Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Rindu dan Haru


__ADS_3

'Astaga! Aku tak menyangka sup buatannya senikmat ini,' batinku. Aku bergegas melahap nasi di piringku dengan cepat. Lalu, aku menambah nasi kembali. Lagi-lagi aku begitu rakus menyantap masakannya. Aku sendiri heran mengapa masakannya begitu enak.


"Sup ini sangat segar," ucapku. "Bagaimana bisa kau melakukannya?"


"Apa? Melakukan apa?" tanyanya.


"Apakah setiap masakan yang kau buat selalu sangat lezat?" tanyaku.


"Tidak juga," jawabnya datar.


"Bagaimana bisa kau membuat sup ini terasa sangat nikmat?" tanyaku. "Apakah kau ikut kursus memasak?"


Dia tiba-tiba tersenyum sinis dan menghentikan makannya. "Hehkh... apa maksudmu? Kau ingin mengejekku?"


"Tidak, aku serius. Masakanmu sungguh enak. Padahal, dilihat dari penampilanmu yang bukan wanita sejati, benar-benar tidak meyakinkan jika kau bisa memasak."


Ia melotot karena lagi-lagi aku mengejeknya. "Seharusnya aku tidak memberimu makan siang," ucapnya kesal.


"Bukan begitu. Jangan tersinggung dulu!" ucapku segera. "Aku serius, aku heran mengapa kau sangat pintar memasak?"


"Aku bukan pintar memasak," ucapnya tegas. "Ala bisa karena biasa."


"Hahhh... maksudmu?" Aku masih berusaha meloading perkataannya.


"Aku terbiasa memasak sendiri sejak kecil. Karena itu, aku bisa. Aku bukan pintar memasak," jawabnya.


"Wouww! Kau sudah memasak sejak kecil. Aku bahkan baru pertama kali memasak dalam hidupku lusa lalu dan itupun gagal," ucapku.


"Itu semua karena kau memberikan resep yang salah padaku," gumamku.


"Resep salah?" Gadis cerewet tak mengerti.


"Kau pasti mau mengerjaiku kan?" serangku. Sementara itu, mulutnya ternganga karena bingung.


"Harusnya aku membuat perhitungan padamu. Kau benar-benar membuatku kecewa. Aku sudah sangat berharap bisa menikmati sambal tempoyak yang enak, ternyata... asiiiiiin sekali. Kau keterlaluan."


"Kau yang memasukkan garamnya terlalu banyak," ucapnya.


"Aku sudah memasukkannya sesuai resep yang kau tuliskan." Aku tak terima ucapannya.


"Mungkin memang tempoyak mentahnya asin. Tempoyak mentah itu ada yang rasanya sedikit manis dan ada yang asin. Jika tempoyaknya asin, harusnya kau masukkan garamnya secukupnya saja," jelasnya.


Dan, aku langsung tak percaya sambil berkata, "Hahh, tidak mungkin hanya karena itu rasanya benar-benar asin melengking. Bukan keasinan biasa, tapi benar-benar super asin darurat." Aku begitu berapi-api mengatakannya.

__ADS_1


"Memangnya berapa banyak garam yang kau masukkan?" tanyanya.


"Dua sendok," jawabku mantap.


"Dua sendok apa?" tanyanya lagi.


"Ya sendok makan," ucapku.


"Hooh sudah tentu super asin," ucapnya segera. "Kutulis di resepnya dua sendok teh."


"Kau bohong," tuduhku segera. "Jelas-jelas kau menulis dua sendok. Jangan coba-coba mengelak!"


"Aku menulis dua es-de-te, 2 sdt. Yang artinya dua sendok teh," tegasnya.


"Kau menuliskannya 'sdk'," ucapku. "Es-de-ka, artinya sendok kan."


"Kau yang tidak bisa membaca," serangnya. "Itu huruf 't' bukan 'k'."


"Jika itu memang benar-benar 't', berarti kau yang tidak bisa menulis. Tulisanmu jelek sekali hingga tak terbaca," omelku tak mau mengalah.


"Yang pasti aku sudah memberikan resep yang sangat benar padamu. Salahmu sendiri. Apakah saat memasak kau tidak mencicipinya?"


Aku teringat aku memang tidak mencicipi masakanku saat itu. Aku terkejut mama memanggilku, tanganku tersenggol wajan, lalu aku segera mematikan kompor tanpa mencicipinya lebih dulu. Kemudian, aku mengajak bibi menyantapnya.


"Jika kau pikir aku ingin mempermainkanmu, kau salah besar. Aku sama sekali tak berniat melakukannya," ucapnya.


