedikitpun lelehan air mata di wajahnya. Ia sepertinya tak ingin orang lain tahu tangisannya. Dan, aku tak berkata apapun, aku hanya meliriknya dalam kegelapan.


'Gadis cerewet ini... perasaannya ternyata begitu halus. Mengapa ia menyembunyikannya?' batinku.


Hingga malam tiba aku masih saja teringat dengan kejadian di bioskop. Aku terbayang ia menangis dalam diam, dalam kegelapan. Entah mengapa aku selalu jadi ingat padanya. Lalu, sebuah pesan BBM masuk di ponselku.


'Rhama, terima kasih hadiahnya.' Itu pesan dari Mei. Diikuti dengan pesan berisi emoticon hati.


Mei pun membalas, 'Aku sangat suka.'


Lalu, aku hanya membacanya, tak membalasnya lagi. Aku tak ingin melanjutkan obrolannya lagi. Aku sedang tidak mood untuk membalas chat. Pikiranku dipenuhi bayangan gadis cerewet. 'Mengapa aku terus memikirkannya?' keluhku dalam hati.


...****************...


Esoknya, Senin pagi....


Aku berjalan dengan Mei menuju lapangan upacara. "Rhama, maaf kemarin saat kau datang aku tidak ada di rumah," ucap Mei.


Aku hanya menjawab, "Tidak apa-apa."


Mei kemudian meneruskan ucapannya, "Kemarin aku sedang pergi ke salon untuk perawatan rambut rutin. Aku tidak tahu jika kau akan ke rumah."


Aku hanya diam. Dalam hati aku berkata, 'Pantas saja rambut Mei selalu rapi, wangi, sangat lembut. Berbeda sekali dengan rambut gadis cerewet yang hampir selalu acak-acakan tak terurus.'

__ADS_1


'Oooppss! Mengapa lagi-lagi aku memikirkan dia?' keluhku dalam hati. 'Dia benar-benar mengganggu pikiranku.'


"Oh, ya... Rhama... menurutmu potongan rambutku yang baru ini bagus tidak?" tanya Mei membuyarkan pikiranku.


"Hahh...." Aku sedikit tergagap. 'Potongan rambut baru?' Aku bahkan sama sekali tak menyadari penampilan baru rambut Mei. Aku tak memperhatikannya sejak tadi.


"Setelah perawatan, aku kemarin juga sekalian memotong rambutku agar terlihat lebih fresh," ucapnya. "Menurutmu lebih cocok seperti ini atau model yang kemarin?"


Setelah kuperhatikan seksama memang rambut Mei hari ini berbeda dari tampilan sebelumnya. Kini poninya tak lagi lurus ke depan, tapi menyamping dan lebih tipis. Rambut bagian belakangnya juga terlihat lebih pendek dan lebih tipis. Dia terlihat lebih segar dari sebelumnya. Entah mengapa aku tak menyadarinya sejak awal.


'Ada apa dengan otakku?' pikirku. Aku seperti tidak fokus, tidak memperhatikan sekitarku dengan baik. Pikiranku terasa penuh. Aku kacau.


"Bagaimana menurutmu, Rhama?" tanya Mei lagi.


"Ohhh... model apapun selalu sangat cocok denganmu Mei," jawabku dengan tersenyum.


"Kau pintar menyenangkan hati wanita," ucap Mei ketika mendengar jawabanku.


Aku terdiam lalu aku bertanya, "Apa aku salah bicara?"


"Tidak." Mei menggelengkan kepalanya. "Aku serius. Kau selalu menyenangkan hatiku. Aku suka padamu, Rhama."


Seketika aku berhenti berjalan. Aku menatap wajah Mei. Dia tersenyum seperti begitu bahagia. Aku pun membalas senyumannya juga dengan senyum. Namun, semyumku terasa berat, tidak lepas.


'Ada apa denganku? Padahal, Mei mengatakan ia suka padaku. Tapi, mengapa aku merasa biasa-biasa saja?' Mengapa getaran yang aku rasakan dulu saat berusaha mendapatkan hati Mei saat ini tak kurasakan lagi? Hilang, lenyap. Semuanya seperti biasa-biasa saja. Aku tak merasakan apapun saat mendengar Mei berkata ia suka padaku.


Sepanjang upacara aku merasa perasaanku tidak baik-baik saja. Aku galau. Padahal, Mei berdiri dalam barisan di sampingku saat ini. Ia berdiri bersebelahan denganku. Entah apa yang sebenarnya membuat perasaanku jadi seperti ini.


Lalu, saat bendera dinaikkan tiba-tiba aku melihat gadis cerewet berjalan ke belakang, keluar dari barisannya. Ia segera disambut petugas PMR. Aku menoleh ke belakang untuk melihatnya. Lalu, "Pukk!" Mei menyenggol lenganku.


"Jangan menoleh! Kita sedang hormat pada bendera, Rhama," bisik Mei. Sehingga, aku kembali menghadapkan wajahku ke depan. Namun, dalam hati aku mengkhawatirkan gadis cerewet.


'Dia pasti lagi-lagi merasa pusing dan tidak kuat mengikuti upacara,' batinku. Sementara itu, Mei ternyata melirik ke arahku dan memperhatikan ekspresi kekhawatiranku.

__ADS_1


__ADS_2