Rhama Dan Cinta

Rhama Dan Cinta
Mengecewakanmu Lagi


__ADS_3

'Mei putus?' Aku benar-benar sulit untuk percaya Mei mengatakan hal itu. 'Apa ini nyata?' pikirku.


“Semuanya sudah berakhir.” Ia berkata tanpa berani menatapku.


“Apakah aku telah mengacaukan hubungan kalian? Apakah karena ketololanku kemarin?” tanyaku.


“Tidak.” Mei menggelengkan kepalanya. “Bukan salahmu,” ucapnya. “Memang sudah saatnya kami putus.”


“Aku tak mencintainya lagi,” tambah Mei.


“Degg!” Jantungku langsung berdetak keras mendengar pengakuan Mei. Tak bisa kupungkiri aku memang masih menyukai Mei sampai saat ini apapun keadaannya.


'Apakah ini berarti kesempatan untukku? Apakah ini saat yang tepat untuk kembali memperjuangkan cintaku?' pikirku.


Aku tak peduli apa yang membuat hubungan mereka berakhir dan bagaimana bisa berakhir. Aku hanya ingin Mei tahu bahwa aku mencintainya, sangat mencintainya sejak dulu. Namun, aku tetap saja tak bisa mengatakannya saat ini pada Mei. Bibirku terlalu kaku untuk mengatakan aku mencintaimu. Aku tak pernah pacaran sekali pun seumur hidupku sejak lahir. Aku bingung dan tak tahu dengan pasti apa yang harus aku lakukan. Sehingga, aku hanya terdiam dan tak mampu merespon sedikit pun ucapan Mei.


Namun, di luar dugaan di sepanjang pelajaran ternyata pikiranku malah menjadi begitu berkecamuk. Aku tak bisa berkonsentrasi sedikit pun. Yang ada dalam kepalaku hanyalah Mei, Mei, dan Mei.


'Apakah aku harus mengatakannya hari ini juga pada Mei bahwa aku mencintainya?' pikirku. 'Tapi, ia baru saja putus dengan pacarnya. Terlalu cepat jika aku mengatakannya hari ini.'


'Tapi, jika aku tak segera mengatakannya hari ini, bagaimana jika ia kembali berbaikan dengan mantannya itu hari ini juga? Bagaimana jika ia kembali berpacaran sebelum aku sempat menyatakan perasaanku?' pikirku lagi.


'Apa yang harus aku lakukan?' Aku benar-benar bingung.


Dan, akhirnya bel jam istirahat pun berbunyi. Aku memutuskan untuk bersantai di bawah pohon tak jauh dari kelasku untuk menyegarkan pikiran dan perasaanku yang galau. Namun, di luar dugaanku aku malah tak sengaja melihat wajah kusut gadis cerewet dari jendela kelasnya yang bening. Ia duduk di balik jendela.


'Hmmhh... aku belum sempat meminta maaf padanya kemarin," gumamku dalam hati. Karena itu, aku pun beranjak dari tempat dudukku dan melangkah menuju jendela kelasnya.


Aku menyelipkan badanku di balik kaca jendela di samping tempat duduknya. Sehingga, sebagian badanku -bagian atas- berada di bawah kaca jendela dan sebagian lagi -bagian bawah- tertutup tembok kelas. Lalu, aku memanggilnya, "Hai, Mimi!"


Dia menoleh dan aku segera berkata, "Maafkan aku kemarin."


Ia hanya diam. Aku melanjutkan ucapanku, "Aku tak bermaksud merusak kertasmu dan aku juga sangat menyesal sudah mengejekmu. Aku memang bodoh."


"Kau tidak bodoh," ucapnya. "Memang aku yang bodoh. Ucapanmu benar ... aku memang bodoh, paling bodoh di antara yang paling bodoh." Ekspresinya tidak senang seperti sedang menyinggungku.


'Hoah... ternyata ucapanku masih sangat membekas di hatinya,' batinku.


"Kau tidak bodoh, aku sangat yakin sekali. Kau hanya kurang belajar. Menurutku kau hanya perlu sedikit belajar lagi, pasti nilai ulanganmu akan bagus." Ia diam tak mempedulikan ucapanku yang sudah panjang lebar.


"Mimi, maafkan aku! Aku hanya asal bicara," ucapku dan dia tetap tak menggubrisku.

__ADS_1


Sehingga, aku berkata, "Jika kau mau, aku bisa mengajarimu. Aku yakin kau sebenarnya pintar. Aku.... "


Aku tak melanjutkan ucapanku lagi karena seketika aku langsung tersadar saat ini semua tatapan siswi yang ada di kelas Mimi mengarah padaku. Mereka saling berbisik membicarakan kami. Entah apa yang mereka gosipkan.


Aku tak ingin mereka berpikiran macam-macam. Sehingga, aku pun pergi meninggalkan Mimi. Aku kembali ke kelasku. Namun, aku tetap berpikir, 'Aku harus minta maaf padanya. Tidak boleh berlarut-larut.'


Oleh karena itu, aku mengambil selembar kertas dan mulai menuliskan permintaan maafku. Lalu, aku melipat kertas itu.


Aku kembali ke jendela tadi dan menyodorkan kertas itu pada gadis cerewet.


