
Reno baru saja pulang ke rumah. Ia menatap dirinya di depan cermin kamarnya.
'Kamu sangat urak-urakan. Mungkin itu yang membuat wanita itu tidak suka padamu.' Kalimat itu terngiang-ngiang di telinganya. Ia membalikkan badannya ke samping kanan lalu ke samping kiri tanpa melepaskan sedikitpun pandangannya dari cermin.
Lalu... tak sampai satu jam kemudian, Reno sudah berada di sebuah salon pangkas rambut. Alunan musik jazz menggelora di seisi ruangan salon yang bergaya maskulin itu. Reno menatap rupanya di cermin. Ucapan bibi pemilik warung itu kembali terngiang, 'Kamu sangat urak-urakkan. Mungkin itu yang membuat wanita itu tidak suka padamu.'
Seorang master barber mendekati Reno yang sudah duduk di kursi pangkas. "Mau dipotong model seperti apa?" Pertanyaannya menghentikan lamunan Reno.
"Aku mau potongan yang rapi," jawab Reno dengan mantap.
***
Seorang siswa melirik jarum jam arlojinya. Pukul 6.43 WIB. Ia berjalan di koridor dengan tenang. Namun, kemunculannya membuat semua siswa yang memandang menjadi tidak bisa tenang. Mereka menjadi riuh seketika.
"Hahh!" desa*h mereka.
"Apa aku mimpi?"
"Hei, lihat! Kejadian langka...."
"Aneh."
"Tidak mungkin...."
Beragam ekspresi terkejut muncul ketika para siswa melihat kedatangan Reno di sekolah. Dan, begitu ia masuk ke kelas semua mata seketika tertuju padanya. Ia berjalan ke tempat duduknya yang berada di sudut barisan paling belakang. Lalu, ia menarik kursi dan meletakkan tas ranselnya.
"Kamu mengapa tiba-tiba berubah?" tanya si ketua kelas yang tiba-tiba saja sengaja datang dari bangkunya di barisan paling depan menuju ke bangku Reno -yang letaknya paling sudut belakang. Ia sengaja datang hanya untuk mendapatkan jawaban dari rasa keingintahuan dan penasarannya.
__ADS_1
Reno menatapnya sekilas, namun tak mengeluarkan suara sedikitpun. "Kamu sudah insyaf?" tanya ketua kelas itu lagi. Dan, kali ini Reno tak bisa menahan perasaannya, ia cukup tersinggung.
"Apa aku separah itu?" tanyanya segera dengan nada sedikit kesal dan si ketua kelas hanya bengong sambil membetulkan posisi kaca mata tebalnya.
"Mengapa kamu berpikir aku insyaf hanya karena penampilanku berubah seperti ini?" tanya Reno lagi.
"Ya, kamu berubah," jawabnya. "Lihat! Hari ini kamu rapi sekali, wangi. Rambutmu mengkilat basah, bajumu dimasukkan, menggunakan ikat pinggang, memakai jam tangan mengkilat, pakai kaus kaki, sepatumu hitam pekat bersih. Aku nyaris tak mengenalimu."
"Image kamu itu preman, siswa berandalan. Biasanya wajahmu seperti orang tidak mandi, bau rokok. Rambut acak-acakkan, baju kusut tidak disetrika dan jarang dimasukkan, tidak pakai ikat pinggang. Menggunakan gelang-gelang tidak jelas dari tali, tidak pakai kaus kaki, dan sepatumu dekil berdebu hingga warna hitamnya berubah sudah jadi abu-abu," cerocos si ketua kelas.
"Aneh sekali bukan, aneh sekali hari ini tiba-tiba kamu muncul dengan penampilan seperti ini. Menurutku ini sangat aneh dan mendadak," ucapnya. "Pasti ada penyebabnya. Ini tidak biasa."
"Tak perlu banyak berkomentar, urus saja hidupmu!" ucap Reno tak mau ambil pusing. Ia merasa tidak senang orang-orang mengomentari perubahan penampilannya.
Si ketua kelas pun mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri tanpa berkata apapun lagi. Lalu, ia melangkahkan kakinya menjauhi tempat duduk Reno. Namun, tiba-tiba ia kembali memutar langkah dan mendekati Reno kembali.
"Oh, ya satu lagi...." ucapnya. "Kemarin kamu dicari guru piket. Dia berpesan jika kamu sekolah hari ini, segera temui guru yang bertugas piket hari ini!"
