
"Hahh, tidak salah lagi," gumam mama dari balik kaca jendela mobil.
'Pak Yuta bilang rumahnya tidak berpagar, halamannya cukup luas ditanami rumput jepang dan ada pohon rambutan di pinggir halamannya,' ucap mama dalam hati.
"Rumah ini terlihat tua," gumam mama.
"Maaf Nyonya, maaf jika saya lancang bertanya... sebenarnya Nyonya mencari rumah siapa?" tanya Pak Parman, sopir mama.
"Bukan urusan kamu," jawab mama dengan jutek.
"Maaf Nyonya, bukan saya ingin ikut campur. Tapi, saya pernah ke rumah ini bersama Tuan Rhama."
"Apaaa?" Mata mama langsung melotot tak percaya.
"Ini rumah teman sekolah Tuan Rhama," ucap Pak Parman. "Tuan Rhama ke sini dulu. memperbaiki kaca jendela rumahnya itu ... karena Tuan Rhama telah memecahkannya."
"Haahh!" Mata mama membola. Ia terdiam. 'Rhama memecahkan kacanya, lalu memperbaikinya. Kemarin juga Rhama ternyata pulang sekolah langsung ke sini. Berarti Rhama sudah sering ke sini. Sejauh mana hubungan mereka?' pikir mama dengan gusar.
"Rhama!" panggil mama saat masuk ke kamarku di sore hari. Aku menoleh.
"Mama tidak bisa menahannya lagi dan tidak bisa berhenti berpikir. Mama harus bertanya padamu."
Aku agak terkejut dengan ekspresi kegusaran mama. 'Sebenarnya ada apa?' pikirku.
"Sudah seberapa jauh hubunganmu dengan gadis yang bernama Mimi itu?" tanya mama dan aku terkaget.
"Pak Parman bilang kamu sering ke rumahnya. Kalian pasti bukan teman biasa. Kalian berdua punya hubungan apa?"
"Kalian berpacaran?"
Aku menggeleng. "Sejauh ini kami hanya berteman, Ma," jawabku.
"Tapi, mesra!" tukas mama langsung, membuatku terdiam.
"Untuk apa kau sering ke rumahnya, Rhama? Apa yang kalian lakukan di sana?" Intonasi mama menggebu. "Saat mencari rumahnya mama mendapat info dari orang sekitar bahwa gadis itu tak tinggal bersama orang tuanya. Dia lebih sering sendiri di rumahnya ... karena paman dan bibinya selalu bekerja di toko seharian."
__ADS_1
Mama pun teringat tadi ia menanyakan rumah Mimi di sebuah warung. Ibu penjaga warung itu menunjukkan arahnya lalu berkata, "Tapi, jika jam sekarang biasanya rumahnya kosong. Tidak ada orang. Mimi sekolah. Paman dan bibinya baru akan pulang sore nanti. Jika Ibu mau ke rumahnya, lebih baik siang atau sore." Dan, obrolan untuk mengorek informasi pun berlanjut. Sehingga, mama tahu bahwa Mimi lebih sering sendiri di rumah dan ketika mengetahui aku sering ke rumahnya, mama menjadi gusar.
"Apakah kau melakukan hal di luar batas?" tanya mama dengan tajam.
"Aku tidak melakukan hal apa pun yang tidak baik di sana, Ma. Kami tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Bahkan, aku jarang masuk ke rumahnya. Kami hanya duduk di teras atau di halamannya. Ia gadis baik-baik, tak seperti yang Mama pikirkan," ucapku segera.
"Lalu, untuk apa? Mengapa kau sering ke sana?"
"Karena, aku ingin menemuinya," jawabku jujur.
"Mengapa kau tidak menemuinya di sekolah? Mengapa kau harus ke rumahnya?"
Aku bingung harus menjawab apa untuk pertanyaaan mama ini? Aku memang bertemu dengannya di sekolah. Tetapi, rasanya itu tidak cukup. Ada sesuatu dalam diriku yang terus menarikku untuk selalu ingin menemuinya. Bagaimana aku bisa menjelaskannya pada mama?
"Mengapa kau diam saja, Rhama?" tanya mama. "Mama yakin hubungan kalian tidak biasa. Insting seorang ibu tidak bisa dibohongi."
"Jangan sampai kau melakukan hal di luar batas dan mempermalukan nama keluarga kita!" oceh mama.
"Kami hanya berteman, Ma," ucapku. "Tidak melakukan hal macam-macam."
"Kami tidak memiliki hubungan apapun. Dia memperlakukanku seperti teman biasa," tambahku.
"Karena, aku menyukainya ... aku mencintainya," gumamku kemudian dengan pelan.
Mata mama langsung membola dan terarah padaku. "Diam-diam kau memiliki hubungan khusus dengan gadis itu ... dan sering ke rumahnya." Mama tampak cukup marah.
"Mama tidak ingin kau lepas kendali dan terjerumus lebih dalam."