"Apa ini?" tanyanya segera.


"Bacalah!" ucapku lalu aku berjalan kembali ke kelasku dengan perasaan yang lebih tenang.


Sementara itu, siswi-siswi yang berada di dalam kelas gadis cerewet itu malah menjadi gaduh seketika. Mereka saling berbisik.


"Aku tidak percaya dengan yang baru saja kulihat. Rhama memberikan surat pada Mimi, jangan-jangan surat cinta."


"Haaaahhh...." Mereka begitu kecewa.


"Tidak mungkin. Mana mungkin Rhama menyukai Mimi," bisik mereka sambil memandang penampilan Mimi yang cukup semrawut untuk menjadi seorang wanita.


"Tapi, mereka terlihat sangat akrab," bisik yang lain dengan nada sedih.


Mimi maafkan aku! Aku sama sekali tidak bermaksud merusak kertas nomor telepon ibumu. Aku juga minta maaf telah mengejekmu. Aku mohon lupakanlah ucapanku dan maafkan aku jika ucapanku menyakiti perasaanmu.


Aku yakin kau tidak bodoh. Aku hanya asal bicara. Sebagai permintaan maafku... jika kau mau, aku bersedia mengajarimu pelajaran yang tidak kau mengerti. Aku yakin kau pasti bisa.


Maafkan aku,


Rhama.


***


Bel tanda jam pelajaran berakhir berbunyi. Sekarang sudah waktunya pulang.


“Hufftt ....” Aku menarik nafas panjang. 'Bagaimana ini?' pikirku. 'Kesempatanku untuk bertemu dengan Mei hari ini nyaris berakhir.' Aku melihat Mei yang membereskan buku-bukunya.


“Mei,” ucapku tiba-tiba dan ia segera menjawab, “Ya, ada apa Rhama?”


“Bolehkah aku mengantarmu pulang hari ini?” Kalimat itu tercetus begitu saja dari bibirku.

__ADS_1


“Hmmm ....” Ia tampak sedikit berpikir sambil terus membereskan buku-bukunya.


'Kumohon jangan menolak! Jangan menolak!' pintaku dalam hati dengan wajah yang memucat.


“Baiklah,” ucapnya kemudian dan dalam sekejap rasanya hatiku lega sekali. Senyum ceria terkembang di wajahku. Benar-benar tak kusangka aku berhasil mengajak Mei untuk pulang bersamaku.


Aku super senaaaaaaaaaaang sekali seperti memenangkan undian uang satu milyar. Tapi, ketika aku melangkahkan kakiku ke luar kelas bersama Mei, gadis cerewet ternyata telah berdiri di depan kelas.


Ia melihatku berdampingan dengan Mei lalu berkata, “Rhama, apa kau punya waktu sebentar?”


'Huehh, mengapa dia tiba-tiba ada di sini?' pikirku. 'Gadis cerewet ini benar-benar merusak suasana,' keluhku dalam hati.


'Apa dia tidak lihat aku sedang bersama Mei,' gumamku dalam hati. 'Dan, tidak biasanya dia memanggil namaku, biasanya kan dia memanggilku ‘pria bodoh’.'


“Besok pagi aku ulangan Fisika. Aku ingin minta jelaskan sedikit padamu, ada yang tidak aku mengerti,” ucapnya lagi.


“Hohh, jangan sekarang ya. Besok saja,” ucapku segera. “Sekarang aku harus mengantar Mei pulang, aku sudah berjanji.” Aku berkata dengan tegas.


“Ulangannya besok pagi. Sebentar saja. Hanya sedikit,” ucap gadis cerewet itu. “Tidak akan sampai lima menit jika kau mau.”


“Hmm, jika begitu lebih baik kau ajari dia saja terlebih dahulu, Rhama. Tidak apa-apa jika tidak bisa mengantarku pulang. Aku mengerti. Aku bisa pulang sendiri,” ucap Mei. Suaranya begitu lembut.


“Tidak, tidak, Mei,” ucapku segera. Aku tak akan membiarkan kesempatan untuk mengantar Mei pulang hilang begitu saja. Itu sangat berharga bagiku.


“Begini saja ... aku mengajarinya sebentar. Lalu, setelah itu aku mengantarmu pulang. Bagaimana? Maukah kau menungguku sebentar?” tanyaku. “Sebentar saja.”


Mei menggeleng. “Aku tidak bisa, Rhama,” ucapnya. “Aku harus segera pulang agar tidak terlambat les piano.”


“Lima menit saja,” ucap gadis cerewet itu.


“Aku tidak bisa,” ulang Mei.


“Tidak akan lama.” Gadis cerewet itu memelas.


“Tidakkah kau mengerti Mei tidak bisa,” ucapku dengan keras pada gadis cerewet itu.


Aku mulai kesal. 'Mengapa gadis cerewet ini tidak bisa mengerti keadaanku?' pikirku. Sementara itu, ia malah terdiam dan menatapku.


Aku bisa membaca ekspresi di wajahnya. Ia begitu kecewa dan sedikit tidak terima, tapi aku tak peduli. Sekali lagi aku menegaskan padanya, “Maaf, aku tidak bisa.”


“Ayo Mei!”ajakku.

__ADS_1


          


__ADS_2