
Dalam sekejap gosip tentang aku dan Mimi tersebar di seluruh penjuru sekolah. Berawal dari opini kedua siswi petugas UKS, "Sepertinya ada sesuatu di antara Rhama dan gadis itu. Lihat saja cara mereka memandang dan pembicaraan mereka. Aku yakin sekali ada sesuatu di antara mereka."
"Ya, kudengar sekarang Rhama sudah tak akrab lagi dengan Mei. Apa mungkin mereka sudah putus?"
"Bagaimana bisa? Apa karena gadis itu?"
"Tidak mungkin. Trik apa yang digunakan gadis itu untuk membuat Rhama jatuh ke pelukannya?"
"Kelihatannya dia gadis biasa, tapi ternyata dia diam-diam menghanyutkan."
"Aku tak percaya. Tapi, tadi Rhama bertanya apa karena menghindarinya gadis itu menjadi tidak sarapan? Itu artinya tadi pagi sebelum sekolah mereka... ah apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka? Dan, tiba-tiba pagi ini Rhama muncul dengan tampang babak belur seperti itu."
Berawal dari opini itu gosip-gosip pun berkembang tanpa bisa dibendung. Dalam hitungan jam aku dan Mimi langsung menjadi hot topic di sekolah. Rasa penasaran para siswa membuat mereka sangat ingin tahu dan mengorek informasi sebanyak-banyaknya tentang kami. Namun, aku tak peduli. Hingga pada akhirnya saat jam istirahat tiba.
Tiga siswi menabrak Mimi dengan sengaja, membuatnya terjatuh bersama gorengan panas di tangannya. Tak ada rasa bersalah dan penyesalan sedikit pun di wajah mereka. Sebaliknya mereka tampak sangat tidak menyukai Mimi dan menertawakannya.
"Kalian sengaja menabrakku," ucap Mimi kesal. Gorengan yang ingin ia makan sudah berhamburan di lantai.
Siswi-siswi itu hanya menyeringai sinis. Tak satupun dari mereka ingin meminta maaf.
Mimi kesal dan berkata, "Kalian harus mengganti gorenganku."
Tawa para siswi itu malah langsung pecah. Satu di antara mereka berkata, "Sebegitu berhargakah gorengan itu bagimu? Menyedihkan."
Siswi lainnya berkata, "Dia memang miskin. Makanya, dia ingin punya pacar yang kaya."
"Bicara apa kalian?" Mimi marah.
"Ikan sudah menangkap umpan. Kamu tinggal menarik pancingmu. Tapi, sejujurnya aku heran umpan apa yang kamu pakai?"
Mimi semakin tak mengerti arah pembicaraan mereka. Karena, Mimi memang benar-benar tak tahu apa yang terjadi, apa yang membuat mereka mengusilinya?
"Dia jelek. Bagaimana bisa dia merayu Rhama?" Mereka saling berbisik sambil memandang rendah dan tak senang pada Mimi.
"Mungkin Rhama hanya khilaf," bisik mereka lagi. "Dia hanya ingin mempermainkan gadis bodoh ini."
__ADS_1
"Apa yang kalian bisikkan?" ucap Mimi lantang. "Jika berani, bicara dengan keras padaku!"
"Hehh? Untuk apa kami meladeni gadis murahan sepertimu? Buang-buang waktu. Ayo kita pergi!" ucap salah satu dari mereka lalu mereka membalikkan badan, hendak pergi.
"Tunggu dulu!" suara pria terdengar lantang dari jarak agak jauh.
"Beraninya kalian menyebut Mimi gadis murahan." Dalam sekejap tiba-tiba saja Reno sudah berada di dekat para gadis itu. Ia memelototi mereka dan menghalangi jalannya.
"Minggir kau!" ucap mereka. "Jangan sok pahlawan!"
"Aku tidak akan pergi sebelum kalian meminta maaf pada Mimi," tegas Reno. Namun, ketiga siswi itu tak menghiraukan ucapan Reno. Mereka bergegas ingin melangkah, melarikan diri.
Tangan Reno dengan cepat menangkap pergelangan tangan siswi yang tadi menghina Mimi sebagai gadis murahan. Sehingga, ia berteriak, "Apa yang kau lakukan? Lepaskan!"
"Aku tak akan melepaskanmu sebelum kalian minta maaf."
Siswi itu memberontak, ingin melepaskan tangannya. Sehingga, kejadian ini menyedot perhatian semua orang di sekitar. "Tak tahu malu," ucap siswi itu. "Lepaskan tanganku!" Ia mulai meringis.
"Tidak akan, sebelum kau meminta maaf." Reno semakin menguatkan tangannya. Kedua teman siswi itu menjadi ketakutan. Aldo dan Yoga kini menghalangi jalan mereka.