"Jauhi gadis itu, Rhama!" Perkataan mama sangat membuatku tersentak.
"Jangan hancurkan masa depanmu! Jangan rusak reputasi dan nama keluarga kita! Kau putra mama satu-satunya."
"Sebentar lagi kau akan ujian kelulusan. Berhentilah bermain-main dan seriuslah belajar! Cintamu itu hanya cinta monyet."
"Mama tidak ingin mendengar kau datang ke rumahnya lagi," ucap mama. "Seorang laki-laki dan perempuan tabu untuk berduaan bukan di tempat umum. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan!"
__ADS_1
"Aku dan Mimi sama sekali tidak seperti yang Mama pikirkan," ucapku dan perkataanku ini ternyata memicu amarah dan ocehan mama. Akibatnya, tak kurang dari satu jam mama menceramahiku habis-habisan hingga telingaku gerah dan rasanya tak ingin membuka.
Intinya aku harus menjauhi Mimi, tidak berhubungan lagi dengannya. Tapi, bagaimana bisa kulakukan semua itu? Hatiku sudah sangat terikat, benar-benar terikat.
Sama seperti saat ini, detik ini... hatiku masih sangat terikat kuat padanya. Sudah banyak tahun berlalu. Mimi pun tak ada di sini lagi, namun hatiku dan jiwaku tetap terikat padanya. Itulah yang membuat langkah kakiku saat ini berada di rumahnya, rumah yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan. Rumah yang kini dipenuhi dengan debu dan sarang laba-laba.
Aku membalikkan badan, memperhatikan sekitarku. Ada hal yang tak biasa. Perabotan rumahnya tampak berantakan. 'Apakah ada orang yang sudah masuk ke sini?' pikirku.
Hal ini membuat langkah kakiku pun bergerak masuk melampaui ruang tamu. Kini aku berada di ruang keluarga. Ruang itu juga tampak berantakan dan berdebu. Beberapa laci tak tertutup rapat, barang-barang di dalamnya pun berhamburan dan ada yang bertebaran di lantai. Kuperhatikan tak tampak satupun lagi peralatan elektronik di rumah ini.
'Apakah ada pencuri masuk ke rumah ini?' pikirku lagi.
Kemudian mataku tertuju pada beberapa pintu di ruang itu. Salah satu pintu dicat putih dan berhiaskan tulisan 'MyRoom'. Aku teringat dulu Mimi memasuki kamar itu. Itu kamar Mimi. 'Apakah pencuri itu juga masuk ke kamarnya?' pikirku.
Aku sangat penasaran. 'Apakah mereka mengambil barang berharga di kamar Mimi?' pikirku.
Aku melangkah maju, menuju ke depan pintu kamarnya. Kemudian, langkahku terhenti. Aku memandangi pintu itu, pintu yang dulu sangat membuatku penasaran. Dulu aku sangat ingin tahu seperti apa kamarnya. Aku ingin tahu apa saja yang ia letakkan dalam kamarnya, apa warna catnya, apakah kamarnya berantakan atau rapi?
"Hmmmmmhhhhh...." Aku menarik nafasku dengan panjang. Kini aku sudah berada di depan pintu kamarnya. Tak ada lagi halanganku untuk membukanya.
Aku meletakkan jemariku pada gagang pintunya dan, "Krekkk!" Aku menekan gagangnya ke bawah.
...****************...
Hari ini karena ada rapat para guru di sekolah, jadi kami para siswa dipulangkan lebih awal. Aku menaiki mobilku dan berpikir untuk langsung pulang ke rumah. Aku tak lagi menawarkan untuk mengantar Mimi pulang. Itu sudah kulakukan sejak dua hari lalu.
Beberapa hari lalu mama baru saja menceramahiku habis-habisan untuk menjauhi Mimi. Jadi, aku berusaha untuk menuruti ucapan mama. Aku tak ingin membuatnya sedih.
Tapi, sejujurnya aku sangat rindu pada Mimi. Aku bahkan tak mencarinya di sekolah beberapa hari ini. Aku tak melihat batang hidungnya. Aku berusaha menjauhinya. Tapi, itu malah membuatku semakin ingin menemuinya dan perasaan itu pun kini menggebu.
'Apa kabarnya?' batinku penasaran.
'Apakah ia sudah sampai rumah dengan selamat?' pikirku saat ingin membelokkan mobil ke jalan yang menuju ke rumahku.
'Hari ini kami pulang lebih awal. Bagaimana jika aku mampir dulu ke rumahnya? Mama tidak akan tahu,' pikirku lagi.
__ADS_1
'Aku ingin menemuinya,' batinku. Aku rindu melihat wajahnya dan mendengar suaranya.
Dan, akhirnya aku membatalkan niatku untuk membelokkan mobilku. Aku memacu mobilku lurus ke depan, mencari tempat putaran terdekat dan berbalik arah. Aku memacu mobilku menuju rumah Mimi.