
Begitu selesai upacara aku dan Mei kini berada di laboratorium untuk mengikuti pelajaran Biologi. Kami baru saja masuk laboratorium dan masih menunggu kedatangan pak guru. Dari kaca jendela aku menatap jauh ke seberang, ke ruang UKS. 'Mungkin dia masih ada di sana,' pikirku.
Lalu, kulihat Reno menuju ke UKS. "Untuk apa dia ke sana?" gumamku geram.
Mei yang duduk di sampingku mendengar ucapanku dan segera mengikuti arah pandangan mataku. Ia melihat Reno berdiri di depan UKS. Dalam sekejap ia mengerti bahwa Reno pasti ingin menemui Mimi yang mungkin masih di UKS. Mei hanya diam, memperhatikan ekspresiku. Namun, tersirat rasa kecemburuan di wajahnya.
Kemudian, dia berkata, "Setahuku... tadi Mimi sudah ada di dalam kelas." Aku langsung menoleh, melihat Mei.
"Aku melihatnya dari kaca jendela saat melewati kelasnya tadi," ucapnya.
Aku tercengang menatap Mei. 'Mengapa dia tiba-tiba berkata seperti itu?' Dia seperti tahu isi pikiranku. 'Apakah dia juga tahu kegalauanku?'
"Darimana kau tahu aku berpikir...." Aku tak sempat melanjutkan ucapanku. Mei segera berkata, "Kau melihat Reno di depan UKS kan? Aku tahu dia pasti sedang mencari Mimi."
"Ooohhh," desahku cukup lega. Lalu, aku menundukkan wajahku.
'Aku tidak boleh seperti ini,' ucapku dalam hati. 'Aku tidak boleh memikirkan gadis cerewet itu lagi. Mei ada bersamaku saat ini. Mei adalah pasanganku.'
"Ada apa denganmu, Rhama?" tanya Mei, mungkin ia melihat ekspresi wajahku. "Kau tidak ceria seperti biasanya."
"Ahhh... itu perasaanmu saja, Mei," ucapku segera untuk menyembunyikan kegalauanku.
"Kau seperti tidak bahagia," ucapnya.
Aku agak tercengang dan hanya diam mendengar ucapannya. 'Apakah begitu nampak jelas di wajahku?' pikirku.
"Bagaimana jika pulang sekolah nanti kita jalan-jalan?"
"Jalan-jalan," gumamku.
"Ya, supaya pikiranmu senang, tidak suntuk," ucap Mei.
"Kemana?" tanyaku.
"Hmmmhhhh...." Mei tampak berpikir. "Oh, ya... ada film baru yang ditayangkan di bioskop. Sepertinya filmnya sangat bagus," ucap Mei penuh semangat. "Bagaimana jika kita pergi menonton?"
"Eeehhh...." gumamku beberapa saat. Aku baru saja menonton bioskop kemarin. Tapi, sepertinya aku tak perlu mengatakannya pada Mei. 'Aku rasa Mei tidak perlu tahu kami kemarin menonton bioskop.' Aku tidak ingin ia berpikir macam-macam. 'Aku harus menjaga perasaan Mei.'
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Mei. Dia tampak bersemangat.
"Baiklah," ucapku kemudian. Mei pun tersenyum. Ia sangat senang.
Sehingga, setelah pulang sekolah kami pun kini sudah berada di dalam bioskop dan ternyata kami menonton film yang sama dengan film yang kutonton kemarin. Adegan demi adegan bergulir. Aku terus mengunyah pop corn di tanganku.
Sesekali Mei menoleh dan tersenyum padaku. Acara menonton kami berjalan dengan sangat mulus dan sempurna. Namun, entah mengapa aku sedikit bosan. Apa karena aku sudah menonton filmnya kemarin?
Aku merasa hambar, biasa saja. Tidak seperti saat menonton bersama gadis cerewet kemarin. Aku bisa merasakan lonjakan perasaanku dan emosiku. Tapi, kali ini tidak kurasakan saat menonton bersama Mei.
Lalu, muncul adegan yang membuat gadis cerewet kemarin menangis. Secara spontan aku malah jadi terkenang dengan momen saat ia menangis kemarin. Lalu, tak lama aku tersadar dan bergegas menghapus ingatanku tentangnya dari pikiranku.
Aku segera menatap Mei. Mei pun menoleh padaku karena merasa aku memperhatikannya. Ia tersenyum dan berkata, "Mengapa?"
"Filmnya sedih," ucapku.
"Ya," jawabnya pendek. Lalu, ia kembali menatap layar bioskop.