"Dasar preman!" ucap siswi itu kesal. "Lepaskan tanganku! Sakit!" teriaknya. Sementara itu, Mimi hanya diam menonton siswi yang tadi telah menghinanya.
"Aku akan melaporkanmu pada guru. Lepaskan tanganku!"
"Minta maaf!" ucap Reno.
"Tidak!" teriak siswi itu.
"Minta maaf!"
"Tidak!"
"Ohh, baiklah jika begitu kau ingin dibalas ya? Kau menghina, maka aku akan balas menghinamu. Kau wanita ja*lang! Bukan aku tak tahu kelakuanmu. Kau sok kaya, tapi sebenarnya miskin. Banyak gaya, sok paling cantik. Murahan, mengincar laki-laki kaya. Kau juga mau dibayar.... "
"Cukuppp! Hentikan!" Teriakan siswi itu menghentikan ucapan keras Reno. Air matanya sudah mengalir dan ia tampak ketakutan.
__ADS_1
"Lepaskan aku!"
Reno melirik Mimi dan Mimi memberi isyarat untuk melepaskannya. Sehingga, Reno pun melepaskan pergelangan tangan siswi itu yang sudah memerah. Siswi itu cepat-cepat meraba pergelangan tangannya sambil terus menangis.
"Jangan ulangi lagi!" tegas Reno padanya. "Jika tidak, kalian berhadapan denganku." Reno mengancam ketiga siswi itu. Lalu, Aldo dan Yoga menyingkir dari jalan mereka. Sehingga, mereka dengan cepat melarikan diri dari hadapan Mimi.
"Terima kasih," ucap Mimi.
"Jika ada orang yang mengganggumu lagi, katakan saja padaku! Aku akan menghabisinya," ucap Reno berapi-api.
Sementara itu, Ken bergegas ke kelas. Ia langsung berkata padaku dengan berapi-api, "Rhama, siswi yang kau gendong waktu pingsan di lapangan upacara itu...."
Otakku langsung menalar siswi yang Ken maksud adalah Mimi. "Mimi," ucapku.
"Iya, Mimi. Tadi aku ke kantin dan melihat dia diganggu oleh trio populer." Trio populer adalah sebutan untuk ketiga siswi yang menghina Mimi.
"Diganggu?" gumamku dan mulut Ken pun langsung bercerocos menceritakan kejadian tadi dari awal hingga akhir dengan sangat detail dan bersemangat. Sedangkan, aku hanya terdiam mendengar jalan ceritanya.
Ken adalah sumber gosip teraktual di kelasku. Aku bisa merasakan ia tidak mengada-ada. Mereka benar-benar mengganggu Mimi dan Reno yang menolongnya.
"Rhama! Rhama!" panggil Ken. "Hei, Rhama! Kamu mendengarkan ceritanya tidak?" Ia menatap mataku yang hanya memandang kosong. Lalu, tiba-tiba aku bangkit dari tempat dudukku dan berlari keluar kelas.
"Hei, Rhama!" teriak Ken. Aku tak menghiraukannnya.
Kali ini aku tak bisa tidak peduli dengan gosip yang berkembang saat ini tentang aku dan Mimi. Karena, gosip-gosip itu ternyata berdampak buruk pada Mimi. Para siswi itu membencinya karena mungkin iri pada Mimi. 'Mereka tak suka aku dekat dengan Mimi,' batinku saat sudah tiba di kantin dan mulai mencari sosok Mimi.
Tak kutemukan dia di sana. Namun, sosok Reno malah mendekatiku. Ia menyentuh pundakku dari belakang, cukup mengagetkanku. "Siapa yang kau cari?" tanya Reno.
"Tak perlu mencarinya lagi! Jauhi dia! Kau hanya memberi dampak buruk untuknya." Suara Reno terdengar sinis.
"Aku tak butuh saranmu," ucapku tak kalah sinis.
"Pikirkan ucapanku! Karena, nyatanya para fansmu hari ini sudah mulai beraksi untuk menyakitinya."
"Aku tak akan membiarkannya. Aku akan melindunginya," tegasku.
__ADS_1
Reno menjadi menyeringai sinis. "Anak mama sepertimu tak akan mampu melindunginya. Bahkan, dulu kau meminta perlindungan darinya... dengan berbohong menjadi sepupunya."
Aku kesal mendengar ucapan Reno, sedangkan Reno tertawa kecil. Sungguh aku ingin memukulinya lagi, namun suara bel tanda jam istirahat berakhir tiba-tiba berbunyi. Reno perlahan melangkah mundur dan meninggalkanku yang masih mematung penuh amarah.