***
Setengah jam kemudian...
"Hahh, Bossssss... matahari mulai panas. Mengapa kita harus dijemur seperti ini?" keluh Aldo sambil terus mengangkat tangan, memberi hormat pada bendera yang berkibar di atas tiang.
"Aku tadi sempat bingung mengapa kulihat Bos dihukum di sini? Padahal, baju Bos hari ini sudah rapi, sudah pakai ikat pinggang, kaos kaki, baju dimasukkan, rambut rapi. Kurang apa lagi? Bos sudah terlihat seperti siswa teladan. Tapi, tetap saja dihukum," gerutu Yoga.
"Itu karena kita minggat dari sekolah kemarin," ucap Reno.
__ADS_1
"Harusnya aku lebih baik tidak masuk sekolah hari ini," ucap Yoga.
"Hei, ngomong-ngomong apa dewi penyelamat Bos tidak masuk sekolah hari ini? Aku tidak melihatnya. Aku tidak sabar ingin menyaksikan ekspresinya saat melihat penampilan baru Bos ini," ucap Aldo.
"Dia pasti langsung terpesona, hahahaha...." Yoga terus berbicara. "Dan, menyesal telah menolak Bos."
"Hei, stop bicara!" Suara guru piket mengagetkan mereka. Kali ini yang bertugas menjadi guru piket adalah Ibu Meli.
"Kalian sedang dihukum. Tidak boleh mengobrol. Jika tidak, Ibu akan menambah jam hukuman kalian," ucapnya. "Apa kalian mau lebih lama lagi berjemur memberi hormat pada bendera di sini?"
Reno, Aldo, dan Yoga pun kompak menggeleng-gelengkan kepala mereka tanpa bersuara. Lalu, Ibu Meli kembali berkata, "Kamu... yang baru datang, segera bergabung di bawah tiang bendera!"
Ucapan Ibu Meli sontak membuat Reno, Aldo, dan Yoga segera ingin menoleh ke belakang untuk mencari tahu siapa orang yang diperintah oleh Ibu Meli. Dan, Ibu Meli segera berteriak, "Kalian tetap beri hormat pada bendera! Tidak usah menoleh ke belakang!"
"Dan, kamu yang baru datang... kamu dihukum memberi hormat pada bendera selama sepuluh menit. Cepat!" perintah Ibu Meli. "Itu hukuman karena kamu datang terlambat ke sekolah."
Gadis cerewet pun maju dan berdiri mengangkat tangannya, memberi hormat pada bendera. Ia berdiri di samping Yoga.
Reno, Aldo, dan Yoga pun seketika melirik gadis cerewet. "Ternyata kamu yang terlambat," bisik Yoga.
"Jodoh tak lari kemana-mana, Bos," bisik Aldo pada Reno yang berdiri di tengah-tengah -di antara Aldo dan Yoga.
Setelah itu, Ibu Meli pun meninggalkan mereka berempat di lapangan. Setelah Ibu Meli menjauh, Yoga pun segera pindah posisi. Ia segera berdiri di samping Aldo, menyisakan ruang kosong antara Reno dan gadis cerewet. Ia membiarkan Reno berdiri bersebelahan dengan gadis cerewet.
"Bos, sudah di depan mata, Bos," bisik Aldo. Namun, Reno hanya diam, tak menggubris ucapan Aldo. Begitu juga dengan gadis cerewet, ia hanya diam sambil terus memberi hormat pada bendera.
Sementara itu, aku keluar dari kelasku. Aku telah meminta izin dari guruku untuk pergi ke toilet. Aku berjalan menyusuri koridor kelas menuju toilet dan sebelum tiba di sana aku melihat mereka berempat sedang dihukum di lapangan.
__ADS_1
'Pasti karena dia datang terlambat lagi,' pikirku. 'Ternyata dia hobi datang terlambat.'
Lalu, kupasati ada yang aneh dengan penampilan Reno. Hari ini ia berbeda dari biasanya. Dari kejauhan ia terlihat lebih rapi dan segar. Tiba-tiba Aldo mendorong Reno agar bergeser berdiri lebih mendekat ke arah gadis cerewet. "Hohh!" Entah mengapa mulutku spontan berdecak kesal. Bibirku pun manyun seketika.