"Kau tidak menangis?" tanyaku untuk memastikan.
Mei langsung menoleh padaku lagi dan tersenyum geli. "Ini hanya film, Rhama. Untuk apa menangis?" ucapnya. "Kau sangat lucu."
Lalu, Reno mengajak kami membeli es krim dan ia menyantap es krimnya dengan riang. Kemudian, dia berkata, "Terima kasih kalian sudah mengajakku menonton. Aku sangat senang hari ini."
"Kau akan lebih senang setiap hari jika selalu bersamaku, Mimi." Reno mencuri kesempatan untuk menggombali gadis cerewet. "Jadilah gadisku! Aku akan selalu membahagiakanmu."
"Huekkk! Rayuanmu sungguh norak," celetukku. "Tak usah percaya dengan ucapannya!" Aku berbicara pada gadis cerewet dan ia hanya tersenyum kecil.
"Rhama! Rhama!" panggil Mei padaku. "Rhama!" Ia mengguncang lenganku, membuatku segera tersadar.
"Kau melamun," ucap Mei. "Filmnya sudah selesai, ayo kita pulang!"
"Ohhh!" Aku tak menyangka filmnya sudah selesai. Aku terkejut.
Kami pun keluar dari bioskop. Mei berceloteh, "Filmnya sangat romantis."
Lalu, aku melihat booth es krim tak jauh dari pintu bioskop. Kemarin aku, Reno, dan gadis cerewet membeli es krim di sana. Sehingga, aku pun mengajak Mei membeli es krim.
__ADS_1
"Ayo kita beli es krim di sana, Mei!"
"Hmmhh... tidak, Rhama. Aku tidak makan es krim," tolaknya segera.
"Hahhh... mengapa?"
"Aku takut gemuk," jawabnya.
"Sekali-kali tidak apa-apa, Mei," bujukku. "Kau suka es krim kan?"
"Tidak. Aku tidak suka," tandasnya. "Jika kau ingin membelinya, belilah untukmu saja!"
Aku terdiam dan tidak jadi membeli es krim. 'Mei sangat berbeda dengan gadis cerewet,'
'Hohhhh... mengapa lagi-lagi aku teringat dia?' batinku dengan kesal. 'Hilang! Hilang! Menyingkir dari ingatanku.'
"Mengganggu saja," gumamku kesal.
"Hahh?" Mei cukup terkejut dengan ucapanku. "Apa maksudmu, Rhama?"
Aku spontan menutup mulutku. 'Aku salah bicara,' pikirku. Aku keceplosan. Sehingga, aku segera berkata, "Tidak, tidak. Bukan apa-apa, Mei."
"Apa maksudmu dengan mengganggu?" tanyanya.
"Ada semut menggigit pundakku. Rasanya gatal, mengganggu saja." Aku segera menggaruk-garuk pundakku untuk meyakinkan Mei.
"Ohhhh," gumam Mei. "Apakah semutnya sekarang masih menggigitmu?"
"Tidak, tidak, tidak," ucapku segera.
"Sini aku lihat!" Tak kusangka Mei langsung menyentuh pundakku, menarik kerah bajuku sedikit ke arah kanan sehingga bahuku tampak. Dan, dia mengusap bahuku beberapa kali dengan tangan halusnya sambil berkata dengan santai, "Tidak ada semutnya."
Sedangkan, aku jadi tercengang bukan main menatapnya dengan mata membola. Aku benar-benar tidak menyangka Mei akan menyentuh bahuku seperti ini. Ia melakukannya dengan santai, tidak ada rasa canggung sama sekali. Dia seperti sudah biasa melakukannya.
Seketika aku teringat pada gadis cerewet yang selalu marah jika tak sengaja tersenggol olehku. Dia juga menolak dengan keras saat aku menawarkan untuk mendukungnya ketika kami terjebak di dalam pagar sekolah. Dalam hitungan detik aku teringat semua itu.
'Sangat berbeda dengan gadis cerewet, Mei sangat berbeda.' Gadis cerewet selalu menjaga jarak dengan lawan jenis. Dia tak mau tersentuh olehku. Sedangkan Mei, dia yang mulai menyentuhku sendiri tanpa paksaan.
__ADS_1
Namun, entah mengapa hatiku sama sekali tak bergetar. Semua terasa datar, aku hanya cukup terkejut karena tak menyangka ia akan melakukannya. Berbeda saat tak sengaja bersentuhan dengan gadis cerewet, hatiku bergetar hebat walau aku tak menginginkannya.
'Ada apa denganku?'