"Yaa, mungkin saja karena aku banyak melakukan kesalahan padamu, kau kesal dan ingin membalasku," ucapku.


"Bukankah aku sudah menghilangkan nomor telepon ibumu? Aku juga sudah memarahimu di depan Mei, tidak menepati janjiku untuk mengajarimu. Jadi, mungkin saja kau dendam dan ingin mempermainkanku."


"Kau terlalu picik," ejeknya.


"Aku tidak picik. Sejujurnya aku cukup heran karena ternyata kau sama sekali tak marah padaku saat aku melakukan semua kesalahan itu. Padahal, kau wanita yang garang seperti monster."


Lagi-lagi ia memelototiku saat mendengar ucapanku. Sementara itu, aku dengan santainya sambil tersenyum meneruskan ucapanku, "Sebenarnya apa yang membuatmu tidak marah padaku?"


"Kau memang benar-benar menyebalkan," ucapnya kesal. "Seharusnya saat itu juga aku memakimu. Aku menyesal tidak memarahimu. Sejujurnya saat itu aku sangat kesal padamu, bahkan ingin menendangmu."


"Lalu, mengapa tak kau lakukan?" tanyaku.


Ia terdiam. Aku menunggu jawabannya lalu aku berkata, "Mengapa? Apa kau tak bisa marah padaku?" Aku meledeknya.


"Hakh... jangan-jangan kau jatuh cinta padaku. Ck, ck, ckkk... Wanita mana yang bisa menolak pesonaku?" Aku membusungkan dada. "Hampir setiap wanita tertarik padaku, tidak menutup kemungkinan itu juga termasuk ... kau."

__ADS_1


"Hehhh... jangan besar kepala! Aku tak selera dengan pria bodoh sepertimu. Jangan samakan aku dengan wanita-wanita di luar sana yang mengejarmu!"


"Berarti kau tidak normal," gumamku. "Pantas saja kau seperti pria. Jangan-jangan kau menyukai wanita."


"Pri...a bo...dohhhh...." ucapnya geram. Lalu, langsung berdiri dan mengusirku, "Cepat, enyah dari hadapanku!"


"Hahhhh... mengapa kau selalu mengusirku setiap aku ke sini?"


"Karena, kau sangat menyebalkan. Untuk apa sebenarnya kau ke sini?" ucapnya masih dengan wajah kesal.


Aku pun bangkit dari dudukku dan langsung berkata, "Aku ke sini untuk mengantarkan ini padamu." Aku mengeluarkan jam yang ingin kuberikan padanya dari sakuku dan menyodorkannya.


Ia tercengang dan menjadi heran. "Apa ini?" tanyanya masih dengan nada kesal.


"Ini hadiah untukmu. Ambillah!"


Ekspresi wajahnya jadi lebih tercengang lagi.


"Aku memberikan ini karena kau telah mencatatkan resep untukku. Terima kasih." Aku masih menyodorkan jam itu di hadapannya.


"Ambillah! Ini hadiah untukmu," ucapku karena ia tak kunjung mengambil jam itu.


"Aku tak butuh hadiah darimu," balasnya.


"Kau butuh," ucapku segera. "Ini jam. Kau sangat butuh, kau hampir selalu terlambat datang ke sekolah setiap hari. Kau harus punya jam agar lebih on time."


Ia menggelengkan kepalanya. "Bawa kembali dan segera pergi dari sini!"


Aku segera meraih tangannya dan meletakkan jam itu di genggamannya. Seketika itu ia langsung tercengang menatapku sehingga mata kami saling bertemu. "Ambillah!" ucapku. "Aku tak akan pergi sebelum kau menerima jam ini."


"Lepaskan tanganku!" ucapnya dan aku pun spontan segera melepaskan genggaman tanganku dari tangannya. Entah mengapa selama beberapa detik mendadak saja aku jadi salah tingkah.


"Maaf," ucapku segera dan ia hanya terdiam.


...****************...


"Hmmmhhhhh...." Rhama menarik nafasnya panjang. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah jam yang tampak lecet dan sudah tidak berfungsi. Rhama mengusap jam itu dan memandanginya. Lalu, ia memandangi halaman rumah di hadapannya yang sudah dipenuhi semak belukar.


"Mimi... apa kabarmu?" gumamnya. 'Dulu aku memberikan jam ini padamu di halaman itu. Halaman yang dipenuhi dengan bunga... rumput yang sangat hijau,' batinnya.


'Aku begitu merindukan masa-masa itu.'


"Apa kau juga rindu?" ucap Rhama.

__ADS_1


__ADS_2